Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 179


__ADS_3

Rafa Rizal dan Wisnu ikut melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid panti yang di imani langsung kepala KUA setempat.


Mereka melaksanakan shalat dengan khusyu.


Setelah selesai shalat anak anak segera di alihkan ke aula panti untuk melakukan ngaji, karena mesjid akan di gunakan untuk acara nikah.


Tak banyak persiapan yang dilakukan. Ijab kabul yang akan di laksanakan di ruang shalat laki laki, hanya menggelar sajadah berukuran corak hitam dan sebuah meja pendek panjang 1 meter yang nantinya akan di gunakan untuk prosesi ijab kabul.


Sudah hadir kepala desa dan dua orang perangkatnya, kepala KUA dan 2 orang pegawainya yang mendampingi, juga


ustadz Arif.


Mereka sedang menunggu isyarat dari Rafa untuk memulai Ijab Kabul.


Rafa memberi isyarat pada kepala KUA dan lainnya untuk menunggu sebentar. Dirinya gelisah karena Ara belum memberikan jawaban saat di kamar tadi. Begitu juga dengan Rizal dan Wisnu, gelisah tidak tenang.


Di ruang shalat perempuan, Ara, mbok Imah dan beberapa pengurus panti masih sedang duduk sambil membaca Alquran dengan tirai batas tertutup.


Sengaja di lakukan mbok Imah agar perhatian Ara tidak terpecah ke depan.


"Ara..." sebuah panggilan pelan membuat Ara mengehentikan bacaan tadarusnya.


Ara mengangkat wajahnya ke atas.


"Dokter?" ucap Ara. Melihat dokter Rizal.


Rizal tersenyum.


"Bolehkah kau ikut bersamaku di depan?"


"Ada apa dokter?" tanya Ara yang memang tidak tau kalau acara nikah di persiapkan untuk dirinya dan Rafa. Dia hanya tau pernikahan Rafa akan di laksanakan setelah magrib di jakarta.


Perlahan Rizal membuka tirai pembatas yang menghalangi. Ara mengikuti pergeseran dari kain pembatas.


Dia terkesiap melihat pemandangan di depan.


Rafa duduk di depan meja berhadapan dengan kepala KUA, ustadz Arif dan kepala desa juga yang lainnya mengelilingi Meja berukuran 1 meter. Kakak iparnya itu terlihat sangat tampan dengan memakai kemeja putih di padukan dengan celana hitam, dan memakai Songko Hitam. Melihat Rafa seperti melihat sosok Raka, almarhum suaminya.


Kakak iparnya itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh harap.


Ara melihat kembali pada Rizal.


"Dokter, ini pernikahan siapa?" lalu menoleh pada mbok Imah.


"Mbok Imah mengatakan akan ada pernikahan setelah shalat Ashar. Pernikahan siapa mbok? Terus kenapa kakak ipar sedang duduk di sana?" tanyanya bingung belum mengerti.


Mbok Imah hanya diam tak bisa menjawab.


"Dokter, apa kakak ipar dan kak Levina akan menikah di sini?"


Rizal menurun kan tubuhnya.


"Ini pernikahanmu dengan Rafa, pernikahan kalian berdua," menegaskan pernikahan itu.


Ara tercengang. Dia teringat permintaan Rafa di kamar tadi.


"Rafa sengaja merahasiakan ini darimu, dia ingin menikahi mu di tempat ini, di tempat orang tuamu," lanjut Rizal kembali.


"Aku mewakili Rafa meminta padamu, agar bersedia menikah dengannya. Aku mohon menikahlah dengannya, dia sangat mencintai mu," pinta Rizal kembali.


Ara terhenyak, tubuhnya terasa lemah


"I- itu nggak mungkin dokter." katanya lemah dan terbata.


"Semua orang sedang menunggu dirimu Ara. Kasihan Rafa sedang menunggumu dengan gelisah. Jangan buat dia kecewa dan malu, aku mohon. Dia benar-benar tulus mencintaimu, percayalah padaku," Rizal masih terus berusaha meyakinkan.


Ara melihat pada Rafa yang masih tetap menatapnya penuh harap. Lalu dia menggeleng kan kepalanya dengan wajah sedih.


