Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 86


__ADS_3

...Happy Reading....


Gedung Ravend Group.


Tepat di ruang kerja yang luas dengan fasilitas yang mewah nampak duduk dengan gagahnya seorang pria matang, wajah tampan di kursi kebesarannya. Menggunakan setelan jas hitam yang sangat pas dan kontras di tubuhnya.


Pria itu menatap layar HP yang memperlihatkan sebuah rekaman video yang di kirim Sam. Rekaman kejadian di rumah utama tadi siang, tentang hadiah kejutan ulang tahun Ara yang di buat Raka, suaminya.


Pria yang tak lain adalah Rafa tampak tersenyum menyaksikan rekaman video tersebut.


"Selamat ulang tahun." gumamnya setelah video itu berakhir. Dia menatap wajah Ara yang terlihat menangis bahagia. Lama Rafa menatap wajah adik iparnya itu dengan perasaannya sendiri.


Terdengar ketukan dari luar, lalu masuklah Wisnu dengan beberapa berkas di tangannya.


Wisnu menunduk sopan, lalu menatap Rafa yang masih melihat layar ponsel.


"Tuan, semua sudah siap. Mereka menyetujui syarat yang anda ajukan."


"Bagus, kau atur penyambutan mereka dengan baik." kata Rafa tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.


"Baik tuan. Saya sudah menghubungi manajer untuk mempersiapkan tempatnya." kata Wisnu kembali seraya memperhatikan wajah tuannya yang tampak sumringah.


"Apa tidak sebaiknya anda pulang sebentar ke rumah utama?" tanyanya.


Rafa menarik nafasnya pelan.


"Apa para karyawan sudah balik semua?" dia balik bertanya.


"Sudah tuan! Tadi Nona Levina menelepon berkali kali, dia ingin berbicara dengan anda."


"Apa dia mengatakan sesuatu."


"Dia menunggu traktiran anda."


Cih____Rafa mendengus kesal.


"Jika dia menghubungi kembali, tak usah kau ladeni."


Rafa meletakkan ponsel lalu bangkit berdiri.


"Antar aku ke apartemen, aku ingin istirahat sebentar." melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju lift.


Wisnu segera mengikuti langkah tuannya.

__ADS_1


"Ada pesan chat dari dokter Rizal. Beliau menanyakan kondisi anda." ucapnya kembali di sela langkah mereka.


Rafa hanya mendengar tak menjawab. Dia segera masuk ke dalam lift di ikuti wisnu. Rafa masih sangat kesal pada rizal.


Dengan triknya memberikan obat penenang berdosis tinggi yang membuatnya tidak sadar diri seperti orang yang mati hingga membuat Ara menangis ketakutan. Dia melihat tangisan ketakutan dan begitu paniknya Ara pada rekaman CCTV yang terpasang di kamarnya.


Lalu Rizal datang membawa tubuhnya ke rumah sakit dan melakukan operasi dengan menjahit luka lukanya saat dirinya tidak sadar.


Setelah operasi, Rizal kembali membawa tubuhnya ke apartemen seolah olah ia melakukan operasi di apartemen dengan membawa peralatan kesehatan ke apartemen.


Dan untuk menyelamatkan diri dari amarahnya, Rizal membawa bawa nama Ara. Mengatakan kalau Ara yang meminta dan membawa ke rumah sakit untuk di operasi.


Rafa tersenyum, teringat kembali kejadian di apartemen waktu itu. Kedatangan Ara yang tidak di sangka membawa makanan untuknya yang di kirim pak Sam. Meski takut padanya, Ara tetap memberanikan diri mengurusnya. Menangis dan sangat panik ketakutan dengan luka di tubuhnya yang mengakibatkan dirinya sampai pingsan.


.


.


Kediaman rumah utama Artawijaya.


Di dapur Ara sibuk membuat sesuatu dengan bantuan Sam dan koki. Mereka nampak bermandikan tepung. Sesekali terdengar canda tawa keluar dari mulut mereka.


Hingga akhirnya Ara memasukkan adonan kue yang sudah di isi dalam cetakan ke dalam oven.


"Oh ya pak sam, saya ingin menanyakan sesuatu." Ara menatap Sam.


"Silahkan, Nona mau menanyakan apa?"


"Apa kak Rafa punya pacar? Maksud saya kekasih?"


Sam sedikit kaget. Lalu segera menjawab pertanyaan Ara.


