
Moly mengajak Ara masuk ke ruang kerja Rafa. Tapi sebelum Ara masuk, secepatnya dia membalikkan papan nama Rafa yang bertuliskan:
..."Rafa Ravendro Artawijaya"...
..." President/ CEO"...
"Silahkan masuk Nona. Pimpinan kami sedang mengadakan meeting penting bersama para direktur. Anda bisa menunggu beliau di sini, ini adalah ruangan saya." kata Moly
"Iya buk, terimakasih." jawab Ara tersenyum.
Ara memperhatikan ruangan yang besar dan luas dengan furniture yang sangat mewah.
"Ruang kerja ibu sangat besar dan mewah." kata Ara takjub.
Moly tersenyum.
"Silahkan duduk, saya keluar dulu sebentar." katanya kemudian.
Ara mengangguk, ia segera duduk.
Moly segera keluar menuju pantry untuk membuat minuman buat Ara sambil senyum senyum. Jari jemarinya bergerak cepat pada keyboard HP mengetik sesuatu.
Ruang meeting
Semua mata fokus menatap ke arah layar lcd proyektor yang menampilkan data dari komputer yang sedang di paparkan oleh Wisnu.
Rafa menyandarkan punggungnya di kursi. Kaki menyilang di bawah meja, tangan kanannya di atas meja dengan jari jemarinya mengetuk ngetuk meja dengan lembut. Rangan kirinya mengelus dagu dan bibirnya secara bergantian.
Pandangannya menatap layar lcd, tapi pikirannya ke ketempat lain. Dia melamun kan kejadian semalam. Membayangkan ciuman yang di lakukan pada Ara. Rafa senyum senyum sendiri dengan perasaan bahagia.
Kebiasaannya setiap kali rapat selalu duduk di kursi bagian belakang, sehingga tidak ada yang memperhatikan tingkah anehnya. Semua peserta fokus menatap ke depan.
Kecuali Wisnu yang melihat tingkah anehnya dari depan.
Ponsel Wisnu yang berada di saku jasnya bergetar sekali. Wisnu mengabaikannya. Dia
tetap fokus dengan presentasinya. Dua menit berlalu, bergetar lagi.
Wisnu segera menghentikan pemaparannya, lalu mengambil ponsel dari saku. Dia membaca pesan yang masuk. Dahi mengerut dan sedikit terkejut setelah membaca isi pesan. Tapi kemudian dia tersenyum sambil menoleh pada tuannya yang masih dengan tingkah anehnya, tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras.
Wisnu segera mendekatinya.
Di ruang kerja Rafa, Moly meletakkan secangkir capuccino dan sebotol air soda dingin di depan Ara.
"Silahkan di minum Nona Ara." katanya sopan.
"Terimakasih. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot menyiapkan ini. Maaf telah merepotkan anda." kata Ara merasa gak enak dengan perlakuan Moly yang berlebihan.
Moly tersenyum.
"Anda jangan berkata seperti itu. Justru ini sudah merupakan tugas saya melayani tamu sepenting anda." ujarnya kemudian.
Ara sedikit melongo mendengar dirinya adalah tamu yang sangat penting."Wah, saya sangat senang dengan pelayanan yang sangat baik dari perusahaan ini. Sekali lagi terima kasih buk Moly." katanya tersenyum.
"Anda terlalu berlebihan Nona. Ayo silahkan di minum kopinya nanti keburu dingin. Maaf, anda harus menunggu sedikit lama karena meeting hari ini sedang membahas projek yang sangat penting dan di pastikan memakan waktu yang lama." kata Moly.
"Tidak apa apa buk, saya akan menunggu meski harus seharian di sini. Karena proposal ini sangat penting buat saya dan juga nasib hidup seseorang," kata Ara menatap Moly sambil membayangkan penderitaan pak kusnadi yang terbaring lemah tak berdaya akibat tumor ganas yang di deritanya.
"Baiklah, jika meetingnya sudah selesai saya akan mengantar anda keruangan pimpinan. Mari, silahkan di minum."
Ara mengangguk. Dia meraih kopi dan meneguk perlahan lahan karena masih sedikit panas.
Pintu di buka secara tiba-tiba. Keduanya kaget dan segera mengalihkan pandangan ke arah pintu. Masuklah seseorang.
Ara terkejut melihat siapa yang masuk. Tanpa sadar dia berdiri. Dan tanpa berkedip menatap wajah orang yang baru masuk.
Antara bingung dan cemas melihat kakak iparnya berdiri di depannya dan menatapnya tajam.
