
Waktu menunjukan pukul jam 9 malam. Kepanikan terjadi di rumah utama. Kemarahan Rafa yang mencari keberadaan Ara yang tak kunjung di temukan. Seluruh penghuni rumah terlihat panik dan ketakutan mengahadapi kemarahan tuan mereka.
Pasalnya Ara tidak berada di rumah dan entah berada di mana hingga saat ini. Saat Rafa pulang dari kerja, hingga semua berkumpul saat makan malam, Ara tak kunjung menunjukkan dirinya. Setelah di periksa ke dalam kamar, kamarnya kosong. Saat di hubungi, ponsel Ara juga mati. Sementara ponsel Raka tersimpan di laci nakas. Hal itu semakin menambah kepanikan dan khawatiran Rafa.
Wisnu menanyai semua penghuni rumah satu persatu tapi tak satu pun yang tahu keberadaan nona muda mereka.
"Cari istriku sampai ketemu, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istriku, aku tidak akan mengampuni kalian semua." teriak Rafa keras membuat gemetar dan bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengar.
"Begitu banyak kalian di rumah ini tapi tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan istriku."
Sam dan semua pelayan lainnya berlutut gemetaran di depannya. Begitu juga dengan para sopir dan penjaga keamanan dan itu semakin menambah murka Rafa.
"Menyingkir dari hadapan ku dan cepat temukan istriku." teriaknya lagi penuh emosi.
Mereka segera bangkit dan mencari keberbagai sudut rumah dari depan hingga ujung belakang. Para penjaga keamanan mencari di halaman rumah depan sampai belakang. Sam sudah menghubungi semua teman teman Ara, tapi mereka tidak ada yang tau keberadaan nona mudanya. Wisnu juga sudah menelpon panti asuhan, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Ara di sana. Baik ustadz Arif dan mbok Imah mengatakan tak ada Ara di sana.
Wisnu juga menyuruh semua anak buahnya mencari di semua tempat yang biasa Ara kunjungi, ke kampus bahkan ke tempat kerjanya. Rafa berjalan menuju makam Raka.
Biasanya Ara selalu datang berkunjung ke makam Raka meski saat malam hari, bahkan sampai tertidur di sana.Tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Ara di sana. Penjaga kebun belakang sekaligus penjaga makam mengatakan Ara tidak datang berkunjung seharian ini.
Rafa semakin frustasi. Kecemasan melanda hati dan pikirannya, takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Di mana kamu Ara___" ucapnya lirih.
"Apa kamu marah kepadaku ? Apa kamu benci kepadaku? Kamu pergi kemana?"
Wisnu menghubungi Rizal, Rizal malah terkejut dengan hilangnya Ara.
Maya dan Nesa juga tidak mengetahui keberadaannya. Wisnu segera menyebarkan foto Ara pada semua anak buahnya di berbagai tempat.
"Cari nona muda secara diam-diam, jangan sampai publik mengetahui hal ini." pesan Wisnu, dia khawatir ketidak keberadaan nona mudanya malah akan di manfaatkan oleh musuh musuh tuannya.
"Tuan, saya sudah memeriksa semua CCTV di setiap sudut rumah ini."
"Apa yang kau temukan? Apa kau menemukan istriku?"
Dengan langkah cepat Rafa menuju kamar Maya setelah mendengar penjelasan Wisnu. Wanita paruh baya itu terkejut melihat kedatangannya.
"Di mana istriku ma? Katakan di mana Ara?" sentak Rafa menahan Amarah.
"Apa mama menyakitinya lagi? Apa mama menghinanya lagi?"
"Apa maksudmu?" Maya menatapnya tak mengerti.
"Hanya mama yang tidak menyukai Ara di rumah ini, hanya mama yang membencinya. Mama pasti telah berkata kata buruk padanya karena menikah denganku, makanya dia pergi dari rumah ini kan? Katakan ma, katakan di mana istriku." teriak Rafa dengan sorotan mata menyala penuh kemarahan.
Maya tersentak, tubuh bergidik mendengar teriakan itu.
"Aku sudah memeriksa kamera CCTV. Ara datang ke kamar mama tadi. Apa yang dia lakukan di kamar mama? Apa yang mama lakukan padanya ? Apa yang kalian bicarakan? Hingga detik ini dia belum kembali! Katakan di mana istriku ma....." teriaknya kembali dengan sedih. Matanya berkaca-kaca.
