
...Happy Reading....
Setelah mendengarkan penjelasan mengenai laporan berkas bisnis perusahaan dari wanita berpenampilan seksi itu, Wisnu segera mengajaknya ke ruang pimpinannya. Wanita tersebut adalah sekertaris dari perusahaan X yang datang mewakili pimpinannya bertemu dengan Rafa untuk menawarkan kerjasama.
Tapi Wisnu yang mewakili tuannya bertemu dengannya karena Rafa sedang ada tamu penting. Setelah mengetuk pintu, mereka segera masuk. Di dalamnya ada Moly dan Nesa. Nesa datang berkunjung karena membicarakan bisnisnya fashionnya dengan Rafa.
Rafa terkejut melihat wanita itu.
Dia menatap tak suka.
"Siapa wanita ini?" menatap tajam pada Wisnu.
"Sekretaris dari perusahaan X mewakili pimpinannya." jawab Wisnu sopan
Rafa mengambil selembar cek dan menulis sejumlah uang di sana.
"Berikan ini padanya untuk membeli pakaian yang pantas." kata Rafa dengan nada tinggi dan kasar.
Wanita itu kaget mendengar ucapan Rafa.
"Dan kau wanita, pakailah pakaian yang lebih pantas dan sopan. Jangan lagi muncul di hadapanku dengan pakaianmu yang menjijikkan itu! Dan katakan pada pimpinan mu aku menolak kerja sama dengannya." bentak Rafa menyorot tajam.
Wanita itu tersentak. Wajahnya langsung berubah pias.
"Tuan Ravendro, maafkan aku!"
"Seret dia keluar Wisnu. Sebelum aku muntah melihat penampilannya yang menjijikkan. Pastikan dia turun sampai ke bawah dan keluar dari gedung ini secepatnya."
"Baik tuan." Wisnu segera menarik lengan wanita itu dengan kuat.
"Tuan, maafkan atas ketidak sopananku." pinta wanita itu kembali dengan memelas.
Wisnu menyeretnya kasar karena melakukan perlawanan.
"Ara pasti akan tidur di sofa jika sampai dia tahu ada wanita berpakaian seperti itu bersamaku. Dia pasti akan meninggalkanku tidur di atas ranjang sendirian!" sungut Rafa dengan kesal.
Moly dan Nesa terkekeh mendengar ucapannya.
Rafa menatap tajam mereka berdua.
"Awas kalau aku melihat kalian memakai pakaian terbuka seperti itu di tempat umum." katanya mengancam pada Nesa dan Moly.
Molly mendesis kesal padanya.
"Pakaian seperti itu lagi trend sekarang." kata Nesa yang masih tersenyum melihat kemarahan di wajahnya.
"Kalian jangan ikut ikutan. Dan kakak jangan memproduksi pakaian pakaian seperti itu."
"Ya ampun.... kenapa malah aku sih yang kena imbasnya? Ada aja deh kamu ini." Nesa menatapnya kesal.
Moly senyum senyum melihat perdebatan kedua kakak sepupunya ini. Rafa hendak bicara, tapi terhenti karena ponselnya berdering.
Wajahnya langsung berubah merekah melihat Ara yang menelepon.
"Ah, cintaku, kekasih hatiku." ucapnya dengan senyum sumringah. Hilang kekesalan di hatinya.
π"Assalamualaikum sayang..."
π"Waalaikumsalam. Apa kakak lagi sibuk?"
π"Tidak sayang. Aku lagi sama Moly dan kak Nesa. Aku sangat senang kau menelpon seperti ini! Ada apa sayang? apa kau merindukanku?" kata Rafa tersenyum menggoda.
π"Iya, aku akan selalu merindukan kakak! Tapi ada yang lebih merindukan kakak saat ini!"
π"Oh ya? siapa?" wajah Rafa mengerut.
π"Nih.... mereka!" Ara memperlihatkan Cio dan Cia.
π"Daddy daddy... !" panggil si kembar dari seberang dengan gembira.
π"Halo anak anak daddy! Sayang, kau lagi di rumah utama ya?"
π"Iya kak, Aku lagi di rumah utama. Aku merindukan mama dan si kembar. Setelah dari galeri aku datang ke sini bersama buk Narsih dan mbak Sita! Maaf ya tidak sempat memberitahukan sebelumnya pada kakak! Nih....si kembar ingin bicara dengan daddy nya." kata Ara seraya menyerahkan ponsel pada Cio dan Cia.