"Tuan Ravendro." kata Moly melihat Rafa. Dia bangkit berdiri.
Sementara Ara menelan ludah, hatinya seketika tidak tenang. Sebentar menoleh pada Moly, lalu menoleh pada Rafa. Rasa takut menghinggapi dirinya membayangkan akan menghadapi kemarahan kakak iparnya lagi. Karena lupa meminta izin ke tempat ini. Semalam dan tadi pagi dia sudah berjanji akan memberitahukan kemanapun dia pergi dan bersama siapa, tapi dia lupa. Rafa tau dia hanya ke kampus dan melakukan penggalangan dana hari ini. Tapi malah di dapatnya berada di tempat ini tanpa meminta izin. Ara sudah yakin, Rafa pasti marah besar padanya.
"Nona Ara, anda kenapa?" tanya Moly melihat Ara gelisah dengan keberadaan Rafa.
"Bapak ini __ kakak ipar saya buk!" jawab Ara terbata.
"Ohhhh. Jadi Tuan Ravendro adalah kakak ipar Anda?" kata Moly pura pura tidak tahu.
Rafa menatap dingin pada Ara. Dia berjalan mendekat.
__ADS_1
"Kakak ipar...," ucap Ara mundur.
"Ma_ maaf, aku lupa meminta izin pada kakak ketempat ini. Aku benar-benar lupa. Tapi kedatangan ku kesini masih berkaitan dengan aktivitas kampus." kata Ara menjelaskan.
Rafa tak menjawab. Hanya menatap.
"Aku kesini untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan ini. Tapi beliau masih rapat sekarang. Aku sedang menunggunya untuk memberikan proposal pengajuan permohonan bantuan. Maaf, aku tidak sempat meminta izin pada kakak, aku benar-benar lupa." katanya kembali terbata bata. Berharap Rafa menerima alasannya.
Rafa menatapnya tajam.
Ara semakin takut dan menunduk. Seharusnya dia menyadari kalau Rafa adalah seorang pengusaha yang bisa berada di mana saja untuk urusan bisnis, termasuk di tempat ini. Dan sudah pasti keberadaan kakak iparnya di tempat ini karena punya urusan bisnis dengan pemilik perusahaan ini.
"Tolong jangan marah kak." ucap Ara kembali karena Rafa hanya diam, sambil menatapnya tajam bercampur marah, dapat dilihat dari sorotan matanya.
Ara kembali menunduk menghindari tatapan Rafa sambil meremas jari jemarinya di depan perut.
Moly tertawa kecil melihat tingkah laku keduanya yang terlihat menggelikan.
"Ya ampun tuan Ravendro, ini benar-benar sangat lucu."
"Keluar kau. Aku pinjam ruangan mu sebentar. Dan tutup tirai nya." kata Rafa menoleh pada Moly."Baik pak, tapi ingat, jangan buat ruangan ku berantakan." ujarnya kembali sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu dia menoleh pada Ara
"Nona Ara, aku tinggalkan kalian di sini. Pastikan kakak ipar mu tidak akan mengacak ngacak tempatku." ucapnya kembali.
Dahi Ara mengerut mendengarnya. Apa separah itu kakak ipar kalau sedang
marah? Apa dia akan membanting dan melempar barang barang yang berada
di sini? batinnya. Tubuhnya langsung merinding membayangkan hal buruk yang akan di lakukan Rafa.
Moly segera keluar setelah sebelumnya menekan sebuah remote yang membuat tirai tertutup, karena sebagian ruang ini berdinding kaca.
Rafa menatap kembali pada Ara setelah Moly menutup pintu.Tatapannya tajam tak berkedip.
Jantung Ara berdegup kencang. Semakin takut.
Rafa bergerak mendekatinya.
Ara mundur.
"Maafkan aku kak, tolong jangan marah." katanya dengan wajah memelas.
"Aku sudah memperingatkan Ara, tapi kau melakukan kesalahan lagi. Kekesalan ku di meja makan tadi belum hilang. Dan belum sampai beberapa jam kau melakukan kesalahan lagi?" katanya dengan suara di tekan.
"Ternyata kau suka sekali ya membuat kesalahan dan membuatku marah?" kata Rafa Rafa lagi.
Ara geleng geleng kepala.
"Tidak kak, aku benar-benar lu__" ucapanya putus dengan kecupan bibir Rafa di bibirnya.
Rafa mengecup dan mengecup lagi dengan cepat tidak memberikan kesempatan padanya untuk menghindar.
Ara tersentak dengan mata membulat.
"Jangan..." menarik kuat kepalanya dan kembali mundur.
