Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 235


__ADS_3

Cindy baru saja dari dokter spesialis kandungan.


Untuk ke dua kalinya dia memeriksakan kehamilannya di dokter praktek karena obat dan vitaminnya telah habis.


Betapa terkejutnya Cindy ketidak dokter mengatakan kalau dia mengandung anak kembar. Bagaimana bisa? Karena waktu pemeriksaan pertama dokter tidak mengatakan kalau dia hamil kembar.


Dokter mengatakan pemeriksaan pertama tidak terdeteksi, dan kali ini cindy melakukan USG dengan gambar tiga dimensi, terlihat dari layar komputer dua detak jantung tampak bergerak.


Semakin bahagia dan bersyukur, tapi juga ada rasa takut yang di rasakan Cindy.


Bagaimana caranya dia melahirkan dan membesarkan anak anak ini tanpa seorang suami? Dia yang belum tahu apa apa dan tidak berpengalaman menjadi seorang ibu yang mengandung dan melahirkan anak.


Cindy keluar dari Alfa mart, lalu duduk sambil karena merasa pusing. Sambil duduk, dia memakan mangga yang baru saja dibelinya.


Sesekali dia melihat dan mengelus perutnya sambil tersenyum. Setelah merasa enakan, Cindy bangkit berdiri dan berjalan menelusuri pertokoan. Tanpa di sadari seseorang mengikutinya dari jarak beberapa meter.


Langkahnya terhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi. Tak kala matanya melihat sepasang suami istri yang sedang berpegangan tangan sambil melihat sebuah baju hamil yang terpasang dalam patung manekin, rona wajah mereka di tampak bahagia. Sesekali sang suami mengelus dan mengecup perut Istrinya yang tampak mulai besar.


Sang pelayan toko melepaskan pakaian hamil dan di berikan pada mereka. Sang istri tersenyum senang, setelah itu mereka melihat melihat pakaian bayi yang lucu.


Cindy tersenyum ikut senang melihatnya, dia mengelus perutnya sambil memperhatikan sebuah baju hamil berwarna biru yang terpajang.


"Mbak pengen mencobanya ?" tanya seorang pelayan toko melihatnya memperhatikan baju hamil.


Cindy kaget "Iy iya...!" jawab refleks karena kaget.


"Kami juga punya model lainnya yang bagus! Anda bisa melihatnya." kata pelayan itu sopan.


Dia segera memperlihatkan beberapa model pakaian ibu hamil pada Cindy.


Cindy menyentuhnya. Bahannya halus dan lembut. Setelah melihat dan memilih, Cindy menyerahkan tiga model untuk di pakainya di rumah.


"Saya mau yang ini."


"Baik mbak."


"Mbak juga sedang hamil ya?" tiba tiba wanita hamil yang bersama suaminya tadi menegurnya.


Cindy kaget.


"Iya mbak !" jawabnya gugup.


"Pasti ngidamnya jahat ya? Susah makan dan semuanya serasa gak enak?" melihat buah mangga tinggal setengah dalam genggaman Cindy.


"Iy iya mbak !" Cindy masih gugup. Dia tersenyum sekilas.


Wanita itu tersenyum.


"Saya juga merasakan hal itu di awal kehamilan, ngidam jahat dan aneh aneh. Tapi hanya sampai usia kandungan lima bulan kok mbak. Setelah itu semua rasa akan normal kembali ! Alhamdulillah mbak semua di nikmati dengan rasa syukur, betapa bahagia dan senangnya mengandung dan menjadi seorang ibu. Dari pada yang lainnya sangat sulit mendapatkan amanah dari Allah," katanya lagi sambil meraba-raba perutnya yang menonjol besar dengan rona bahagia.


Cindy mengangguk angguk tersenyum.


Sang suami selesai membayar di kasir.


"Ayuk ma, kita keluar." sambil memegang tangan istrinya, lalu dia menoleh pada Cindy.


"Mbak sebaiknya di temani suami kalau kemana mana saat hamil begini, jangan pergi sendiri!" katanya kembali sambil tersenyum.


"Ah....iya pak !" jawab Cindy reflek.


"Mari mbak, kami permisi...!" pamit keduanya.


"Silahkan !"


Sepasang suami istri itu segera pergi dari hadapannya.


Cindy menatapnya dengan sedih, dia teringat Dion, seharusnya Dion ada bersamanya menemani kemanapun dia pergi, tapi hal itu tidak mungkin terjadi.


"Maaf mbak, pesanannya." suara pelayan mengagetkannya.


"Iya, sekalian sama dua pasang sepatu bayi itu, sama pakaiannya tolong di bungkus!" menunjuk dua pasang sepatu bayi dan pakaian bayi berwarna biru.


Lalu dia mengeluarkan kartu kredit pemberian Dion untuk melakukan pembayaran. Untuk pertama kalinya dia menggunakan kartu kredit ini.


"Sayang, meski papa kalian tidak bersama kita, tapi tanggung jawabnya ada bersama kita," ucapnya sedih, haru seraya menyentuh perutnya.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Cindy keluar dari toko itu dengan perasaan bahagia karena baju hamil dan pakaian bayi di tangannya. Berulang kali dia melihat pada paper bag yang di pegang nya.


Ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk dari adik lelakinya.


"Kak, papa dan mama sedang menuju jakarta. Mereka datang untuk menghadiri pernikahan kak Dion,"


Cindy terhenyak. Dia ingat, tiga hari lagi pernikahan Dion akan di gelar setelah tertunda selama seminggu di karenakan Sophia sakit.


"Papa dan mama datang ke jakarta? Ya tuhan, Bagaimana jika mereka melihat keadaanku terus curiga?" batinnya tidak tenang. Dia yakin mamanya pasti akan curiga dengan keadaan perubahan dirinya. Karena seorang ibu sangat peka dan nalurinya tidak pernah salah menebak.


"Ya tuhan... bagaimana ini? Bagaimana caranya menghindari papa dan mama?" batinnya tidak tenang.


Telponnya kembali berdering. Membuatnya kaget.


Pesan dari Dinda.


"Cind, datanglah ke rumah paman Ray! Papa dan mamamu baru tiba di Jakarta."


Cindy semakin gelisah. Orang tuanya sudah sampai.


"Papa dan mama sudah sampai di rumah paman Ray?"


Sebuah tepukan di bahu mengagetkan dirinya. Cindy segera berbalik.


"Ines ?" katanya kaget.


Ines tersenyum.


"Kamu lagi ngapain di sini ?" Ines memperhatikan nama toko didepannya, lalu beralih pada paper bag di tangan Cindy.


"Kamu lagi belanja ya? Apa itu yang kamu pegang? Sepertinya keperluan bayi ya?" menengok isi dalam paper bag.


Cindy segera menahan tangannya.


"I iya Nes ...eh maksudku aku membelinya untuk temanku," katanya tergagap sambil tersenyum.


"Teman? Teman siapa? Ara? Apa Ara hamil?" tanya Ines kembali dengan mata melongo.


"Bukan Ara Nes, temanku di kampung!"


Dahi Ines mengerut.


"Ohhhh....." katanya.


"Kamu kok bisa ada di sini?" Cindy balik bertanya untuk mengalihkan perhatian Ines dari baju bayi.


"Kebetulan aku lagi ada perlu sesuatu di sala satu toko sini. Dan aku melihatmu keluar dari toko ini! Makanya aku menyambangi mu. Kamu lagi terima telepon dari siapa? serius amat lihatnya,"


"Dari tante Dinda, mamanya kak Dion. Beliau menyuruhku ke rumahnya soalnya papa mamaku ada di sana."


