
...Happy Reading....
Pagi ini dengan di temani Ines, Ara meninju lokasi perkampungan kumuh yang berada di dekat rel kereta api di kota X. Kawasan itu merupakan satu dari ratusan permukiman kumuh yang ada di kota itu.
Ara meninjau pengerjaan pembedahan beberapa rumah yang sudah tidak layak huni. Pengerjaannya sudah berjalan dua minggu.
Perkampungan ini menggunggah hati Ara. Karena terdapat banyak anak anak kecil dan para lansia yang rumahnya hanya beralaskan tanah dan beratapkan langit. Ara sudah menelusuri kawasan itu terlebih dahulu sebelum melakukan pembedahan. Sudah berulang kali masyarakat perkampungan kumuh mengirimkan proposal permohonan bantuan rumah layak. Tapi beberapa tahun berjalan dan hingga sampai detik ini belum ada respon dari pemerintah.
Seperti biasa, setiap kali datang mengecek lokasi, Ara datang dengan tidak tangan kosong. Dia membawa ratusan dus makanan dan juga bahan bahan sembako untuk di bagikan kepada warga miskin setempat.
Tanpa rasa jijik Ara berbaur dengan masyarakat dan juga dengan lingkungannya yang sangat kotor penuh dengan sampah sampah dan lalat yang berterbangan membawa penyakit. Bersama dengan tim pasukan Azahra, juga tenaga buruh profesional dan beberapa alat alat berat dari perusahaan suaminya. Pengerjaan pembedahan mulai terlihat 60 %, dari 100 rumah warga yang mengalami pembedahan.
Bukan dari bahan triplek atau gypsum. Pembedahan itu menggunakan bahan-bahan material agar tidak mudah rusak dan lama untuk di tinggali.
Tentu hal ini tidak lepas dari campur tangan dan dukungan suaminya, Rafa.
Mereka juga melakukan kerja bakti bersama bersama masyarakat membersihkan kawasan tersebut dari sampah sampah yang berserakan, menimbun dan membakarnya dalam satu tempat terpisah.
Hari yang sangat melelahkan. Tapi Ara sangat senang bisa berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang kurang mampu. Hingga akhirnya dia tertidur pulas dalam pangkuan dan dekapan cinta sang suami yang datang menjemput di area lokasi menjelang sore hari.
.
.
Cindy berjalan jalan di sala satu pusat perbelanjaan. Langkahnya berhenti tepat di depan toko perlengkapan bayi. Dia menatap sepasang sepatu bayi mungil cantik berwarna putih keemasan itu. Cindy mengangkat tangan kirinya perlahan menyentuh sepasang sepatu bayi itu dari kaca luar. Dia tersenyum haru. Perlahan dia menyentuh perutnya. Membayangkan bayinya nanti memakai sepasang benda indah itu.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" terdengar suara pelayan toko menyapanya.
Cindy kaget."Saya hanya sekedar lihat lihat aja. Maaf permisi!" ucapnya segera sambil mengurai senyum.
Cindy kembali melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa langkah berjalan, kakinya kembali terhenti. Di depannya nampak berdiri Dinda, Sophia dan juga ibunya Sophia.
"Hay Cind, lo di sini ya?" tegur Sophia begitu melihatnya.
Cindy mengangguk tersenyum.
"Lo sama siapa?" tanya Sophia.
"Aku jalan sendiri sophia."
Cindy melihat pada Dinda. Istri dari pamannya, Raymond Alkas.
"Tante." panggilnya menegur sopan. Dia juga menegur ibunya Sophia lewat senyuman walaupun belum tahu siapa wanita itu.
"Kamu sedang apa disini? Belanja?" tanya Dinda.
"Aku hanya sekedar jalan jalan saja tante."
"Siapa Jeng?" tanya mamanya Shopiah.
"Dia Cindy, keponakan suami, sepupu Dion!" jawab Dinda.
"Oh ya Cindy, perkenalkan ini mamanya Sophia!" kata Dinda kembali memperkenalkan mama Sophia.
