Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 273


__ADS_3

...Happy Reading...


"Hey kalian, lihat ke sana." tunjuk Alin ke belakang mereka."Tampan banget." desisnya terpukau pada sosok Rafa yang melangkah memasuki ballroom. Bela dan Kyla segera berbalik ke melihat ke arah yang di tunjuk Alin. Mereka terkesima melihat pria berwajah tampan maskulin ditumbuhi bulu-bulu halus, postur tubuh tinggi tegap, kekar berkulit putih. Matanya yang menyorot tajam seperti mata elang terlihat indah.


"Waow, tampan banget, sempurna. Lebih tampan dari Dion." ucap Kyla terpana.


Bela tersenyum, dia sependapat dengan Alin dan Kyla. Dia sangat kagum melihat Rafa yang menyalami tamu tamu undangan yang menyalaminya dirinya.


"Siapa pria ini? Baru kali ini aku melihat pria setampan ini." batin Bela tak berkedip melihat Rafa.


"Tuan Ravendro." sapa beberapa tamu kepada Rafa yang merupakan relasi bisnisnya.


"Kami ucapkan selamat atas kehamilan istri anda. Ini benar-benar kejutan buat kami. Kami tidak menyangka anda sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." ucap beberapa istri rekan bisnisnya.


"Anda datang sendiri? Mana istri anda?" tanya yang lainnya.


"Tuan Ravendro, perkenalkan istri anda pada kami. Kami akan mengajaknya bergabung dalam organisasi kami." kata istri istri CEO lainnya yang belum tahu tentang Ara. Karena mereka tidak datang dalam acara pertemuan di Paris lalu.


"Maaf Nyonya, berhubung istriku sedang hamil, maka dia tidak bisa ikut denganku. Saya tidak ingin dia kecapean dan lelah." kata Rafa tersenyum pada Nyonya Nyonya di depannya ini.


"Saya ke depan dulu mau menemui tuan Alkas." pamit Rafa kembali.


"Silahkan Tuan Artawijaya. Sampaikan salam kami pada istri anda."


"Akan saya sampaikan, permisi." Rafa segera beranjak melangkah. Wisnu menundukkan kepala pada mereka, lalu mengikuti langkah Tuannya.


"Hay guys, kalian masih ingat gak pria tampan yang menolong temannya Cindy di cafe bandara beberapa hari yang lalu? Bukankah itu dia?" kata Kyla menunjuk pada Wisnu yang berjalan di samping kanan Rafa.


"Kau benar Kyla. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Lihat pakaian mereka yang formal. Sepertinya mereka salah satu tamu penting Tuan Alkas. Kalian lihat sendiri semua tamu undangan di sini merupakan tamu tamu penting kalangan kelas atas." kata Alin.


Bela memperbaiki rambut dan juga pakaian depannya. Di buat semakin terbuka untuk memperlihatkan dada besarnya yang mau tumpah. Padahal gaunnya itu sudah sangat terbuka pada bagian punggung, paha dan dada."Kalian tunggu di sini." katanya kemudian.


"Heh, Apa yang akan kau lakukan Bel?" tanya


Kyla.


Bela terus melangkah tanpa mengindahkan pertanyaan Kyla. Dia berjalan ke arah Rafa yang sedang berjalan menuju tempat Raymond Alkas. Begitu jarak mereka semakin dekat, Bela meletakkan ponsel di telinga seolah olah sedang menelpon dan bicara dengan seseorang. Dia berpura-pura melihat ke arah lain, berjalan lenggang lenggok dengan mulut komat kamit sedang berbicara. Lalu dengan sengaja menabrakkan lengan kanannya pada lengan kanan Rafa. Bela pura pura kaget dan terjatuh. Dia berharap Rafa akan menahan tubuhnya saat hendak jatuh. Tapi kenyataannya tubuhnya jatuh kelantai. Karena Rafa tidak menahannya sama sekali dan membiarkannya. Bela menjerit kesakitan merasakan bokongnya menghantam lantai. Ponselnya terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai.


Bela meringis berpura pura sakit seraya memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit untuk menarik hati Rafa agar tersentuh, lalu mendekat melihat keadaannya dan membantunya berdiri. Tapi semua tidak sesuai rencananya.


Bela menekan bokongnya yang sakit tidak perduli dengan bagian bagian tubuhnya yang terbuka dan terlihat oleh mata para lelaki.


Rafa yang terus melangkah tiba tiba berhenti mendengar suara Bela. Wisnu ikut berhenti. Tapi keduanya tidak berbalik melihat ke arah Bela yang masih betah tersungkur di lantai tanpa rasa malu.


