Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 107


__ADS_3

Sementara para mahasiswa nampak menjerit-jerit histeris melihat ke arah Rafa yang bercakap cakap dengan rektor di sela sela langkah mereka keluar dari ruangan itu.


Mereka tidak menyangka kalau pemilik universitas ini adalah pria yang sangat tampan dan masih muda.


Mereka berusaha mendekat dan mencari perhatian Rafa, tetapi di halangi Wisnu dan petugas keamanan.


Sherly, sala satu primadona kampus memiliki tubuh seksi, cantik, kaya raya, banyak di gilai mahasiswa kampus, menyerobot paksa ke arah Rafa di bantu oleh teman temannya.


Dia memegang lengan Rafa dan berusaha mengambil foto gambar dirinya dengan Rafa,


tapi Rafa segera mengangkat tangan menutupi wajahnya.


Sedangkan Wisnu menyambar ponsel gadis itu lalu segera menghapus foto dan menonaktifkannya, kemudian memberikan kembali ponsel Itu pada pemiliknya. Sherly mendengus kesal.


Wisnu segera mengiringi langkah tuannya dengan cepat menuruni tangga.


Dari arah samping kiri kanan, depan dan belakang berjaga jaga para petugas keamanan memagari mereka berdua.


Sementara Ara Cindy dan Ines duduk di taman sambil tertawa mendengar penjelasan Ara mengenai penampilannya.


"Hay semua." suara dari belakang membuat ketiga gadis itu menoleh.


"Eh kak Dion." seru Cindy melihat kakak sepupunya berada di belakang mereka.


"Boleh gabung nih?"


"Boleh..boleh kak, ayo duduklah bersama kami." kata Ines mempersilahkan cowok itu duduk di depan Ara, sedangkan dia sendiri duduk di depan Cindy.


Dion menatap Ara


"Hay Ara." sapanya tersenyum.


"Hay juga kak." balas Ara ikut tersenyum lalu menyerut minumannya.


"Kakak mengenali Ara?" tanya Cindy yang melihat dion tidak terkejut dengan penampilan Ara.


"Iya kenal lah, kenapa kamu tanya begitu?"


"Kak Dion nggak terkejut dengan penampilannya? kami berdua saja tidak mengenalnya waktu dia datang ke auditorium tadi."


Dion tertawa kecil .


"Kalian ini gimana sih, katanya teman dekat, sahabat sejati selalu ada dalam suka duka. Tapi saat Ara baru mengubah penampilannya sedikit saja tidak di kenali." ujar Dion.


Cindy dan Ines tertawa terkekeh.


"Habisnya Ara nggak ngasih tau juga sih, adakan konferensi pers ke' untuk perubahan penampilanmu itu." celetuk Ines.


Mereka kembali tertawa kecil, Ara tersenyum menanggapi komentar ke dua temannya.


Sedangkan Dion diam diam memperhatikannya, lucu tapi tetap cantik dengan rambut keriting bergelombang.


"Meski merubah penampilan bagaimanapun, aku tetap mengenal dirimu." bisik Dion dalam hati.


"Selamat ya atas prestasimu, kau sangat hebat, cerdas dan pintar, aku sungguh kagum padamu." ucapnya menatap Ara dalam dalam.


"Terimakasih kak Dion." jawab Ara tersenyum.


"Oh ya, gimana makan siang nanti aku traktir kalian untuk merayakan keberhasilan Ara.*


"Wah, aku mau banget." ujar Ines dan Cindy senang.


Ara mendesah sedih.

__ADS_1


"Sebelumnya terimakasih banyak ya kak dion untuk traktirannya, tapi maaf gays, aku belum bisa kali ini, sungguh aku ada acara keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan." mengangkat kedua tangan di depan dada memohon maaf.


Cindy dan Ines mengeluh kecewa dengan wajah manyun.


Ara menggenggam tangan kedua sahabatnya itu


"Maaf, aku juga mau meminta izin pada dekan ku untuk pulang lebih awal hari ini."


Cindy dan Ines yang sudah sangat tau tentang Ara mengerti perkataan teman mereka itu.


Dion juga kembali kecewa, tapi segera di tepisnya.


"Nanti kapan-kapan kita makan makan."


"Baiklah, kalau gitu ayo kami temani kau untuk izin pada dekan mu."


"Gak usah Nes, aku akan pergi sendiri, kalian ke ruangan saja, bentar lagi kan kalian ada MK? ayo pergilah."


"Kalian ke kelas saja, nanti aku yang temani Ara " Dion menawarkan diri.


" Benar ya kak ?" ucap Cindy.


"Iya ....sana pergilah "


"Baik kak, terimakasih. Kami pergi dulu ya Ra, nanti telepon kami." Cindy mengedipkan seblah matanya.