"Papa mamamu ada di jakarta ini? Wah senang dong kamu Cind, bisa melepas rindu sama orang tuamu,"


"Iya Nes, udah beberapa bulan aku gak ketemu sama orang tuaku. Kami hanya komunikasi lewat telepon. Papa mama kesini karena pernikahannya kak Dion, aku mau ke rumah tante Dinda. Kamu sekarang mau kemana ?"


"Mau pulang ke kost! Kemana lagi.....!"


"Kamu ikut aku saja Nes dari pada sendirian di kost!"


"Emang boleh aku ke rumahnya ortunya kak Dion? Aku takut nanti mereka mempertanyakan diriku!"


"Kenapa takut? Ortunya kak Dion baik kok sama seperti kak Dion. Ayo, sekalian aku juga mau kenalin kamu sama papa mama. Selama ini mereka tahu aku sahabatan sama kamu dan Ara," kata Cindy.


"Boleh boleh Cind, aku mau ...ayo !" Ines antusias.


Mereka segera mencari taksi.


"Pak, antar kami ke alamat X," kata Cindy pada sopir.


"Ara lagi ngapain ya sekarang?" tanya Ines teringat Ara. Karena biasanya mereka selalu jalan bertiga.


"Tadi aku teleponan sama Ara. Katanya dia sedang berkunjung ke yayasan bersama ponakan kembarnya." ujar Cindy tanpa sadar mengelus perutnya.


"Si kembar ?" tanya Ines kembali memperhatikan perut Cindy.


Cindy mengangguk tersenyum masih tetap mengelus perutnya.


"Kenapa kamu nggak jujur sama aku Cin, Kenapa kamu sembunyikan masalah sebesar ini padaku dan Ara? Kenapa kamu gak terbuka dan membagi beban deritamu pada kami? Kenapa kau hanya mengatakan perubahan bentuk tubuhmu hanya kalau kau sedang diet?" batin Ines sedih tak berhenti menatapi perut Cindy.


"Dan Siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu? Siapa yang telah menghamili mu?"


Sebenarnya Ines telah mengikutinya sejak dia dari dokter kandungan tadi, bahkan sejak temannya itu keluar dari apartemennya, terus ke Alfamart membeli buah mangga dan ke toko perlengkapan bayi.


Ines tahu soal kehamilan Cindy berawal dari kecurigaannya saat mereka makan siang setelah melakukan donasi saat itu di Mall.


Saat makan Cindy selalu melap ludahnya dengan tisu. Dan karena tidak tahan perutnya yang mual melihat makanan, Cindy berlari ke toilet dan muntah. Dia mengikuti Cindy karena khawatir.


Sampai di toilet dia melihat Cindy muntah muntah sambil memegangi perutnya, muntah tanpa ada makanan dan minuman, wajahnya pucat dan mandi keringat.


Saat dia hendak mendekati Cindy untuk menenangkannya, telinganya mendengar perkataan seorang pengunjung toilet.


"Mbak lagi ngidam ya? muntahnya kayak orang lagi hamil muda,"


Kaki Ines langsung terhenti, kaget mendengar perkataan pengunjung wanita itu pada Cindy.


Dan di lihatnya Cindy tersenyum sekilas menanggapi perkataan wanita itu. Lalu kembali muntah setelah pengunjung toilet keluar.


Sangat terkejut, seakan tak percaya dengan apa yang di dengar dan lihat, dia masih diam terpaku di tempatnya memperhatikan Cindy.


Cindy meringis tiba tiba sambil memegang perutnya, karena perutnya menempa kuat pinggir wastafel.


Cindy meringis kesakitan dan segera memegang perutnya.


"Sayang, apa kamu baik baik kan di sana? Maaf kan mama sayang, mama benar benar ceroboh dan tidak sengaja! Kamu gak apa-apa kan?" katanya kemudian sambil mengelus perutnya lembut, dengan kedua mata yang basah.


Ines kembali tercengang mendengar perkataannya, mata dan mulutnya terbuka lebar, dia cepat berbalik dan bersembunyi ke dinding.


"Ya tuhan...Cindy hamil? Jadi perubahan tubuhnya selama ini bukan karena dia sedang program diet? tapi karena dia sedang hamil?" tanyanya pada dirinya sendiri seakan tak percaya.


Dia berbalik mengintip Cindy kembali.


Di lihatnya Cindy sedang memakan buah mangga muda dengan cepat dan lahap.


"Maafkan mama sayang, hanya bisa ngasih nutrisi makanan ini buat kamu. Karena hanya ini yang bisa masuk ke tenggorokan mama." kata Cindy sendu seraya mengelus perutnya.


Setelah beberapa gigitan, dia menyimpan kembali sisa buah mangga ke dalam tasnya, lalu segera melangkah keluar.


Kejadian yang sama juga saat terjadi di butik Ara, saat Cindy beradu tenaga dengan Sophia membuatnya pusing dan mual hingga menyebabkan dia muntah.


Serta saat Cindy memaksakan diri memakan makanan yang di sediakan sekretaris Wisnu, tapi kemudian dia berlari ke toilet pamit ingin buang air. Tapi setelah di ikuti, ternyata Cindy sedang muntah muntah.


Ines sebenarnya ingin bertanya, tapi dia tidak tega dan menjaga perasaan Cindy. Dia juga belum berani bicara pada Ara.


"Kenapa kau gak mau terbuka sama aku dan Ara? Kenapa kamu masih sembunyikan masalah kehamilan mu dari kami? Aku menunggu kejujuran mu Cin !" gumamnya sambil terus memperhatikan tangan Cindy mengelus perutnya secara sembunyi sembunyi. Ines iba melihat sahabatnya ini.


Tidak berapa lama mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah dan besar.


Mereka segera di persilahkan masuk oleh pelayan.


"Papa dan Mama Non ada di kamar. Mereka sedang istirahat. Nona naik saja ke atas terus kamar ke 4," kata pelayan itu dengan sopan.


"Terimakasih Bik. Oh ya, tante Dinda dan paman Ray ada?"


"Ada Non, tuan dan nyonya sedang di ruang kerja. Tuan muda Dion juga sedang bersama mereka,"


"Oh iya bik, saya ke atas dulu mau ke kamar Papa dan Mama,"


Cindy segera melangkah menuju tangga, Ines mengikuti dari belakang sambil memperhatikan sekeliling ruangan yang luas dan mewah.


Saat menaiki tangga, telinga mereka mendengar suara ribut-ribut seperti perdebatan. Suara itu dari ruang kerja yang tidak jauh dari tangga. Keduanya berhenti naik.


"Cin, Sepertinya ada suara ribut-ribut dari situ." kata Ines sambil menunjuk ruangan yang terdapat di bawah tangga.


Cindy meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Itu ruang kerja paman Ray! Tunggu bentar ya, gue mau melihat dulu apa yang terjadi," katanya dengan suara rendah.


"Loe mau ninggalin gue? Gak mau, aku ikut. Aku takut!"


"Aku gak lama kok. Kamu juga bisa lihat aku dari sini," kata Cindy.


"Jangan lama lama!"


Cindy mengangguk, lalu melangkah turun menuju ruang kerja pamannya dengan pelan pelan.


Semakin dekat, suara perdebatan itu semakin terdengar oleh telinganya. Perdebatan antara pamannya dan kakak sepupunya, Dion.


"Pokoknya kamu harus menikah dengan Sophia," kata Raymond Alkas keras dengan nada marah.


"Kenapa papa terus memaksaku untuk menikah dengan Sophia? Sudah ku katakan berulangkali aku tidak menyukai wanita itu. Apa kalian tidak berpikir bagaimana nasib pernikahan kami ke depan yang tidak di dasari cinta?" suara Dion yang terus menolak dan tidak terima dengan pernikahan paksa itu.


