
...Happy Reading....
Jam lima sore Dion pulang dari kantor. Seperti katanya tadi siang, dia akan mengajak Cindy ke dokter kandungan setelah magrib.
"Selamat sore Tuan muda," sapa Bik Ira begitu membuka pintu untuknya.
"Sore. Cindy sedang apa bik?"
"Nona Cindy ada di kamar. Dia sedang istirahat." kata bik Ira seraya menutup pintu.
"Mama?" tanya Dion lagi.
"Nyonya Dinda sedang keluar. Ada urusan pekerjaan dan menghadiri Arisan."
"Baik bik, aku ke kamar dulu." Dion segera melangkah menuju tangga. Menaiki anak tangga satu persatu.
Dari atas Dwi dan Bela sementara turun. Keduanya memakai pakaian senam yang ketat dan sedikit terbuka bagian atas. Di bahu mereka tergantung handuk kecil.
"Kak Dion, selamat sore." sapa Dwi seraya menghentikan langkah.
"Selamat sore kak, baru pulang kerja ya?" Bela ikut menyapa dengan senyuman manis.
"Selamat sore. Kalian mau Senam?" Dion memperhatikan pakaian mereka.
"Kami mau senam zumba di taman dekat kolam," jawab Dwi.
"Oiya, Kakak mau ke atas." kata Dion.
Dwi kembali menuruni anak tangga. Bela sengaja lewat di samping Dion. Saat menuruni tangga, dia salah langkah dan terpeleset. Bela memekik merasakan tubuhnya akan jatuh.
Dion yang lewat di sampingnya terkejut dan cepat menahan tubuhnya.
Bela ketakutan dan segera memeluk Dion dengan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu karena takut jatuh. Dia menekan wajahnya di ceruk leher Dion. Dan diam diam mengecup jakun leher Dion, juga menyesap dalam dalam Aroma wangi tubuh pria tampan ini. Bela semakin menekan tubuhnya ke tubuh Dion hingga buah dadanya menyentuh dada Dion.
Dari atas Cindy melihat apa yang terjadi.
Dadanya terasa sesak dan bergemuruh kuat. Jantungnya berdegup kencang. Saat itu dia turun hendak ke dapur untuk mengambil mangga di kulkas. Tapi langkahnya berhenti melihat ketiganya bercakap. Dan selanjutnya melihat drama licik yang di lakukan Bela.
"Bela kau, tidak apa apa?" Dion segera melepaskan tangan bela dari lehernya dan bergerak mundur. Bela pura pura kaget dan gugup. Dia segera memasang wajah cemas, takut dan sedih.
Dwi juga segera memegang tangan Bela.
"Bela kamu baik baik saja? Kamu lihat lihat dong jalannya, untung gak sampai jatuh," kata Dwi dengan nada khawatir.
"Aku gak apa-apa, untung saja kak Dion cepat menahan tanganku. Kalau tidak mungkin tubuhku remuk dan patah sekarang. Atau mungkin juga aku sudah mati." ucap Bela dengan ekspresi takut.
"Terimakasih kak Dion, sudah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kakak." ucap Bela seraya memegang tangan Dion.
Cindy tersenyum kecut melihatnya, lalu dia segera berbalik melangkah menuju kamar.
Dion sempat melihat tubuhnya dengan ekor matanya. Dion segera menarik tangannya dari pegangan Bela."Tidak usah di pikirkan, yang penting kamu tidak apa-apa. Lain kali hati hati. Aku ke atas dulu." ucapnya dan segera melangkah menaiki anak tangga.
Bela kembali mengulas senyum menatap punggungnya. Tapi kemudian senyuman itu berubah menjadi senyuman licik saat wajah Cindy muncul di benaknya. Wajah Cindy yang tegang dan emosi melihat dia memeluk Dion tadi. Dia tahu Cindy memperhatikan mereka. Bela kembali tersenyum sinis.
"Yuk Bel, kita turun," ajak Dwi menarik tangannya. Bela sedikit gugup, lalu segera mengikuti langkah Dwi.
Di kamar.