"Tuan, Anda menabrak ku sehingga aku terjatuh. Dan kini anda mau pergi begitu saja? Setidaknya tunjukkan rasa bersalah anda dengan membantuku. Tolong bantu aku berdiri. Sekujur tubuh ku sakit." kata Bela seraya menyodorkan tangan kanannya berharap Rafa akan meraihnya.


"Kalian berdua, urus sampah itu." kata Wisnu pada dua orangnya yang berdiri di belakang mereka tanpa melihat pada Bela.


Rafa tersenyum sinis, lalu melanjutkan langkah. Dia jijik saat lengannya bersentuhan dengan lengan Bela. Dia mengambil sapu tangan dan melap jas dilengan yang bersentuhan dengan lengan Bela tadi. Wisnu mengambil sapu tangan itu dan di berikan pada anak buah mereka yang lain. Anak buahnya segera mencari tempat sampah untuk membuang sapu tangan itu.


Rafa melangkah cepat karena dia sudah tidak tahan ingin bertemu dengan istrinya.


Sedangkan Bela terkejut mendengar ucapan Wisnu dan juga sikap Rafa yang malah meninggalkannya begitu saja tanpa tanggung jawab. Dia mengira Rafa akan tergoda dengan tubuhnya, terus mendekat, membantunya berdiri, meminta maaf, lalu mengajaknya berkenalan, meminta nomor telepon, mengajak bertemu, berkencan seperti yang sering di lakukan oleh pria pria hidung belang lainnya dan berakhir di ranjang.


Bela mendengus kesal karena di abaikan. Dia juga malu menjadi tatapan para tamu lelaki yang melihat tubuhnya dengan nakal. Belum lagi melihat tatapan para tamu wanita yang mencibir, mencemooh lewat padangan mata.

__ADS_1


Kedua orang yang di perintah Wisnu mendekati Bela hendak mengangkat tubuhnya untuk di buang ke tempat sampah seperti perintah Wisnu, tapi Bela menepis keras tangan mereka, karena namanya sampah harus di buang ke tempat sampah.


"Jangan menyentuhku brengsek," katanya kasar.


"Terserah lo." kata mereka tersenyum mengejek, Lalu segera melangkah cepat mengikuti tuannya.


"Dasar brengsek." umpat Bela kesal menatap punggung Rafa. Dia mendengus geram dan segera berdiri. Dia tidak perduli dengan


tatapan orang orang yang tersenyum miring kepadanya.Bela segera melangkah mendekati kedua temannya.


"Salah sasaran Lo Bel__!" kata Alin tertawa mengejek.


"Sepertinya keindahan tubuhmu mulai pudar dan kau sudah tidak menarik lagi. Pria itu bahkan tidak melirik mu sedikit pun," kata sambung Kyla ikut tertawa.


Bela mendesis kesal dan memukul kepala mereka karena mengejek dan menertawainya.


Sementara di depan sana, Raymond langsung menyambut kedatangan Rafa dengan senyuman dan jabatan hangat.


"Tuan Ravendro, selamat datang. Terimakasih atas kedatangan Anda. Suatu kehormatan bagi kami melihat Anda datang memenuhi undangan kami." katanya seraya menjabat tangan Rafa. Dinda juga menjabat tangannya dengan senyuman ramah.


Rafa tak begitu memperhatikan ucapan mereka. Dia hanya fokus melihat ke arah Istrinya yang sedang ngobrol dan bersenda gurau dengan Cindy dan Ines di meja sebelah. Rafa sangat khawatir dengan Ara mengingat Istrinya sedang hamil. Di lihatnya istrinya tampak senang bercanda dengan ke dua sahabatnya. Rafa kesal karena Ara tidak melihat kepadanya. Ray dan Dinda bisa memahami sikap relasi bisnis mereka yang satu ini, yang begitu mencintai istrinya.


Tubuh Ara hilang dari mata Rafa saat sosok tubuh tegap menghalangi pandangannya pada istrinya. Rafa mendengus pelan karena matanya terhalangi. Segera dia melihat wajah orang yang telah berani menghalangi pandangannya pada Ara. Wajahnya berubah dingin melihat wajah Dion berdiri di depannya, yang telah menghalau pandangannya pada Ara.


"Tuan Ravendro, maaf telah menghalangi pandangan mata anda pada istri anda!" kata Dion ramah. Ya, hatinya mulai menghangat setelah apa yang di lakukan Ara dan Rafa pada mereka berulang kali.


Rafa mendengus geram."Menyingkir lah dari hadapan ku!" kata Rafa menekan dengan tatapan tajam.


Dion segera menggeser tubuhnya ke sebelah, setelah mendapat isyarat mata dari Dinda.


Dion ikut melihat ke arah Ara Cindy dan Ines. Ketiga gadis itu tampak sangat menikmati kebersamaan mereka dengan bahagia.


