Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 214


__ADS_3

"Gimana nes apa udah kabar dari Cindy ?"


"Belum Ra," jawab Ines dari seberang


"Kalau sudah dapat kabar darinya tolong hubungi aku ya Nes? katakan aku rindu dan menghawatirkan nya." kata Ara pada Ines di telepon.


"Baik Ra, Assalamualaikum." jawab Ines di sebrang .


"Waalaikumsalam Nes," mematikan telepon.


Ara menatap wajah Cindy di ponselnya


dengan sedih.


Lalu melihat no kontak Cindy.


Sudah hampir dua bulan dia dan Ines mencari keberadaan Cindy. Tapi Cindy hilang entah kemana.


Sejak kejadian yang menimpa mereka di Paris, keduanya belum bertemu dan belum saling berhubungan lewat telepon.


Ara selalu menghubunginya, tapi nomor teleponnya tidak aktif.


Dia dan Ines mendatangi apartemen Cindy. Tapi temannya itu tidak ada di kediamannya.


Di kampus pun tak ada.


Dan ines juga mengatakan tidak mengetahui keberadaannya. Kata Ines sepertinya cindy telah mengganti nomor teleponnya.


"Kemana kamu Cin? aku khawatir padamu. Apa Siska telah melakukan sesuatu yang buruk padamu?" gumamnya pelan.


"Ra.." Suara panggilan di depan membuyarkan lamunannya.


Ara langsung mengangkat kepalanya dan menatap pada Sonya yang memanggilnya.


"Ya Son,"


"Kamu mencari Cindy?"


"Iya, apa kamu mengetahuinya?"


"Nggak, aku nggak tahu. Kenapa kamu gak tanya saja sama Dion saja? siapa tahu saja Dion mengetahui keberadaannya, Dion kan sepupunya? terkadang mereka juga selalu bersama." ujar Sonya menatapnya lekat.


Ara menghela nafas.


Dia juga sebenarnya ingin menanyakan Cindy pada pria itu, tapi di gak enak setelah apa yang terjadi malam itu.


Dia juga takut jika nanti ketahuan suaminya dan akan mengundang kemarahan suaminya lagi.


Sejak kejadian malam itu, Dion juga tidak pernah menghubunginya sama sekali, bahkan mengirim chat pun tak ada.


Padahal dia sangat khawatir dengan keadaan Dion akibat kekerasan yang dilakukan suaminya.


Mata Sonya bergerak ke atas melihat sosok Presdir di lantai atas yang sedang menatap ke arah mereka. Pimpinannya itu baru saja tiba.


Di dampingi Wisnu dan Moly.


Rafa sedang memandangi istrinya. Dia baru saja tiba di luar negeri setelah seminggu berada di sana. Dia langsung menuju ke kantor karena sangat rindu dengan istrinya.


"Presdir Ra, sepertinya baru saja tiba. Beliau sedang menatap ke arah kita." bisik Sonya. Tapi dia tahu tatapan pimpinannya itu hanya pada Ara.


Ara membalikkan tubuhnya dan melihat sesaat pada Rafa, lalu kembali menghadap pada Sonya.


Rafa melangkah lesu, sedih dan kecewa menuju ke ruang kerjanya, melihat tak ada senyuman di wajah istrinya.


Sepertinya mood istrinya belum berubah.


"Ra, masa magang ku sudah berakhir. Terimakasih ya sudah menjadi temanku di kantor ini." kata Sonya memegang tangannya.


Ara mengeluh sedih.


"Yaaah Son, aku akan sendirian tak akan punya teman ngobrol lagi. Aku akan kehilangan mu nanti." ucap Ara lirih ikut memegang tangan Sonya.


Seorang pegawai wanita datang ke mejanya.


"Ra, tolong selesaikan laporan ini, terus periksa dengan baik, jangan sampai salah. Kemudian antar pada bagian divisi pemasaran." meletakkan dua berkas di depan Ara.


"Baik bu," kata Ara sopan.


Pegawai wanita segera meninggalkan mereka.


"Kamu mau aja sih di perintah terus sama mereka? Padahal dah jelas jelas itu pekerjaan mereka, sementara kamu juga punya kerjaan sendiri."


Ara tersenyum.


"Nggak apa-apa, selama aku masih bisa mengerjakannya. Hitung hitung ibadah bantuin orang, pahala loh buat kita. Dan juga nambah pengalaman kerja kita. Aku juga selalu minta bantuan kamu selama di sini, makasih ya." katanya tersenyum.


