Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 205


__ADS_3

Pagi menyapa.


Karena terlalu capek dan mengantuk membuat Rafa tidur sangat nyenyak. Ketukan pintu berulang membuatnya terbangun.


"Masuk." serunya sambil menggeliat.


Pintu di buka, masuklah Wisnu.


"Selamat pagi Tuan." sapa Wisnu.


Rafa menekan kedua matanya. Kemudian merenggang kan kedua tangan ke samping kiri kanan dan ke atas. Dia menoleh ke sampingnya. Tak ada Ara dan si kembar.


"Jam berapa ini Wisnu? Kau datang terlalu pagi, bahkan belum waktunya shalat subuh."


"Ini sudah jam 06.15 menit Tuan." kata Wisnu. Dia mendekat ke arah jendela dan membuka tirai.


"Ini sudah pagi?" Rafa kaget melihat cahaya matahari dari jendela. Dia langsung bangun dan turun dari ranjang.


"Kenapa Ara tidak membangunkan aku untuk shalat subuh? Di mana istriku?" tanyanya.


"Nona Muda sedang berada di halaman, bersama Nyonya Maya dan si kembar. Mereka sedang olahraga pagi taman rumah." kata Wisnu.


Rafa mendekat ke arah jendela. Dia melihat Ara dan mamanya sedang joging. Sedangkan Cio dan Cia asik bersepeda.


"Aku mau mandi, pergilah ke ruang kerja. Teruskan pekerjaan kemarin. Aku tidak sempat menyelesaikannya semalam." perintah Rafa.


"Tapi sepertinya berkas dan laporannya sudah selesai di kerjakan Tuan. Saya dari ruang kerja dan mengeceknya. Pekerjaannya sangat rapi dan sesuai dengan perhitungan anda." kata Wisnu.


Rafa termangu mendengar penjelasan Wisnu.


"Sudah selesai?" balik bertanya dengan mata menyipit.


"Iya Tuan."


"Apa Ara yang melanjutkannya?" gumamnya pelan, mengingat keinginan Ara semalam yang menawarkan diri untuk membantu.


Rafa segera masuk ke kamar mandi. 20 menit kemudian Ara masuk dengan sebagian tubuh basah oleh keringat. Dia mendapati Wisnu sedang menyiapkan pakaian kantor suaminya.


"Selamat pagi Nona Muda." sapa Wisnu menunduk sejenak.


"Selamat pagi." Ara melirik tempat tidur yang kosong. Tak ada suaminya di sana.


"Tuan Rafa sedang mandi, saya permisi dulu."


Wisnu segera keluar.


Ara yang merasa haus mengambil minuman dan meneguk sepuasnya. Peluh semakin membanjir tubuhnya. Di lap nya dengan handuk kecil yang tergantung di bahunya.


Dia tidak menyadari Rafa keluar dari kamar mandi dan langsung menyergap tubuhnya dari belakang. Kemudian membawanya masuk kedalam kamar mandi.


Akhirnya mereka mandi pagi bersama di bawah guyuran air shower di sertai lenguhan suara merdu.


Kantor pusat RA Group.


"Hay Ra, selamat pagi." sapa Sonya begitu tiba di meja kerja.


Ara baru saja menerima telepon dari panti.


"Selamat pagi Sonya." jawab Ara tersenyum seraya menyimpan ponselnya di saku roknya.


"Itu bukannya Bu Meri? Staf sekretaris yang di pecat dulu?" kata Sonya melihat Meri berjalan mendekati mereka.


Ara segera berbalik. Benar itu Bu Meri.


"Berarti kakak ipar telah mempekerjakannya Kembali." batin Ara merasa senang.


Mery menundukkan kepalanya begitu tiba di depan Ara.


"Terimakasih Nona Muda." bisik Meri pelan dengan sikapnya yang sopan dan takut takut, lalu segera menuju ruang divisinya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau wanita culun yang di anggap cupu, di hina dan di rendahkan adalah istri pimpinan perusahaan ini, Rafa Ravendro Artawijaya sekaligus pemilik perusahaan besar ini. Tapi dia heran, kenapa Ara menutupi status dan jati dirinya sebagai istri Presdir? Bahkan wanita muda itu mau di perintah oleh para karyawan untuk mengerjakan ini dan itu tanpa mengeluh. Dan hanya diam ketika di marahi, bahkan meminta maaf.


Sonya mendekati Ara.


"Dia ngomong apa Ra?"