"Punya nona, namanya Levina. Mereka sudah berhubungan selama hampir tiga tahun. kenapa nona menanyakan hal itu?"


"Ah gak ada apa apa pak sam, saya hanya ingin tau saja. Saya pikir orang sedingin kakak ipar tidak punya kekasih. Ternyata ada juga perempuan yang mau dengannya." Ara tertawa kecil.


Sam ikut tertawa kecil mendengar perkataannya.


"Nona muda bisa aja. Meski di lihat dari luar seperti balok es, tapi sesungguhnya tuan Rafa itu orangnya baik. Kalau Nona sudah mengenalnya lebih lama dan lebih dekat, Nona akan melihat kebaikan yang ada pada diri tuan Rafa." kata Sam.


"Lagi pula wanita mana yang tidak mau dengan tuan Rafa? Justru banyak wanita cantik, kaya raya yang statusnya sekelas dengan tuan tergila-gila dan mengejarnya. Sangat menginginkan menjadi wanitanya. Tapi tuan tidak menanggapi, cuek dan dingin. Hanya Nona Levina yang beruntung mendapatkan hati dan menjadi kekasih tuan Rafa." Sam menjelaskan tentang pribadi tuannya.


Ara mendengar dengan cermat.

__ADS_1


"Sudah selama itu menjalin hubungan kenapa mereka belum menikah?"


"Keduanya sibuk Nona. Tuan sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan nona Levina."


Dahi Ara mengerut."Oh ya? Memang pekerjaan kekasih kak Rafa apa? Apa sama seperti kakak ipar?" tanyanya.


"Nona Levina seorang model."


"Model? Wah___pasti sangat cantik. Karena setahu saya model itu adalah wanita wanita pilihan. Memiliki wajah cantik, dan bentuk tubuhnya yang tinggi, langsing dan seksi."


"Nona benar. Kekasih tuan Rafa sangat cantik dan seksi, postur tubuhnya tinggi, bodinya seperti gitar spanyol." kata seorang koki yang ikut nimbrung mendengar percakapan mereka.


"Tapi bagi kami. Nona muda yang paling cantik. Nona cantiknya sangat natural dan alami. Nona juga cerdas, pintar memasak. Nona juga baik, lembut dan sopan pada semua orang. Beda dengan nona Levina yang cantiknya mengandalkan make up dan juga memiliki temperamen yang buruk. Pokoknya sifat dan sikapnya gak baik." sambung koki itu kembali dengan berbisik.


Dahi Ara mengerut.


Sam memukul bahu koki itu keras.


"Jaga bicaramu, apa kau ingin di pecat dan di masukan ke dalam sel?" katanya berbisik tapi dengan mata melotot.


Koki itu langsung terdiam, wajahnya langsung terlihat pias. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Maaf pak Sam." katanya tergagap.


"Kerjakan saja pekerjaan kalian, jangan berbicara dan berulah yang akan membuat hidup kalian bernasib buruk." Sam menatapnya tajam.


Ara langsung menangani keduanya, dia juga merasa khawatir seandainya saja Maya atau Nesa atau Raka bahkan Rafa tiba tiba saja muncul dan mendengar percakapan mereka.


"Sudahlah pak Sam, tidak usah di besarkan. Biarlah ini menjadi pembicaraan rahasia kita berlima saja, jangan marahi mereka apalagi sampai melaporkan pada kak Rafa." Ara menatap ketiga koki itu bergantian. Dia tidak ingin nasib ketiga koki itu akan sama seperti Sita.


"Mbak Ayu, mbak sur dan bang Arsad, silahkan lanjutkan kembali bersih bersihnya. Nanti kalau kuenya udah matang tolong di simpan dengan baik ya? pulang nanti saya akan menghiasnya." katanya lagi pada ketiga koki itu.


Ayu, Sur dan Arsad langsung menunduk patuh, lalu segera melanjutkan pekerjaannya.


"Sebaiknya Nona segera ke atas, nona harus segera bersiap untuk acara nanti malam bersama tuan muda Raka." Sam menoleh pada Ara.


"Iya pak, saya ke atas dulu." Ara melepaskan celemek dari tubuhnya dan menggantungnya di sudut dapur, lalu melangkahkan kaki menuju tangga.


Bersambung.


Mohon dukungannya ya....


Tinggalkan like, hadiah, vote, bintang lima 😘

__ADS_1


__ADS_2