"Kau harus mengesampingkan perasaanmu Dion. Lupakan tentang cinta, lama kelamaan kau akan mencintai wanita itu. Dengar Dion, saat ini perusahaan sedang mengalami pertumbuhan yang tidak stabil. Perusahaan mengalami banyak kerugian dan hampir bangkrut jika saja tuan Abimanyu tidak membantu kita," kata Raymond.


Dion mendengus kasar.


"Itu karena kesalahan papa sendiri. Aku sudah katakan jangan bekerja sama dengan pihak asing tanpa tahu keadaan pasar saham. Tapi papa tidak mau mendengarkan saran ku. sekarang kita mengalami kerugian besar. Dan aku yang harus jadi korban untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan?" berkata keras.


"Papa tidak mau mendengar pembelaan dan penolakan mu Dion. Kamu harus menikah sebelum rapat pemegang saham di laksanakan. Kau sendiri tahu, tuan Abimanyu memiliki saham paling tertinggi di perusahaan kita. Setelah kau dan Sophia menikah, sudah dapat di pastikan tuan Abimanyu akan mendukung dirimu untuk menjadi presiden direktur DRA Group berikutnya melalui rapat pemegang saham. Papa akan mengundurkan diri setelah kalian menikah dan akan mengangkat mu menjadi pewaris DRA Group berikutnya. Mau tidak mau, suka atau tidak, kau tetap harus menikahi putri tuan Abimanyu. Karena pernikahan ini akan menyelamatkan masa depan perusahaan, karyawan dan yang lebih penting masa depan mu, karirmu!" kata Raymond Alkas tegas.


Cindy terkejut mendengar dari depan pintu.


Dadanya bergemuruh kuat, dia memeluk perutnya dengan tangan kanannya dan satu tangannya membekap mulutnya.


"Jadi perusahaan sedang mengalami masalah besar dan bisa saja bangkrut ?" gumamnya terkejut.


"Dan untuk menyelamatkan dari kebangkrutan kak Dion harus harus menikahi Sophia?"


Air matanya jatuh mengalir, dia mengelus perutnya.Tubuhnya tersandar ke dinding karena kedua lututnya di rasa lemah untuk menopang tubuhnya.


Sepertinya dia memang tidak bisa berharap pada Dion. Dia harus pergi jauh menanggung semua beban hidupnya seorang diri demi menyelamatkan perusahaan, masa depan dan karier dari ayah anak anaknya.


Cindy semakin sedih membayangkan bagaimana hidupnya nanti melahirkan dan hidup bersama anaknya tanpa suami.


Ines yang sudah berada di belakangnya tanpa di sadarnya, Ines juga ikut mendengar perdebatan yang terjadi di dalam karena kerasnya suara perdebatan itu.


Ines memandanginya dengan sedih.


"Kenapa Cindy menangis seperti itu? Apa karena kak Dion akan menikah dengan Sophia? Apakah anak yang di kandungnya adalah anak kak Dion?"


"Tapi mana mungkin? Selama beberapa bulan terakhir kak Dion tunggal di London, dan tidak mungkin juga Cindy hamil anaknya karena mereka kakak dan adik," batinnya memperhatikan Cindy. Dia segera membuang jauh pikiran buruk itu.


Pintu tiba-tiba terbuka. Ines segera bersembunyi di balik tiang tembok takut ketahuan menguping.


Dion kaget melihat Cindy di depan pintu. Yang juga kaget dengan dirinya yang tiba-tiba keluar. Dia menatap Cindy sejenak, melihat wajah Cindy yang sembab dan merah. Lalu melangkah pergi.


"Kak...!" panggil Cindy pelan. Tapi tak digubris Dion. Dia terus melangkah.


"Dion, Dion dengarkan perkataan papa mu nak. Kau harus menikahi Sophia nak! Hanya ini cara satu satunya untuk menyelamatkan perusahaan." terdengar teriakan Dinda dari dalam.


Dion melangkah tanpa memperdulikan teriakan mamanya.


Cindy segera mengejar sambil menyapu air mata nya.


"Kak, kak Dion." panggilnya.


"Dengarkan kata paman Ray dan tante Dinda! Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan! Kakak harus menikahi Sophia." menahan lengan Dion.


Dion terus berjalan dengan amarah.


"Berhenti kak!" Cind menarik lengannya kuat hingga langkah Dion terhenti.


Dion berbalik dan menatapnya dengan tajam karena masih di kuasai amarah.


"Aku tidak tidak mencintainya. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak ku cintai!" kata Dion keras seraya menepis tangan Cindy kuat, lalu kembali melangkah.


Pegangan Cindy lepas, Cindy terhuyung kebelakang. Perutnya membentur sofa.


Dia menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.


"Cindy...." teriak Ines segera berlari kepadanya.


Dion terkejut mendengar teriakannya dan langsung berbalik.


"Cindy."


Ines Segera memegangi perut Cindy.


"Cindy, kau baik baik saja? Perutmu tidak kenapa kenapa kan? Apa sakit ?" khawatir dengan kandungan Cindy.


Cindy tidak mengindahkan pertanyaan Ines. Dia melangkah mendekati Dion. Terus memegang kedua lengan Dion.


"Kak, Sophia mencintai kakak. Kakak juga pasti akan mencintainya jika nanti kalian punya anak. Anak yang akan menyatukan hati kalian dalam ikatan cinta. Cobalah untuk menerima Sophia secara perlahan." ucapnya dengan nada bergetar karena sedih, matanya berkaca. Hati terluka.


Ines ikutan sedih mendengar ucapannya.


Dion menatapnya lekat.


"Kau juga mendukung papa dan mama? hah? Kakak mengira kau ada di pihakku Cind. Tapi kamu juga sependapat dengan papa dan mama tanpa perduli dengan kebahagiaan ku."


Cindy geleng geleng kepala tidak bermaksud seperti itu.


"Kau pikir bisa semudah itu menerima seorang yang tidak kita cintai? Dan sangat tidak kita inginkan dalam hidup kita? Sudah ku katakan, aku tidak akan pernah bisa menerima wanita itu." kata Dion kembali dengan tegas.


"Lalu maunya kakak apa harus Ara yang harus menikah dengan kakak? Karena hanya dia yang kakak cintai? Begitu kah?" Cindy membalas tatapannya dengan tajam.

__ADS_1


Dion mendengus kesal, lalu melangkah pergi.


"Kak, berpikirlah realistis. Ara tuh sudah menikah. Kenapa kakak tidak bisa menerima kenyataan kalau Ara sudah menjadi milik orang lain? Lupakan Ara, dia sudah bahagia dengan suaminya dan juga rumah tangganya. Terimalah Sophia dan menikahlah dengannya." Cindy mengikuti dengan langkah cepat. Ines pun ikut ikutan mengikutinya karena khawatir dengan keadaannya.


"Kak Dion, tunggu kak berhenti." panggil Cindy pada Dion yang terus berjalan. Tapi Dion tidak mengindahkan panggilannya.


Karena langkah yang terlalu cepat membuat perut Cindy sakit, kepalanya juga pusing. Dia terhuyung ke belakang sambil memegang perut.


"Cindy..." pekik Ines melihatnya.


"Kamu kenapa Cind? Kak Dion ... Cindy kak." teriaknya pada Dion yang sudah mau masuk mobil.


Dion batal membuka pintu mobil. Dia menoleh dan terkejut melihat Cindy. Dengan cepat dia berlari ke arah mereka.


"Cindy, kamu kenapa?" ujarnya khawatir. Dia segera mengangkat tubuh Cindy dan mendudukkan di sofa.