"Bukan apa-apa." kata Ara tersenyum dan segera menyalakan komputernya.


"Bukan hanya Bu Meri yang kembali bekerja, tapi semua karyawan yang di pecat dulu juga telah bekerja kembali. Aku melihat mereka sewaktu datang tadi." kata Sonya kembali.


"Syukurlah, jika mereka telah bekerja kembali." ucap Ara senang.


"Padahal mustahil untuk orang yang telah di pecat bisa kembali bekerja lagi." tutur Sonya.


"Apa sih yang mustahil bagi Allah. Mungkin Allah telah membuka hati pimpinan untuk mempekerjakan merek kembali. Apalagi kata kamu mereka tidak bersalah, iya kan?" kata Ara.


Sonya menatapnya dengan diam.


"Benarkah karena Allah? Apa bukan karena kamu Ra? Kamu pasti yang membuat pimpinan menerima mereka kembali bekerja." batinnya tak beralih menatap Ara.


Mata Sonya melihat kedatangan Rafa dan Wisnu."Pimpinan datang." katanya reflek.


Sonya mengatur posisi duduknya.


"Lihat Ra, pimpinan tampan sekali." kata Sonya tersenyum manis menatap terpukau.


Bukan hanya Sonya, tapi juga beberapa karyawan perempuan memandangi Rafa tak bergeming karena begitu takjub dengan ketampanannya, di tunjang dengan postur tubuhnya yang proporsional.


Ara menengadah ke atas bersamaan dengan Rafa menatap ke arahnya. Menatap beberapa detik wajah suaminya, lalu kembali mengalihkan tatapannya ke layar komputer.


Rafa segera melangkah menuju ruang kerja setelah mendapat tatapan hangat dari istrinya.


"Beruntung banget wanita yang bisa dekat dengan pimpinan. Apalagi menjadi kekasihnya. Bisa mandangin wajah tampannya sepuasnya, menyentuh dan meluk tubuhnya, ciuman dan pokoknya bisa bebas sepuasnya." ucap Sonya tersenyum sumringah membayangkan wajah Rafa.


Dia menopang dagu."Gue pengen banget melihat wajah presdir dari dekat, menatap dia secara langsung, gimana caranya ya? Bentar lagi magang gue selesai. Tapi keinginan gue untuk melihat wajah Presdir di depan mata belum tercapai." katanya mengeluh kecewa.


Dia membuang nafas kasar.


Ara tersenyum menatapnya dari balik komputer.


"Ra..." panggil Sonya pelan.


"Hmmm, ada apa ?" jawab Ara.


Sonya menatapnya di antara berkas file yang menghalangi mereka.


"Ntar kalau lo di suru Bu Moly ngantar sesuatu ke ruangan Presdir gue ikut ya? Please deh Ra, ya?" katanya memelas.


Ara kembali menatapnya dari balik komputer. Dia tersenyum lalu mengangguk.


Sonya langsung tersenyum senang.


"Benar ya?"


Ara Kembali mengangguk.


Tapi raut senang di wajah Sonya lenyap seketika.


"Memang boleh ya gue temani lo ke sana? Kan hanya lo yang di minta, masa gue ikut? Ntar pimpinan malah marah dan depak aku dari sini." katanya mengeluh kecewa.


Ara Kembali tersenyum.


"Dari pada mikirin Presdir, mending kerja yuk. Tuh banyak berkas berkas lo yang harus di periksa. Kalau kita ngomong terus kayak gini, kapan kerjanya? Bisa bisa ngobrol di jam kerja seperti ini malah membuat kita di marahin, terus di keluarkan dari perusahaan ini. Aku dengar dari Bu Moly kalau di setiap sudut ruangan ini di pasangin cctv." katanya sambil melirik di sudut atas ruangan.


Sonya terkejut dan segera mengatur posisi duduknya, lalu membuka berkas laporan di depannya. Ara senyum geleng geleng kepala melihatnya.


Waktu terus bergulir, detik menit jam berlalu tak terasa berlalu dengan cepat.


Sebuah panggilan telepon masuk di ponsel Sonya, lalu menyusul sebuah pesan.


Keningnya mengerut setelah membaca isi pesan itu. Sonya membalasnya sesaat.


Setelah itu dia menoleh pada Ara. Melihat diam diam wanita yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Jadi Almarhum Raka Rahardian Artawijaya, adik bungsu pimpinan, adalah suamimu? Berarti sekarang statusmu seorang janda? janda dari Raka Rahardian?"gumam Sonya dalam hati.