"Selama ini mama memperlakukan dirinya buruk, mama selalu menyakitinya. Tapi dia diam dan tidak pernah membalas mama. Dia tidak pernah marah dan membenci mama. Dia tetap menghormati mama dan menuruti semua perkataan mama. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan mama menyakitinya lagi. Meski mama orang tuaku, aku akan buat perhitungan jika terjadi sesuatu yang buruk pada istriku. Katakan di mana istriku...." teriak Rafa keras.
Maya menelan ludahnya mendapatkan pertanyaan berapi api. Lalu berjalan ke balkon kamarnya, memandang suasana taman samping rumah yang terlihat indah di hiasi berbagai lampu hias yang besar dan terang.
"Tadi pagi dia memang datang ke kamar mama. Dia hanya bicara sedikit setelah itu dia keluar. Mama hanya melihat dia naik ke tangga dan masuk lagi ke kamarnya."
"Apa yang dia katakan?"
Maya berbalik dan kembali menatapnya lalu mengakan sesuatu.
Dengan lesu tak bersemangat, Rafa melangkah masuk ke ruang kerjanya.
"Tuan, lihatlah video ini." kata Wisnu yang baru masuk, Rafa segera melihat rekaman video itu. Dia terbelalak, melihat Ara keluar mengendap endap bersembunyi dari orang orang rumah. Lalu langsung masuk di dalam bagasi mobil si kembar.
"Saya sudah menanyai Ucil, dia tidak tau sama sekali keberadaan nona muda di dalam bagasi. Nona muda sudah memperkirakan Ucil akan keluar menjemput si kembar, makanya dia sudah bersiap terlebih dulu dengan masuk ke dalam bagasi." kata Wisnu.
Sebelum berangkat ke kantor tadi, Rafa sudah memberi pesan pada Sam untuk melarang Ara keluar rumah, mungkin karena itu dia pergi sembunyi sembunyi.
Mereka segera turun keluar menuju sekolah si kembar. Mengecek kamera CCTV yang berada di setiap sudut halaman, tempat parkir dan jalan raya depan sekolah. Kamera CCTV yang berada di depan sekolah menangkap tubuh Ara yang keluar dari bagasi. Ara terlihat berlindung sejenak pada sebatang pohon, tersenyum melihat si kembar keluar dari sekolah, setelah mobil Ucil melaju pergi, Ara segera berjalan menyusuri jalan raya. Dia menggunakan jeans biru dan sweater coklat susu sampai lutut dan punya penutup kepala. Di belakangnya tergantung ransel yang biasa di gunakan ke kampus.
Rafa mendengus geram kehilangan jejak Ara, karena tak ada kamera CCTV ke Arah jalan raya yang di lalui Ara.
.
.
Tiga minggu sudah kepergian Ara entah kemana. Rafa seperti orang yang hilang akal dengan hilangnya istrinya. Perusahaan menjadi kacau, dan mulai tak stabil. Karena Rafa tidak fokus bekerja. Dia jarang datang ke kantor dan lebih sibuk mencari Ara. Dia tidak perduli dengan yang lainnya, yang dia inginkan hanya Istrinya kembali.
Moly dan Wisnu berusaha keras menghandle perusahaan.
Semua orang menjadi sasaran kemarahan Rafa. Bahkan beberapa pegawai kantor kena pecat karena hal sepele. Begitu juga 3 orang pelayan rumah dan 4 penjaga keamanan saat kejadian Ara pergi dari rumah, mereka tidak becus bekerja, katanya seperti itu. Bahkan Ucil juga di pecat dari pekerjaannya sebagai sopir.
Dalam tingga minggu pula terjadi perubahan drastis pada tubuhnya, yang kini mulai kurus dan wajahnya yang tirus di tumbuhi brewok dan jenggot tebal, keadaannya berantakan tak terurus. Tidur tak nyenyak. Makan tak teratur, bahkan sampai detik ini dia belum menyentuh makanan. Hanya air saja yang bisa masuk ke dalam perutnya. Itupun di paksa Wisnu.
