
...Happy Reading....
Malam semakin larut, menambah kesunyian suasana panti. Para penghuninya mulai mengistirahatkan raga. Yang terlihat hanya 2 satpam penjaga di pos penjagaan sedang ngerumpi sambil menikmati kopi bersama beberapa warga yang bertugas ronda malam.
Rafa menaiki tangga menuju kamar Ara. Dia baru saja menyelesaikan urusan pernikahan nya dengan Levina. Perlahan Rafa membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali.
Senyum bahagia langsung menghias di wajahnya melihat ke arah tempat tidur. Menatap ketiga orang yang di dicintainya tertidur nyenyak dengan posisi tidur yang berantakan. Ara berada di tengah si kembar, posisi Cia yang tidur di atas tubuhnya dengan menelungkup. Di sebelahnya Cio berbaring terlentang dengan kepala di atas lengan kanan Ara sebagai bantalan. Bocah kecil itu memeluk Ara sekaligus adiknya.
"Tubuhnya pasti keram." gumam Rafa melihat tubuh Ara yang di tempa kedua keponakannya. Dia mendekat ke tepi ranjang, perlahan naik ke tempat tidur, lalu menurunkan tubuh Cia, di letakkan di sebelah kiri Ara. Cia nampak bergerak memiringkan tubuhnya memeluk kembali Ara dari samping.
Rafa tersenyum."Tidak akan ada yang mengambil Antemu." ucap Rafa mengelus rambut Cia lembut. Dia tidak menyangka betapa sayangnya kedua keponakannya ini pada Ara. Lalu dia memutar tubuhnya ke sebelah ranjang, mengangkat kepala Cio dari lengan Ara dan menggantinya dengan bantal. Kemudian merubah posisi tangan Ara di letakkan pada perut wanitanya itu.
Dia menatap wajah cantik Ara yang sedang terlelap, menatap lembut dengan elusan lembut di lengan wanita kesayangannya itu. Dia mendekat kan wajahnya, mengecup lembut kening Ara terus ke bibir wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Terimakasih sudah menikah dengan ku dan menjadi istriku." bisiknya pelan. Dia menarik selimut kemudian menutupi ketiga tubuh orang yang dia sangat sayangi itu.
Ruang ranjang tidur yang sudah penuh tidak memungkinkan dirinya untuk tidur bersama mereka. Rafa segera meraih bantal, lalu di letakkan pada sofa besar yang berada di ujung ranjang.
Tapi sebelum merebahkan tubuhnya, dia masuk kedalam kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 23.30. Di sebuah apartemen, tepatnya di sebuah kamar yang tampak sangat berantakan.
"Brengsek kamu Rafa...." teriak Levina histeris penuh amarah. Dia melempar apa saja yang ada di dekatnya.
"Aku akan membalas mu, lihat saja nanti." kembali melempar sepatunya ke arah kaca, dan.....Praaaaang.
Kaca itu retak pecah, berjatuhan ke lantai.
Impian yang selama ini selalu di khayal kan untuk menjadi pendamping hidup pemilik Ravend Group malah berujung buruk pada hidup dan kariernya. Impiannya yang sangat ingin menjadi Nyonya Rafa Ravendro Artawijaya kandas seketika, padahal tinggal selangkah. Pernikahan yang selama ini dia idam idamkan berakhir memalukan dan menyakitkan.
Dia melangkah membawa berjuta kebahagiaan saat datang ke lokasi tempatnya akan menikah dengan Rafa. Tapi ternyata Rafa malah menjebaknya. Rafa bukan menikahinya malah menikahkan dirinya dengan Alex. Dia tidak punya daya menolak karena Rafa mengancam akan melaporkan ke polisi atas perbuatannya yang dulu menggugurkan kandungan dan membuang bayinya di jalan. Rafa sengaja menjebaknya dengan menyuruhnya datang ke panti asuhan Azahra. Menikahkan dirinya secara paksa di bawah ancaman. Alex yang merupakan Ayah dari bayinya yang di buang lalu. Dan juga mempertemukan dirinya dengan bayinya yang kini telah berusia 10 bulan. Dia tidak menyangka kalau Rafa dapat mengendus kejahatannya dan juga penghianatan nya bersama Alex.
Dulu, 10 bulan lalu, dia sengaja melahirkan bayinya secara paksa dengan prematur kemudian membuangnya di depan panti asuhan yang tidak diketahuinya adalah milik Ara. Apapun akan di lakukan demi untuk menutupi aibnya dan menjaga karirnya sebagai model. Tapi dia tidak menyangka Rafa dapat mengendus perbuatan kotor dan jahatnya itu.
Bukan hanya perselingkuhannya dengan Alex yang di ketahui oleh Rafa, tapi juga dengan William. Rafa melemparkan beberapa foto panas dirinya dengan William yang terjadi di Inggris dan juga hotelnya di bali.