__ADS_1


Sonya membayar seseorang untuk menyelidiki kebenaran status Ara sebagai ipar pimpinannya. Dan ternyata benar. Ara memang adik ipar Rafa Ravendro Artawijaya, kata orang suruhannya.


Ara pernah menikah dengan Raka Rahardian Artawijaya dan menjalani pernikahan selama 7 bulan hingga akhirnya suaminya meninggal akibat serangan jantung.


Informasi itu di dapat dari masyarakat kompleks tempat tinggal rumah utama Artawijaya. Ara adalah istri Raka dan Kini berstatus seorang janda setelah kematian Raka. Hanya itu yang mereka tahu. Masyarakat sekitar juga mengatakan mereka belum mendengar kalau Ara telah menikah kembali.


"Lalu apa hubunganmu dengan presdir? Apa kau kekasihnya? atau wanita simpanannya? Karena Presdir sekarang sedang menjalin hubungan dengan Artis Tania, tidak mungkin kau adalah kekasih presdir." batin Sonya masih dengan menatap wajah Ara.


"Tidak mungkin juga Presdir akan menjadikan kamu sebagai kekasihnya dengan statusnya janda begitu. Karena banyak wanita cantik singel kaya raya yang mengejar Presdir. Masa seorang Ravendro suka dan menjalin hubungan serius dengan seorang janda culun sepertimu?" batin Sonya kembali. Tapi dia mengakui kalau Ara memiliki wajah yang teduh, manis, cantik alami.


Bunyi ponsel membuyarkan lamunan Sonya.


Dia segera melihat ke layar ponselnya.


Dahinya kembali mengerut melihat siapa yang telah mengirim pesan. Dinda, ibunya Dion.


"Tante Dinda? Untuk apa dia mau bertemu denganku?" gumamnya bingung.


Terdengar pesan masuk dari ponsel Ara.


Ara menghentikan pekerjaannya, lalu membaca pesan masuk.


"Sayang, sebentar lagi istirahat. Datanglah ke ruangan ku, kita makan siang bersama. Aku sudah memesan makanan untuk kita, temani aku makan. Ada juga yang ingin ku katakan padamu." pesan chat dari Rafa.


Ara menghela nafas pelan.


"Gak mau ah, kakak pasti mau macam-macam lagi. Aku makan di kantin saja." balas Ara dengan wajah cemberut.


Rafa tertawa kecil, gemas melihat wajahnya dari kamera cctv.


"Nggak macam macam sayang, hanya satu macam. Pokonya datang, aku nggak suka di bantah."


"Nanti di lihat orang aku masuk di ruangan kakak, nggak enak." wajah cemberut memelas.


"Memangnya kenapa? Kau istriku." Rafa semakin gemas melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan.


"Itu di rumah, kalau di kantor aku karyawan kakak." balas Ara.


"Oo gitu ya, kamu mulai lagi membantah. Tunggu di situ aku akan datang dan mencium mu di depan mereka." ancam Rafa.


Hah? Ara terbelalak. Dengan gerakan cepat dia membalas."Baiklah, aku akan datang." kesal.


Rafa Kembali tertawa kecil.


Moly dan Wisnu saling berpandangan melihat tingkahnya yang aneh senyum senyum dan tertawa sendiri seperti orang tidak waras.


Wisnu sudah mengerti dengan sikap tuannya, dia malah senang melihat kebahagiaan yang di rasakan tuannya.


"Moly, pesankan makan yang mengandung protein dan gizi tinggi, bawa keruangan ku. Aku akan makan siang bersama istriku." titahnya dengan rona bahagia.


"Siap bos." Moly bangkit dari duduknya.


"Dan, cari alasan agar Ara datang ke ruangan ku." tambah Rafa Kembali.


"Baik bos." Moly segera melangkah keluar.


Rafa sengaja memanggil istrinya untuk makan bersama di ruangannya dengan memesan makanan yang bergizi dan mengandung protein tinggi. Karena tubuh istrinya itu lemah akibat permainan jari dan lid**nya sewaktu mandi bersama tadi.


Dia tersenyum mengingat suara jeritan Ara memohon untuk di lepaskan dan berusaha kabur dari kamar mandi, tetapi tak di hiraukan dan kembali di sergap nya meski istrinya itu sudah masuk dan bersembunyi di dalam selimut.