Rafa mendesah sedih dengan isyarat itu. Dia meminta izin sebentar, lalu segera bangkit berdiri melangkah menuju ke ruang shalat perempuan.


"Maaf, bisa tinggalkan kami sebentar?" pintanya pada mbok Imah dan yang lainnya.


"Baik tuan." kata mereka mengerti, lalu segera beranjak dari ruangan itu.


Rizal juga kembali ke ruang shalat laki laki setelah menutup tirai pembatas.


Perlahan Rafa melorotkan tubuhnya kebawah.


Duduk bersila di depan Ara.


"Kakak aku tidak bisa, sungguh," ucap Ara sendu, Air matanya sudah jatuh.


"Tolong jangan memaksaku! Bagaimana aku bisa menikah dengan kakak, sementara aku tidak mencintai kakak? Nanti kakak akan sakit dan terluka. Aku tidak bisa memaksakan hati dan perasaanku pada kakak. Karena aku hanya mencintai kak Raka."


Nafas Rafa seakan tercekik, sangat sakit rasanya mendengar kalimat jujur yang keluar dari mulut Ara. Riak air mata berkumpul di pelupuk matanya.


Tapi dia tetap tidak mau mundur dan menyerah. Baginya akan lebih sakit lagi yang akan di rasakan bila harus kehilangan Ara yang ke dua kali. Dia tidak mau Ara di miliki orang lain lagi.


Baginya tak apa bila Ara tak mencintainya, tak apa bila Ara masih mencintai almarhum suaminya, yang penting Ara tak menolak untuk menikah dengannya, menjadi istrinya.


Perlahan Rafa meraih tangan Ara, di pegang lembut.


"Aku sudah katakan tak apa bila kau tak mencintaiku, tak apa bila kau masih mencintai Raka, tidak masalah bagiku. Yang penting kau mau menikah denganku, hanya itu yang ku inginkan. Aku mohon Ara, jangan menolak ku." Pintanya memelas.


Ara diam membisu tak menjawab apa pun.


Keraguan di hatinya terlalu besar. Karena dia tidak mencintai Rafa.


Rafa dapat melihat keraguan itu.


"Maafkan aku Ara, hanya ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan dirimu," batin Rafa.


Dia mengambil kertas permintaannya dari saku kemeja, dan juga kertas permintaan yang di tulis Raka dulu. Lalu menyelipkan ke tangan Ara.


"Aku menuntut janjimu, aku harap kau tidak akan mengingkarinya," Lalu bangkit perlahan melangkah kembali ke depan.


Ara menatap kepergiannya, lalu memperhatikan dua kertas di tangannya.


Di bukanya perlahan. Dia terkejut melihat tulisan tangan almarhum suaminya yang meminta Rafa untuk menikah tahun ini dengan wanita yang di cintainya, yang membuatnya nyaman dan bahagia.


Lalu dia membuka kertas isi permintaan Rafa.


Ara, menikahlah denganku. Jadilah istriku. Dengan begitu aku bisa memenuhi permintaan Raka untuk menikah. Karena hanya kamu yang bisa membuat ku nyaman dan bahagia. Hanya kamu wanita yang ku inginkan menjadi istriku.


Maaf Ara, aku terpaksa menggunakan cara ini.


Ara kembali terhenyak, air mata kembali jatuh. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh kuat. Dia kembali membaca isi permintaan kakak iparnya dan juga kertas permintaan almarhum suaminya.


30 menit berlalu, kepala KUA dan kepala desa nampak berbisik pada ustadz Arif untuk kejelasan acara ijab kabul, karena mereka sudah menunggu sudah sejam lebih.

__ADS_1


Rafa membuang nafas kekecewaan dengan berat. Ara tak memenuhi keinginannya. Ara tidak bersedia menikah dengannya. Rafa menekan dadanya yang sakit.


Rizal menyentuh pundaknya untuk menguatkan. Wisnu juga tertunduk lesu ikut sedih. Beberapa saat kemudian Rafa memberi isyarat pada ustadz Arif bahwa pernikahan batal.


Lalu dia segera bangkit berdiri untuk keluar.


Bertepatan dengan Ara membuka tirai pembatas, terus melangkah menuju ke arah mereka di dampingi mbok Imah. Ara memakai mukena putih yang di pakainya shalat tadi.