"Jauhi ibuku, jauhi keluargaku. Jangan pernah lagi datang ke rumahku, jangan menggangu ketentraman keluargaku. Kalau kau tidak ingin merasakan betapa mengerikannya neraka dunia, mengerti kau?" ancaman Rafa dengan sorotan mata tajam penuh Amarah.
Levina kembali berteriak histeris dan melempar sepatutnya yang satu ke kaca mengingat ancaman Rafa tadi.
"Praaaaang___."
"Brengs*k kamu Rafa. Teriaknya geram dengan darah yang mendidih. Tubuhnya melorot kebawah mengenai serpihan kaca, tapi tak di pedulikan. Hatinya sangat sakit. Kemarahan, kebencian bercampur jadi satu.
"Lihat saja Rafa, aku pasti akan membalas mu." ucapnya dengan tatapan sinis menyeramkan.
Pernikahannya dengan Rafa sudah tersebar ke semua kalangan artis dan model. Semua teman teman artis dan model sudah tahu pernikahannya dengan CEO tampan itu akan berlangsung sore ini. Tapi kini hidup dan karirnya sudah hancur. Yang tersisa hanyalah segumpal kebencian kemarahan dan dendam.
__ADS_1
.
.
Suara Adzan Subuh dari mesjid panti membangunkan Ara dari alam tidurnya.
Perlahan dia membuka mata dan menguceknya pelan. Dia merasakan tubuhnya terasa berat. Saat penglihatannya mulai jelas dia sangat terkejut melihat wajah Rafa berada tepat di depannya. Ara kembali terkejut setelah menyadari posisi tubuh mereka yang saling berpelukan berhadapan. Kepalanya Berbantal di lengan Rafa. Tangan Rafa memeluk perutnya, kaki Rafa berada di atas perutnya. Dekapan itu di rasakan Ara sangat hangat.
Dan apa ini? tubuh kakak iparnya ini dalam keadaan setengah telanjang. Rafa hanya memakai bokser pendek ketat. Terpampang jelas tubuh kekar berotot dengan pahatan yang sempurna. Kulit putih bersih dan halus.
Reflek Ara bergerak bangun
"Kakak ipar...,"
Dia memperhatikan wajah Rafa yang tertidur.
Ara merasa bingung dengan keberadaan dirinya yang kini tidur di sofa."Kok aku bisa tidur di Sofa? Perasaan semalam aku tidur di ranjang sama anak anak," gumamnya Dia melihat si kembar yang tertidur pulas. Dahinya mengerut, bola matanya bergerak mengingat apa yang terjadi semalam.
"Apa kakak ipar yang membawa ku ke Sofa? Atau aku mimpi berjalan?" gumamnya lagi. Kepalanya jadi pusing.
Ara kembali menatap wajah Rafa. Maksud hati ingin membangunkan Rafa untuk shalat subuh. Perlahan dia menurunkan tangan dan kaki Rafa dari tubuhnya. Tapi Rafa kembali membawa tubuhnya ke pelukannya. Selanjutnya pria itu kembali tidur dengan nafas yang teratur.
"Kak, bangun." menyentuh tangan Rafa pelan.
"Sudah waktunya shalat subuh, Ayo bangun." berusaha menurunkan tangan Rafa, kemudian segera bangun dan duduk. Dia menepuk pelan tangan Rafa.
"Bangun kak." tapi tak ada pergerakan. Yang terdengar hanya dengkuran halus dari mulut Rafa.
"Jam berapa dia tidur semalam? Aku tertidur lelap sehingga tidak mengetahui dia masuk." gumam Ara. Dia kembali menatap Rafa.
Perlahan dia mendekatkan mulutnya ke telinga Rafa.
"Kak Rafa_ bangun, sudah subuh." menambah volume suara, dan menepuk tangan tangan Rafa. Tak ada pergerakan. Ara memilih untuk turun dari sofa, tapi Rafa menangkap tangannya dan menariknya kuat ke samping hingga tubuh Ara ikut tertarik dan terbaring di sampingnya.
Ara terkejut."Apa yang kakak lakukan?"
"Justru aku yang nanya, apa yang kamu lakukan padaku?" kata Rafa seraya naik di atas tubuh Ara menahan dan mengukung tubuh Ara di bawah tubuhnya.
"Lakukan apa? Aku sedang membangunkan kakak, tuh dengar udah Adzan subuh." Ara menunjuk ke arah letak mesjid. Lalu mendorong tubuh Rafa tapi Rafa menahan kedua tangannya dan di tekan di kedua samping kepala Ara. Suara Ara di telinganya di sertai hembusan nafas wanita itu membuat tubuhnya merinding merasakan sensasi aneh.
"Aku nggak ngelakuin apa apa kok, hanya bangunin kakak aja. Dari tadi aku bangunin tapi nggak bangun bangun! Awas ah, menyingkir dari tubuhku." Ara mulai kesal.