"Sayangku, kau sangat menggemaskan dan semakin menggairahkan." gumamnya tersenyum membayangkan tubuh indah Ara yang di curahinya dengan ribuan ciuman.


Beberapa menit berlalu terdengar suara bunyi dari ponselt.


"Kak, aku akan datang bersama temanku. Gak usah di balas, aku akan matikan ponselku." pesan dari Ara.


Dahi Rafa mengerut.


"Apa apaan dia?" terkejut dan segera menelpon. Tapi ponsel Ara sudah tidak aktif.


"Dia sengaja? Awas saja nanti." menggerutu sambil menatap layar ponsel dengan kesal.


Waktu istirahat tiba. Moly datang dan mengantarkan berkas di meja Ara.


"Nona Ara, aku minta tolong. Antar berkas ini ke ruang pimpinan. Setelah itu antar berkas yang satunya ke ruang pak Frans. Pergilah, pimpinan sedang menunggu laporan ini." kata Moly.


Setelah Moly melangkah pergi ke ruangannya, Ara menoleh pada Sonya yang juga menatapnya.


"Yuk Son, temani aku."


"Benar Ra?" Sonya tersenyum lebar sedikit kaget.


"Iya, ayo, kau dengar tadi kan pimpinan sedang menunggu laporan ini."


"Tapi gimana kalau Presdir marah? Kan hanya lo yang di suru kesana, gue takut. Kata mereka wajah Presdir sangat menyeramkan kalau sedang marah, dan seperti singa kelaparan yang akan mencengkram dan mencabik mangsanya." kata Sonya ragu ragu untuk ikut Ara.


Ara tertawa kecil.


"Kamu kan cuma menemani aku, kalau pun pimpinan marah, pasti marahnya ke aku bukan ke kamu. Karena aku yang ngajak kamu untuk minta di temani. Ayo, nanti keburu Presdir marah karena kelamaan menunggu."


"Tunggu bentar Ra." Sonya mengambil kaca cermin kecilnya. Lalu mengoles sedikit bibirnya dengan lip, memakai parfum sedikit, memperbaiki riasan wajah.


Ara senyum senyum melihat apa yang dia lakukannya.


"Kali aja Presdir tertarik padaku." bisik Sonya dengan senyuman genit


Ara Kembali tertawa kecil.


"Udah ah... ayo." ajak Ara segera.


Mereka segera naik ke lantai atas lewat tangga. Setelah sampai di depan pintu Ara mengetuk pintu.


"Ra, gue deg degan nih." bisik Sonya meringis takut.


"Tenanglah Son." Ara segera membuka pintu dan mendorong dengan kuat karena tebalnya benda itu, lalu masuk.


Sonya mengikuti dari belakang sambil memegang kemeja belakang Ara. Dia menatap takjub keindahan dan kemewahan ruang kerja pimpinannya yang luas dan besar.


Ara maju beberapa langkah dan berhenti pada jarak satu meter di depan meja kerja. Dia melihat Ada beberapa menu makanan tertata rapi di meja itu.


Dia beralih melihat pada Rafa yang menatapnya tajam dengan kesal.


"Selamat siang Pak." sapanya pelan dan sopan.


Rafa semakin kesal mendengar ucapannya.


Ara menarik tangan Sonya untuk berdiri di sampingnya, karena Sonya berdiri bersembunyi di belakangnya.


"Son, kau tidak ingin menyapa Presdir? Nanti kau akan di anggap tidak sopan dan tidak menghormatinya." bisik Ara.


Sonya terkejut dan baru sadar. Dia segera mensejajarkan tubuhnya di samping Ara. Lalu menatap wajah Rafa.


"Selamat si___Wah tampan bangeet Ra." ucapnya dengan mata melongo dan mulut terbuka lebar begitu melihat wajah Rafa di depannya. Dia tidak menyadari sapaannya yang terputus karena terkesima melihat wajah Rafa. Dia benar-benar terpesona. Tak sadar air liur menetes.


Rafa terkejut dengan sikapnya yang tidak sopan. Dia menatap tajam pada Sonya.


Ara segera menarik rok Sonya untuk menyadarkan temannya itu.


"Kau bilang apa?" suara Rafa keras membuat Sonya terkejut dan langsung menyadari keadaan.


Dia langsung menunduk takut dan menutup mulut dengan kedua tangan melihat tatapan tajam pimpinannya.


"Ma maafkan saya pak." ucap Sonya terbata bata, takut. Dia segera bersembunyi di balik tubuh Ara.