Cindy berbaring di atas ranjang dengan posisi miring. Sebagian tubuhnya tertutup selimut. Air matanya mengalir meski dia sudah berusaha menahannya. Dia menangis tanpa suara.
"Ya tuhan, apa yang kurasakan ini? Kenapa hatiku sakit melihat kak Dion dekat dengan Bela? Aku memang Istrinya, tapi kami menikah karena terpaksa dan tanpa ada rasa cinta. Tapi kenapa aku gak suka melihat kakak berpelukan dengan wanita lain?" Batinnya sendu.
Pintu di buka. Cindy cepat cepat menyapu air matanya. Dia segera memejamkan mata, pura pura tidur. Satu tangannya memegang kuat selimut, dan satunya memegang perutnya.
Pelan pelan Dion masuk dan menutup pintu. Dia melihat ke arah Cindy yang berbaring miring membelakanginya.
Dion segera melepaskan sepatu, jas, dasi dan membuka dua kancing kemejanya. Lalu perlahan naik tempat tidur dan mendekati Cindy yang saat ini sedang berusaha kuat menekan jantungnya yang berdegup kencang.
Dion menyentuh lengannya.
"Cin, apa kamu sedang tidur?" ucapnya pelan.
Karena dia tahu Cindy tidak tidur.
Cindy diam tak menjawab, semakin kuat memegang selimut terus memejamkan mata.
Dion mendesah pelan. Perlahan membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Cindy dari belakang.
Cindy kaget, tapi tetap diam dan berusaha tenang.
Dion kembali membuang nafas panjang.
"Kalau begitu kita tidur sebentar sebelum ke dokter. Aku juga capek." kata Dion seraya meletakkan kepala Cindy di atas lengan kirinya. Dan tangan kanannya memeluk perut Cindy dari belakang. Cindy masih dengan posisi membelakanginya.
Dion mengelus lembut perut Cindy yang membukit. Sesekali hidungnya mencium dan menyesap aroma wangi rambut Cindy dengan mata terpejam. Dia sangat suka Aroma tubuh ini.
Cindy menggigit bibir bawahnya kuat, dia segera membuka mata. Kedua ujung matanya sudah basah merasakan pelukan kakak sekaligus suaminya ini.
"Maafkan aku kak, tidak menyambut kepulangan mu dan mencium tanganmu," batinnya lirih. Tanpa sadar dia mendesah sedih.
Dion yang tidak tidur mendengar desahannya.
Dion tersenyum tipis berpikir untuk menggoda. Dia menyibak rambut belakang Cindy ke atas lalu mengecup dan mencium tengkuknya.
Cindy kaget dengan mata membulat, tubuh menegang, gigitan di bibir bawahnya semakin kuat. Dia berusaha mengabaikan apa yang di rasakan dan tetap tenang.
Dion kembali tersenyum melihat tak ada pergerakan dan respon dari Cindy. Melihat Cindy tak mau menyerah, berusaha kuat untuk tetap diam dan tenang.
Meski dia tahu saat ini Cindy sangat gelisah dan tidak tenang. Dion dapat merasakan hal itu dari debaran jantung Cindy. Dion kembali mengecup tengkuknya, lagi, dan lagi hingga ke lima kali dengan kecupan kuat.
Mendekatkan hidungnya ke leher belakang Cindy lalu di ciumnya dengan lembut. Ciuman itu menjalar ke telinga Cindy, terus balik lagi ke leher dan tengkuk Cindy.
Tanpa sadar Cindy mendesah, dengan tubuh semakin menegang. Jari jemari kakinya terasa semakin tegang dan kaku. Darahnya berdesir kuat, gairah menjalar di sekujur tubuhnya merasakan ciuman ini.
Dion tersenyum mendengar desahannya. Juga debaran jantung cara Cindy yang semakin kencang. Dia berpikir untuk menggoda kembali."Cind, apa kamu nggak mandi? Kok bau asam sih?" tanya Dion tersenyum jahil.
Cindy terperangah, matanya seketika membulat mendengar ucapan Dion..Dia segera membuang tangan Dion yang ada di perutnya, lalu bergerak maju menjauhi Dion.
