Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 294


__ADS_3

Tak ingin membuat anak anaknya cemas dan sedih dengan keadaan tubuh Ines yang lebam dan bengkak membiru, untuk sementara Wisnu membawa Ines ke apartemennya.


Dia tidak mungkin membawa Ines ke kost, apalagi membawa pulang ke rumah orang tuanya, yang nantinya akan menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran orang tua Ines.


Sedangkan Azham dan Azhar yang di bawah pulang oleh Florencia dari cafe ke rumah pribadi Wisnu saat kejadian buruk yang menimpa Ines. Kedua bocah itu mempertanyakan keberadaan Ines yang tidak pulang bersama mereka. Hanya pamit ke toilet sebentar tapi gak balik balik lagi.


Si kembar sedih karena menganggap Ines pergi meninggalkan mereka sama seperti ibu mereka.


"Tuan, si kembar mempertanyakan


Nona Ines terus." Pesan dari Florencia yang masuk ke ponsel Wisnu.


Wisnu membuang nafas pelan.


Dia meletakkan baskom dan handuk yang di pakai mengompres wajah Ines yang tampak bengkak. Lalu mengolesi pelan pelan bengkak dan memar itu dengan salep antibiotik resep dari Rizal. Keduanya diam seribu bahasa. Hanya tangan mereka yang bergerak. Dan mata yang sesekali bertabrakan beradu pandang.


Ines yang merasa canggung dengan apa yang di lakukan Wisnu. Deg degan dan jantung berdebar. Dia resah dan gelisah, hatinya tak tenang, entah perasaan apa yang dia rasakan. Yang jelas dia merasa tidak enak dan tidak nyaman hanya berdua dengan suami orang seperti ini, apalagi ini di kamar pribadi Wisnu.


Dengan pria lajang saja dia masih mikir seribu kali berdua seperti ini, apalagi sama suami orang? Entah bagaimana tanggapan dan penilaian orang jika ada yang tahu. Dan terlebih lagi jika orang tuanya mengetahui hal ini, sudah pasti dia akan di bunuh oleh bapaknya. Dan lebih buruk lagi bagaimana jika istri Wisnu tahu dia ada di sini berduaan dengan suaminya? Pasti istri Wisnu akan mengecapnya sebagai wanita rendah, murahan dan bisa saja di sebut PELAKOR.


Ines sendiri tidak menyangka kalau Pria yang di anggap introver sombong, egois, dingin, cuek dan mahal suaranya ini merawat dan mengurus dirinya yang sakit. Sekertaris dingin dan kejam ini bahkan membawanya ke rumah sakit dengan meminta bantuan Rizal. Memeriksa tubuhnya bila ada cidera, tulang dan sendinya yang patah.


Padahal dia sudah meminta Wisnu untuk mengantarkan dia ke rumah orang tuannya saja. Tapi Wisnu lagi lagi diam tidak menanggapi ucapannya. Wisnu hanya menyuruhnya jangan banyak bicara dan bergerak.


Satu jam kemudian. Saat itu Ines sudah bersiap siap hendak pulang, karena merasa tidak enak hati tinggal di apartemen ini hanya berdua dengan nya.


Tadi dia sudah meminta kepada Wisnu agar Azham dan Azhar ikut menemaninya di sini agar dia tidak canggung dan takut. Tapi Wisnu mengatakan anak anak itu akan sedih bila melihat keadaannya yang seperti ini.


Wisnu datang membawa makan malam untuknya.


"Sekretaris Wisnu, aku mau pulang. Terimakasih sudah mengobati dan merawat ku. Terimakasih kasih juga sudah menyelamatkan aku dari preman preman jahat." katanya pelan pelan sekali karena bibirnya yang masih bengkak dan sakit. Lalu dia segera memakai tas selempang.


"Kau belum sehat benar. Tetaplah di tempat tidur, jangan kemana-mana. Sekarang makanlah. Aku bawakan makan malam untukmu." kata Wisnu meletakkan nampan di meja sofa.


"Terimakasih.Tapi aku tetap ingin pulang. Aku sudah menghubungi mang Saleh untuk menjemput ku. Sebentar lagi dia sampai."


