Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 44


__ADS_3

Rizal menghadang jalan Rafa ketika tiba di atas.


"Kenapa kau masih seperti ini Rafa? Kau belum berubah. Semakin dingin dan emosional."


"Itu hanya perasaan mu saja, tidak ada yang berubah." Rafa ingin melanjutkan langkah, tapi Rizal memegang dan menahan bahunya.


"Aku seorang dokter Rafa, aku bisa melihat sesuatu yang tak baik dari dirimu." Rizal menatapnya lekat.


"Kau banyak diam dan sedang menutupi sesuatu. Kau tidak seperti biasanya yang selalu terbuka padaku." sambung Rizal kembali.


"Aku sedang malas bicara. Lagi pula tidak ada sesuatu yang ku tutupi." Rafa menjawab menatap tajam. Lalu mendorong tubuh Rizal ke samping, melanjutkan langkah menuju ruang kerja di ikuti Wisnu.


"Apa karena Levina?" teriak Rizal.


Tak ada jawaban, Rafa masuk dan duduk di kursi kerjanya.


Rizal kembali mengejar dan duduk di depan Rafa yang terhalang meja. Dia memperhatikan gerak gerik Rafa yang sibuk memeriksa berkas yang di berikan Wisnu.


Rizal menoleh pada Wisnu dengan mata melotot karena hanya diam sedari tadi tanpa membantunya. Tidak ada respon dari sekretaris itu membuatnya semakin dongkol. Dia menatap kembali pada Rafa.


"Bagimana hubungan mu dengan Levina? Apa sudah membaik?"


"Wisnu, antar dokter Rizal keluar." Rafa memberi perintah tanpa menoleh, dia terus sibuk dengan berkas berkasnya.


"Baik tuan." jawab Wisnu.


"Mari saya antar dokter, silahkan." Wisnu Rizal.


Rizal dongkol dengan sikap ke duanya.


"Cih, kalian berdua menyebalkan, aku seperti tidak di anggap sebagai teman lagi." Katanya kesal.


"Aku menghawatirkan mu, kau malah mengusirku?" sentak Rizal menatap tajam pada Rafa.


"Apa hanya karena Levina kau jadi seperti ini? Betapa bodoh dirimu. Banyak wanita di luar sana yang mengejar dan tergila-gila padamu." sambungnya kembali.


Rafa menghentak meja dengan keras.

__ADS_1


"Aku sudah berakhir dengannya. Aku sudah membuang ****** itu jauh dari hati dan pikiranku sejak dia mengkhianati ku 8 bulan yang lalu. Dan kau sudah tau hal itu kan?" menatap tajam Rizal.


"Jangan menyebut namanya lagi di depan ku. Sekarang pergilah, jangan mengoceh terus, aku sedang kerja." sambung kembali, lalu menoleh pada Wisnu memberi isyarat dengan tatapan tajam.


Rizal terhenyak mendengar perkataan itu.


Wisnu segera menarik tubuh Rizal sedikit kuat dan memaksa dari kursi hingga Rizal berdiri.


Rizal menepis kuat tangan Wisnu.


"Aku bisa keluar sendiri Wisnu, kau kasar sekali sama seperti tuan mu." dia menatap sinis pada Rafa.


"Aku sahabat mu Rafa, kita sudah berteman cukup lama. Aku sangat tau tentang dirimu luar dalam. Kalau bukan karena Levina lalu apa?"


Rizal mendekat kan tubuhnya pada Rafa yang terhalang meja, meletakkan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya.


"Tatap aku Rafa."


Rafa tetap acuh, terus menunduk sibuk memeriksa berkas.


"Kau tertekan Rafa, kau sangat depresi. Aku bisa melihat itu dengan jelas di kedua matamu. Kau menderita dan merasakan sakit yang terlalu dalam. Kau sedang patah hati, patah hati karena cinta." katanya kemudian.


Rafa segera menipis tangan Rizal dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Kalau bukan karena Levina, adakah wanita lain yang membuatmu jadi menderita seperti ini?" Rizal kembali bertanya.