Dion tertawa kecil dan segera menarik kembali tubuhnya dan di peluk kuat.
__ADS_1
"Lepas kakak. Ihhh...," Cindy mendengus kesal, kembali berusaha melepas tangan Dion di perutnya. Dion semakin kuat memeluk dan kembali mencium tengkuknya.
"Apa an sih cium cium, katanya bau asam." Cindy mengomel dengan wajah cemberut. Dia membawa tangan kanannya ke tengkuknya, mendorong wajah Dion.
Dion kembali tertawa. Lalu mendaratkan bibir dan hidungnya di telinga Cindy, kemudian beralih ke punggung Cindy. Mengecup dan mencium bagian tubuh yang hanya di tutupi kain transparan. Kembali menggoda.
"Jangan menggangguku kak, lepas ah.....! Berhenti ciumnya! Jauh jauh sana.... jangan dekat dekat sama bau asam." teriak Cindy.
Dion tak kuat menahan tawanya. Akhirnya tawanya pecah.
Cindy kembali mendengus kesal mendengar suara tawanya. Dion membalikkan tubuh Cindy menghadap ke atas. Lalu dia segera naik ke atas tubuh Cindy.
Cindy kembali hendak bangun, tapi Dion menahan kuat tubuhnya. Dion meletakkan kedua tangannya di samping kiri-kanan kepala adiknya ini, mengurung agar tidak kemana-mana.
Cindy segera memejamkan mata tak mau melihat wajah kakaknya yang sangat dekat hanya setengah jengkal di atas wajahnya. Dion tersenyum melihat wajah manisnya yang cemberut dan kesal. Terlihat lucu menggemaskan.
"Lihat nih wajah kamu kusut banget, kelihatan tua seperti mak mak beranak enam." mengamati wajah Cindy dengan senyuman jahil.
Mata Cindy terbuka lebar mendengar ucapannya.
"Kakaaaaak...," teriaknya keras penuh emosi. Dia mendorong tubuh Dion kuat dan memukul mukul dada Dion.
"Cepat minggir dari tubuhku. Menyebalkan." suara serak, Wajahnya berubah mendung, mata basah.
Dion yang melihat perubahan di wajahnya segera memegang kedua tangannya kuat, lalu mendaratkan kecupan di bibirnya, di susul satu kecupan lagi.
Cindy langsung terdiam dengan mata terbuka lebar. Keduanya saling bertatapan sejenak dengan nafas yang tak beraturan.
Hingga akhirnya Cindy terisak kecil dengan air matanya yang mengalir di kedua ujung mata.
Dion segera membaringkan tubuhnya di samping Cindy, lalu menarik tubuh istrinya ini dalam pelukannya.
Keduanya berbaring berhadapan, Cindy menangis tertahan dengan menekan wajahnya di dada Dion.
Dion membelai rambut dan punggungnya lembut.
"Apa yang membuat mu sedih? Apa karena kau melihat Bela di kamar kita tadi? Melihat wanita itu dekat denganku tadi di tangga?" tanya Dion. Tak ada suara dari Cindy.
"Atau karena kau merasa tertekan dengan beban kehamilan mu yang telah merenggut kenyamanan hidupmu, kebebasan mu dan juga masa depanmu?" batin Dion kembali.
Dia tahu Cindy kecewa, sedih dan menangis dalam diam setelah melihat keberadaan Bela di kamar mereka tadi, dan melihat Bela memeluknya di tangga. Tapi Cindy memilih diam mengabaikan meski hatinya sakit.
Dion membuang nafas berat.
"Maafkan kakak Cind telah membuatmu menderita dengan kehamilan ini," batinnya kembali seraya mengecup puncak kepala Cindy.
"Kakak tahu kau sangat tertekan dan terpaksa dengan pernikahan kita karena kehamilanmu akibat dari kebejatan ku! Kau menginginkan pernikahan yang mewah meriah dengan pria yang kau cintai!"
Dion teringat dengan kejadian di cafe tadi.