Tapi secepatnya Rafa menarik tubuhnya kembali dekat padanya. Dia memegang wajah Ara.
"Kau bahkan menyembunyikan kejadian kemarin yang terjadi di salon dan tidak mengatakan padaku,"
Dahi Ara mengerut."Apa maksud kakak?" tidak mengerti dengan ucapan Rafa.
Rafa tak menjawab, dia kembali mengecup bibirnya. Ini bukan lagi tentang kemarahannya di meja makan. Tapi Kemarahan saat dia mendapatkan informasi kebersamaan Ara dengan Dion kemarin. Tapi Ara tidak mengatakan kebersamaannya dengan pewaris DRA Group itu. Dia menganggap Ara menyembunyikannya. Dan itu membuatnya cemburu dan semakin emosi.
"Jangan kak...," Ara menutup bibirnya dengan kedua tangan. Tapi Rafa menarik tangannya hingga lepas dari bibirnya. Dia membawa kedua tangan Ara di belakang wanita itu dan di pegang kuat.
Ara berontak tapi tenaganya kalah kuat.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?" Rafa menatap Ara dengan emosi. Dia menekan tubuh Ara kebelakang hingga membentur meja kerja. Rafa segera menaikkan tubuh Ara ke atas meja.
"Apa dia menyentuh mu?" membayangkan video yang terjadi di kamar mandi salon, di mana Dion memeluk Ara yang sedang menangis.
Ara tidak mengerti dengan ucapannya. Dia hendak bertanya tapi mulutnya segera di bungkam Rafa. Rafa mel***t bibir Ara dengan kasar. Mengisap, mengulum bergantian bibir atas dan bawah. Saat ini hatinya di kuasai amarah dan api cemburu.
Pesan singkat yang di kirim Moly pada Wisnu. Dan di perlihatkan Wisnu padanya di ruang rapat membuat hatinya sangat senang dan berbunga bunga.
Pesan yang di kirim Moly:
"Hay bos ku, kau kedatangan tamu yang sangat penting dan spesial. Coba kau tebak siapa dia? Rambutnya panjang keriting, kacamatanya tebal, wajahnya sangat cantik dan manis. Tutur katanya sopan dan lembut. Aku bawa dia keruangan mu karena ku tahu dia adalah orang yang sangat penting bagimu. Tapi dia hanya tau kalau itu adalah ruangan ku. Dia kemari mau menemui pemilik sekaligus pimpinan perusahaan ini. Dia sedang menunggumu bos. Apa kau tahu bos?? Bibirnya merah alami sangat menggoda. Bahkan aku saja tergoda dan ingin melahapnya. Ha-ha-ha. Kau ingin tetap dengan projek penting mu itu atau datang ke ruangan mu?"
__ADS_1
Tanpa ba bi bu pada peserta rapat, dia langsung meninggalkan ruang rapat dan berlari menuju ruang kerjanya. Dia benar-benar tidak menyangka Ara akan menginjakan kaki di perusahaannya dan ingin bertemu dengannya. Ara sama sekali tidak mengetahui kalau pemilik perusahaan ini adalah dirinya.
Ara terkejut saat mendengar bunyi sesuatu yang jatuh ke bawah. Tanpa sengaja tangannya mendorong komputer saat meletakkan kedua tangannya kebelakang untuk menopang tubuhnya yang semakin di tekan Rafa di sela ciuman ganasnya. Bukan hanya komputer yang jatuh, tapi juga berkas berkas dan benda benda lain yang ada di atas meja itu.
Ara menatap pada Rafa.
"Kakak cukup, jangan lagi__." pintanya memelas sambil geleng-geleng kepala. Nafasnya tersengal-sengal.
Rafa tak perduli dengan permintaannya. Bukannya berhenti dia kembali menyerang bibir Ara, menekan tubuhnya pada tubuh Ara
Lidahnya menari-nari liar mengabsensi mulut Ara. Melihat Ara yang mulai kesulitan bernafas, dia mengalihkan ciumannya ke leher Ara. Leher jenjang itu tak luput dari bibir dan lidahnya. Dia mencium dengan memberi kecupan kecupan kecil.
Tubuh Ara merinding dan semakin tegang. Ara mengigit kuat bibir bawahnya dengan mata terpejam. Tangan kanannya menjambak kuat rambut Rafa, sementara tangan kirinya menekan pada meja untuk menopang tubuhnya.
"Hentikan, apa yang kakak lakukan?"
Nafasnya berat memburu cepat. Air matanya sudah jatuh di kedua ujung matanya.