Langkah Rafa terhenti melihat kedatangannya. Dia terpaku menatap Ara yang juga menatap dirinya.


Beberapa detik kemudian dia segera melangkah mendekati Ara.


"Ara...."


"Mari kak kita menikah. Segera laksanakan ijab kabulnya," ucap Ara sambil tersenyum.


Rafa tahu senyuman hanya di paksakan, karena ada kesedihan di mata Ara yang merah.


Rafa mengangguk tersenyum, dia memegang tangan Ara."Terima kasih sudah bersedia menikah dengan ku!'" katanya sangat senang. Lalu mengajak Ara kembali melangkah.


"Kak." langkah Ara terhenti.


Rafa ikut berhenti, lalu menoleh menatapnya.


"A-aku takut." ucap Ara dengan bibir bergetar. "Aku takut sama mama, aku...."


Rafa meletakkan jarinya ke bibir Ara.


"Tenanglah, jangan cemaskan hal itu."


Ara menatapnya sejenak, lalu mengangguk, kemudian melangkah kembali mengikuti tarikan tangan Rafa.


Rafa sudah tau Ara pasti akan mengatakan


hal itu. Dan dia tahu salah satu alasan Ara tidak mau menikah dengannya karena takut pada mamanya.


"Aku menikahi mu karena aku mencintaimu. Dan alasan lain aku menikahi mu agar tak ada lagi yang bisa semena mena kepadamu, termasuk mama," batin Rafa dalam hati.


Rizal segera bangkit menyambut mereka, dia tersenyum bahagia, begitu juga dengan Wisnu.


"Daddy Daddy ....." terdengar teriakan kecil dari pintu masuk.


Mereka segera menoleh.


Cio dan Cia nampak berlarian ke arah mereka.


"Ante anteee Ara...," panggil mereka.


Ara terkejut sekaligus senang melihat mereka. Dia melepas pegangan tangan Rafa dan melangkah menyambut kedatangan bocah bocah itu.


"Cio Cia kok bisa di sini sayang?" ucap Ara sambil memeluk dan mencium mereka.


"Kami kangen ama aAnte. Tadi pagi Ante nggak ada di meja makan. Kami pergi ke sekolah tanpa melihat Ante. Terus saat kami pulang sekolah ante juga nggak ada dirumah," kata Cia dengan wajah cemberut.


"Iya, tadi pagi sebelum ke sekolah, kami mau ke kamar Ante, tapi mama melarang," sambung Cio.


Ara tersenyum haru dan kembali memeluk mereka "Maafkan Ante sayang! Ante ngantuk dan ketiduran makanya gak bisa sarapan bersama kalian."


Rafa mengusap kepala mereka.


"Daddy," ucap keduanya, Rafa segera menggendong mereka.


Kepala KUA dan lainnya saling berpandangan dan berbisik-bisik mendengar anak anak itu memanggil Rafa Daddy.


"Kalian kemari sama siapa?" tanya Rafa.


"Sama mama Daddy." jawab Cia.


Nesa masuk, melangkah mendekat. Lalu segera mengambil tempat duduk di dekat mbok Imah.


"Duduklah kalian, Segera laksanakan pernikahannya," katanya pada Rafa dan Ara. Lalu dia menyalami ustadz Arif dan yang lainnya.


Ara terkejut, melihat kakak ipar perempuannya ada di sini. Ara menatap seakan tak percaya.


"Perkenalkan, saya Nesa Saputry Artawijaya, kakak dari mempelai laki laki. Saya datang mewakili keluarga untuk memberikan restu pada mereka berdua." ujar Nesa menjelaskan.


"Segera laksanakan ijab kabulnya," ucapnya kembali.


"Baik bu," kata kepala KUA. Mereka merasa lega, karena mengira anak anak itu anak Rafa yang datang untuk mengehentikan pernikahan ayah mereka ( seperti kayak di film film ๐Ÿคญ)


Rafa tersenyum senang. Dia mengira kakaknya tidak akan datang memberi restu.


Wisnu segera mengambil kedua bocah itu dari gendongan tuannya.


Rafa segera meraih tangan Ara


"Ayo Ra.." ucapnya pelan.


Ara menatapnya sesaat, lalu segera melangkah mengikuti tarikan tangan Rafa.


Mereka segera duduk berhadapan dengan ustadz Arif yang di percayakan menjadi wali nikah Ara sebagai pengganti ayahnya.


Mbok imah segera memakaikan selendang putih di kepala mereka berdua.


"Bismillah, apa bisa kita mulai ijab kabulnya ?" tanya ustadz Arif.


Semuanya mengangguk setuju, kecuali Ara yang diam menunduk. Sentuhan tangan Rafa pada kedua tangannya yang saling meremas di atas pahanya membuatnya sedikit terkejut.


Dia menoleh pada kakak iparnya, menatap sejenak wajah tampan yang sangat mirip dengan almarhum suaminya, lalu mengangguk.


Rafa tersenyum lega, kemudian segera menoleh ke depan.


"Silahkan pak.." ucapnya.


Acara pernikahan segera di mulai dengan membacakan basmalah dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, sedikit khotbah nikah.


Kemudian di lanjutkan dengan ijab kabul.


Ara terkejut saat rafa memberikan mahar dengan bacaan surah Ar Rahman ayat 55 kepadanya.


Dia menoleh dan menatap wajah Rafa tak bergeming, yang nampak fasih mengucapkan ayat suci Al-Qur'an juz ke 27 tersebut.


Surah tersebut dulu juga di ucapkan almarhum suaminya sebagai mahar pernikahan yang di berikan untuknya.


Ada keharuan di hatinya, kenangan pernikahan bersama suaminya terkenang kembali di peluk matanya.


"Kak Raka...," bisiknya pelan tanpa sadar.


Hati Rafa sedikit tersentak mendengarnya, tapi dia kembali memfokuskan diri pada pengucapan maharnya.

__ADS_1


Selesai ijab kabul di lanjutkan pembacaan doa nikah, penandatangan buku nikah dan tukar cincin.


Rafa menatap sejenak wajah Ara yang kini telah sah menjadi istrinya.


Dia sangat bahagia akhirnya dapat menjadikan wanita ini sebagai istrinya meski dengan cara memaksa. Perlahan dia mengecup kening istrinya, lalu Ara mencium tangannya.


Kini mereka telah sah menjadi suami istri.


Rizal hanya mengambil beberapa gambar foto pernikahan mereka, karena Rafa melarang mempublikasikan pernikahan mereka ke khalayak umum.


Yang ada dalam ruangan itu memberikan ucapan selamat pada mereka. Termasuk Nesa dan si kembar.


Ada kekecewaan di hati Rafa karena mamanya tidak datang memberikan restu di pernikahannya.


"Terimakasih kakak sudah datang." ucap Rafa pada kakak perempuannya.


"Aku pikir kakak tidak akan datang."


"Keponakanmu nih, ngambek terus nyari Ara, makanya kakak datang." kata Nesa memakai si kembar sebagai alat untuk datang memberi restu.


Rafa tersenyum mendengar perkataan kakaknya yang menjadikan si kembar sebagai alasan kedatangannya.


Dia memeluk kakaknya.


"Terimakasih sudah mengantikan posisi papa mama memberi restu padaku dan juga Ara," ucapnya pelan dengan haru.


Nesa membalas memeluk, menepuk pundaknya, lalu melepaskan pelukannya.


"Doa kakak yang terbaik buat pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia selamanya."


"Itu artinya kakak menerima Ara menjadi menantu Artawijaya?"


"Kalau tidak, untuk apa kakak kemari?"


Rafa tersenyum haru dan senang. Dia kembali memeluk Nesa."Terimakasih kak."


"Kakak mau pulang sekarang, ini sudah sangat sore." kata Nesa. Lalu menoleh pada ke dua anaknya yang sedang bercengkrama dengan Ara.


"Ayo Cia Cio kita pulang yuuk."


Kedua anak itu malah beranjak naik memeluk Ara sambil geleng-geleng kepala.


"Cio, Cia, mama masih punya kerjaan. Perjalanan kita juga jauh, ayoo...."


"Kalau kakak izinkan biarkan mereka di sini dulu, saya akan menjaganya. Kakak jangan khawatir, saya juga kangen sama mereka." kata Ara dan memeluk tubuh kedua anak itu.