Moly dan Nesa ikut menyapa anak anak itu.
Selanjutnya terlibat obrolan hangat antara Rafa dan si kembar.
'
'
Jam istirahat tiba.
"Hay Nes," Aldi mendekati Ines mengajaknya makan siang bersama.
"Hay juga__." balas Ines.
"Makan siang yuk. Ayo kita ke kantin sama sama."
"Tunggu sebentar." jawab Ines yang kebetulan merasakan perutnya lapar. Dia segera merapikan meja kerjanya lalu bangkit berdiri.
Mereka segera melangkah menuju lift untuk membawa mereka ke kantin perusahaan yang berada di lantai 43.
Keduanya berbincang sambil berkelakar menunggu pintu lift terbuka.
Pintu lift terbuka.
Ines kaget saat hendak masuk dan melihat orang yang di dalamnya. Keceriaan di wajahnya langsung menghilang. Melihat Wisnu dan wanita seksi itu lagi. Hanya mereka berdua yang di dalam.
Sama halnya seperti Ines, Wisnu juga kaget melihat Ines dan Aldi. Melihat keakraban di antara mereka sementara baru tadi pagi berkenalan. Keduanya saling menatap lekat dengan kekesalan yang tampak dari wajah masing masing.
"Ayo Nes," ajak Aldi seraya menarik tangan kanan Ines masuk ke dalam karena hanya bengong berdiri melihat pada Wisnu dan Vivian.
Aldi menyapa sopan pada Wisnu.
Wisnu melirik pegangan Aldi di tangan Ines.
Mereka mundur kebelakang memberi ruang pada Ines dan Aldi yang berdiri di depan mereka.
__ADS_1
Saat pintu lift hendak tertutup, masuk lagi beberapa karyawan. Mereka kembali mundur kebelakang.
Para karyawan menerobos memaksa masuk mengingat waktu jam istirahat yang semakin mepet. Ruang di dalam terisi penuh. Ines mundur dan menabrak Wisnu di belakangnya.
Reflek Wisnu segera menahan tubuhnya.
Lift telah penuh. Wisnu merutuk kesal dengan ketidak nyamanan ini. Seandainya kalau bukan karena bersama sekretaris perusahaan X ini, dia tidak akan naik lift karyawan dan berdiri berhimpitan seperti ini.
Tapi ada manfaatnya juga dia naik lift kelas karyawan ini, yaitu dapat melihat kedekatan Ines dan Aldi.
Wisnu menahan tubuh Ines dan semakin mundur ke belakang. Hingga punggungnya sudah mentok pada dinding lift.
Ines sudah tidak tahan dengan sosok tubuh pria besar di depannya. Punggung pria itu sangat dekat dengan wajahnya dan membuat dia sesak bernapas. Segera Ines memutar tubuhnya menghadap kebelakang. Tak elak dia berhadapan dengan Wisnu. Keduanya saling menatap. Wisnu mengerti kenapa Ines berbalik.
Ines tampak keringatan dengan nafasnya memburu cepat karena ruang yang terasa mulai pengap. Wisnu mengambil sapu tangannya di berikan ke tangan Ines.
Ines yang mengerti dengan pemberian kain kecil itu segera melap keringat di wajah dan lehernya.
Wisnu segera menukar posisi mereka.
Dia menyandarkan tubuh Ines pada dinding lift, menjauhkan dari pria besar di dekat Ines tadi. Wisnu mengurung tubuh Ines dengan kedua tangannya seolah melindungi dan memberikan rasa nyaman.
Keduanya kembali saling menatap dengan wajah sangat dekat. Hembusan nafas masing masing terasa di wajah keduanya.
Ines mengalihkan pandangannya ke sebelah. Wisnu pun demikian sambil menelan saliva.
Ines tiba tiba bersin bersin, karena bau aroma berbagai macam parfum yang menyengat.
Dia segera menekan hidung, karena tidak tahan dengan bau bauan itu.
Entahlah apa yang terjadi dan siapa yang memulai? keduanya saling berpelukan.
Ines memeluk Wisnu sambil memasukkan wajahnya pada jas Wisnu. Yang langsung di balas peluk oleh Wisnu.
Ines bahkan membuka kancing jas Wisnu lalu memasukkan wajahnya, mengurung di dalam sana. Sekaligus menghirup aroma khas tubuh pria ini untuk mengalihkan bau aroma parfum pengunjung lift. Dan Wisnu membiarkan apa yang dia lakukan. Wisnu malah menyembunyikan wajah Ines di dadanya untuk menghindarkan penciuman hidung Ines dari bau tersebut agar tidak bersin lagi. Selain itu untuk menjauhkan tubuh Ines dari sentuhan pria pria yang menghimpit di samping kiri kanan.