"Kamu sakit perut lagi?" tanya nya kembali melihat Cind memegang perut.


"Kamu pasti belum makan hingga perutmu sakit. Aku sudah bilang hentikan diet mu itu." kata Dion agak keras. Dia ikut menyentuh perut Cindy. Terus melihat wajah Cindy yang pucat. Dion ingin bicara tapi batal dengan suara Rina.


"Cindy ...!" terdengar panggilan dari belakang mereka.


Mereka terdiam di tempat dan menoleh ke belakang.


Cindy terkejut "Mama!" mulai tidak tenang mendengar suara itu.


Rina, mama Cindy mendekati mereka.


"Kamu kenapa Cind?" memperhatikan Cindy.


Cindy gugup dan berusaha berdiri tegak.


"Aku nggak apa-apa ma!" memberikan senyuman dengan menarik kedua ujung bibirnya ke atas.


"Mama dengar tadi Dion mengatakan kamu sakit perut!" menoleh pada Dion sekilas.


"Hanya sakit perut biasa kok ma!" kata Cindy kembali ngeles memasang wajah senyum.


"Dan.... sepertinya kamu tidak sehat, tubuhmu kurus dan wajahmu pucat ! Apa kamu sakit ?" memegang dagu Cindy sambil memperhatikan wajah putrinya.


Cindy kelabakan dan kembali mengurai senyuman.


"Aku hanya sedang tidak sehat. Aku baik baik saja! Aku rindu sama mama." dia langsung memeluk mamanya untuk mengalihkan perhatian mamanya pada keadaan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian ibu dan anak itu berpelukan saling melepas rindu. Rina lupa dengan keadaan fisik Cindy karena rasa rindu.


"Aku tadi mau melihat papa dan mama di kamar. Tapi kata bik Ira papa dan mama lagi istirahat. Aku jadi tidak tega bangunin. Apa papa masih tidur?" tanya Cindy setelah melepas pelukan.


"Iya, papamu lagi tidur karena kecapean terduduk lama di pesawat." kata Rina.


"Kalau gitu nanti saja aku menyapa papa. Oh ya ma perkenalkan ini Ines, sala satu sahabat mu yang sering ku katakan pada kalian." menoleh pada Ines.


Ines segera menyalami mama Cindy.


"Saya Ines tante!" katanya tersenyum.


"Saya Rina mamanya Cindy. Kamu gadis cantik dan baik. Cindy sering menyebut nama kamu dan siap lagi ya? Ara kalau gak salah. Kata Cindy, kalian berdua adalah sahabat terbaiknya di kampus, katanya dia sangat beruntung memiliki sahabat sebaik kalian." ujar Rina tersenyum.


Ines ikutan tersenyum.


"Cindy juga sahabat terbaik kami tante, kami juga sangat senang dan beruntung memiliki sahabat sebaik dia," memegang tangan Cindy.


"Tante Rina, saya pamit dulu mau keluar." kata Dion menyela pembicaraan mereka.


"Iya nak. Hati hati di luar sana, sebentar lagi kamu akan menikah, jaga diri baik-baik! Tante juga mau bicara sebentar dengan Cindy secara pribadi.Cindy ...kamu ikut mama sebentar, ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu." kata Rina.


Cindy terkejut, dia menelan ludah seraya menoleh pada Ines dan Dion bergantian.


"Mama pasti akan membicarakan tentang keadaan diriku. Bagaimana ini ?" batinnya gelisah.


Ines ikut merasa kan kegelisahannya, tapi dia bingung bagaimana bisa membantu.


Dion segera pamit dan melangkah menuju mobil.


"Ma, kebetulan aku ada keperluan sangat penting. Aku ingin mengirimkan barang ini pada temanku secepatnya. Bisakah kita lain kali saja kita bicara? Masih banyak waktu untuk kita bicara! Mama juga baru sampai, pasti masih capek. Mama lanjutkan lagi istirahatnya. Papa juga sendirian di kamar, mama harus temani papa!" kata Cindy buru buru. Lalu segera sambil mengambil paper bag di sofa dan di perlihatkan pada mamanya.


"Aku ingin mengantar ini secepatnya." katanya kembali.


Rina melihat paper bag itu.


Cindy segera memeluk mamanya.


"Aku mau menumpang di mobilnya kak Dion, maaf ya ma....aku tinggal dulu." katanya terburu buru.


"Baiklah, hati hati di luar!" Rina mengalah.


"Iya ma, permisi."


Cindy segera menarik tangan Ines.


Ines mengikuti langkahnya setelah pamit pada Rina.


Cindy mencegat mobil Dion yang berjalan keluar dari parkiran.


Dion menginjak rem tiba tiba, lalu membuka kaca mobil.


"Kak, aku sama Ines numpang ya ? Hanya sampai depan saja, aku mohon!" katanya memelas sambil menoleh sekilas pada mamanya yang memperhatikan mereka.


Dion menoleh sekilas pada Rina.


"Naiklah!" dia tahu Cindy sengaja menghindar dari mamanya.


Cindy dan Ines Segera naik. Mobil bergerak berjalan.


Cindy melambaikan tangan pada mamanya yang langsung di balas oleh Rina, lalu dia segera masuk ke dalam setelah mobil itu hilang dari pandangannya.


"Kamu bandel banget Cindy? Sudah di bilangin jangan diet lagi, kenapa kamu tidak mendengar perkataan kakak?" kata Dion agak keras melirik sekilas Cindy dari kaca tengah mobil.


Cindy menelan ludah.


"A-aku udah berhenti diet kak, tapi selera makan ku belum kembali, aku masih gak berselera untuk makan!" jawabnya pelan dan takut.


"Kenapa kamu nggak jujur saja sama kak Dion, kalau sebenarnya kamu sedang hamil Cin? siapa tahu kak Dion bisa membantu mu!" batin Ines menatapnya sedih.


Dia memegang tangan Cindy lembut.


Cindy menoleh ke padanya sesaat dan membalas genggaman tangannya.


Keduanya tersenyum dalam kesedihan.


"Kalau itu bukan anak kak Dion, lalu anak siapa?" batin Ines kembali.


Mobil berhenti karena lampu merah.


"Kalau begitu gitu aku akan mengajakmu ke dokter pribadi untuk memeriksakan dirimu. Biar dokter akan memberikan vitamin dan obat untukmu agar nafsu makan mu kembali!" Dion kembali berkata memecah keheningan.


Cindy tercengang.


"Ke dokter?" katanya spontan.


"Iya, sekalian memeriksakan perutmu yang selalu sakit!" ujar Dion melihat dari spion.


"Itu nggak perlu, Kakak nggak usah repot-repot nganterin aku. Kapan kapan aku saja sama Ines akan pergi ke dokter. Aku nggak bisa sekarang karena aku sedang ada urusan saat ini." ucapnya tidak tenang.


"Aku tidak merasa di repotin. Lagi pula ini sudah malam, urusanmu besok saja. Kakak sudah berulangkali memberitahu mu jangan keluar malam hari, berbahaya!" kata Dion kembali dengan tegas.


Mobil kembali berjalan.


Tidak lama mobil berhenti di sebuah restoran mewah.


"Turunlah, kita makan malam sebentar. Kalian belum makan kan?" ujar Dion menatap mereka satu persatu. Lalu segera turun.


Cindy dan Ines dan saling berpandangan, lalu mereka berdua ikut turun.


Mereka melangkah masuk dan di sambut ramah dan sopan.


"Selamat datang tuan muda Alkas." sambut sang manager dengan sopan.


Dion mengangguk pelan, dia meraba-raba ponselnya di saku. Tapi benda itu tak ada.