Ara mengangguk mengerti.


"Cin, nanti sore kakak akan datang ke tempat mu." seru Dion pada Cindy


"Iya kak, lepas kuliah aku akan langsung pulang." jawab Cindy menoleh kebelakang sebentar, lalu melanjutkan langkah kembali bersama Ines.


"Kak dion nggak usah repot-repot temani aku."


"Tapi kak..."


"Kamu jangan khawatir, percayalah padaku."


"Baiklah kak, terimakasih sebelumnya." Ara mengalah.


Tidak jauh, tepatnya di halaman parkiran kampus, sepasang mata menatap tajam ke arah mereka berdua, tatapan sinis di sertai seringai tajam.


Lalu pemilik tatapan itu segera masuk sambil menutup pintu mobil dengan keras, yang seharusnya pintu itu di tutup oleh sekretarisnya.


Mata Ara sempat menangkap sosoknya saat masuk mobil.


"Kakak ipar." guman Ara dalam hati.


Dari jauh Wisnu menundukkan kepala sesaat kepadanya, lalu segera masuk ke dalam mobil, dan perlahan mulai menjalankan kendaraan itu.


"Bukankah itu mobil dan sopir pemilik yayasan ini?" sela Dion mengikuti arah pandang Ara.


Ara terperanjat , agak panik .


"Iya , benar kak." terus menatap kepergian mobil kakak iparnya.


Dion memperhatikan wajahnya, menangkap sesuatu yang aneh.


"Ara...." panggilnya pelan kemudian, berusaha mengalihkan pandangan Ara untuk melihat ke arahnya.


"Hmmm? ya kak?" mengalihkan tatapannya


pada Dion.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun ya, maaf aku telat kasih ucapan." kata Dion tersenyum.


"Tidak apa-apa kak, terimakasih atas ucapannya." kata Ara ikut tersenyum.


"Ini kadoku buat kamu." Dion menyedorkan


kotak kecil yang dari kemarin ingin di beri tapi tidak kesampaian.


Ara menatap benda kecil terbungkus indah dan rapi itu.


"Terimakasih kak, tapi aku nggak bisa terima."


"Terimalah, aku mohon, aku tulus dan ikhlas memberinya sebagai hadiah ulang tahunmu. Masa kado dari Cindy dan Ines di terima sedangkan dariku enggak? aku juga kan sahabatmu." keluh Dion tersenyum tapi sedikit merasa kecewa.


Ara melihat kekecewaan di wajah cowok tampan ini.


"Baiklah, terimakasih ya kak." kata Ara kemudian, dia mengambil benda kecil itu dan memasukkannya ke dalam tas.


Dion tersenyum senang.


"Maaf kak, aku akan pulang. Maaf tidak bisa menemani kakak lebih lama."


"Kalau gitu aku antar ya?" Dion segera menawarkan diri dan sangat berharap Ara menerimanya


"Gak usah kak, aku naik ojol saja." Ara menolak halus, dia menunjuk mang Saleh yang sudah menunggu di parkiran, pria paruh baya itu baru saja tiba.


Dion kembali menelan kekecewaan .


"Maaf ya kak, aku pamit dulu." ucap Ara tersenyum.


Dion mengantar Ara pada mang Saleh.


Ara segera memakai helm yang di sodorkan mang saleh, di bantu Dion memasang dan menguncinya?


Lalu naik duduk di belakang mang saleh.


"Aku pergi dulu ya kak, terima kasih" kata Ara tersenyum.


Dion menggangguk dan membalas senyuman itu.


"Hati hati pak, jangan ngebut." katanya pada mang saleh seraya menepuk pelan bahu pria paruh baya ini.


"Iya den." jawab mang Saleh melihat wajah Dion sesaat, lalu segera menjalankan motornya perlahan-lahan.


Dion melambaikan tangan.


"Ternyata sangat sulit untuk mengambil hati dan menggapainmu Ara." bisiknya pelan


"Tapi aku tidak akan menyerah." ucapnya kembali menatap punggung Ara yang mulai hilang dari pandangannya.


Sesaat kemudian, dia mengambil ponselnya.


lalu menekan salah satu nomor kontak.


"Selamat siang pak." sapanya, lalu mengatakan sesuatu.


"Baiklah tuan muda, nanti akan saya sampaikan kepada dosen MK nya yang masuk hari ini." kata suara dari seberang .


"Terimakasih pak." balasnya, lalu segera mematikan handphonenya.


Kemudian segera melangkah menuju ke mobilnya yang di parkir di halaman belakang kampus. Dia segera membawanya ke kantor ayahnya untuk bekerja.


****

__ADS_1


__ADS_2