
...Happy Reading....
Pintu operasi terbuka, keluarlah Rizal dengan seragam kebesarannya.
"Hey Nona cantik, kenapa kau takut dan sedih begitu? Kakak iparmu itu belum mati." katanya sambil mendekat.
Ara mengangkat kepalanya begitu mendengar perkataan dokter Rizal. Dia langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan kakak ipar dokter?" tanyanya tidak tenang.
"Dia baik baik saja. Bahkan aku rasa dia akan hidup seribu tahun lagi." jawab Rizal tersenyum.
Ara menarik nafas lega. Wisnu juga pun demikian.
"Alhamdulilah dokter, terima kasih sudah menyelamatkan kakak ipar." kata Ara sangat bersyukur.
"Justru kau yang telah menyelamatkan nyawanya Nona manis." kata Rizal.
Wajah Ara mengernyit.
"Kok Aku? Kan dokter yang telah menangani kakak ipar tadi?"
Rizal tersenyum lagi. Dia mengajak Ara duduk.
"Apa Rafa meminum obatnya ?"
__ADS_1
"Iya__" jawab Ara di selingi anggukkan kepala.
"Apa kau yang memintanya?"
Ara kembali mengangguk.
"Kau hebat sekali bisa membuat Rafa sampai meminum obatnya Ara! Katakan bagaimana caranya hingga kau bisa membuat si keras kepala itu meminum obatnya?"
Ara semakin tidak mengerti, keningnya semakin berkerut menatap Rizal dan Wisnu bergantian.
"Ya__aku hanya memintanya saja, walaupun pertama sangat sulit memintanya. Tapi akhirnya kak Rafa mau makan bubur, minum teh, dan obatnya! Dia bahkan meminum obatnya sekaligus."
"Oh ya ?" Rizal terperangah.
"Iyaa dokter." Ara menganggukkan kepala.
"Suatu keajaiban bila Rafa mau memakan bubur dan meminum obatnya, karena dia tidak suka bubur dan sangat benci obat obatan, juga rumah sakit" kata Rizal menjelaskan.
Ara kaget.
"Benci obat obatan dan rumah sakit?"
Rizal mengangguk.
"Pantas saja kakak ipar tidak mau ku bawa ke rumah sakit! Sebenarnya sangat sulit untuk membuat kakak ipar makan dan minum obat, dia menolak dan sangat marah! Tapi ketika aku terjatuh dari tempat tidur___!" kata Ara.
__ADS_1
Ara menceritakan kejadian yang terjadi di apartemen tadi dari pertama dia masuk ke situhingga sampai Rafa tidak sadarkan diri.
"Mungkin kakak ipar merasa bersalah karena aku jatuh dari tempat tidur. Dia terlihat panik dan takut. Takut terjadi sesuatu yang buruk padaku. Jadi dia langsung meminum obatnya." Ara mengakhiri ceritanya.
"Sepertinya begitu." ulang Rizal menoleh pada Wisnu karena menangkap sesuatu yang janggal dari perkataan Ara.
Wisnu menelan ludahnya dan pura pura acuh dengan menghindari tatapan Rizal.
"Tapi dokter, aku merasa ada yang aneh pada kakak ipar ketika melihat obat di tanganku. Dia ketakutan, sedih, panik dan emosi. Dia menyuruhku membuang obat obatan itu. Aku merasa kakak ipar seperti trauma dengan obat." Ara menatap Rizal dan Wisnu bergantian.
Kedua lelaki itu saling berpandangan.
"Kau benar Ara, Rafa memang memiliki trauma di masa lalu tentang obat obatan dan rumah sakit, sehingga membuatnya sangat membenci keduanya." Rizal menjelaskan.
"Ohhh....pantas saja kakak ipar menyuruhku untuk menjauhkan obat itu. Dia juga tidak mau dan sangat marah ketika aku memaksanya untuk ke rumah sakit."
"Tapi untungnya kau bisa membuat dia meminum obatnya." kata Rizal seraya menyentuh ujung hidung Ara.
"Karena sala satu dari obat itu adalah obat penenang yang bisa membuatnya pingsan beberapa jam! Dengan begitu aku bisa menjahit lukanya, kalau tidak, meskipun mati dia tidak akan mau datang kesini." Rizal menjelaskan.
Ara terperangah
"Jadi waktu kakak ipar tidak sadarkan diri dan detak jantungnya tidak berdenyut pengaruh obat itu?"
"Kau mengira dia mati? Tentu saja karena pengaruh obat itu adik ipar! Untuk itu aku dan Wisnu sangat berterimakasih padamu, karena kau sudah membantu kami bisa membawanya ke sini dan melakukan operasi." kata Rizal tersenyum.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya