
Dalam perjalanan.
"Apa anak anak itu sudah sampai?" tanya Rafa
"Sudah tuan, 20 menit yang lalu." jawab wisnu melirik sedikit kebelakang, lalu kembali fokus ke depan. Anak anak yang mereka selamatkan semalam telah di kirim ke panti asuhan Ara tanpa sepengetahuannya.
"Bagaimana dengan pembangunan proyek P?" tanya Rafa kembali.
"Sudah 50 % tahap penyelesaian."
"Bagus, tambahkan buruh kerja dan alat berat biar pembangunan cepat selesai." kata Rafa sambil meringis.
"Baik tuan."
Wisnu melirik dari kaca spion tengah mobil.
Tuannya menyadarkan punggungnya ke jok mobil, wajah semakin memucat. Rafa membuka jasnya menaruhnya ke samping. Darah menembus perban dan kemeja putihnya.
Semalam, Rafa terkena sabetan samurai pada perut dan paha kanannya. Melawan dua geng mafia yang sebagian berasal dari jepang dengan membawa pusaka negaranya, Samurai. Wisnu hanya mengalami luka ringan.
Sebenarnya Rafa tidak akan semudah itu bisa di sentuh dan di lukai, tapi karena pikirannya sedang berantakan, di kuasai emosi membuatnya gagal fokus. Pikirannya terpecah menjadi dua. Dia menyerang membabi buta tanpa melihat pergerakan lawan, sehingga membuat musuh melukai tubuhnya.
"Tuan, sebaiknya kita ke rumah sakit saja." kata Wisnu khawatir.
Rafa kembali meringis, peluh membasahi wajahnya.
"Bawa aku ke apartemen."
"Tapi tuan__"
"Kau tau aku sangat benci rumah sakit." Bentak Rafa keras memotong ucapannya.
"Baik tuan." Wisnu segera melarikan mobil lebih cepat tak berani membantah lagi.
__ADS_1
Rafa tak mau ke rumah sakit, karena trauma dengan kejadian masa lalu. Dia juga tidak suka bau obat obatan. Rafa sengaja tidak memberitahukan tentang keadaannya pada orang rumah karena tidak ingin mereka cemas dan mengetahui apa yang di kerjakan semalam. Mereka hanya tau dia sakit perut.
Mobil memasuki lorong rahasia apartemen dan berhenti di garasi samping apartemen. Wisnu segera membopong tubuh tuannya masuk ke dalam, dan melangkah naik ke atas menuju kamar.
"Buka kemeja dan celana ku." perintah Rafa begitu duduk di atas ranjang. Nafasnya memburu cepat, keringat dingin semakin banyak keluar membasahi wajah dan bagian tubuhnya yang lain.
Wisnu segera melepas pakaian Rafa satu persatu. Menyisakan celana bokser hitam pendek agak ketat pendek. Darah menembus perban yang tadi di pasang Rizal.
"Cepat ganti perbannya." perintah Rafa.
Wisnu mengambil kotak obat, lalu segera membersihkan lelehan darah dengan alkohol. Lalu mengganti perban. Luka yang cukup besar terbuka menganga tapi Rafa tidak mau ke rumah sakit.
"Sebaiknya tuan jangan memakai pakaian dulu, khawatir lukanya akan semakin melebar bila bergesekan dengan pakaian." kata Wisnu membereskan kembali peralatan obat.
"Tuan, obatnya tolong di minum."
"Jauhkan barang itu dariku." Rafa membaringkan tubuhnya. Meski dia merasakan sakit teramat sangat, dia tidak mau meminum obat.
"Pergilah ke kantor. Wakilkan pertemuan bersama para klien. Kau harus bisa mengambil hati mereka. Dan hadirlah di pertemuan X. Pertemuan itu sangat penting. Akan hadir pesaing bisnis kita dari beberapa negara. Persiapkan dirimu menghadapi mereka." lanjut Rafa kembali.
Wisnu menutup semua tirai, mematikan semua lampu yang menyala, membuat ruang kamar tampak gelap. Dia melirik sebentar pada Rafa yang memejamkan mata, lalu segera keluar dengan beberapa dokumen penting di tangan.