"Mereka benar benar sahabat sejati." kata Dion. Rafa membawa pandangannya pada Dion tak kala mendengar kalimat itu, melihat Dion melihat pada Ara.


"Heh, jangan melihat istriku!" dia segera berdiri di hadapan Dion, menghalangi pandangan pria itu. Lalu dia menarik lengan Dion menghadap ke belakang membelakangi Ara, Cindy dan Ines.


Dion tersenyum lebar."Apa Anda tidak melihat di sana ada istriku Tuan Ravendro? Aku sedang melihat istriku."


"Aku tidak percaya."


"Terserah Anda!" kata Dion. Tapi dia senang Rafa sangat mencintai Ara, bahkan saking cintanya Rafa, tak rela Ara di lihat pria lain.


"Tuan Rafa, terimakasih sudah datang memenuhi undangan kami." Dion mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan.


Rafa tidak langsung menerima jabatan itu. Dia hanya menatap Dion dengan wajah datarnya.


"Ra, suamimu sudah datang tuh." kata Cindy tak sengaja melihat Rafa.


Ara berbalik dan melihat ke arah suaminya.


"Ayo kita bergabung di meja paman Ray." kata Cindy kembali.


Ara ingin menolak tapi tangannya di tarik Cindy dan Ines.


Rafa menatap uluran tangan Dion di depannya. Dion yang sangat membencinya kini mengulurkan tangan kepadanya.

__ADS_1


Dinda dan Raymond memperhatikan dirinya yang hanya menatap tangan dan wajah Dion.


Rafa segera menerima uluran tangan Dion dan menjabatnya meski tak suka.


"Aku menantikan masa kepemimpinan mu untuk membuat maju DRA Group. Yang nantinya dapat memberikan keuntungan besar pada kami sebagai perusahaan yang telah mendukungmu." kata Rafa tatapan dingin.


"Terimakasih Tuan Artawijaya. Aku perlu banyak belajar dari Anda sebagai pengusaha sukses yang berhasil membawa RA Group maju dan berkembang pesat." ucap Dion menjabat tangannya erat.


Ara dan Cindy tersenyum melihat suami suami mereka yang berjabatan tangan. Begitu juga dengan Raymond dan Dinda. Mereka senang dan lega. Artinya hubungan keduanya membaik.


Rafa melihat pada istrinya yang tersenyum ke arahnya dan memberikan jempol sekilas.


Rafa segera menarik tangannya. Dia menatap Ara.


"Sayang, mari kita pulang. Kau sudah bertemu dengan sahabat mu dan Nyonya Alkas bukan?" katanya dengan suara rendah yang hanya bisa di dengar oleh mereka.


Wajah Ara langsung cemberut mendengar ajakannya."Pulang? Baru juga setengah jam aku di sini."


"Sayang__"


"Aku kan bilangnya satu jam waktu di mobil. Bentar lagi, aku mohon." pinta Ara.


"Nggak perlu nunggu sejam, yang penting kau sudah bertemu dengan mereka. Ingat kamu sedang hamil. Aku gak mau kamu kecapean."


"Aku baik baik saja, aku belum capek."


"Sayang. Aku gak suka di bantah ya? Ayo pulang." kata Rafa tegas.


"Aku masih mau di sini." Ara masih memelas semakin cemberut.


"Pokoknya kita pulang sekarang."


"Bentar lagi ___!"


"Pulang.....!" kata Rafa menatap tajam.


Ara geleng geleng kepala dengan wajah puppy eyes.


Rafa jadi kesal."Sayang, pulang kataku. Atau mau kucium di depan para tamu undangan?" ancam Rafa menggunakan senjata terakhir.


Semua kaget mendengar ucapannya.


Sedangkan Ara jadi malu dan semakin kesal. Dia mendengus pelan menatap sedih pada Rafa.


"Sayang, aku serius gak main-main." Rafa berusaha meraih tangannya untuk membuktikan ucapannya. Ara mundur berlindung di belakang Cindy.


"Iya_baik__ aku akan pulang." katanya serak.


"Sayang, aku hanya ingin menjaga dirimu dan juga bayi kita. Maafkan aku." kata Rafa melihat wajah sedih istrinya. Ara menatap manyun manyun."Iya __iya__!"


Sementara Ray, Dinda, Dion, Cindy dan Ines hanya diam melihat perdebatan di antara suami istri itu. Mereka terlalu takut untuk ikut campur. Karena mengingat Rafa sosok yang keras dan tegas. Setiap ucapan dan perkataannya tidak bisa di bantah, termasuk Ara istrinya sendiri.


...Bersambung....


Dukung ya😘

__ADS_1


Beri like, vote, hadiah kopi, rate bintang lima dan komentar yang positif πŸ˜˜πŸ™ Terimakasih


__ADS_2