Melihat tatapan Cindy pada Andry yang terlihat senang dan bahagia. Bahkan membuat Cindy gugup dan salah tingkah di hadapan pria itu.
Dion tahu Cindy sangat menyukai Andry sudah lama. Karena Cindy pernah mengatakan padanya dulu. Cindy selalu curhat kepadanya soal pria pria yang mendekatinya, pria yang di sukainya dan juga pria yang hanya sekedar iseng doang dan membohonginya. Dan Andry adalah pria yang di sukai dan kagumi Cindy di kampus.
Hanya saja Cindy terlalu malu dan tidak berani mengungkapkan perasaannya. Takut Andry menolaknya. Karena terlalu banyak gadis cantik kaya yang lebih dari Cindy mengejar ngejar Andry.
Cindy menarik wajahnya karena kesulitan bernafas. Dia menyapu sisa sisa air matanya.
"Sudah tenang?" tanya Dion seraya menunduk melihat wajahnya.
Cindy diam tak menjawab. Hanya melirik tajam.
"Sepertinya kau masih kesal...kalau gitu aku cium lagi," Dion membalikan kembali tubuh Cindy ke atas, lalu dia segera naik menindih tubuh Cindy. Mendekatkan wajah mengecup bibir Cindy.
"Kakak ihhh....jangan menggodaku terus." Cindy segera menutup mulutnya dengan tangan sambil menatap kesal.
Dion tertawa kecil.
"Maaf Cin, kakak hanya bercanda tadi, jangan marah ya," ucap Dion sambil mengecup keningnya. Matanya menangkap dua buah gunung kembar Cindy yang terbentuk dari balik baju tidurnya yang transparan. Kedua buah itu terlihat jelas oleh matanya karena Cindy tidak memakai bra. Dua putiknya yang menonjol terlihat jelas. Dia melarang Cindy memakai bra Keadaan PD Cindy yang bengkak dan nyeri.
"Cukup ah, jangan kecup kecup lagi." sentak Cindy. Mendorong wajah Dion.
"Memang kenapa? Kamu kan istri kakak?" Dion menahan kedua tangannya di samping. Cindy melakukan perlawanan. Berusaha melepaskan tangannya untuk bangun. Tiba-tiba dia menjerit merasakan sakit pada buahnya yang tak sengaja di senggol oleh lengan Dion."Aduhhh.....!"
Dion terkejut." Maaf Cindy, kakak gak sengaja." kata Dion. Dia melihat wajah Cindy yang meringis menahan sakit sambil menyentuh dada.
"Sakit banget ya?" Dion melihat dada Cindy. Membuka kancing baju tidur Cindy untuk melihat karena khawatir.
"Kakak mau apa?" Cindy kaget dan segera menahan tangannya.
"Mau melihatnya. Kakak khawatir."
"Gak usah... tidak perlu." kata Cindy panik.
"Kenapa? malu lagi?" Dion menatap tajam.
"Kamu ini terus-menerus mengatakan itu! Kakak bukan orang lain Cind, kakak ini suamimu! Jadi kamu gak usah malu. Sudah diam!" kata Dion agak keras. Cindy terdiam dan berhenti melakukan perlawanan. Dia berpaling ke sebelah menghindari tatapan Dion. Dia pasrah, toh Dion sudah pernah melihat, menyentuh bahkan mencicipi ke dua buahnya juga yang lainnya hingga dia hamil.
Dion melanjutkan membuka baju Cindy. Kedua buah itu terpampang jelas di matanya setelah pakaian Cindy terbuka menjadi dua. Dion Memperhatikan dengan cermat. Dan perlahan menyentuhnya, hangat terasa.
Cindy memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat Dion menyentuh. Gerakan punggung tangan dan jemari Dion bergerak lembut berpindah dari satu buah ke buah lainnya membuatnya tegang.
"Rileks Cind, kamu sangat tegang!" kata Dion, padahal dia sendiri sudah tegang. Hasratnya yang sudah menjalar ke bagian pribadinya dan berusaha di tahan. Bahkan tanpa sadar berulang kali dia menelan ludah.