"Pulang kerja nanti, aku akan traktir kau makan. Kamu bilang aja mau makan apa, atau kau perlu sesuatu? aku yang bayar. Akan ku pakai gaji ku selama bekerja di sini untukmu." Ara tersenyum sambil menyentuh dagu Sonya sesaat.


"Aku harap kita akan tetap menjadi teman yang baik. Jangan lupakan aku ya Son? aku juga janji tidak akan melupakanmu. Sering seringlah menghubungi ku jika kau tidak sibuk." sambung Ara kembali.


Sonya tersenyum terharu menatap wajah cantik polos dan tulus di depannya ini.


Wanita sederhana apa adanya. Padahal memiliki segala kemewahan yang tidak akan ada abisnya.

__ADS_1


Dalam hidup Sonya, baru kali ini dia bertemu orang baik dan setulus Ara.


Perlahan sonya bangkit dari duduknya. Dia melangkah memutar tubuh menuju meja kerja Ara. Lalu berdiri tegak di hadapan Ara.


"Ada apa Son? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Ara dengan wajah mengernyit.


"Aku sangat senang sekali bisa menjadi temanmu, bekerja di perusahaan ini bersama denganmu. Kamu orang baik dan tulus yang pernah aku temui. Sangat baik pada semua orang tanpa melihat status dan derajatnya. Aku sangat kagum padamu. Terimakasih


sudah mau menjadi sahabat ku Ny Rafa Ravendro Artawijaya." kata Sonya tersenyum terharu, lalu menundukkan kepalanya sejenak.


Ara terperanjat, sontak dia langsung berdiri.


"So.. Sonya," gugup dan kelabakan.


Dia menoleh ke sana kemari memperhatikan karyawan karyawan yang dekat dengan


mereka. Lalu...


"Ssst...," menekan jari telunjuknya di bibir. Khawatir karyawan lain mendengar ucapan Sonya.


*****


Nongkrong di Kafe setelah pulang kerja.


"Maafkan aku Ra, aku sempat menilai buruk dirimu, mengenai hubungan mu dengan pimpinan. Aku mengira kau adalah wanita simpanannya. Kau menjalin hubungan terlarang dengannya sebagai adik iparnya." kata Sonya merasa bersalah dengan pemikiran buruknya selama ini pada Ara.


Ara tersenyum menyentuh tangannya.


"Kamu nggak salah kok Son, ini salahku yang menyembunyikan status diriku sebagai istrinya pada kalian semua, pada publik."


"Dan mengenai kedua cincin ini yang selalu kau tanyakan, apakah dari kekasihku? tentu tidak. Karena ini adalah cincin dari kedua suamiku,"


"Cincin yang pertama adalah cincin pernikahanku dengan kak Raka, suami pertamaku. Dan yang di bawahnya ini adalah cincin pernikahanku dengan kakak iparku." Ara memperlihatkan pada Sonya.


Sonya menyentuh dan mengamati benda indah sangat mewah dan mahal tersebut.


"Aku bertemu dengan kak Raka saat aku masih semester empat. Selama 6 bulan kami pacaran, dia melamar dan menikahi ku. Kami berdua saling mencintai hingga akhirnya Allah memisahkan cinta kami dalam hitungan pernikahan yang sangat singkat. Yakni di tujuh bulan masa pernikahan kami."


"Selama menikah dengannya, aku menyembunyikan status diriku sebagai istrinya, tapi bukan pernikahan kami. Karena aku terlalu minder dan tidak percaya diri untuk menjadi istri seorang anak konglomerat. Aku malu meski kak Raka tidak pernah mempermasalahkan status diriku yang tidak punya apa pun dan dari kalangan rendah."


Menatap sejenak wajah Sonya, yang mendengarkan penjelasannya dengan serius.