Cindy segera menyalami mamanya Sophia.
Dinda menatapnya tak bergeming.
"Cindy, apa kau sakit?" melihat tubuh Cindy yang berubah. Kurus dan pucat.
__ADS_1
Cindy kaget dan kelabakan.
"Ah nggak tante! Aku baik baik saja!"
"Tapi kau terlihat seperti orang yang tidak sehat, kau kelihatan kurus." Dinda menatapnya tak berkedip. Dia tahu Cindy selalu menjaga penampilannya dan juga tubuhnya.
"Itu karena aku sedang diet tante. Sudah dua bulan ini aku melakukan program diet." kilah Cindy memberi alasan.
"Untuk apa kamu melakukan diet, tubuh kamu sebelumnya ideal dan bagus. Gak usah di turunin lagi. Tidak bagus di lihat kalau terlalu kurus." kata Dinda.
"Iya Tante." kata Cindy mengiyakan.
"Kamu ngapain di depan toko perlengkapan bayi? Kami perhatikan kau melihat sesuatu di dalam sana sambil senyum senyum sendiri." sela Sophia.
Cindy terkejut."Jadi mereka memperhatikan apa yang ku lakukan tadi? ya tuhan, semoga saja mereka tidak curiga." batinnya cemas.
"Apa kau mau beli perlengkapan bayi?" Sophia curiga.
"Ah nggak Sophia, aku hanya melihat sepasang sepatu bayi mungil yang cantik dan lucu. Aku jadi gemas karena terlihat lucu."
"Oh, ku kira ada yang lagi hamil dan kau mau beli perlengkapan bayi." cibir Sophia tersenyum miring.
Cindy cepat menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok!"
"Cindy, kau mungkin sudah tau Sophia adalah tunangan Dion!" Dinda menyela pembicaraan mereka.
"Iya tante, Sophia sudah mengatakan padaku!"
"Mereka akan menikah minggu depan.
Tante harap kau dapat membantu Sophia dan kakakmu jika mereka perlu bantuan. Terutama pada kakakmu, karena dia dekat dan terbuka denganmu." kata Dinda Kembali.
Dinda melangkah mendekatinya, mendekatkan mulutnya ke telinga Cindy, lalu membisikkan sesuatu.
"Cindy, kita harus memastikan pernikahan Dion dengan Sophia berjalan lancar dan secepatnya di laksanakan. Dengan begitu kakakmu akan segera melupakan Ara. Kamu faham kan maksud tante?"
"I_iya tante!"
"Sophia adalah gadis pilihan pamanmu untuk kakakmu. Hanya dia yang tepat dan pantas untuk menjadi istri kakakmu! Untuk itu kau harus membantu pamanmu, yakinkan Dion agar menikahi sophia secepatnya." menatap mata Cindy lekat.Cindy kembali mengangguk cepat, meski hatinya saat ini terasa sakit.
"Pernikahan ini bukan hanya sekedar menyatukan dua hati dan keluarga. Tapi juga merger dan akuisisi dua perusahaan." sambung dinda Kembali.
Cindy menelan ludahnya, dia mengangguk cepat. Kepedihan menyeruak di hatinya.
"Aku mengerti tante. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan kak Dion!" katanya sedih, suara serak.
"Bagus!" ucap Dinda tersenyum sambil menyentuh pundaknya.
Kemudian dia menoleh pada ibu Sophia.
"Mari jeng kita pergi!" lalu segera melangkah.
Ibunya sophia segera mengikutinya.
Sophia melangkah mendekatinya, terus mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy.
"Kau pasti ingin menghabiskan isi kartu kredit pemberian Dion kan?" bisik nya menatap sinis.
__ADS_1
"Seharusnya benda tipis itu milikku Cindy karena aku calon istrinya." sambungnya kembali dengan tatapan tajam. Lalu segera melangkah menyusul Dinda dan mamanya.
Cindy terhenyak mendengar ucapannya.
