
2 bulan kemudian
Berkat kerjasama dari pihak kecamatan, kepala desa dan warga setempat, serta kemurahan hati dari seorang warga yang bersedia menjual tanah kosongnya yang berada tepat di belakang rumah Ara berukuran 2 hektar, pembangunan panti asuhan mulai di lakukan.
Hari ini mereka melakukan peletakan batu pertama di iringi doa dari anak anak panti Asuhan.
Raka juga datang menemani Ara, dia mendatangkan beberapa alat berat untuk mempercepat proses pembangunan panti asuhan itu serta buruh bangunan profesinal.
Bukan hanya sekedar panty asuhan, Ara juga membangun tempat itu menjadi sebuah sekolah pesantren sebagai tempat untuk anak anak mengenyam pendidikan.
Jadi nanti tempat itu akan menjadi sebuah panti asuhan dan sebuah yayasan pesantren untuk tempat belajar ilmu agama bagi siapa saja, baik anak anak yang mampu dan tidak.
Baru dua kali Raka datang ke tempat itu, pertama kali Waktu ia datang saat ziarah ke makam orang tua Ara dan meminta restu untuk menikahi Ara dua bulan yang lalu.
Ara sangat bersyukur, berkat bantuan dari Raka yang menyumbangkan uang pribadinya untuk pembangunan pesantren dan panti Asuhan itu.
Tentu biayanya tidak sedikit, dan untuk selanjutnya Ara akan mencari para donatur untuk kelangsungan panti asuhan itu.
yang penting baginya pembangunan dulu di lakukan karena mengingat makin bertambahnya jumlah anak dan kekurangan ruangan untuk tempat mereka tidur, sholat dan mengaji.
Mengingat jauhnya tempat Ara dari Alokasi pembangunan panti, Ara mempercayakan pembangunan itu kepada kepala desa setempat dan juga dalam pengawasan mbok imah dan tito. Setiap saat Tito yang akan memberi laporan.
Setelah pamit, Raka dan Ara meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana dengan ujian mu sayang?" tanya Raka dalam perjalanan pulang.
"Alhamdulillah lancar kak, semoga hasil ujiannya memuaskan! tak terasa aku sudah mau masuk semester 5, nanti kalau aku
__ADS_1
Wisuda, aku ingin kakak mendampingiku dengan bangga, aku akan memakaikan toga keberhasilan ku pada kakak sebagai perwakilan dari ayah dan ibu." kata Ara penuh semangat.
"Tentu sayang, kakak dengan bangga akan mendampingi mu, kau sala satu mahasiswi berprestasi di kampusmu, tentu aku akan merasa sangat bangga ! ayah dan ibumu juga pasti akan sangat bangga padamu." jawab Raka yang sibuk menyetir.
Ara memeluk dan menyandarkan kepalanya di sala satu tangan suaminya.
"Kakak sudah menemui dokter kemarin?"
"Sudah sayang, kamu jangan khawatir, kakak baik baik saja."
"Boleh kakak menepi sebentar?"
Raka menoleh penuh tanya, lalu tersenyum menggangguk.
Dia segera menepikan mobilnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap istrinya.
Ara tak menjawab, dia mendekatkan tubuhnya pada Raka, mengecup bibir suaminya lembut, lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya, memeluknya hangat.
"Aku ingin memeluk kakak seperti ini."
Raka nampak heran dengan sikap istrinya ini .
Dia mengangkat wajah Ara ke atas, membelai lembut pipi istrinya itu.
"Ada apa sih sayang?"
"Gak ada apa apa, aku hanya kangen saja, rindu pengen meluk." kata Ara sedikit manja.
__ADS_1
Raka kembali tersenyum, menatap lekat wajah cantik istrinya, sungguh cantik meski tanpa polesan make up, bibir mungilnya yang berwarna pink alami selalu menggodanya, membuatnya ingin menikmatinya selalu.
Cup ..
Raka mengecupnya sekali,
lalu menyentuh lembut dengan ibu jarinya,
dia ingin melihat wajah cantik ini selalu dan selamanya.
"Wajah kakak pucat lagi, apa kakak baik baik saja?" kata Ara yang mendongak ke atas ikut menatap wajah suaminya.
"Aku baik baik saja sayang."
Ara membelai wajah suaminya itu.
"Aku sangat bersyukur bisa memiliki kakak, memiliki wajah tampan ini, senyuman manis ini, tubuh hangat ini, kebaikan kakak, kasih sayang kakak, cinta kakak... semuanya." Ara tersenyum terharu, mengecup lengan Raka.
"Aku janji akan mendampingi, mencintai kakak selamanya sampai akhir hayat ku."
"Sayaang, aku pun sangat beruntung memiliki mu, jika tuhan mengijinkan, kita akan hidup bersama selamanya bersama anak anak kita nanti." Raka tersenyum mengecup bibir mungil itu kembali, menciumnya lembut.
Ara ikut membalasnya, ciuman panjang terjadi beberapa saat.
Ara menarik penyatuan bibir mereka karena dia mulai susah bernafas, mereka saling menatap tersenyum dengan nafas tersengal sengal.
Beberapa saat kemudian, mereka melanjutkan perjalanan kembali.
__ADS_1
*****