Rafa menelan ludah kasar. Dia kembali menatap Rizal dengan geram, rahang bergetar menahan amarah.


Tiba tiba Rizal tertawa dapat menebak isi hati sahabatnya ini.


"Hahaha... Hey bos, siapa wanita itu? Wanita mana yang berani membuat seorang Rafa Ravendro menderita dan patah hati seperti ini? Menolakmu hingga kau sangat depresi seperti ini, hah?" kata Rizal masih terus tertawa meledek.


"Keluar, pergi dari sini." bentak Rafa keras tatapan semakin tajam.


"Wisnu, akan ku patahkan kaki dan tangan mu jika kau tidak bisa membawa keluar dokter sialan ini dari hadapan ku." ucapnya kasar menahan amarah. Dia melempar berkas berkas kearah Rizal hingga jatuh berceceran di depan dokter itu.


Rizal kembali tertawa.

__ADS_1


Wisnu segera menarik kasar Rizal, menyeret dengan paksa untuk keluar.


"Hey bos, adakah wanita yang tidak tertarik dengan pesona mu, ketampanan mu? Terlebih lagi dengan kekayaan seorang Rafa Ravendro?" teriak Rizal di sela sela langkahnya yang di tarik paksa oleh wisnu keluar dari ruangan itu.


Rafa berteriak penuh amarah, dia menghempas barang apa saja yang ada di atas meja. Tak puas hanya dengan melakukan hal itu, dia membanting kursi kerja dengan kuat ke pintu, hingga akhirnya benda itu jatuh ke lantai dan rusak.


Bunyi dentuman itu terdengar oleh Rizal dan Wisnu yang sedang menuruni tangga. Langkah mereka terhenti, Wisnu melepaskan pegangannya pada Rizal.


"Siapa dia Wisnu? Siapa wanita yang telah membuat Tuan mu menderita seperti itu?" Rizal menatap Wisnu.


"Silahkan dokter." kata Wisnu alih alih menjawab pertanyaan Rizal.


"Wisnu, apa yang kalian sembunyikan dariku? Apa yang tidak ku ketahui, Hah? Sudah lama kita bertiga bersahabat. Saling terbuka dalam hal apa pun, tidak ada yang saling kita tutupi." sentak Rizal.


"Maafkan aku dokter, mari aku antar anda kedepan."


"Jangan panggil aku dokter, aku sahabat mu dan aku bertanya sebagai seorang sahabat! Katakan padaku apa yang kalian sembunyikan, aku ingin membantu tuan mu. Apa kau ingin dia mati tertekan?"


"Hanya tuan sendiri yang bisa menghilangkan semua rasa sakit itu Dokter." jawab wisnu perlahan.


"Itu sangat sulit kalau kita tidak membantunya Wisnu. Aku tidak pernah melihat Rafa seperti ini bahkan sewaktu dia bersama Levina. Saat ini hatinya hampa dan kosong, dia sangat depresi, tertekan. Dan kau pun tau itu kan Wisnu?"


"Aku tau dokter, tetap saja kita tidak bisa membantu atau melakukan apa pun."


"Bisa Wisnu, kau beritahu padaku siapa gadis itu, aku akan membuat nya jatuh cinta pada Rafa dan menjadikan dia milik Rafa."


"Kalau hanya seperti itu, aku pun bisa melakukannya tanpa bantuan mu dokter. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan tuanku." kata Wisnu menatapnya.


Rizal terhenyak mendengar jawaban itu.


"Apa maksudmu? Memangnya, siapa wanita itu? Kenapa Rafa tidak bisa memilikinya?"


"Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Sebaiknya anda kembali saja, aku akan ke atas, aku khawatir pada tuan! Hati hatilah anda di jalan." Wisnu menundukkan kepala sebagai penghormatan pada Dokter sekaligus sahabatnya ini. Lalu segera menaiki tangga menuju ruang kerja Rafa. Saat ini dia sangat khawatir dengan keadaan Tuannya.


Bersambung.


Jangan lupa dukung ya, masukkan ke favorit, beri vote, kopi, Rate bintang lima. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2