L*dah Rafa di rasakan menjalar menjelajahi leher dan daun telinganya. Menj*lati dan memberi kecupan kecupan lembut kadang kuat, dan juga mengigit kecil.
"Akh__!" Ara mendesah tertahan tangannya semakin ******* ***** rambut Rafa kuat.
Tubuhnya semakin menegang. Jari jari kakinya menekuk kaku, merasakan sensasi nikmat sentuhan ini. Biar bagaimanapun, dia adalah wanita normal yang tidak akan bisa bertahan dengan sentuhan indah ini.
"Hentikan kakak, hentikan__" ucapnya sendu. Dia harus hentikan ini.
Bukannya berhenti, Rafa yang telah lepas kendali malah semakin gencar melahap bibir, telinga dan leher Ara dengan jilatan dan kecupan kecupan lembut. Sehingga si empunya kembali mengeluarkan jeritan dan ******* merdu. Ini Sudah tidak wajar bagi Ara. Dia menangis terisak.
"Jangan kak, sudah cukup hentikan. Apa yang kakak lakukan padaku? Aku adik iparmu. Sadarlah kak...!" terisak-isak.
"Aku adik ipar mu, Aku istri adikmu __ kak Raka!" ucap Ara sendu, bibir gemetar. Dia benar benar takut dengan apa yang Rafa lalukan.
Rafa menghentikan cumbuannya, mendengar ucapannya dan merasakan rasa asin di mulutnya. Dia menarik wajahnya dan menatap mata Ara yang terpejam dan mengeluarkan air mata yang banyak membasahi pipi. Tangan Ara yang gemetaran berada di bahunya.
Rafa mengatur nafasnya yang tak beraturan.
Perlahan dia menyapu air mata Ara di pipi Ara. Merapikan rambut Ara yang berantakan, memasang kembali kacamata yang sempat di lepasnya tadi, merapikan pakaian Ara yang acak acakan.
"Maafkan aku," ucapnya pelan merasa bersalah. Bagaimana lagi? Hasratnya di luar kendali.
"Ara, maafkan aku." Katanya lagi seraya memegang kedua tangan Ara untuk meredam ketakutan Ara.
"Jangan menangis. Sungguh maaf kan aku." beralih memegang wajah Ara lembut.
Ara membuka matanya. Dia kembali menangis begitu melihat wajah Rafa.
"Jangan menciumku. Jangan lakukan itu lagi." ucapnya sendu. Tanpa sadar segera memeluk Rafa karena takut.
"Aku sangat takut dengan apa yang kakak lakukan." menangis tersedu-sedu.
Rafa terenyuh mendengar tangisan dan kata kata itu. Dia kembali merasa bersalah. Rafa
segera memeluk tubuh Ara, mengelus rambut dan punggung adik iparnya ini lembut.
"Maaf! Semuanya di luar kendali ku. Aku kehilangan kendaIi tadi karena emosi. Salahmu sendiri selalu membuat ku marah. Aku sudah memperingatkan mu kan? Tapi lagi lagi kau melakukannya. Itu hukuman untukmu, karena selalu menyalahi dan membantah setiap ucapanku." kata Rafa dengan suara rendah.
"Maafkan aku, dan berhentilah menangis."
Ara malah semakin terisak dan menekan wajahnya di dada Rafa.
Sejujurnya Rafa sangat kesal pada Ara setelah mengetahui kejadian yang menimpa Ara kemarin di salon. Melihat Dion memeluknya di kamar mandi membuat amarahnya meluap. Dia baru mendapatkan informasi itu tadi pagi, begitu tiba di kantor.
Perlahan Rafa mengangkat wajah Ara dan di hadapkan padanya.
Ara segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kakak mau apa? Jangan menciumku lagi. Aku janji tidak akan membuat kesalahan lagi yang akan membuat kakak marah." ucapnya lirih sambil geleng-geleng kepala dan semakin kuat menutup mulutnya.
Rafa tersenyum."Tidak." katanya lembut, lalu mengecup kening Ara lembut."Maafkan aku." bisiknya. Lalu membawa tubuh mungil Itu ke dalam pelukannya.
Mengusap rambut dan punggung Ara lembut.
Ara kembali terisak dalam pelukannya.
"Hukuman macam apa ini? Apa dia menghukum setiap orang yang membantah ucapan dan perintahnya dengan cara seperti ini ?" Batin Ara.
...Bersambung ...
Terimakasih bagi yang sudah mampir ๐
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya, kasih kopi dong biar semangat lagi author nulisnya โบ๏ธ