"Dan mengenai pernikahan ku dengan kakak iparku.... kami sudah lima bulan menikah secara sederhana. Dan aku memintanya untuk tidak mempublikasikan ke publik. Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan orang dengan mengatakan aku wanita yang tidak tahu diri karena menikahi adik dan kakak. Dan juga dengan perbedaan status diriku dengannya bagaikan langit dan bumi, yang membuat aku malu untuk menunjukan diriku sebagai istrinya. Kau sendiri tahu kan? banyak wanita cantik, kaya raya yang sederajat dengannya mengejar ngejar dirinya. Dan aku sama sekali tidak sebanding dengan mereka,"


"Tapi aku melihat Presdir sangat mencintaimu Ra....dia menyayangi mu, dan begitu memanjakanmu. Kamu juga gadis yang cerdas, baik dan sangat cantik. Hanya saja kau menyembunyikannya di balik kacamata tebal dan juga rambut keriting mu sebagai sebagai wanita cupu dan kampungan ! Kenapa sih Ra kamu menutupi kelebihan mu? seharusnya kamu bangga dengan kesempurnaan yang kau punya ?" ujar Sonya bingung.


Ara Kembali tersenyum kecil.


"Sebenarnya aku berpenampilan cupu begini karena permintaan keponakan kak Raka di waktu ulang tahunku ! Dan akhirnya malah keterusan. Almarhum suamiku menyuruh aku untuk terus memakainya. Tapi dia juga nggak maksa sih. Dan setelah menjadi istri kakak iparku, dia malah menyuruhku untuk terus berpenampilan seperti ini."


"Oh ya Son, kamu tahu dari mana kalau aku istri kak Rafa?"


"Tante Dinda yang mengatakannya padaku.


Dia memperlihatkan foto foto mu saat kau mendampingi pimpinan mengikuti pertemuan di Paris kemarin. Kau sangat cantik sekali Ra, anggun dan mempesona. Pantas saja presdir menyuruhmu berpenampilan cupu seperti ini. Mungkin dia tidak ingin mata lelaki lain menatap kecantikan dan keindahan tubuh mu."


Ara tertawa kecil.


"Kakak ipar saja yang terlalu berlebihan."


"Ra, aku minta maaf ya, kemarin kemarin aku mengagumi suami mu di depanmu. Salah suami sendiri memiliki wajah setampan itu. Dan kau juga tidak mengatakan padaku kalau kau adalah istrinya!" kata Sonya dengan wajah bersalah.


Ara kembali tertawa kecil.


"Biasa aja Son, santai saja." menyentuh tangan Sonya.


"Lalu gimana Ra, apa kamu ingin menanyakan Cindy pada Dion?"


Ara membuang nafas sendu.


"Atau aku akan menanyakannya untukmu?"


"Bolehkah Son kamu nolong aku?"


Sonya mengangguk.


"Aku akan menghubungi Dion. Semoga saja nomornya belum berubah!"


"Son, tolong tanyakan keadaan kak Dion juga ya?"


Sonya kembali mengangguk.


Dia tahu Ara tidak akan menemui atau menghubungi Dion setelah kejadian yang terjadi di paris.


Dinda sudah menceritakan kepadanya apa yang terjadi di sana, termasuk hubungan pribadi Ara dengan pimpinannya yang selama ini di tutupi.


Sedangkan Dion, setelah mengetahui Ara adalah istri sah Rafa Ravendro Artawijaya dari orang tuanya sangat kecewa dan terluka.


Dia memilih tinggal di London. Menjauh dari Ara. Meskipun dia sangat menderita karena sangat sulit melupakan wanita itu. Bahkan kata Dinda, dia masih merindukan Ara meski hatinya sakit.


Telepon sonya tersambung.


"Dion, ini aku Sonya ! kamu lagi di mana?"

__ADS_1


"Aku di London. Ada apa Son ?"


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu !"


"Apa ?"


Sonya mengalihkan panggilan ke video dan mengarahkan pada Ara tanpa sepengetahuan gadis itu.


Dion terkejut melihat Ara.


Dia sudah berniat tidak ingin melihat Ara lagi. Dia ingin menjauhi Ara selamanya. Tapi perasaan rindu mengalahkan rasa sakit di hatinya. Dion tersenyum bahagia melihat Ara di depannya.


"Apa kamu tahu di mana Cindy ? temanku sedang mencarinya. Sudah lama Cindy tidak ada kabar dan susah di hubungi sejak kepergian kalian ke Paris kemarin. Temanku sudah berulangkali menelepon tapi nomornya tidak bisa di hubungi. Mungkin saja dia sudah mengganti nomornya. Apa kau punya nomor barunya ?"


Dion mengerti maksud Sonya. Ara yang sedang mencari Cindy.