Rafa menatap wajahnya Lekat.
"Lain kali kalau membangunkan aku bukan seperti itu, karena aku nggak akan terbangun." katanya jahil.
Dahi Ara mengerut.
"Terus gimana? Apa harus teriak keras? Yang ada kakak pasti akan marah."
Rafa tersenyum kecil.
__ADS_1
"Bukan berteriak, tapi begini ....." Rafa mengecup bibir Ara dengan gerakan cepat.
Ara kaget tidak sempat menghindar. "Kakak...apaan sih?"
Rafa mengecup lagi, lagi dan lagi.
Ara berusaha menghindari kecupan itu. Dia berontak tapi tangannya semakin di tekan kuat. Dan Kecupan Rafa berubah menjadi sebuah ciuman dan lum*tan. Rafa mengulum bibir bawah dan atas Ara di sertai hisapan lembut. Ara menghindari ciuman itu, tapi Rafa menahan kepalanya kuat dengan satu tangannya. Tangan lainnya menekan kedua tangan Ara di atas kepala. Lalu kembali menciumi bibir Ara atas bawah bergantian, mengulumnya lembut. Sejak semalam dia sangat ingin menyentuh dan menikmati bibir manis yang membuatnya candu.
"Akhhh___!" Ara merasakan kelenyar aneh memenuhi otak dan tubuhnya.
Rafa menarik wajahnya, memberi kesempatan pada Ara untuk menghirup Oksigen. Nafasnya memburu cepat, matanya menatap liar bibir yang di dekat bibirnya.
Dia tidak tahan dan kembali melahap benda kenyal itu dengan rakus. Tapi beberapa saat kemudian Rafa menghentikan ciumannya melihat kedua ujung mata Ara basah. Dia jadi tak tega untuk melakukan lagi.
"Jangan cium aku. Hentikan." pinta Ara sendu. Dadanya berdegup kencang, turun naik nafas memburu tak beraturan.
Rafa membuang nafas kasar, sesaat dia mengecup lembut kening Ara, lalu segera bangun dari atas tubuh Ara. Kemudian menarik pelan tubuh Ara untuk bangun.
"Salahmu sendiri datang kesini dan tidur bersamaku,"
Ara bergeming mendengar perkataan itu.
"Apa? Benarkah?" tanyanya kemudian.
"Kalau tidak, kenapa kau bisa berada di Sofa dan tidur bersama ku?" kata Rafa menatap tajam.
"Kau bahkan memelukku sepanjang malam. Aku sudah berusaha membangunkan mu, tapi kau ke enakan meluk terus tak melepaskan." sambungnya kembali dengan senyum tertahan.
Ara melengos, menghindari tatapan Rafa. Dia mendorong tubuh Rafa yang masih mengukung nya, lalu bangun seraya memperbaiki piyamanya."Tidak Mungkin." gumamnya.
"Tidak mungkin katamu?" Rafa membawa wajah Ara melihat kepadanya."Saat kau bangun tadi bagaimana posisi tubuhmu? ha?" Rafa menatapnya lekat. Di hati senyum senyum jahil.
Ara malu. Wajah memerah. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan Rafa. Dia masih tetap tidak percaya dengan apa yang di katakan Rafa.
"Masa iya aku yang datang kepadanya?" tetap tidak percaya. Dia segera turun dari ranjang menghindari godaan Rafa.
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, Pergilah ke kamar mandi. Nanti waktu shalat keburu habis. Aku akan membangunkan anak anak." ujar Rafa sambil bangkit berdiri.
Ara segera melangkah menuju kamar mandi.
Rafa menatap kepergiannya dengan senyuman, tertawa dalam hati.
Sebenarnya dia yang mengangkat tubuh Ara ke bawah. Karena lelapnya tidur Ara tidak menyadari tubuhnya di pindahkan ke Sofa
Rafa tak tahan melihat tubuh istrinya tidur terpisah darinya. Dia ingin tidur memeluk dan merasakan kehangatan tubuh Ara. Makanya dia memindahkan tubuh Ara Sofa
Sepanjang malam dia hanya menatapi wajah cantik manis Ara dengan senyuman bahagia. memeluknya, mengecup keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya berulang ulang.
Dan saat menghitung menit alarm hp Ara akan berbunyi, dia segera memiringkan posisi Ara menghadap ke arahnya. Meletakkan kepala Ara di lengannya, kaki dan tangan Ara di perut dan dadanya seolah-olah memeluknya. Lalu segera berpura-pura tidur saat alarm berbunyi.
Rafa kembali tersenyum mengingat kejahilan manisnya itu. Tapi sesaat kemudian dia mengumpat. Begitu melihat sesuatu yang mengeras di bawah tubuhnya ___sialan!
__ADS_1
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir ya.. jangan lupa like komen dan vote nya ππππ