Keduanya saling berpelukan merasakan kenyamanan. Tak ada yang memperhatikan kedekatan mereka.
Masing masing hanyut dengan pikirannya sendiri dan berharap segera keluar dari ruang pengap ini. Kecuali pria pria yang berada sama posisi dengan mereka di belakang.
Melirik pada mereka yang saling berpelukan.
Tapi mereka tak berani menyapa karena terlalu takut pada Wisnu.
Beberapa saat kemudian lift berhenti dan pintu terbuka. Satu persatu segera keluar.
Ines dan Wisnu buru buru melepaskan pelukan masing-masing. Aldi yang mencari Ines tak ada lagi di sampingnya menengok ke belakang. Dia segera memegang kembali tangan Ines.
Tentu saja hal itu tak luput dari penglihatan mata elang Wisnu.
"Ayo Nes__" Aldi menarik tangan Ines sambil melangkah keluar. Wisnu menatap kepergian mereka. Ines masih menyempatkan diri menengok sekilas ke belakang melihat pada Wisnu dan Vivian yang berada di dalam lift. Lalu segera mengikuti langkah Aldi.
Pintu tertutup kembali. Wisnu menekan tombol paling bawah.
Di kantin.
Wanita itu sedang duduk bersama teman temannya secara berkelompok.
Aldi dan ines segera mendekat.
"Lagi rame rame, kalian lagi ngapain?" tanya Aldi.
"Duduklah bersama kami. Hari ini Lisa ulang tahun." kata wanita yang bernama Rita.
Aldi dan Ines menatap pada Lisa.
"Selamat ulang tahun Lisa. Sehat selalu panjang umur." ucap Ines tersenyum.
Mereka segera duduk bergabung bersama mereka.
"Terimakasih Ines." ucap Lisa.
"Happy birthday to you Lisa." ucap Aldi.
"Thanks Aldi..."
"Jadi kalian ngumpul gini lagi ngerayain
ultahmu?" tanya Aldi melihat ada kue tart kecil ulang tahun di depan Lisa.
"Acaranya nanti malam, gue bikin kecil kecilan. Datang ya? Aku ngundang kau dan Ines."
Wajah Ines mengerut mendengar perkataannya.
"Aku ngundang kamu spesial lho Nes. Karena lo teman baru kami. Sekalian kita rayakan hari pertama lo masuk kerja. Kita sekarang teman satu team. Jangan lupa datang. Aku mengharapkan kehadiran mu!"
"Pasti__dia pasti akan datang. Dia akan datang bersama ku." timpal Aldi menyenggol lengan Ines.
Ines tersenyum sekilas dan hanya terdiam. Mendengar ajakan mereka yang langsung di iyakan oleh Aldi tanpa meminta persetujuannya.
Ines memikirkan si kembar dan Rani. Dia harus minta izin dulu pada ibu mertua dan anak anak sambungnya itu.
"Tapi aku gak janji ya? Karena aku harus meminta izin dulu sama orang rumah." kata Ines.
"Yah Nes, kok gitu sih? Gak rame kalau gak ada Lo. Acaranya gak lama kok! Setelah pulang kerja kita bisa langsung ke tempat ku.
Acaranya setelah isya. Aku ngajak setelah pulang kerja karena perjalanan yang memakan waktu sejam. Jadi selepas kerja kalian langsung ke sana saja. Aku buat acaranya cepat biar kita gak sampai tengah malam! Aku ngundang teman teman ku hanya sedikit. Jadi kalian harus datang biar tambah ramai dan seru! Please deh!" pinta Lisa kembali.
"Akan ku usahakan....!" kata Ines meski ragu ragu karena gak enak menolak.
"Nah gitu dong, aku senang dengarnya!" kata Lisa tersenyum.
"Untuk makan siang kali ini aku yang traktir. Kalian bebas milih menu apa saja." sambung Lisa kembali.
"Serius lo Lis? wah mantap nih makan gratis!" timpal yang lain merasa senang. Lisa mengiyakan dengan wajah serius. Mereka segera memesan makanan dan minuman sesuai selera.
Sedangkan Ines bingung memikirkan cara untuk meminta izin pada Wisnu.