"Cindy, kalian duluan dulu, kakak mau ngambil ponsel ketinggalan di mobil !" katanya padanya Cindy.


"Baik kak !" Cindy melanjutkan langkah mengikuti manager.


Dion melangkah keluar menuju tempat mobilnya terparkir.


Matanya melihat ke sana kemari mencari ponselnya, dan tanpa sengaja melihat paper bag milik Cindy.


"Apa ini ? Barang apa yang harus di kirimkan malam malam begini?" gumamnya.


Dia memasukkan tangannya ke dalam, mengeluarkan isi nya.


Dion tersenyum melihatnya.


"Lucu!" gumamnya.


"Buat siapa ini?" menyentuh lembut kedua benda itu.


Matanya beralih melihat tiga pasang pakaian hamil.


"Untuk siapa barang barang ini? Siapa yang lai hamil? Apa temannya?"


Dion memasukkan kembali semua barang barang itu ke paper bag


Setelah mengambil ponselnya, dia segera melangkah masuk ke dalam resto menuju ruang privat yang di pesan dalam perjalanan tadi.


Perut Cindy mulai mual melihat makanan yang di sajikan.


"Makanlah kalian!" kata Dion pada keduanya.


"Terimakasih kak!" ucap Ines.


"Kakak nggak makan ?" tanya Cindy melihat Dion tak menyentuh makanan.


"Aku gak suka makanannya, gak nafsu! Aku hanya pesankan ini untuk kalian." kata Dion.


Cindy baru ingat kalau kakaknya tidak suka makanan di luar, kecuali hanya makanan yang di masaknya.


"Makanannya terlalu banyak, siapa yang akan habiskan ini?" Ines menatap satu persatu makanan di meja.


"Makan saja semampu kalian, dan kamu Cindy, makanlah yang banyak jika tidak ingin ke dokter!" jawab Dion menoleh pada Cindy.


"Kakak juga harus makan yang banyak, jangan sampai berat badan kakak turun. Karena jas pengantinnya sudah pas di tubuh kakak, gak bagus di lihat kalau longgar di badan."


Dion mendesah kesal.


"Makanlah, jangan mengungkit hal itu !" menatap Cindy tajam.


Cindy dan Ines kembali berpandangan.


Mereka segera mengambil makanan, lalu makan perlahan lahan tanpa nafsu.


Ines juga jadi ketularan kehilangan selera makannya melihat Cindy gelisah di tempat duduknya sambil menekan nekan perutnya


di bawah meja.


Perut Cindy mulas seakan di aduk aduk kuat, dia menahan ingin muntah sejak tadi.


Tidak tega melihat ketersiksaan Cindy, Ines mengambil ponselnya di tas dan pura pura membaca sebuah pesan.


"Cindy, kak Dion. Aku harus balik nih, ibu kost menanyakan diriku yang belum pulang. Tadi aku gak sempat izin sama beliau! Maaf, boleh aku pamit duluan? Kalian lanjutkan saja makannya ya?" melihat pada Dion dan Cindy bergantian.


Dia segera memakai tas selempangnya lalu bangkit.


"Aku juga udah selesai kok Nes, kak Dion juga nggak makan. Kita pulang bareng bareng saja." ujar Cindy reflex dan merasa senang karena akhirnya bisa menghindari makanan ini.


"Kak, kita antar Ines ke kost sebentar boleh nggak?" melihat pada Dion yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Nggak usah Cin, aku naik taksi online saja." tolak Ines tak ingin merepotkan Dion.


Dion mematikan ponselnya dan segera berdiri.


"Ayo Nes, kakak antar kau, sekalian ngantar Cindy pulang ke apartemennya!"


Dion segera melangkah keluar dan menuju lift untuk membawa mereka turun ke bawah.


Cindy dan Ines tak banyak cakap dan mengikuti langkahnya.


Beberapa saat setelah mengantar Ines ke


kostnya.


"Kakak nggak makan tadi, perut kakak kosong! Dari tadi hanya di isi air terus!"


Cindy menoleh pada Dion.


"Kak...." panggilnya kembali melihat Dion hanya diam.


"Kakak malas makan Cin," jawab Dion seadanya, melirik sekilas dan kembali fokus ke depan.


"Kakak mau aku masakin?"


Dion tak menjawab.


"Kakak mampir dulu ke apartemen ku, aku akan masakin kakak makanan." kata Cindy kembali.


Dion kembali tak menjawab. Entah kenapa dia merasa malas dan tidak bersemangat.


"Kak, stop di depan ya ...aku mau mampir bentar di Alfamart, mau beli bahan makanan."


Dion mengikuti perkataannya, memarkir mobilnya di depan Alfamart.


Cindy segera turun, Dion ikut turun.


"Kakak tunggu di mobil saja."


"Aku akan menemanimu." Dion menarik tangannya.


Cindy tak berani membantah, karena dia tahu suasana hati Dion sedang tidak baik saat ini karena masalah perdebatan pernikahan tadi.


Beberapa saat setelah memilih dan memasukkan semua keperluan yang di butuhkan dan di masukan Cindy ke keranjang, Dion mengantri di kasir untuk membayar.


Cindy menunggunya di luar sambil duduk menikmati buah apel hijau segar.


Sepasang suami istri yang baru saja keluar menarik perhatian Cindy. Sang istri yang tengah hamil tua, tangannya tak lepas dari perutnya. Sang suami pun sesekali menyentuh perut sang istri.


Keduanya duduk tidak jauh di depan Cindy, karena sang istri kelihatan capek setelah berbelanja.


Sang suami duduk jongkok di kaki Istrinya, lalu memijit kaki Istrinya pelan pelan,


Sesekali mengelus lagi perut Istrinya dan mengecupnya. Pijatannya bergantian dari kaki sampai betis, keduanya tersenyum bahagia.


Sungguh pemandangan yang sangat indah di lihat Cindy.


Cindy tersenyum melihatnya, tanpa sadar dia pun mengelus perutnya dengan lembut, haru bahagia. Dion keluar dan melihat apa yang di lakukannya, melihatnya mengelus perut sambil menatap ke arah pasangan suami istri.


Dion segera mendekat.


"Kamu kenapa ngelus perut begitu? Terus lihat pasutri itu?" kata Dion mengagetkannya.


Cindy terkejut tidak menyadari ke kedatangannya.


"Lihat, kamu bahkan sampai nangis begitu! Apa kamu juga hamil kayak ibu itu?" kata Dion bercanda menggoda sambil tersenyum lebar.


Cindy langsung tertawa kecil menutupi kegugupannya.


"Kakak bisa aja deh, aku hanya sedang membayangkan bagaimana jika nanti aku hamil seperti itu. Pasti senang banget karena di beri kepercayaan dan amanah oleh Allah seperti mereka. Aku terharu banget melihat perhatian dan kasih sayang suaminya saat melayani Istrinya dengan senang hati dan ikhlas, kakak lihat kan mereka sangat bahagia sekali," ujar Cindy tersenyum terharu.


Dion kembali menatapi pasangan suami istri itu, dia juga ikut tersenyum melihat sang suami yang berlutut memijat mijat kaki istrinya. Sesekali mengelus dan mengecup perut besar istrinya dengan ekspresi bahagia.


"Ya...harus seperti itu sebagai calon ayah. Harus siap sedia dan siaga setiap saat, tulus, ikhlas melayani serta mendampingi istri sampai melahirkan. Karena ibu hamil itu banyak ujian dan cobaannya, juga banyak deritanya!" katanya kemudian seraya menarik tangan Cindy berdiri dan melangkah menuju ke mobil.


"Kalau kamu kepengen hamil kayak ibu itu, ya...kamu harus nikah dulu." sambung Dion kembali sambil tertawa kecil.


