
"Ny Ravendro, Cindy juga akan segera pulang. Kami akan segera kembali ke rumah." kata Dinda untuk menghilangkan kekecewaan Ara dengan perintah Rafa.
"Iya Ra. Aku terlalu lama berdiri menyalami para tamu. Aku capek mau istirahat. Nanti aku dan Ines akan berkunjung ke rumahmu." kata Cindy memegang tangannya.
"Benar ya...aku menunggu kalian."
"Iya Ra, pasti," timpal Ines.
"Nes, kamu bagaimana? Kamu masih di sini?"
"Nona Ines akan kembali bersama nona muda." Wisnu menyela. Ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya, dia juga menginginkan Ines pulang sekarang.
Wajah Ines mengernyit mendengar ucapannya. Ines menatapnya.
"Anda datang bersama nona muda. Maka Anda pun akan kembali bersamanya." kata Wisnu kembali. Dia sedikit gugup dengan tatapan Ines. Segera dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tapi kalau kau masih ingin di sini gak apa apa Nes. Nanti aku akan minta sekretaris Wisnu menemanimu dan mengantarmu pulang." kata Ara.
"Kau dan Cindy akan pulang, lalu buat apa aku di sini sendirian nggak ada kalian? Aku akan pulang juga." kata Ines tersenyum.
Setelah berpamitan pada Ray, Dinda, Dion dan Cindy, keduanya segera melangkah keluar di ikuti Florencia dan beberapa orang anak buah Wisnu.
Beberapa saat kemudian Cindy dan Dinda juga ikut pulang. Ray Dan Dion masih tinggal untuk menemani para tamu undangan.
Rafa masih menyalami beberapa teman teman relasinya yang menyapanya. Dia segera keluar setelah Wisnu memberi tahu kalau Ara sudah sampai di parkiran.
Mereka pulang berempat.
Setelah mengantar Tuan dan Nona mudanya di rumah pribadi, Wisnu pamit pada Rafa untuk mengantarkan Ines.
Dalam perjalanan pulang keduanya diam membisu tanpa kata. Tak ada yang buka suara.
Ines memilih melihat lampu lampu hias di jalanan dan juga gedung gedung pencakar langit. Sambil mendengarkan musik.
Terdengar Ponselnya berdering. Inez segera mengambilnya dari dalam tas.
Di lihatnya nomor baru.
"Siapa ini?" gumamnya penuh tanya. Dia menatap pada layar ponsel yang terus berbunyi.
Wisnu meliriknya sekilas.
__ADS_1
"Kenapa tidak di angkat?"
Ines kaget mendengar ucapannya.
"Soalnya nomor baru." katanya gugup.
"Angkatlah, siapa tahu penting." kata Wisnu kembali.
Ragu ragu Ines segera menekan tombol hijau.
π"Halo, assalamualaikum." ucapnya pelan.
π"Kakak cantik___ Kak Ines___ini Azham dan Azhar." suara dari seberang terdengar senang.
π"Azham__Azhar?" Ines kaget.
Lebih lagi Wisnu sangat kaget mendengar nama anak anaknya di sebut.
π"Selamat malam kakak cantik."
π"Selamat malam Azham Azhar..."
π"Kami menelpon dari nomor nenek. Habisnya ayah belum pulang. Jadi kami pakai ponsel nenek menghubungi kak Ines. Apa kami mengganggu?"
π"Tidak sayang, kebetulan kakak sementara di jalan mau pulang. Udah jam segini kenapa Azham Azhar belum tidur sih? ini udah hampir tengah malam lho...!"
π"Kami kangen sama kakak cantik,"
π"Kan bisa telepon kakak besok pagi sayang. Seharusnya jam segini Azham Azhar sudah tidur."
π"Maaf nak Ines, mereka ngotot maksa pengen menghubungi nak Ines. Ibu sudah melarang tapi mereka bersikeras, mereka ngambek tak mau tidur sebelum bicara dengan nak Ines. Maaf ya sudah mengganggu nak Ines di jam begini. Ibu jadi gak enak hati." Suara Rani dari seberang.
π"Gak apa-apa bu, saya belum tidur kok. kebetulan saya baru dari acara teman."
Wisnu memarkir mobil di depan kost Ines, lalu menyampingkan tubuhnya ke arah gadis itu. Menatap wajahnya yang terlihat senang bicara dengan anak anaknya. Ines belum tahu kalau Azham dan Azhar adalah anak anaknya.
Dia memperhatikan raut wajah Ines yang tampak sumringah meladeni anak anaknya.
π"Kak Ines kapan ketemu Azham Azhar lagi? Kami kangen sama kakak." suara Azhar terdengar sedih.
Ines tersenyum teharu.
__ADS_1
π"Uuhhhh sayang, kak Ines juga kangen sama kalian." katanya mellow.
π"Baiklah, kita ketemu besok. Tapi izin dulu sama ayah dan ibu yaa?"
π"Benar kak?"
π"Iya sayang, nanti kak Ines akan beri tahu kembali jam berapa kita ketemu. Soalnya besok pagi kakak harus ke kampus dulu, setelah dari kampus kakak akan menemui kalian."
π"Horeee..." Azham dan Azhar bersorak gembira.
π"Sekarang Azham dan Azhar bobok ya...ini sudah larut malam. Jangan lupa baca doanya sebelum tidur."
π"Baik kak...kami tidur dulu. Kami menyayangi kakak."
π"Kakak juga menyayangi kalian." kata Ines tersenyum terharu.
Telepon di matikan.
Dia segera menaruh ponselnya di dalam tas setelah terlebih dahulu menyimpan nomor Rani dalam kontak telepon.
"Siapa tadi?" tanya Wisnu berpura-pura.
"Ada deh, teman baru aku dari Amerika. Mereka sangat lucu dan menggemaskan." kata Ines tersenyum gemas membayangkan wajah tampan Azhar dan Azham.
"Mereka tampan bak anak Korea, mata sipit kulit putih kayak bule. Pipi mereka yang kemerahan. Keduanya mirip banget sama Oppa Siwon Choi ! Korean banget wajahnya...gemeees....! Aku yakin orang tua mereka pasti cakep dan rupawan. Keduanya juga anak anak baik dan sopan. Aku suka banget sama mereka." katanya kembali.
Tapi sesaat kemudian wajahnya langsung berubah kecut, setelah keceplosan bicara mengungkapkan perasaan bahagianya pada Wisnu.
"Kenapa juga aku harus menjawab pertanyaan anda? Terus ngapain juga anda tanya tanya dengan siapa aku bicara?" katanya ketus. Ines kesal kembali mengingat kejadian di parkiran hotel tadi, saat bertanya tentang keberadaan Ara di dalam mobil dan Wisnu hanya mendiaminya.
Ines segera keluar dari mobil.
"Terimakasih sudah mengantarku." katanya kemudian. Lalu segera melangkah menuju kostnya. Sesekali menengok kebelakang pada Wisnu yang belum pergi.
Wisnu tersenyum kecil melihatnya.
Setelah gadis itu masuk ke dalam, dia segera menyalakan mesin mobil dan beranjak pergi dari tempat itu.
Bersambung.
Dukung ya beri like vote hadiah, dan komentar positif ππ
__ADS_1
Terimakasih juga yang sudah mampir dan mendukung author π