"PD mu yang sekarang beda dengan yang dulu saat kamu masih gadis. Kini semakin membesar, padat, pembuluh darah terlihat jelas." kata Dion di sela sela mengamati. Dion dapat melihat debaran jantung Cindy yang berdebar kencang.
Cindy kaget mendengar ucapannya. Dia segera membuka mata.
"Beda? Emang kakak pernah melihat milik ku sebelumnya?" menatap Dion
"Bukan pernah, tapi sudah beberapa kali. Seluruh tubuh mu sudah kakak lihat." Dion balik menatapnya. Tersenyum jahil di dalam hati. Cindy Kembali kaget. Dion perlahan menyentuh putik Cindy yang tampak tegang berwarna kecoklatan. Dulu pucuk ini berwarna pink. Pengaruh hamil telah berubah warna menjadi coklat.
Cindy meringis tapi juga merasakan hal lain.
"Sakit?" tanya Dion melihat wajahnya.
Cindy mengangguk."Kakak lihatnya di mana?" tanya Cindy penasaran di mana Dion melihat tubuhnya yang terbuka.
"Di kamar kakak dan tempat bilas! Kamu lupa di setiap sudut ruang apartemen kakak terpasang CCTV?" Dion kembali menatapnya.
__ADS_1
Cindy baru sadar dan ingat. Dia yang suka sembarangan jalan ke sana kemari dengan tubuh yang terbuka di kamarnya dan di kamar bilas setelah dia selesai mandi di kolam. Dia lupa kalau ada CCTV terpasang untuk memantau keamanan apartemen itu karena selalu di tinggalkan lama oleh Dion saat pergi keluar negeri. CCTV yang tersambung pada ponselnya. Tentu saja Dion melihat tubuhnya.
"Terus kenapa kakak melihatnya dan bukan melewatinya?" katanya kesal.
"Nggak sengaja melihatnya. Salah sendiri suka ceroboh! Aku nggak merasa kenapa kenapa melihatnya. Aku gak berpikir apapun karena kau adikku. Emang kamu pikir apa? Kakak mesum gitu?" Dion menatapnya.
Cindy diam dan hanya menatap kesal.
Dion tertawa kecil. Dia mengecup bibir manyun Cindy dengan cepat.
Cindy kembali kesal."Minggir ah.....aku mau ke kamar mandi, sebentar lagi magrib," Cindy mendorong tubuh Dion agak kuat. Karena dia risih merasakan tonjolan di bawah sana sejak tadi.
Dion segera melepas pelukannya. Cindy segera bangun menatapnya cemberut. Karena Dion selalu menggoda dan menjahilinya.
"Adikku yang manis dan wangi. Wajahmu benar-benar menggemaskan jika seperti itu," celeteuk Dion kembali tertawa.
"Huh.. nyebelin." dengus Cindy kesal menatap tajam. Dia segera turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
Dion yang belum lepas dari tawanya karena tingkah istrinya ini, ikut turun dan melangkah cepat di belakang Cindy.
Lalu dia segera menggendong tubuh Cindy dan membawanya masuk dalam kamar.
Cindy yang kaget, berteriak teriak meminta di turunkan.
"Kakak ngapain sih? keluar cepat."
"Aku mau menemanimu...."
"Tapi aku mau mandi."
"Terus kenapa? Mandi saja, kakak juga mau mandi. Kita mandi sama sama. Mandi sama sama itu ibadah lho."
Hah?
"Udah deh kak, berhenti bercandanya. Waktu Maghrib udah dekat."
Dion mengabaikan ucapannya. Dia segera membuka kancing kemejanya.
Cindy kembali kesal.
"Keluarlah kak, aku mau sendiri. Aku gak mau mandi sama kakak. Aku malu...! Cepat keluar," teriak Cindy. Dia tetap merasa risih dan malu meski Dion sudah pernah melihat tubuhnya.
"Kamu sedang hamil, aku mau menjagamu." kata Dion bersikeras.
"Gak akan terjadi apa apa padaku. Nanti aku Panggil kakak jika butuh sesuatu. Lagi pula aku gak akan lama. Keluarlah, aku mohon."