Cindy memukul lengan kakaknya agak kuat dan ikut tertawa, tapi sesak dan sedih terasa di hatinya.


Dia segera masuk ke mobil ketika Dion membukakan pintu untuknya.


Dion memasukkan barang barang ke bagasi, lalu segera duduk di belakang kemudi. Perlahan mobil bergerak melaju ke jalan raya.


"Memangnya kakak tahu dari mana derita ibu hamil seperti itu?" Cindy memecah keheningan.


Dion menoleh padanya sesaat.


"Kebetulan Istri staf divisi pemasaran di kantor sedang hamil muda. Ngidam istrinya tuh aneh aneh. Hal itu berdampak buruk pada pekerjaannya yang selalu terganggu karena setiap saat selalu keluar dan izin untuk memenuhi keinginan dan mendampingi istirnya. Terus dia kena teguran dari kepala divisinya. Dia menghadap ke aku dan mengatakan alasannya yang tidak profesional dalam pekerjaannya belakangan ini." kata Dion menjelaskan.


Cindy mendengar kan dengan serius.


"Pernah dua kali istirnya datang ke kantor nyusul suaminya. Dan kau tau apa yang di lakukan nya di kantor? Dia datang hanya karena sangat ingin menciumi ketek suaminya," kata Dion tertawa.


Tawa Cindy pecah.


"Ah.....masj sih sampai segitu?" Cindy kurang percaya.


"Benar! Istrinya sampai nangis dan muntah muntah karena awalnya keinginannya Itu tidak di turutin suaminya, karena suaminya merasa gak enak dan malu sama staf kantor. Tapi akhirnya dia kasihan dan membiarkan apa yang di lakukan istrinya di depan teman temannya. Setelah puas nyium ketek suaminya, istirnya tersenyum bahagia dan segera pulang ! ha-ha-ha....!"


Cindy kembali tertawa keras mendengar cerita Dion.


"Makanya seorang calon ayah harus siaga setiap saat 1x24 untuk mendampingi, melayani dan memenuhi keinginan istri yang sedang hamil," ujar Dion kembali menoleh pada Cindy.

__ADS_1


Cindy mengangguk angguk tersenyum bercampur sedih, dia kembali menyentuh perutnya lembut.


Cindy terdiam membayangkan bagaimana perutnya kelak akan membesar dan hanya seorang diri tak ada seorang yang menemani.


Cindy mendesah sedih dan memalingkan wajahnya ke kaca mobil, menyandarkan kepalanya pada jok mobil, ujung kiri matanya mengalir air bening.


Dia memejamkan mata untuk menekan kesedihannya.


Hingga tidak lama kemudian dia tertidur.


Mobil memasuki parkiran apartemen.


Dion memarkir mobilnya, lalu membangunkan Cindy.


Cindy tetap diam tertidur. Dion jadi tidak tega membangunkannya.


Dia memanggil salah satu petugas keamanan untuk di mintai tolong membawa bahan bahan makanan ke apartemen Cindy.


Lalu membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh Cindy pelan.


Dahi Dion mengerut melihat ujung mata kirinya yang basah oleh air mata. Dan pada pipi kirinya terdapat bekas air mata yang sudah mengering.


Setelah menempelkan kartu ke pemindai, pintu terbuka, Dion masuk.


Dia menyuruh petugas keamanan meletakkan bahan makanan di meja sofa.


Setelah petugas keamanan pergi, Dion segera membawa tubuh Cindy menuju tangga dan naik ke atas, masuk ke kamar gadis itu.


Perlahan dia membaringkan tubuh adik sepupunya itu agar tidak terbangun.


Cindy menggeliat dan bergerak asal, kaos oblong nya terangkat ke atas, hingga perutnya kelihatan.


Dion meraih selimut dan menarik ke atas hendak menutupkannya pada gadis itu.


Tarikan selimut terhenti pada perut Cindy.


Dia tertegun melihat perut Cindy yang terasa aneh di matanya.


Perlahan dia menyentuhnya, menatap dengan tatapan menyelidik pada perut adiknya itu.Tidak rata dan tampak menonjol. Dion merasa aneh.


Kedua alis Dion terpaut.


"Kenapa perutnya seperti besar? Padahal kan dia tidak makan dan tidak punya selera makan. Tubuhnya juga kurus. Terus sakit perut apa yang di deritanya? Selama beberapa minggu terkahir ini dia mengeluhkan perutnya sakit," gumamnya penasaran dengan sakit perut Cindy.


"Kamu sakit apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak terbuka padaku?" batin Dion kembali masih menatapi tubuh Cindy yang semakin kurus. Dia khawatir dengan penyakit Cindy. Jangan jangan penyakit berbahaya.


Beberapa saat memperhatikan perut gadis itu, Dion segera keluar setelah sebelumnya memperbaiki selimut ke tubuh Cindy.


Dion turun dan mengambil bahan bahan makanan dan di bawanya ke dapur, dan di masukkan ke dalam kulkas. Ada beberapa buah mangga segar dan jeruk manis di dalam sana, dan juga beberapa botol susu siap minum, hanya itu yang ada di dalam sana.


Dion menutup kembali lemari pendingin.


Dia menuju wastafel dan membasuh wajahnya sebentar.


Lalu dia menuju kamar tidur yang berada di bawah, kakinya membawa tubuhnya ke balkon kamar. Dion duduk setengah berbaring di sofa sambil menatapi langit yang gelap tanpa bulan dan bintang. Hanya cahaya lampu yang berasal dari gedung pencakar langit lainnya menerangi suasana malam yang kelam.


Dion membuang nafas berat, pikirannya melayang pada pernikahan nya dan juga nasib perusahaan.


Dia kesal dan mengusap wajahnya kasar. Ingin sekali dia berteriak mengeluarkan segala emosi yang ada di dalam hati dan jiwanya.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tidak berapa lama dia tertidur dengan kedua tangan ber sidekap di dada, satu kakinya di tekuk dan satunya tergeletak lurus.


Cindy menggeliat di tempat tidur, dia langsung membuka mata dan menyadari berada di dalam kamar apartemennya. Dia teringat Dion. Segera dia turun dan memeriksa dapur, ruang tamu dan tengah,


tak ada Dion di sana.


Dia segera menuju kamar dekat tangga, perlahan di bukannya.


Ranjang kosong, dia melihat ke balkon.


Segera dia beranjak ke sana.


Di lihatnya Dion tertidur pulas.


"Kenapa tidur di sini sih, udaranya dingin begini." gumamnya.


Cindy balik ke kamar dan mengambil selimut, lalu di tutup kan pada tubuh Dion dengan pelan pelan.


Setelah Itu dia segera keluar balik lagi ke kamarnya, masuk ke kamar mandi,


mencuci muka dan menyikat gigi, lalu mengganti pakaiannya dengan daster selutut.


Keluar lagi dari kamar dan turun menuju dapur memasak makanan untuk Dion. Kali aja kakak sepupunya itu bangun tengah malam karena lapar. Karena kakaknya itu belum makan malam, dan mungkin juga tidak makan siang dan hanya minum air putih.


Cindy segera beraksi dengan cepat, karena malam semakin larut, sudah mau masuk pertengahan malam.


Dengan susah payah sambil menutupi hidungnya dengan tisu, dan sesekali berlari ke wastafel untuk muntah.


Sejam lebih bertarung melawan rasa tidak mengenakan pada dirinya, dia berhasil membuat dua menu makanan, omlet sayur dan sup kacang merah.


Cindy segera menaruh makanan itu di nampan, juga air putih, susu rendah lemak yang bernutrisi, dan jus limun.