"Rumah orang tuamu juga sangat jauh. Kau tidak boleh ke mana-mana sampai keadaanmu sudah membaik. Duduk dan makanlah, setelah itu minum obatmu dan tidur."


"Tapi sekretaris Wisnu....."


"Duduklah dan nikmati makananmu." kata Wisnu sedikit menyentak.


Ines langsung kaget dengan suaranya. Dia menatap Wisnu dengan kesal lalu segera melangkah pelan pelan dan duduk di sofa.


Ines segera menikmati makanannya dengan sangat pelan dan hati hati. Sesekali dia meringis karena merasa sakit saat membuka mulut terlalu lebar.


Wisnu duduk di depannya dengan tatapan ke ke layar ponsel.


Sebuah pesan masuk dari Rafa.

__ADS_1


"Jangan sampai istriku mengetahui kejadian buruk yang menimpa pada Ines. Kau sudah tahu apa maksudku."


"Baik tuan." balasnya.


Setelah membalas pesan tuannya, Wisnu menoleh pada Ines.


"Nona Ines, Jangan katakan kepada siapa pun tentang kejadian yang menimpa dirimu, terutama pada Nona Muda."


Ines menghentikan makannya, menatapnya sejenak. Dia teringat pada kedua sahabatnya Ara dan Cindy. Tidak mungkin juga dia mengatakan keadaannya pada kedua sahabatnya yang tengah hamil itu. Dia tidak ingin membuat keduanya sedih dan cemas.


"Setelah makan aku langsung pulang, aku tidak mau tinggal di sini." katanya.


"Sudah ku katakan setelah makan, minum obat dan tidur." jawab Wisnu tegas.


Ines mendengar kesal.


"Kenapa keinginan mu harus selalu ku ikuti? Kau bukan ayah dan ibuku yang harus selalu ku dengar."


"Berhentilah bicara, lebih baik minum obatmu dan istirahatlah. Aku ke bawah dulu." kata Wisnu tetap dengan sikapnya yang acuh.


"Kau benar benar menyebalkan." kata Ines keras, tapi setelah itu dia meringis sakit sambil memegang bibirnya yang perih.


"Bawel amat. Sudah dibilang jangan banyak bicara."


"Iiihhhh___menyebalkan" teriak Ines semakin dongkol, dia melempar Wisnu dengan bantal sofa.


Dengan sigap Wisnu menangkapnya. Lalu segera bangkit berdiri mengangkat nampan yang berisi Gelas dan piring kotor, tak perduli dengan kekesalan Ines.


"Kau ingin membuat orang tuamu cemas dengan keadaan mu ini?" kata Wisnu menatap tajam.


"Itu lebih baik dari pada ibu akan pingsan dan ayah akan membunuh ku jika mengetahui aku tinggal dan menginap berdua bersama suami orang di apartemen ini, di kamarmu ini." sentak Cindy menatap tajam balik.


"Anda gak berpikir bagaimana tanggapan orang jika mengetahui kita tinggal berdua di sini sementara istri anda tak ada? Aku akan jadi bahan gunjingan orang. Mereka akan mengatai diriku wanita rendah dan murahan." kata Ines kembali berapi api karena mulai emosi.


"Dan anda juga gak berpikir bagaimana perasaan istri anda jika dia datang dan mengetahui suaminya membawa wanita lain ke kamar kalian? Anda gak berpikir bagaimana perasaan istri anda? Dia akan hancur dan terluka ! Yaa meskipun kita tidak melakukan apa apa, tetap saja istri anda akan sedih karena merasa di khianati." katanya kembali panjang lebar.


"Kenapa harus pusing dengan penilaian orang? Sudahlah___lebih baik minum obatmu, lalu tidur." jawab Wisnu tetap acuh dengan sikapnya yang dingin.


Ines tercengang dengan perkataan enteng itu."Sekertaris Wisnu.... Om Wisnu...Aki Wisnuuuuu." teriak Ines geram. Karena Wisnu hanya menganggap enteng perkataannya.


Ingin sekali dia memukul kepala pria jutek ini agar dapat mencermati maksud dari kata katanya. Mungkin saja kepalanya kena pukulan saat melawan penjahat tadi sehingga otaknya oleng dan bermasalah tidak bisa berpikir baik.