"Tolong maafkan teman saya." kata Ara memelas dengan isyarat. Dia melangkah maju sambil menyodorkan berkas yang satunya."Ini berkas laporan dari Bu Moly untuk bapak. Dan satunya lagi untuk pak Frans."


Rafa menerima berkas itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Ara.


Ara diam dan segera menunduk karena sejujurnya dia juga merasa takut.


Rafa melihat ke arah Sonya."Kau, pergilah antar berkas yang satunya pada Frans."


"I_iya pak." jawab Sonya ketakutan.

__ADS_1


Rafa bangkit berjalan mendekati Ara. Ara mundur. Sonya juga terkejut melihat Ara mundur, dia juga ikut mundur karena takut.


Rafa semakin dekat pada Ara. Mendekat kan wajah mereka.


Ara menarik mundur wajahnya, jantungnya berdetak kencang, khawatir suaminya akan menciumnya.


Rafa meraih berkas yang ada di tangannya.


Lalu di bawa tepat di depan wajah Sonya .


"Cepat antar pada Frans." perintah tegas suara agak keras.


Dengan tergagap Sonya menerima berkas itu, lalu berbalik dan cepat melangkah mendekat pintu.


"Dan kau nona Ara, tetaplah di sini. Karena aku masih ada perlu denganmu." kata Rafa melihat Ara bergerak hendak mengikuti Sonya.


Ara memejamkan mata sambil mengeluh.


Sonya secepatnya keluar dan menarik daun pintu. Dia menekan jantungnya yang berdetak cepat. Membayangkan tatapan dingin tajam mata Rafa seakan-akan ingin menerkamnya. Tapi untungnya cakap. batin Sonya tersenyum.


Dia menarik dan mengeluarkan nafas dengan teratur. Setelah di rasa normal, dia segera berbalik. Tapi saat hendak berbalik, dia melihat pintu yang belum tertutup rapat, masih sedikit terbuka. Tangannya segera memegang handle pintu menarik handle pintu. Tapi batal saat matanya tanpa sengaja melihat pemandangan di dalam sana. Dia mendekatkan ke pintu. Membuka ke dua matanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


Sonya terbelalak melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Pimpinannya sedang memeluk tubuh Ara dan menciumi bibirnya.


Respon tubuh Ara berusaha menghindar dan melepaskan diri, tapi pimpinannya kembali memeluknya dan menyerang bibir hingga lehernya. Bahkan tangan pimpinannya masuk dalam blus Ara dan meremas dada Ara tanpa permisi. Merasa tak puas, pimpinannya Membuka kancing kemeja Ara dan melabuhkan wajahnya di dada Ara.


Mata Sonya semakin terbelalak. Telinganya mendengar lenguhan tertahan dari mulut Ara, dengan mata yang terpejam, bibir di gigit. tangan meremas rambut pimpinannya.


Nafas sonya memburu cepat melihat adegan panas itu. Jantungnya yang telah normal kini kembali berdebar kembali, dan malah lebih kencang.


"Kak, sudah, nanti ada yang lihat cukup, jangan seperti ini." pinta Ara memelas karena tidak tenang. Dia berusaha menarik kepala suaminya untuk bisa lepas dari mencicipi ke dua harta dadanya.


"Biarkan saja kalau ada yang lihat, aku gak perduli sayang, aku malah suka mereka melihatnya. Sampai kapan kau akan menutupi hubungan kita dari orang-orang?" kata Rafa dan kembali mendaratkan wajahnya di dada Ara.


"Pokoknya aku gak mau ada orang tahu mengenai hubungan kita, aku belum siap kak." kata Ara dengan suara berat menahan segala hasrat yang di rasakan.


"Aku mohon, berhentilah....! Aku lapar!" pinta Ara. Membawa alasan lapar agar suaminya ini berhenti.


Dan alasannya berhasil. Rafa menghentikan aksinya mendengar kata LAPAR. Dia segera menarik wajahnya.


"Baiklah sayang." Rafa mengangkat tubuh istrinya, melangkah mendekati kursi kerjanya dan duduk. Dia meletakkan Ara dalam pangkuannya.


Menangkup wajah Ara dan kembali menciuminya dengan lembut, memasukkan Wajahnya di tengkuk di antara rambut keriting Ara. Tangannya di aktifkan kembali di dada istrinya.


Ara mendesah tertahan."Cukup kak, sudah, sakit ah." merasa kesakitan karena remasan yang terlalu kuat.