Rafa benci dan marah pada dirinya sendiri. Meskipun punya uang banyak dan kekuasaan, tetap saja dia tidak dapat menemukan istrinya. Mencari Ara seperti mencari jarum dalam jerami.
Rizal menyarankan agar mencari Ara melalui internet. Tapi Wisnu melarang karena hal itu malah akan membahayakan diri Ara. Karena sudah beberapa relasi bisnis Rafa mengenal Ara sebagai istri Raka waktu acara di bali lalu. Belum lagi teman temannya di kampus semua kenal dengan dirinya. Juga musuh musuh Rafa lainnya.
__ADS_1
Kita tidak akan tahu mana kawan dan mana lawan, mana musuh mana sahabat, kata Wisnu.
Tapi mereka tetap melakukan pencarian Ara di Internet secara diam-diam.
Rizal menghubungi semua rumah sakit yang berada di berbagai daerah. Meminta mereka untuk segera memberitahukan padanya jika ada orang yang mirip Ara datang untuk berobat atau sejenisnya. Wisnu juga menghubungi orang orang mereka yang ada di kepolisian.
Dia juga memantau pergerakan Levina, siapa tahu wanita itu menyimpan dendam. Dia juga memantau gerak gerik geng geng mafia yang pro dengan tuannya. Tapi tak ada pergerakan dari mereka. Dan sampai sejauh ini tak ada orang yang menghubungi mereka untuk meminta tebusan, kali aja Ara di culik.
Rafa semakin cemas dan ketakutan membayangkan terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Cindy dan Ines juga berusaha membantu sebisa mungkin.
.
.
Sebulan berlalu setelah Kepergian Ara.
Praaaaangk ....
Gelas cangkir pecah berkeping-keping di lantai akibat di lempar Rafa keras.
"Kamu mau membakar lidahku ?" sentaknya keras penuh amarah menatap tajam karyawan yang membawa kopi untuknya. Karyawan itu langsung berlutut ketakutan dengan wajah pias, memohon pengampunan.
"Wisnu, seret dia dari ruangan ku sekarang juga dan pecat."
Karyawan itu menangis dan kembali memohon pengampunan, tapi Rafa tidak perduli.
Wisnu langsung patuh pada perintahnya, dan langsung menyeret tubuh wanita itu keluar.
"Aarrghh.....!" Rafa meraung keras dalam ruangannya, berteriak keras dan menangis.
"Kamu di mana? Aku mohon pulanglah. Pulanglah sayang." menatap foto Ara dalam bingkai. Air matanya kembali mengalir dan jatuh pada kaca bingkai. Entah sudah berapa banyak air matanya yang keluar menangisi kepergian istrinya.
Dia terus menyalahkan diri sendiri atas kepergian Ara.
"Silahkan marah aku, benci aku, tapi jangan pergi Ara, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, jangan buat aku menderita lagi untuk kedua kali. Aku mohon pulanglah sayang, atau setidaknya beri kabar tentang dirimu. Aku sangat khawatir dengan keadaan mu. Kau di mana?" menangis terisak menatap terus pada wajah manis yang sedang tersenyum manis kearahnya.
Moly dan Wisnu memperhatikannya dari jauh.
"Magang." ucap Moly sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Wisnu.
Dahi Wisnu mengerut mendengar perkataannya.
"Nona muda mu belum mengikuti magang mahasiswa bukan? Siapa tahu cara itu bisa membuat dia kembali. Segera beri tahu pihak universitas untuk menempatkan dia di perusahaan ini." katanya menjelaskan.
Wisnu nampak tersenyum kecil mendengar sarannya. Ide yang cemerlang.
"Aku sangat kasihan sama Tuanmu. Dia bisa jatuh terpuruk lagi untuk yang ke dua kalinya jika nona Ara tak kembali. Dan bisa jadi perusahaan juga akan mengalami keterpurukan. Kau masih ingat kan bagaimana kacaunya perusahaan saat dia terluka dan menderita saat mengetahui nona Ara adalah istri tuan muda mu, Raka?"
Wisnu membuang nafas berat. Tentu saja dia tidak akan lupa penderitaan tuannya waktu itu.
"Sebenarnya apa yang membuat nona Ara pergi dari rumah? Apa yang terjadi pada mereka? Ada kah yang tidak ku ketahui sekretaris Wisnu?" wajah Moly mengernyit mencari tahu permasalahan yang membuat Ara pergi dari rumah.