Dia terdiam di tempatnya. Sedangkan Sophia melangkah dengan geram. Dia tidak menyangka Dion sangat menyayangi sepupunya itu sampai memberikan kartu kredit yang hanya di gunakan oleh kalangan atas. Seharusnya Dion memberikan kartu kredit itu kepadanya, karena dia adalah tunangan Dion. Dia melihat Dion memberikan kartu kredit itu pada Cindy dan menguping pembicaraan mereka saat di dapur. Melihat mereka berpelukan, Dion yang menenangkan Cindy menangis.
Perlakuan Dion, perhatian dan kedekatan mereka membuatnya tidak senang dan sakit hati. Dia benci pada Cindy dan tidak menyukainya. Dan dia ingin memisahkan keduanya. Dia tidak ingin ada wanita lain yang dekat dengan tunangannya, walaupun itu hanya sepupu Dion.
Cindy mendesah sedih. Terus menatap kepergian Sophia hingga tubuh gadis itu menghilang dari pandangannya.
Ponselnya tiba-tiba berdering.
Cind segera mengambil dari tasnya dan melihat siapa yang menelepon.
"Kak Dion?" ucapnya setelah melihat siapa yang menelpon. Dia hanya menatap panggilan itu tak mengangkat.
Cindy teringat pada perkataan Dinda barusan.
Seminggu lagi Dion dan Sophia menikah.
Dan dia harus membantu meyakinkan kakaknya untuk menerima Sophia dan menikah secepatnya.
Kesedihan kembali menyeruak di hatinya. Dadanya sesak bergemuruh kuat menahan tangis. Sakit terasa. Setitik air mata jatuh di sudut matanya.
Cindy mengelus lembut perutnya.
"Tolong jangan menghubungi aku lagi kak!" gumamnya lirih menatap layar ponsel yang masih menyala.nKerena dekat dengan Dion hanya akan semakin menambah kepedihan dan luka hatinya. Meski di akui dia sangat ingin berada dekat dengan ayah dari anaknya itu. Karena berada di dekat Dion, akan membuat hati dan jiwanya tenang dan bersemangat. Mungkin karena bawaan kehamilannya.
Seharusnya dia sudah pergi dari kota ini dan menjauh dari kakak sepupunya ini, sebelum perutnya membesar dan di ketahui oleh orang banyak, terutama orang tua dan keluarga besarnya..Dia juga tidak akan kuat menghadapi cibiran orang, bahkan amarah dari orang tua dan keluarganya jika tahu dirinya hamil. Karena dia sangat tahu kehamilan di luar nikah tanpa suami akan membuat malu, menjadi bahan gosip dan membawa aib untuk dirinya dan seluruh keluarga besarnya.
Dia juga tidak ingin anaknya lahir di anggap sebagai anak haram, dan tidak di terima di lingkungan sosial. Makanya dia ingin pindah ke tempat baru di mana tak seorang pun yang mengenalnya.
Tapi dia khawatir Dion akan mencarinya di apartemennya yang sudah di sewakan pada orang lain. Dion pasti akan marah dan mencarinya.
Dering telepon berhenti dengan sendirinya.
Satu menit kemudian masuk sebuah pesan.
"Cind, belilah beberapa bahan makanan.
Aku akan makan malam di apartemen. Tolong masaklah sesuatu seperti beberapa hari kau membuatnya. Aku sangat ingin makan masakan mu!" pesan yang di tulis Dion.
Cindy membuang nafas berat setelah membacanya. Dia tidak membalas.
Di saat dia sangat benci dengan makanan,
Dion malah semakin bertambah selera makannya. Porsi makannya semakin bertambah. Dion ikut merasakan bawaan kehamilannya.
Cindy kembali melangkah sambil melamun.
Sementara gelisah bertarung dengan hati dan pikirannya soal Dion, sebuah tepukan di bahu mengangetkan dirinya.
Cindy segera berbalik.
"Hah? Kalian?" dia sangat terkejut tapi juga senang melihat dua wajah yang tersenyum menatap kepadanya.
"Ara__Ines?!!!
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan votenya yaa
terimakasih yang masih setia mampir ππ