Rafa menghentikan cumbuan nya.


Dia segera mengancing kemeja Ara.


"Tubuhmu pasti lemas sayang setelah apa yang kita lakukan tadi pagi." kata Rafa senyum senyum.


"Bukan kita tapi kakak." kata Ara dengan kesal


Rafa terkekeh, dan menyambar bibir yang mengerucut. Lalu mengambil makanan dan menyuapi Ara.


"Buka mulutmu sayang."


"Biar aku saja."


"Sudah, jangan membantah, atau mau ku cium lagi?" ancam Rafa.


Dengan cemberut Ara membuka mulutnya,


Rafa tersenyum dan segera memasukkan makanan ke mulut istrinya.


"Pintar." ucapnya senang mengusap pucuk kepala Ara. Terus menyuap hingga makanan habis. Meminumkan susu coklat dan vitamin, di susul dua kecupan di bibir dan kening.


"Udah dong, gak bosan apa nyium terus?" kata Ara menatap kesal.


Rafa terkekeh.


"Aku nggak akan bosan sayang. Bibirmu sangat manis, dan rasanya ingin terus ku nikmati."


Ara kembali cemberut.


"Kakak nggak makan?" melihat Rafa tak menyentuh makanan.


"Udah kenyang, makan bibirmu tadi." jawab Rafa menggoda.


"Ih dasar mesum," Ara memukul dadanya.


Rafa terkekeh, menangkap tangan itu dan di ciumnya dengan gemas. Lalu dia segera menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


Ara merebahkan kepalanya di dada suaminya.


"Kak, terimakasih ya sudah mempekerjakan kembali Bu Meri dan juga para karyawannya lainnya."


"Aku akan melakukan apapun yang membuat mu senang sayang." kata Rafa seraya mengecup kening Ara lembut.


"Terimakasih." kata Ara terharu.


"Hanya itu?" tanya Rafa.


"Terus apa?" Ara menengadah. melihat wajah Rafa.


Rafa menunjuk bibirnya.


"Ihh, Kakak nggak puas ya nyium nyium terus?"


"Habisnya bibirmu begitu menggoda. Ayo sayang terimakasihnya yang benar di sini." masih menunjuk bibirnya.


Ara semakin kesal, menatap cemberut. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya. Lalu mendaratkan kecupan, berlanjut menciumnya.


Rafa menurunkan wajahnya mengimbangi ciuman istrinya. Ciuman panjang dan hangat kembali terjadi beberapa saat. Hingga Ara berhenti dan menarik wajahnya karena kesulitan bernapas.


Rafa tersenyum menatapinya. Dia kembali membelai lembut wajah istrinya.


"Kak, aku izin ke panti hari ini, boleh nggak?" kata Ara setelah nafasnya normal.


"Ke rumah orang tua mu?"


Ara mengangguk.


"Nanti aku antar, jam berapa perginya?" tanya Rafa kembali.


"Biar aku pergi sendiri saja, kakak banyak kerjaan, aku akan minta Mang Saleh mengantarku."


"Aku nggak punya kerjaan sekarang, biar aku yang akan mengantarmu. Sekalian aku mau berkunjung ke yayasan mu. Nanti kita beli oleh oleh untuk anak anak."


Ara tersenyum sumringah.


"Kita ajak Cio dan Cia juga ya? mereka pasti senang."


"Baiklah, tapi kita nggak bisa nginap sayang, cukup beberapa jam saja di sana, setelah itu kita kembali. Karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat malam ini."


"Kemana?" dahi Ara mengerut.


"Nanti kau akan tahu. Karena kita akan pergi malam ini, jadi ke pantinya setelah istirahat. Aku akan meminta Moly untuk mengantarmu ke rumah utama." kata Rafa menjelaskan.


Ara tak bertanya lagi, dia segera turun dari pangkuan suaminya.


"Aku mau shalat dzuhur dulu."


"Ya sudah, kita shalat sama sama saja di sini."


"Aku mau shalat di luar saja, nanti Sonya curiga aku lama di sini."


"Baiklah sayang." Rafa segera bangkit dari duduknya. Dia mengecup kening istrinya sebelum istrinya itu keluar.


Dan Sonya? Begitu melihat Ara hendak keluar, dia langsung lari terburu buru pergi dari tempat itu setelah melihat apa yang terjadi di dalam sana.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih bagi yang sudah mampir , jangan lupa dukungannya πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2