"Tidak ada yang ku sembunyikan buk Moly, karena memang aku tidak tahu. Aku hanya melihat Nona muda keluar dari kamar tuan Rafa sambil menangis. Dan ketika aku masuk, tangan tuan bersimbah darah. Entah apa yang terjadi di antara mereka, hanya tuan dan nona muda yang tahu." kata Wisnu.
Moly hendak bertanya lagi, tapi sebuah pesan yang masuk di ponsel Wisnu menghentikannya.
Wisnu segera merogoh saku celananya. Lalu membuka isi pesan masuk. Sebuah gambar foto. Wisnu terkejut setelah melihatnya.
Moly memperhatikan perubahan wajahnya.
"Ada apa sekretaris Wisnu? Apa yang kau lihat?" tanya Moly.
"Nona muda." ucap Wisnu tersenyum.
"Nona Ara?" ulang Moly
Wisnu mengangguk.
Moly segera mengambil ponsel Wisnu dan melihat isi pesan yang masuk.
(Anggap ini Ara, dengan rambutnya yang keriting dan kaca mata tebalnya. Rambut biasa di Cepol)
Selain gambar itu, ada juga pesan yang masuk.
"Hallo tuan Ravendro, sebulan terlalu berlalu. Kau pasti sangat merindukan istrimu bukan?Kau juga pasti sangat menderita kehilangan dirinya bukan? Sudah pasti. Lihatlah istrimu sangat cantik dan manis.Tapi sayangnya wajah cantiknya itu di penuhi guratan kesedihan, makanya aku menghiburnya. Sudah beberapa hari ini aku mengajaknya ke pantai karena itu adalah permintaannya. Suasana pantai membuatnya merasa tenang. Dan syukurlah dia masih bisa tersenyum. Yaaa.. walaupun aku dapat membaca itu senyuman paksaan."
"Kenapa kau memberi kesedihan dan air mata di wajah cantiknya yang polos tuan Ravendro? Apa kau tak khawatir banyak tangan di luar sana yang bisa menghapus kesedihannya?"
"Baiklah tuan Ravendro, tak perlu kau mencari tahu keberadaan istrimu. Dia baik baik saja bersamaku. Aku sangat senang bahuku di gunakan untuk bersandar menghilangkan kesedihannya.Tak perlu mencari tahu lokasi dan nomor ponselku, karena itu percuma."
"Aku sengaja mengirimkan gambar foto istrimu, supaya kau mengerti bahwa istrimu masih bisa hidup bahagia di luar sana. Masih ada orang lain yang bisa membuatnya tertawa dan tersenyum bahagia. By ...."
"Ini nona Ara kan Wisnu? Siapa yang mengirimkannya?" tanya Moly
"Itu artinya, nona muda___!" tanpa pikir panjan keduanya berlari masuk menuju ruang kerja Rafa.
__ADS_1
"Tuan." Wisnu segera menyerahkan ponsel pada Rafa dan memperlihatkan foto nona mudanya.
"Ara...." Rafa terperangah. Kemudian tersenyum senang, campur sedih setelah melihat wajah istrinya.
"Syukurlah kau baik baik saja sayang." bangkit berdiri.
"Siapa yang mengirimkan ini ?"
"Saya akan menyelidikinya tuan."
"Cepat hubungi nomor ini, tanyakan di mana istriku sekarang."
Wisnu segera menghubungi nomor tersebut, tapi tidak tersambung.
"Sudah tidak aktif tuan."
"Apa?" Rafa terbelalak, dia mengambil ponsel di tangan Wisnu dan mencoba menelpon, tapi yang hanya terdengar kata tut tut...
Di coba lagi tapi tetap sama.
Rafa mendengus geram hendak melempar benda tipis itu tapi di cegah Moly dengan cepat.
"Tuan, di ponsel itu ada kiriman foto nona Ara, Kalau ponselnya rusak kau tidak akan bisa melihat istri anda."
Gerakan Rafa berhenti, benar____
Dengan segera dia mengelus benda itu, lalu menatap wajah Ara dengan senyuman.
"Sayang kamu di mana?"
"Bersyukurlah, sekarang kita sudah tahu kalau nona baik baik saja di luar sana. Kita tinggal mencari tau di mana dia sekarang."