Apa Wisnu akan mengizinkan dirinya?
__ADS_1
Gimana kalau dia melarang?
Tapi kemudian Wajahnya berubah datar mengingat sesuatu.
"Kenapa juga dia harus melarang? Sala satu syarat pernikahan kan gak boleh mengekang kebebasan masing-masing dan tidak boleh ikut campur. Sekali sekali keluar juga gak apa-apa. Lagi pula mereka juga hanya teman teman kantor." batinnya.
Ines memantapkan hati untuk ikut.
.
.
Selepas jam istirahat.
"Datang ke ruangan ku sekarang juga." pesan dari Wisnu.
"Tidak mau." balas Ines. Kembali kesal mengingat kejadian di ruang kerja Wisnu tadi.
"Jangan membantah Ines, ini perintah!" pesan susulan dari Wisnu.
"Katakan dulu mau apa?" Ines tetap bersikeras menolak datang.
"Jangan banyak tanya, cepat kemari."
"Aku sibuk, ada kerjaan. Katakan dulu mau apa baru aku akan datang. Aku tidak mau jadi patung lagi di sana!" balas Ines ketus, masih kesal dengan perlakuan Wisnu yang mengabaikannya tadi.
"Bersikaplah profesional Nona Ineza Damayanti! Ini perintah dari atasan mu. Cepat kemari. Ini peringatan terakhirku!" di selingi emoticon marah.
"*M*enyebalkan..." dengus Ines mendengar ancaman itu.
"Ya yaa yaaa baiklah aku akan ke sana tuan Wisnu yang terhormat! Tapi boleh nanya gak? Apa Wanita seksi itu masih di sana? Aku tidak mau ke sana kalau dia masih di ruangan Anda!"
"Dia sudah pergi. Kau tidak lihat tadi aku mengantarnya turun ke bawah? jangan banyak bicara lagi. Segera ke sini!" Wisnu segera menonaktifkan ponselnya.
Sambil bersungut-sungut Ines bangkit berdiri dan melangkah menuju ruang kerja Wisnu.
Dia mengetuk pintu tiga kali, lalu segera masuk.
Di lihatnya Wisnu sibuk dengan berkas yang di bawahnya tadi. Tidak ada siapa siapa di dalam selain Wisnu.
"Ada apa? Cepat katakan, aku punya kerjaan." katanya ketus. Tak ada sikap hormat.
Wisnu mengangkat wajahnya melihat padanya.
"Tunjukkan sopan santun mu Nona Ines."
"Aku sudah bersikap sopan dan hormat tadi, tapi anda mengabaikan ku! justru Anda yang tidak sopan dan tidak menghargai orang!" balas kata Ines masih dengan nada ketus.
"Kesalahan anda pada dirimu sendiri!" kata Wisnu menatapnya tajam.
"Kok anda nyalahin aku?" Ines mulai emosi tak terima di salahkan.
"Seharusnya begitu datang kau harus menjelaskan laporan berkas yang kau bawah!" kata Wisnu.
"Mana aku tahu begitu?" Ines tak mau kalah.
"Makanya sebelum ke sini tanya kan kepada orang yang memberimu perintah memberikan berkas ini!"
"Terus aku yang salah begitu? Anda tahu aku baru di sini dan belum begitu tahu hal seperti itu. Seharusnya mereka yang memberi tahu aku. Anda juga menyebalkan....tak memberi tahukan hal itu padaku. Aku bertanya apa lagi yang harus ku kerjakan Anda hanya diam dan mengabaikan ku. Aku bertanya lagi Anda terus diam dan membiarkan aku berdiri terus berjam-jam. Jangankan membalas ucapan ku, melihat ke wajahku pun tak ada." Omel Ines tanpa jeda.
"Kau angkuh dan sombong, tidak menghargai orang. Gak di rumah, di kantor sama saja! Kau sangat......" sambungnya kembali. Tapi terpotong oleh sentakan Wisnu.
"Nona Ines." sentak Wisnu memotong ucapannya.
"Aku belum selesai bicara.....!" sentak Ines lebih keras.
"Kau pikir aku robot tidak merasakan pegal dan sakit berdiri lama seperti itu? Giliran wanita lain yang datang kau perlakukan dengan baik, Anda menyambutnya dengan sangat baik, menawarinya duduk, melayani tujuan kedatangannya. Sedangkan kepadaku? kau bahkan tidak melihat wajahku. Kau terus membiarkan aku berdiri terus selama berjam-jam menyaksikan kedekatan kalian. Kau pikir aku siapa hah? Aku bukan hanya karyawan mu, tapi juga istrimu....!" kata Ines berapi api sambil menunjuk dadanya.