"Luka anda tidak akan sembuh jika hanya di perban tanpa meminum obat." gumam Wisnu.
Rafa memikirkan cara untuk membuat tuannya makan dan minum obat. Dia menulis sebuah pesan di HP, lalu segera di kirimkan entah pada siapa, hanya dia yang tahu. Dia berharap rencananya ini berhasil untuk menyembuhkan tuannya. Mata Wisnu mengamati sekitaran apartemen, lalu segera masuk ke mobil, dan keluar lagi lewat lorong rahasia.
.
.
Saat ini Ara sedang berada di dalam ruang kerja Rafa, setelah terlebih dahulu memberi tahu pada pak Sam. Dia hanya berani masuk jika sang pemilik ruangan itu sudah pergi ke kantor. Ara membaca beberapa buku, dan menyalin yang di anggap penting sebagai bahan referensi. Sejam lebih dia di ruangan itu, lalu segera keluar.
Rencananya dia akan ke panti selepas kuliah. Karena mendapat telepon dari tito yang mengatakan panti ketambahan 7 orang anak. Ara segera mengirim pesan meminta izin terlebih dahulu pada Raka.
__ADS_1
Ara segera masuk ke dalam kamarnya berganti pakaian, lalu turun ke bawah. Mencari pak Sam yang sedang sibuk menata makanan dalam susunan rantang.
"Nona sudah selesai?" tanya Sam.
"Sudah pak. Oh ya apa pak Sam punya nomor telepon mbak Sita?"
"Ada Non," Sam berjalan tertatih tatih mengambil teleponnya yang di letakkan dalam kantong celemek yang tergantung di sudut dapur.
"Pak Sam kenapa dengan kaki anda?" tanya Ara melihat pria itu kesulitan berjalan. Padahal tadi pagi tidak begitu. Sam baik baik saja.
"Oh ini__tadi kaki saya tadi terkilir. Tapi gak apa-apa." jawab Sam. Dia memberikan nomor telpon Sita. Ara segera menyalin dan menghubunginya, tapi gak aktif, di cobanya lagi tetap sama.
"Mungkin hp Sita kehabisan daya. Nanti Nona coba lagi." kata Sam.
"Nona mau ke kampus ?" tanya Sam kembali.
"Iya pak." jawab Ara melihat daya batrey ponselnya tinggal 3 persen.
"Hati hati di luar ya Non. Saya tinggal dulu ya Non, permisi." Sam melangkah pincang. Ara memperhatikan.
"Pak Sam akan pergi dengan kondisi begini? Apa tidak sebaiknya suru sopir saja yang mengantarkannya? Saya khawatir dengan keadaan kaki bapak seperti ini."
Langkah Sam terhenti."Ini sudah tugas saya Non. Gak apa-apa. Saya masih kuat kok."
"Atau biar saya saja yang akan mengantarnya. Kebetulan saya juga mau ke kampus. Bapak kasih saja alamat lengkapnya saja." Ara menawarkan diri karena tidak tega dengan keadaan pria tua ini yang terlihat seperti orang pincang.
"Tapi saya tidak mau Non repot." tolak Sam.
"Tidak apa pak, saya gak merasa di repotin kok! Pak Sam jangan khawatir, saya akan pastikan makanan ini akan sampai ke alamatnya, nanti saya akan hubungi pak Sam begitu sampai! Saya gak tega lihat keadaan bapak seperti ini. Sebaiknya pak Sam istirahat saja dan obati kakinya. Jangan bekerja dulu." kata Ara memaksa.
Dengan berat hati Sam akhirnya setuju. Dia memberikan alamat pada Ara pada sebuah kertas kecil.
"Pak Sam, sekarang istirahat saja, cari tukang urut untuk memijat kaki bapak, saya permisi dulu." pamit Ara seraya menenteng rantang makanan.
__ADS_1
"Iya Non, terimakasih. Hati-hati di jalan." kata Sam. Ara mengangguk tersenyum. Lalu segera melangkah ke depan.
Bersambung.