"Apa ada pesan masuk lainnya?" Rafa menatap Wisnu.
Wisnu memperlihatkan isi chat yang tidak sempat di baca tuannya, karena terlalu senang melihat foto Ara.
Rafa membaca isi chat itu dengan perlahan
Dia mendengus geram setelah membacanya.
"Siapa orang ini? beraninya dia menyembunyikan istriku."
"Cari tau tentang background pantainya. Kalian harus bisa menemukannya secepatnya." menatap tajam pada Wisnu dan Moly.
"Baik tuan."
"Siapa orang yang berani mempermainkan diriku? Awas saja kalau aku menemukannya. Beraninya dia memberikan bahunya untuk Ara." dengusnya geram.
"Wisnu, bagaimana dengan pewaris tunggal DRA group?" tiba tiba Rafa teringat pada Dion. Karena Dion pria dari kalangan atas yang sangat menyukai Ara. Bisa jadi dia yang menyembunyikan Ara.
"Sepertinya bukan dia tuan, Karena orang orang kita mengatakan, dia juga sibuk mencari nona muda."
"Brengsek, beraninya dia menunjukkan kepeduliannya pada istriku." Rafa memukul meja keras.
"Sepertinya orang itu sangat tahu mengenai kehidupan pribadiku bersama Ara. Selain kita, tidak ada yang tahu pernikahanku dengan Ara. Tapi kenapa dia mengetahuinya? tidak mungkin Ara yang memberitahu, Karena Ara sendiri memintaku untuk merahasiakan pernikahan kami." Rafa menatap mereka berdua.
Moly mengangkat bahu, yang artinya dia tidak tahu.
Wisnu diam mendengarkan.
"Kirimkan pesan ke nomor itu. Katakan apapun yang dia inginkan akan aku penuhi, apapun yang dia minta akan kuberikan. Asal dia mengembalikan Ara padaku. Apapun itu, akan kuberikan. Aku hanya perlu istriku dalam hidupku, aku tidak butuh yang lainnya."
Wisnu segera melaksanakan perintah tuannya.
Rafa kembali menatap pada foto istrinya. Tidak ada yang dapat menandingi kebahagiaannya saat ini. Melihat istrinya baik baik saja di luar sana.
"Sayang kembalilah padaku, jangan pergi lagi dari hidupku. Bagaimana bisa aku hidup tanpa kamu? Katakan bagaimana bisa aku bisa bernafas tanpamu? Bagaimana mungkin aku bisa bertahan tanpamu? taku tidak butuh apa apa di dunia ini, hanya kamu yang aku inginkan. Aku mohon kembalilah, pulang lah sayang....." ucapnya lirih dan sendu, meraba lembut wajah istrinya.
Moly dan Wisnu ikut sedih dan terharu.
"Sepertinya nona Ara sangat bahagia di luar sana, dia bisa tersenyum lepas. Apa mungkin dia tidak bahagia tinggal di rumahmu dan tidak nyaman bersamamu tuan Rafa ?"
"Aku juga merasakan hal itu Moly. Tapi tidak mungkin aku akan melepaskannya, aku tidak akan sanggup hidup tanpa dia, apalagi sampai melihat dia bersama orang lain, tidak...aku tidak akan sanggup dan rela dia pergi dariku. Aku akan berusaha keras agar dia mau menerimaku. Apa pun akan aku lakukan untuk membuat dia tetap di sisiku selamanya." menatap terus foto Ara.
"Tuan Rafa, akan memakan Waktu lama jika kita masih mencari lokasi pantai tempat nona Ara. Hanya ada satu cara untuk membuat nona cepat kembali, aku baru saja membicarakan hal itu dengan sekretaris Wisnu." ujar Moly menatapnya lekat.
Rafa menatapnya penuh tanya.
"Magang mahasiswa." ucap Moly tersenyum.
"Aku akan segera mengirimkan surat pemberitahuan ke universitas untuk merekrut mahasiswa untuk magang di perusahaan RA Group roup." sambung Moly kembali.
Rafa tersenyum mengerti ucapan Moly.
...Bersambung....
Terimakasih bagi yang sudah mampir🙏🙏Beri hadiah Kopi buat author ya....biar semangat nulisnya ☺️
__ADS_1