"Aku gak tahu Cindy di mana, aku nggak tahu nomor barunya ! Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya setelah dia pulang dari paris bersama orang tua ku. Tapi setahuku dia tinggal di apartemennya."


"Baiklah Dion, nanti kalau kau sudah dapat kabar darinya, hubungi aku ya? temanku sangat mencemaskan dirinya."


"Baik Son ..."


"Oh ya Dion ? bagaimana kabarmu ? apa kau baik baik saja ? apa kau sehat, tidak sakit ?" Sonya kembali mengarahkan kameranya pada Ara yang sedang menunggu jawaban Dion.


"Kamu menghawatirkan aku Ra?" batin Dion.


melihat kecemasan di wajah Ara.


"Aku baik baik saja Son, sangat baik dan sehat ! Kau tidak perlu khawatir dan mencemaskan ku." kata Dion kemudian.


Dia melihat wajah Ara yang sudah tersenyum senang setelah mendengar keadaannya.


"Baik Dion, aku tutup teleponnya ya ..."


"Oke Son ..by "


"By....."


Sonya menutup teleponnya.


"Seperti yang kau dengar Ra, Dion juga gak tahu di mana Cindy." kata Sonya menatapnya.


"Kak Dion juga nggak tahu di mana Cindy. Terus kemana dia ?" gumam Ara lirih mencemaskan Cindy.


****


Di sebrang, Dion juga bertanya pada dirinya mengenai Cindy. Sudah lama gadis itu tidak menghubunginya. Mereka juga belum bertemu karena sejak kejadian itu. Dion memilih tinggal di London dan sampai sekarang belum kembali ke Indonesia.


Hanya Cindy yang sudah ikut balik bersama orangtuanya waktu itu.


Dan sampai sekarang dia belum bertemu Cindy. Hanya pernah dua kali mereka berbicara di telepon, sekitar tiga minggu yang lalu. Setelah itu dia tidak pernah menghubungi cindy lagi. Dan Cindy juga tidak pernah menghubungi nya lagi setelah tahu dirinya sudah membaik.


Dion mencari kontak Cindy dan menghubunginya, tapi tidak aktif.


Di coba lagi, di luar jangkauan.


Keningnya mengerut.


"Apa Cindy sudah mengganti nomor teleponnya? Tapi kenapa dia tidak memberi tahu kepadaku?" gumam Dion.


Apa telah terjadi sesuatu padanya?


Dion Segera mengirim pesan ke mamanya meminta nomor Cindy, tidak lama kemudian Dinda mengirimkan nomor Cindy yang sama seperti ada padanya.


"Sepertinya Cindy memang sudah mengganti nomor teleponnya. Ada apa dengannya ?" gumam Dion kembali merasa cemas dengan Cindy.


Dion semakin cemas dan memikirkan gadis itu. Rasa rindu ingin bertemu adik sepupunya menyeruak di hatinya.


Jujur selama dua minggu terkahir ini dia seiring kepikiran pada adik sepupunya itu.


Kepikiran pada kebersamaan yang mereka lalui bersama dulu. Memasak bersama, mandi dan berenang bersama, bermain bersama, sampai saling menjahili dan bertengkar terus baikan lagi.


Di antara semua sepupunya dari pihak papa dan mamanya, hanya Cindy yang dekat dengannya.


Cindy adalah sepupu nya dari sebelah papanya. Mama Cindy dan papanya sepupu dekat.


Dia dan Cindy semakin dekat setelah dirinya bertemu dengan Ara.


Karena Lewat Cindy dia selalu menanyakan tentang Ara.


Gadis itu banyak membantunya.


Bahkan waktu kejadian dia di beri obat perangsang oleh siksa dan di buat babak belur oleh Ravendro, Cindy lah yang telah menyelamatkan dirinya. Menyelamatkan


dirinya dari amukan amarah papanya, dengan menyembunyikan dirinya di sebuh kamar hotel.


Cindy yang menemaninya hingga sampai pagi, hingga sampai ia bebas dari pengaruhi obat perangsang yang membuatnya tidak sadar selama 20 jam.


Dia sangat berterimakasih pada sepupunya itu karena terhindar dari amukan kemarahan papanya.


"Di mana kamu Cind? Kenapa aku jadi menghawatirkan dirimu? apa terjadi sesuatu padamu?" Dion jadi semakin menghawatirkan adik sepupunya itu.


*******

__ADS_1


πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2