Bergegas dia menuju kamar Dion. Di dapatnya Dion masih tertidur pulas.


Cindy meletakkan makanan di atas meja sofa,


lalu dia mendekat dan duduk di samping kakak sepupunya ini dengan perlahan. Cindy menatapi wajah tampan yang tertidur dengan tenang, tak ada masalah, tanpa lelah, sedih, dan marah. Wajah itu sangat tenang dalam tidurnya yang lelap.


Cindy tersenyum melihatnya.


Tangannya bergerak menelusuri setiap bagian wajah kakaknya ini, tanpa menyentuh kulitnya, hanya di atas kulitnya saja. Dia tidak ingin membangunkan kakaknya sekaligus ayah dari anak anaknya ini.


Wajah Cindy tiba tiba berubah mendung,


mengingat dalam beberapa hari lagi Dion akan menikah dengan wanita lain, dan sah menjadi suami wanita lain. Pernikahan itu akan membuat Dion jauh darinya dan terpisah dari anak-anaknya. Dan dia harus mengikhlaskannya demi masa depan Dion dan juga perusahaan.


Cindy menekan kedua matanya yang basah,


khawatir tangisnya akan pecah didepan pria ini. Cindy perlahan bangkit berdiri. Tapi tangannya di tarik kuat oleh Dion hingga tubuhnya jatuh di atas dada Dion.


Cindy kaget, dia cepat menyapu kedua ujung matanya yang basah.


Dion membaringkan tubuh Cindy di sampingnya. Berbaring posisi miring, Berbantal di lengannya. Untuk selanjutnya Dion memeluk tubuh Cindy dari belakang.


Cindy yang masih kaget sangat gugup, jantung berdebar.


"Kakak nggak tidur?" tanyanya buka suara menghilangkan kecanggungan.


"Kamu menatapku bagaimana aku bisa tidur? Di tambah lagi jarimu menelusuri wajahku," jawab Dion mengelus lengannya pelan.


Dahi Cindy mengerut. Jadi Dion tahu apa yang dia lakukan.


"Aku sudah masakin makanan buat kakak! kakak makan dulu," teringat makanan Cindy hendak bangun, tapi Dion mempererat pelukannya.


"Begini dulu sebentar! Janga bergerak." kata Dion. Entah kenapa dia ingin memeluk adiknya ini lebih lama.


Cindy termangu mendengar perkataannya. Dia diam dan tidak melakukan pergerakan.


"Kenapa kau menatapku dengan sedih?" Dion bertanya, sembari memegang jari jemari kurus gadis ini.


Cindy terdiam dan gelisah. Pelukan dan sentuhan ini membuat tubuhnya tegang.


Cindy bingung mau jawab apa.


"Kak, aku nggak mandi tadi, aku bau asam! Apa kakak nggak bisa bau? Lepas dong...! Sebaiknya kita bangun, dan kakak makanlah."


Dion mencium tengkuknya, membuat Cindy kaget dan merinding.


"Wangi. Aku malah suka aroma tubuhmu." kata Dion kemudian masih menyesap aroma wangi tubuh Cindy.


"Katakan, kenapa kamu sedih menatapku tadi! Pikiranmu juga sedang berbicara sesuatu,"


Cindy menelan ludahnya, dadanya bergemuruh kuat.


Dion membalikkan tubuhnya menghadap kepadanya, keduanya saling menatap. Jemari Dion beralih ke wajah Cindy, mengelus lembut pipi mulus, alis, hidung, dagu dan berhenti pada bibir yang merah alami Cindy. Dion menatap benda kenyal itu.


Dia ingat beberapa kali mengecup dan mencium benda itu tanpa sengaja. Hingga membuat si empunya marah karena kehilangan ciuman pertama. Dion tersenyum dalam hati mengingat kemarahan itu. Tatapannya beralih pada netra Cindy.


Jantung Cindy kembali berdebar tak menentu dengan tatapan dan sentuhan lembut ini.


"Mungkin karena kakak akan segera menikah!Kita tidak akan bisa sama sama seperti ini lagi, tentu saja aku sedih!" jawab Cindy berbohong.


"Hanya karena itu?" tanya Dion menatap dalam-dalam netra di depannya.


Cindy mengangguk lemah, meski jawaban bukan hanya sekedar itu.


"Kamu sendiri yang memaksa aku menikah dengan wanita itu kan? Kamu sama seperti mama dan papa! Seharusnya kamu membantuku untuk menolak pernikahan itu. Kamu tahu sendiri, Sophia bukan wanita baik. Kamu gak mikir kebahagiaan hidup kakak kedepannya?"


Cindy menelan ludahnya.


"Kakak jangan seperti itu, mengertilah maksud paman Ray dan tante Dinda. Kalau bukan untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan paman Ray tidak akan memaksa kakak menikah dengan Sophia. Paman Ray melakukan karena terpaksa." kata Cindy.


"Aku lebih baik tidak menikah sama sekali dari pada menikahi wanita itu." kata Dion.


"Gak baik ngomong begitu. Setiap ucapan itu adalah doa. Jadi ucap kan yang baik baik saja." kata Cindy segera. Dia membekap mulut Dion segera.


Perlahan tangannya memegang wajah Dion, menatap wajah itu sendu.


"Sophia gadis yang cantik, dia juga mencintai kakak. Aku yakin seiring berjalannya waktu kakak juga akan mencintainya. Bukalah sedikit hati kakak untuk menerima dia," suara serak dan sesak di dada mengatakan kata kata itu.


"Aku akan selalu berdoa semoga pernikahan kalian lancar sampai hari H. Rumah tangga kalian akan di penuhi cinta dan kebahagiaan, dan di beri anak anak yang lucu dan manis !" lanjutnya kembali berusaha tersenyum.


Dion menatapi setiap bagian bagian wajah Cindy. Entah kenapa hatinya merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia juga tahu, sebenarnya Cindy tidak setuju dirinya menikah dengan Sophia, karena Sophia bukan wanita baik, jahat dan tidak tepat untuk menjadi istrinya.


Tak tahan air matanya akan jatuh, Cindy segera meletakkan wajahnya di dada Dion untuk menyembunyikan air matanya yang telah mengalir.


"Semoga kakak bahagia bersama Sophia !" sambungnya kembali, dengan nafas yang tercekik di tenggorokannya.


Dion kembali merasakan keanehan dari ucapannya.


Dia tahu dan dapat merasakan saat ini Cindy sedang menangis.


Dion juga sebenarnya sangat sedih mengingat tidak akan bisa bebas lagi setelah menikah nanti.


"Cind, Kamu jangan sedih dan khawatir. Kita akan tetap selalu bersama selamanya apa pun yang terjadi. Kita akan terus seperti ini, menjadi kakak dan adik yang akan terus bersama dan saling membutuhkan." kata Dion mendekap kepala Cindy di dadanya.


Cindy terisak."Tidak kak, kita mungkin tidak akan bisa bersama seperti ini lagi nanti. Kita akan jarang bertemu bahkan mungkin dalam waktu yang lama. Karena setelah wisuda aku akan melanjutkan pendidikan pascasarjana ku di kota lain. Kita sudah pernah membahas ini kan? Dan kakak setuju akan hal itu. Makanya aku sedih dan menangis mengingat akan berpisah lama dari kakak, orang yang sangat baik dan perduli padaku," kata Cindy kembali sambil terisak karena tidak mampu lagi menahan tangis.


Dion terperangah mendengar perkataannya.


Dia segera memeluk tubuh kurus gadis ini, membelai dan mengecup rambutnya berulang.


Jadi karena hal itu membuatnya sedih dan menangis? batin Dion.