"Di sini banyak teman teman ma, Cia mau kenalan sama mereka, iya kan kak Cio ?" kata Cia yang melihat banyak anak panti mengaji di aula.


Nesa yang memang sudah tahu anak anaknya pasti tidak akan pulang setelah bertemu Ara


"Baiklah, kalian jangan nakal."


Cio Cia bersorak senang.


"Aku pulang dulu." Nesa kembali menoleh pada Rafa.


"Aku mau pulang bersama kak Nesa saja, boleh ya kak aku numpang di mobil kakak? biar aku yang bawa mobilnya." sela Rizal.


Nesa tak menjawab, dia pamit pada ustadz Arif dan lainnya, lalu melangkah untuk keluar.


"Jangan ngebut," kata Rafa.


"Siap bos." lalu menoleh pada Ara.


"Ara, aku pamit dulu, kapan kapan aku akan datang berkunjung ke yayasan mu."


"Iya dok, hati hati di jalan." jawab Ara tersenyum.


Rizal juga ikut pamit pada ustadz Arif dan yang lainnya, lalu melangkah mengejar Nesa.


"Perintahkan beberapa orang mu mengikuti mereka." ujar Rafa menoleh pada wisnu.


"Baik tuan."


Rafa mendekat Ara, dia mengambil kedua bocah itu dari pangkuan Ara dan menggendongnya.


"Kau pasti capek, kembalilah ke asrama, istrahat lah."


Ara mengangguk lemah, dia pamit pada orang orang yang berada di situ.


Lalu mengikuti langkah kaki Rafa.


"Daddy, aku sama Cio mau main sama teman-teman itu, boleh yaa ?" kata Cia yang melihat anak anak panti berkumpul di aula.


"Ante, kok di sini banyak teman teman ya ?"


Sela Cio.


"Iya sayang, ini adalah panti asuhan tempat untuk anak anak yang kurang beruntung."


"Apa itu tante ?"


"Anak anak kurang beruntung itu, adalah anak anak yang sudah tidak punya ayah dan ibu, tidak punya tempat tinggal, gak punya uang jajan, nggak punya tas sekolah, sepatu sekolah, baju seragam sekolah, nggak punya uang jajan beli eskrim dan lolypop." kata Ara menjelaskan sesuai pemahaman mereka yang masih anak anak .


"Berarti kita beruntung ya Cia ? kita punya daddy sama mama. Kita juga punya sepatu, tas, baju sekolah. Dan selalu di kasih mama uang jajan, di belikan banyak mainan sama daddy , juga sama semua." ujar Cio pada adiknya.


Ara mengehentikan langkahnya.


Menatap kedua anak anak itu sambil tersenyum.


"Jadi Cio dan Cia harus banyak bersyukur dan terima kasih sama Allah. Dan jangan lupa terimakasih juga sama daddy, mama dan nenek, harus banyak berdoa yang baik untuk mereka, supaya selalu di beri kesehatan, rezeki yang berkah dan juga di kasih umur yang panjang agar bisa jagain kalian sampai gede, faham?" ucapnya sambil mengusap puncak kepala kedua anak itu.


Mengacuhkan tatapan mata Rafa yang dari tadi tak mau beralih dari wajahnya .


"Iya ante, kami selalu berdoa setiap habis shalat kok."


"Pintar ...yuuk turun...tante ajak kenalan sama teman-teman panti, tapi nggak lama ya, ini udah jam lima, bentar lagi shalat magrib."


Si kembar melonjak senang dan segera turun dari gendongan Rafa.


"Ara... nanti kamu sama si kembar shalat magribnya di kamar saja, gak usah ke mesjid." ucap Rafa saat mereka akan melangkah.


Dahi Ara mengerut, tapi dia segera mengangguk tak mau bertanya alasannya.


"Aku masih ada urusan penting, setelah magrib kalian di kamar saja enggak usah turun ke bawah," lanjut Rafa kembali.


Ara kembali mengangguk, lalu segera melangkah mengejar si kembar yang sudah berlari ke aula, hatinya sedikit terhibur dengan keberadaan anak anak itu.


******

__ADS_1


__ADS_2