Cindy semakin kesal karena hanya di diamin oleh Dion.
"Ya sudah, Kakak duluan saja. Aku nanti nyusul." mengalah karena capek berdebat terus membuat kepalanya sakit dan pusing.
"Kamu mau kemana mana?"
"Mau Keluar. Setelah kakak mandi, baru akan mandi. Jangan lupa tuh tanda bibir di leher dibersihkan. Jangan sampai terlewat. Sepertinya kakak suka dengan tanda itu." menunjuk tanda bibir di jakun Dion yang berwarna merah hasil lukisan bibir Bela tadi.
Lalu dia segera melangkah menuju pintu.
Dion tertegun mendengar ucapannya.
"Tanda merah?" gumamnya seraya meraba lehernya.
"Cepetan mandinya, jangan kelamaan. Waktu Magrib udah dekat." teriak Cindy kembali sebelum keluar.
Dion segera melihat ke arah cermin dan mengangkat sedikit wajahnya ke atas. Dia terkejut melihat ada tanda bibir berwarna merah terdapat di sana.
"Kenapa bisa ada tanda ini di leherku? Siapa yang membuatnya?" gumamnya.
Menghapus tanda itu dengan jarinya.
Bibir siapa ini? gak mungkin punya Cindy. Karena sudah lama gadis itu tidak memakai make up dan malas berdandan karena bawaan hamil.
Mata Dion membulat setelah mengingat sesuatu.Teringat Kejadian yang terjadi di tangga saat Bela memeluknya karena takut jatuh. Dan dia sempat merasakan wajah wanita itu di lehernya.
Dion mendengus geram.
"Sialan si Bela. Kenapa dia memberi tanda ini di leherku? Entah apa yang di pikirkan Cindy setelah melihat ini?" gumamnya lagi.
Dion jadi tidak tenang, dia khawatir tanda itu menyakiti hati Cindy dan membuatnya sedih.
Dion segera melangkah keluar dari kamar mandi. Di dapatnya Cindy sedang memperbaiki tempat tidur.
Cindy berbalik mendengar pintu kamar mandi dibuka. Dia melihat Dion melangkah cepat ke arahnya.
"Sudah selesai mandinya?" tanyanya.
Dion tak menjawab pertanyaannya..Begitu dekat, dia segera mengangkat tubuh Cindy dan membawanya cepat masuk ke dalam kamar mandi. Cindy kembali di buatnya terkejut, dan meronta dalam gendongannya meminta di turunkan.
Dion meletakkan tubuhnya di bawah shower, memeluk kuat seraya menghidupkan air shower. Air keluar jatuh ke tubuh mereka.
"Apa'an ini kak?" Cindy menatap wajah Dion dengan wajah mengernyit. Dia yang tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya sekaligus suaminya ini.
Keduanya basah-basahan di bawah guyuran air shower.
Dion menyapu air di wajah Cindy, kemudian memeluk tubuhnya.
"Aku tidak tahu tentang tanda ini. Bela yang melakukannya saat memelukku tadi ketika hendak jatuh. Entah dia sengaja atau tidak melakukannya, yang jelas aku tidak tahu. Aku saja baru tahu saat kau mengatakannya. Sungguh Cind, kakak gak bohong. Maafkan kakak. Kamu jangan berpikir buruk ya?" ucapnya pelan seraya menyapu kepala Cindy
Cindy terdiam mendengar ucapannya.
Dia mendesah sedih. Jujur hatinya sakit.
"Kakak gak perlu minta maaf, aku gak apa-apa kok, aku gak masalah." ucapnya kemudian sambil tersenyum.
Dion tertegun mendengar jawabannya. Sesaat dia mencermati perkataan yang keluar dari mulut istrinya ini yang tidak merasa masalah dengan tanda itu. Dan itu membuat Dion sedih dan kecewa.
Bersambung.
Dukung author ya, dengan memberi author like , rate, hadiah,vote dan komen,ππ
Terimakasih untuk kalian semua para readers π
__ADS_1