"Kamu tidak perlu khawatir, istriku tidak akan datang ke sini. Dia juga tidak akan marah kamu menginap di sini." kata Wisnu untuk membuatnya tenang dan tidak khawatir.


Ines melongo mendengar kata-katanya.


"Apa kata anda barusan?" katanya dan kembali menatap tajam, menganggap Wisnu yang merasa tidak bersalah sama sekali dan tidak perduli pada perasaan istrinya karena membawa dirinya kesini.


"Suami macam apa anda? Membawa wanita lain ke rumah dan menyembunyikan dari istri anda?" katanya dengan emosi

__ADS_1


"Apa anda melarangnya ke sini? apa anda mengancamnya jika dia marah dan datang kesini? Begitu kah?" sentaknya keras.


"Anda ya....benar benar suami tidak punya hati, jahat, kejam! Anda benar-benar keterlaluan. Tega sekali menyakiti istri sendiri." teriak Ines semakin emosi seraya memukul lengan Wisnu dengan tas.


"Begini kah kelakuan anda saat berjauhan dengan istri anda? Selalu membawa wanita lain ke kamar kalian? Dasar suami brengsek, bajingan." kata Ines kembali terus memukulnya dengan keras.


Dia memukul terus karena merasa tidak terima dan ikut merasakan sakit hati yang di rasakan istri Wisnu yang di khianati seperti ini.


Bukan karena dengannya, karena dia tidak punya hubungan dengan Wisnu dan tidak melakukan apa-apa.


Tapi mungkin saja Wisnu selalu membawa wanita lain ke ke kamarnya dan di sembunyikan dari istrinya seperti apa yang Wisnu lakukan padanya sekarang ini. Dan sebagai sesama wanita hati nuraninya tidak bisa menerima kaumnya di sakiti. Dia dapat merasakan sakit hati yang di rasakan oleh istri Wisnu.


Ines menghentikan pukulannya melihat Wisnu hanya diam tak mengelak dan membalas..Dia malah terkejut saat melihat wajah Wisnu yang merah, sedih.


"Apa mungkinkah pukulan ku terlalu keras ya membuatnya kesakitan?" batinnya.


Ines membuang nafas kasar setelah sadar dengan apa yang dia lakukan barusan. Berani memukul mukul Wisnu karena kemarahannya pada kelakuan buruk Wisnu yang membohongi dan mengkhianati istrinya.


Wisnu kan bukan suaminya kenapa dia harus marah dan peduli??


Akhhh.....Ines menekan jidatnya. Merasa malu dan bersalah."Maaf, aku tidak bermaksud kasar pada anda. Aku terbawa emosi tadi karena___!" ucapannya terhenti.


Pintu kamar tiba-tiba di ketuk. Keduanya segera berpaling ke arah pintu.


Ines panik jangan jangan istri Wisnu yang datang. Dia menoleh pada Wisnu dengan perasaan takut.


"Sekretaris Wisnu, siapa itu? Apa mungkin istri Anda? A-ku takut. Tolong sembunyikan aku!" katanya gugup seraya melangkah mendekati Wisnu.


"Sudah ku bilang kan aku mau pulang. Seharusnya aku sudah tidak berada di sini sejak tadi. Tapi anda terus menahan ku. Ya ampun, bagaimana ini?" katanya semakin tidak tenang. Panik, mondar mandir kesana kemari sambil ******* ***** kedua tangannya yang berkeringat. Mencari tempat untuk bersembunyi.


"Kenapa Anda hanya diam? Cepat lakukan sesuatu." katanya kesal karena Wisnu hanya diam mematung dan menatapnya.


Dia menarik tangan Wisnu yang masih memegang nampan.


"Sekretaris Wisnu, cepat katakan di mana aku harus bersembunyi?" meminta memelas sedikit keras.


Dia memang tidak melakukan apa-apa dengan Wisnu, tapi tetap saja dia takut.


Pintu tiba tiba di buka.


Ines kaget, wajahnya pias seketika.


Dia menatap Wisnu dengan ketakutan


yang semakin bertambah. Dengan gerakan cepat dia segera berlindung, lebih tepatnya bersembunyi di belakang tubuh kekar Wisnu.


Ines merasa riwayatnya akan tamat hari ini.


Bersambung.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—


__ADS_2