Cindy merasa tenang berada dalam pelukan hangat kasih sayang kakaknya.


"Kakak janji akan selalu mengunjungimu di sana. Kakak janji kita akan terpisah kan oleh jarak dan waktu." kata Dion. Dion memegang wajah Cindy dan mengecup keningnya lembut. Sangat berat rasanya berpisah dari adiknya. Sejujurnya dia tidak ingin berpisah. Tapi mau bagaimana lagi, Cindy lebih memilih kuliah di kota lain. Cindy terisak. Dion kembali mengecup keningnya, lalu memeluk kembali.


Setelah berpelukan beberapa saat, Cindy segera menarik tubuhnya, melepas pelukan tangan Dion. Dia bangun dan bangkit berdiri seraya menyapu air matanya.


"Kakak makan dulu, nanti makanannya keburu dingin! Ayo..." ucapnya seraya mengulas senyum. Dia segera menarik tangan Dion untuk bangun.


Dion segera bangun mengikuti tarikan tangannya. Mereka melangkah mendekati makanan, duduk saling berhadapan di batasi meja.


"Makanlah kak, kakak pasti lapar!"


Dion tersenyum senang melihat makanan ini.


"Terimakasih!" ucapnya kemudian dan mulai melahap makanan perlahan-lahan.


"Enak kak? " tanya Cindy menatapi wajahnya.


Dion mengangguk angguk.


Keringat mulai muncul di wajahnya, dia makan dengan lahap. Sesekali dia menyuapi Cindy, Cindy pun demikian. Mereka suap suapan seolah merasa ini terakhir kalinya mereka bersama, bercanda bahagia seperti ini. Untung saja perut Cindy mau di ajak kompromi. Tidak mual.


Sekarang Dion sedang menikmati jus limun nya.


"Kak, aku ingin menyampaikan sesuatu! Aku harap kakak tidak marah!" kata Cindy pelan.


Dion menatapnya sambil meneguk sisa jusnya.


"Setelah kakak menikah lusa, aku akan ke kota X untuk mengecek kampus baruku dan melihat lihat kotanya. Terus setelah wisuda nanti, aku akan tinggal dan menetap di sana sampai kuliah pasca sarjanaku selesai!"


"Dan sudah pasti selama aku di sana apartemenku akan kosong. Jadi aku akan mengembalikan pada kakak, aku tidak memerlukannya lagi!" kata Cindy kembali takut takut.


Dion terdiam dan menatapnya.


Cindy mengeluarkan sesuatu dari kantong saku dasternya.


"Aku....aku juga ingin mengembalikan ini. Aku tidak memerlukannya, dan tidak begitu membutuhkannya! Saat ini perusahaan paman Ray sedang mengalami masa sulit, aku tidak ingin menambah beban kakak," katanya pelan dan hati-hati seraya meletakkan kartu kredit di meja tepat di depan Dion.


Wajah Dion berubah tegang dan dingin. Seketika dia menatap tajam pada Cindy.


Cindy segera menunduk karena terlalu takut menatap mata menakutkan yang seakan ingin menerkamnya.


"Ambil kembali kartu kredit itu, semua pengeluaran dan tagihannya menggunakan uang pribadiku, tidak ada hubungannya dengan uang papa atau uang perusahaan. Jadi ambil kembali dan jangan lagi mengungkit apartemen mu. Aku membelinya dengan uangku sendiri," katanya agak keras.


"Tapi kak...!"


"Diam... jangan bicarakan hal ini lagi!" sentak Dion kembali sambil melempar kartu kredit itu di depan Cindy, lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari balkon dan kamar.


Cindy terhenyak, tubuh gemetar dan lemah. Dia segera meraih kembali benda tipis itu dan menyimpannya di dalam saku. Lalu bangkit berdiri memungut piring piring bekas makan Dion tadi, bersama gelas. Di letakkan di atas nampan, lalu di angkatnya di bawah keluar. Dia menuju dapur dan meletakkan di wastafel.


Cindy melangkah ke ruang TV, di dapatnya Dion sedang menonton sambil berbaring.


Matanya pada TV tapi pikirannya ke tempat lain, terlihat jelas dari wajahnya tampak masih emosi.


Cindy perlahan mendekat, takut takut.


"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud membuat kakak tersinggung dan marah. Aku tidur dulu. Kakak juga harus tidur, ini sudah jam satu dini hari, kakak jangan begadang, nanti kakak sakit." ucapnya pelan, lalu segera berbalik melangkah menuju tangga pergi ke kamarnya dengan tubuh lemah.


Dion segera bangun dan melihat kearahnya.


Dia membuang nafas kasar, menyesali kemarahannya tadi. Dia bangkit dari duduknya mengusap wajahnya kasar, lalu menyusul gadis itu ke kamarnya.


Di dapatnya Cindy berbaring dengan tubuh miring menekuk lutut dan memeluk perutnya.


Dion segera duduk di pinggir ranjang pelan pelan.


"Cindy....maafkan kakak ya? Tadi berkata kasar dan marah kepadamu," katanya pelan. Dia tahu Cindy belum tidur.


Cindy kaget dan cepat menyapu air matanya.


Dion semakin bersalah melihat wajah basah adiknya ini.


Perlahan dia naik dan segera berbaring dan memeluk dari belakang. Cindy kembali kaget dan tegang.


"Cind, Kakak izin tidur di ranjang mu ya? Kita tidur bersama malam ini." kata Dion, meski ini bukan pertama kalinya mereka tidur bersama di ranjang yang sama.


Cindy diam tak menjawab, hanya jantungnya kembali berdebar tak karuan.


Dion membelai rambutnya pelan dan sesekali di kecup nya, terus berpindah ke tengkuk.


Timbul ide jahil untuk menggoda adiknya ini karena hanya diam terus.


"Kamu benar Cindy, rambut kamu baunya asem," katanya tersenyum jahil.


Hah? Cindy terbelalak mendengar ucapannya.


Segera dia bergerak untuk bangun, tapi Dion menahan tubuhnya dan memeluknya kuat.


"Kakak lepas..," kata Cindy merasa kesal campur malu.


Dion tertawa kecil.


"Lepas dong kak, katanya bau, kenapa masih meluk?" kata Cindy semakin kesal.


Dion segera membalikkan tubuh gadis itu menghadap kepadanya.


Cindy cepat memalingkan wajah malunya ke sebelah.


Dion kembali tertawa kecil.


"Kakak bohong Cin, rambutmu wangi kok, Kakak suka baunya...," katanya kemudian lalu mencium kening adiknya ini lembut.


Cindy kesal, dan mencubit dadanya.


"Menyebalkan." pekik Cindy.


Dion meringis sakit sambil tertawa. Dia kembali mengecup kening Cindy.


"Habisnya kamu hanya diam terus. Maaf, Kakak Hany bercanda. Tubuh mu wangi kok!" kata Dion.


Cindy menatap cemberut dengan bibir mengerucut.


Dion menyambar bibir itu dengan kecupan cepat, karena merasa gemas.


Cindy melongo terkejut. "Ih kakak," pekik Cindy kembali kesal. Dia mengusap kecupan Dion di bibirnya.


Dion tertawa. Lalu segera memeluknya.


"Tidurlah, jangan sedih lagi...,"


Cindy langsung terdiam. Beberapa saat kemudian dia membalas pelukan Dion. Hatinya jadi tenang berada dalam pelukan ini. Dia menghirup aroma tubuh kakaknya, merasa nyaman dan bahagia. Perlahan dia memejamkan mata. Berusaha untuk tidur di antara deru jantungnya yang masih berdebar.


...Bersambung....


Tinggalkan jejak dukungan ya....

__ADS_1


__ADS_2