
Pagi menyapa alam semesta. Dimana matahari baru saja merayap di atas cakrawala. Pagi adalah waktu yang istimewa bagi manusia untuk memulai segala aktivitas, menjalankan apa yang telah di rencanakan, serta mewujudkan apa yang di harapkan. Seperti yang terjadi di rumah mewah ini, masing masing melakukan aktivitas sesuai tugasnya.
Tidak terkecuali dengan Ara, setelah membereskan kamar tidur dan memberi ucapan selamat pagi penuh cinta pada sang suami, dia segera keluar kamar.
Meski ragu karena perasaan takut jika bertemu kakak iparnya, dia memaksa diri melangkah. Hatinya lega karena pintu kamar sang kakak ipar masih tertutup rapat, begitu juga dengan ruang kerjanya.
Ara segera menuruni tangga satu persatu menuju dapur mencari kepala pelayan.
"Selamat pagi pak Sam, selamat pagi semua." sapanya dengan wajah tersenyum pada penghuni dapur mewah itu.
Pak Sam dan para koki menyambutnya dengan sopan.
"Selamat pagi nona muda." balas mereka ikut tersenyum.
"Nona muda, anda semakin cantik dari hari ke hari. Apa sih rahasianya ?" puji sala satu koki perempuan melihat wajah Ara yang nampak bersinar segar membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
Yang lainnya juga ikut mengiyakan.
Ara kembali tersenyum.
"Mbak terlalu berlebihan! Wajah saya biasa saja seperti sebelumnya. Tapi kalau ingin wajah terlihat cerah dan awet muda, hanya sering seringlah tersenyum. Dan perbanyaklah bersyukur kepada Allah karena masih di beri nikmat sehat dan umur yang panjang hingga detik ini. Dan jangan lupa melakukan hal-hal yang baik untuk diri kita dan juga pada orang lain." katanya kembali.
Mereka mengangguk tersenyum, kagum pada nona mudanya ini. Rendah diri dan santun.
Sam segera memerintahkan mereka kembali untuk bekerja.
__ADS_1
"Pak Sam, mba Sita masih di kamarnya ?" tanya Ara.
"Sita sudah pergi setelah subuh tadi nona, dia menitip salam buat anda."
Wajah Ara langsung berubah sedih.
"Terus dia akan kemana pak Sam? Di mana mba Sita akan tinggal dan bekerja?" keluhnya sendu.
"Semua salahku. Karena aku mbak Sita kehilangan pekerjaan dan....!" ucapannya terpotong dengan perkataan seseorang.
"Pak Sam buatkan air hangat untuk tuan Rafa." terdengar suara dari arah belakang mereka.
Mereka segera menoleh. Wisnu yang datang, dia segera menundukkan kepalanya pada Ara.
"Selamat pagi nona muda." sapanya sopan
Sam segera mengerjakan perintah sekretaris majikannya.
Wisnu melihat guratan kesedihan di wajah Ara. Telinganya sempat mendengar perbincangan nona mudanya dengan Sam waktu menuju ke dapur.
Ara segera pamit menuju kamar si kembar. Dia tidak ingin lagi membahas masalah Sita dengan Wisnu, karena tak ingin mencari masalah lagi yang akan mengundang kemarahan kakak iparnya. Dia hanya berdoa semoga Sita baik baik saja di luar sana dan segera mendapat pekerjaan yang layak.
Ara mengetuk pintu kamar si kembar, lalu perlahan membukanya. Dia mengamati sekelilingnya, ruangan itu kosong dan masih berantakan.
Kemana anak-anak ?
__ADS_1
Ara meraih benda benda yang tergeletak di lantai dan meletakkan pada tempatnya. Lalu
Membuka tirai jendela, kemudian merapikan tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan? cepat keluar dari sini." suara dari belakang yang cukup keras membuat Ara terkejut.
Segera dia menoleh dan melihat Nesa berdiri dengan menatap tajam ke arahnya.
"Kak Nesa." ucapnya pelan.
Matanya melihat tangan Nesa memegang dua handuk. Mungkinkah kak Nesa sedang memandikan si kembar? batinnya.
"Apa kakak sedang memandikan si kembar?" tanyanya senang.
"Bukan urusanmu, cepat keluar." bentak Nesa.
Ara tertegun, apa iya kak Nesa memandikan si kembar? Karena sejak dua tahun lalu kakak ipar perempuannya ini tidak lagi mengurus si kembar, seperti kata pelayan. Atau apa karena Sita sudah di pecat membuat Nesa melakukan tugasnya kembali sebagai ibu? Tapi di sini kan masih banyak pelayan yang bisa menggantikan tugas sita, mengapa kak Nesa yang melakukannya? batin Ara kembali.
"Apa kau tuli? Cepat keluar dari sini cepat." bentak Nesa kembali membuyarkan lamunannya. "Dan jangan lagi mengurusi si kembar" sambungnya lagi.
Ara melongo "Kenapa kak ..?"
"Jangan banyak tanya, pergi dari sini sekarang juga, sebelum Rafa dan Wisnu melihatmu di sini. Aku tidak mau mendapatkan masalah seperti Sita karena dirimu! Keluar cepat." Nesa melemparkan handuk ke arahnya.
Ara tersentak, dan segera melangkah keluar dari kamar itu dengan bingung.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa kak Nesa melarang ku mengurus si kembar? Apa itu perintah kak Rafa? gumamnya di sela sela langkahnya.
*****