"Kau tidak menghargai aku. Kau tega padaku. Kau benar-benar brengsek. Pada perempuan lain sikapmu sangat baik, tapi kepadaku? sangat buruk! Seharusnya aku tidak bekerja di sini sehingga tidak perlu bertemu dengan mu. Seharusnya aku di rumah saja mengurus si kembar. Tapi aku juga butuh uang untuk biaya kehidupan ku sendiri tuan Wisnu. Aku tidak mau membebankan kebutuhan hidupku kepada dirimu. Karena aku tahu pernikahan seperti apa yang kita jalani. Makanya aku bekerja! Tapi kenapa kau selalu menyulitkan aku? di rumah, di kantor__kau sama saja selalu menyebalkan! Kau tidak menghargai aku. Kau perlakukan aku sama. Tidak apa-apa jika kau tidak menghargai aku sebagai istrimu. Tapi aku mohon hargai aku sebagai karyawan mu! Beri tahu aku apa yang harus aku lakukan, apa yang harus ku kerjakan. Jangan mendiami ku, mengabaikan ku, mengacuhkan ku! Kau pria kejam, jahat, dengan menyiksaku berdiri berjam-jam!" kata Ines berapi api dengan kemarahan menggebu-gebu.
Dia menyapu air matanya yang sudah jatuh sejak tadi.
"Bisakah anda menghargai aku seperti anda menghargai wanita tadi? Atau apa aku harus memperlihatkan aurat ku seperti wanita itu baru itu Anda akan menghargai diriku?" kata Ines dengan suara rendah, tapi air mata telah jatuh.
"Ines...!" sentak Wisnu terperanjat mendengar ucapannya. Dia langsung bangkit berdiri dan mendekati Ines menahan kemarahan.
Keduanya saling menatap tajam dengan kemarahan masing masing.
"Kalau kau tidak bisa menghargai aku sebagai istrimu dan juga sebagai bawahan mu, setidaknya hargai aku sebagai manusia!" kata Ines sinis.
"Maafkan atas sikap kurangajarku ini tuan Wisnu Adi Nugroho yang terhormat. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini! Selamat siang!" kata Ines menatap tajam. Dia menyapu air mata di pipi, lalu segera berbalik.
"Wanita itu adalah tamu penting dari perusahaan X. Menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita. Aku melayaninya untuk menggantikan tuan Rafa. Dan itu sudah tugasku sebagai sekertaris pribadi tuan Rafa!" kata Wisnu segera dan menahan sala satu lengannya membuat wanita yang tengah di kuasai amarah itu batal melangkah.
Ines berbalik dan menepis tangannya.
"Lepas, jangan pegang pegang!" sentaknya.
Dia menatap sinis pada Wisnu.
"Aku tidak perduli wanita itu siapa! Aku tidak perduli hubungan Anda dengannya dan juga yang lainnya. Aku Sudah katakan aku tidak akan mencampuri urusan anda. Anda mau bergaul dan dekat dengan wanita mana pun aku tidak perduli. Aku hanya minta tolong hargai aku sama seperti anda menghargai orang lain!" kata Ines.
Wisnu terhenyak mendengar kata kata itu. Keduanya saling menatap tajam.
Ines berbalik dan melangkah cepat keluar mendekati pintu. Dia ingin segera keluar dari ruang ini.
"Jangan pergi ke acara itu. Jangan ikut bersama mereka. Setelah pulang kerja langsung kembali ke rumah!" kata Wisnu.
Ines batal menarik handle pintu. Dia berbalik melihat pada Wisnu.
"Sama seperti aku yang tidak mau mencampuri urusan Anda, Jangan mencampuri urusanku! Selama aku tidak melakukan hal buruk dan memalukan, jangan melarang ku dan mengekang hidupku!" katanya tegas menatap sinis. Lalu segera membuka pintu dan keluar. Dia menutup pintu dengan keras.
Ines melangkah cepat ke meja kerjanya. Dia sedikit kaget mendengar ucapan Wisnu yang melarangnya pergi ke acara ulang tahun Lisa.
Sementara di ruangannya, Wisnu masih terdiam di tempatnya, dengan menahan kemarahannya.
Bersambung.
Dukung ya biar author tambah semangat up ππ
__ADS_1