Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 55


__ADS_3

...Happy reading....


Terdengar garpu dan pisau beradu dengan piring. Suara adzan terdengar dari hp Ara, pertanda sudah masuk shalat isya. Buru buru Ara mengecilkan volume HP nya sampai tak terdengar, lalu fokus lagi ke makanannya.


"Mama senang sekali kau pulang ke rumah nak." kata Maya memecah keheningan, seraya menoleh pada Rafa yang ada di sampingnya.


"Mama berharap kau akan tinggal bersama kami selamanya di rumah ini." sambungnya kembali.


Rafa hanya diam tanpa menjawab perkataan mamanya.


"Sayang aku juga mau..." Raka membuka mulutnya minta di suapin pooding saat melihat Ara hendak memasukan makanan penutup itu ke mulutnya.


Ara batal memasukkan sendok ke mulut. Dia sedikit gugup dengan permintaan Raka yang minta di suapin. Kedua bola matanya melirik ke kiri, kanan dan kedepan, lalu perlahan memasukkan sendok puding ke dalam mulut suaminya dengan canggung.


"Aku juga mau ante." Cia ikut membuka mulut. Ara mengangguk dan memasukkan sedikit ke dalam mulut cia, lalu menoleh pada Cio.


"Cio mau?" tanyanya. Kali saja bocah itu mau juga.


Cio menggeleng.


"Cio mau susu aja tante." kata bocah itu.


"Tunggu bentar ya, ante ambilkan." Ara hendak mengambil tekok susu. Tapi batal.....


"Siapa pelayan yang mengurus si kembar?" tiba tiba terdengar suara agak keras dari mulut Rafa.


Sontak membuat seisi ruangan kaget. Para pelayan saling berpandangan takut, terutama sita, karena dia yang mengurus si kembar.


Wisnu segera mendekati barisan para pelayan dan menarik sala satu di antara mereka. Lalu langsung menyeret Sita ke hadapan tuannya.


Wajah Sita langsung berubah pucat.


"Saya tuan, saya yang melayani si kembar." ucapnya gemetaran dan terbata. Menunduk takut.


Rafa menatapnya tajam dengan amarah.


"Aku menggaji mu tinggi di sini, tapi kenapa kau tidak melakukan pekerjaanmu, hah?" sentak Rafa kasar.

__ADS_1


Ara terperangah. Maya dan Nesa menatapnya tidak senang. Mereka menyalakan Ara yang terlalu memanjakan Cio dan Cia.


Raka segera berdiri dari duduknya.


"Tenanglah kak, si kembar memang maunya di layani Ara....!"


"Apa kau sudah bosan bekerja di sini?" sentak Rafa kembali tanpa mendengarkan perkataan Raka.


Sita langsung berlutut di kaki tuannya.


"Maafkan saya tuan, ampuni saya." memohon sambil meletakan ke dua tangannya di depan dada dengan mata berkaca-kaca.


Rafa segera berdiri.


"Wisnu, pecat dia!" katanya kembali dengan keras.


Ara segera berdiri meraih Cio dan di dekap, karena bocah itu dekat dengan Rafa. Terus menutup kuping bocah itu, yang tampak ketakutan.


"Kak, tolong jangan marah dan berteriak di depan anak anak, mereka ketakutan." katanya dengan suara rendah, memberanikan diri menatap wajah Rafa.


Rafa menatapnya tajam. Lalu melirik pada si kembar yang terlihat takut memeluk Ara erat.


Ara segera menundukkan kepalanya melihat wajah menakutkan di penuhi kemarahan itu. Sejujurnya saat ini dia pun sangat takut. Kedua tangannya sampai gemetar.


Dari tempat duduknya, Nesa tersenyum sinis mendengar perkataannya. Selama ini tidak ada yang berani berbicara di saat Rafa sedang marah. Tapi berani sekali dia menyela.


"Rafa, duduklah nak, kau baru saja pulang." Maya menenangkannya.


Raka memberi isyarat pada Sam untuk membawa si kembar ke kamar.


Wisnu segera menyeret Sita ke belakang di ikuti Sam.


"Tuan jangan pecat saya tuan, saya mohon!" jerit Sita terus mengiba, tapi Rafa tidak perduli.


"Mbak Sita!" panggil Ara pelan menatap pelayan itu dengan sedih, semua ini karena salahnya, seharusnya dia tidak mengerjakan pekerjaan Sita.


Tapi dia tidak habis pikir, apa yang salah di sini? Toh dia ikhlas dan senang melayani si kembar, karena sayang pada anak anak itu, bukan karena ingin memanjakannya.

__ADS_1


Dia tidak menyangka kasih sayangnya pada si kembar malah di salah artikan dan mengundang kemarahan kakak iparnya.


"Kakak ipar, mbak Sita tidak bersalah. Tolong jangan pecat dia." pinta Ara gemetar.


Rafa tidak menggubris perkataannya, dia menatap tajam pada Nesa.


"Dan kau kak Nesa, seharusnya kau yang mengurus si kembar, karena kau adalah ibu mereka. Mereka adalah tanggung jawabmu."


sentaknya menahan amarah.


"Aku peringatkan kau untuk terakhir kali, jangan lagi mengabaikan anak anak!" sambung Rafa kembali sambil menunjuk kuat pada kakak perempuannya ini. Lalu dia segera beranjak dari tempat itu, menaiki tangga menuju kamarnya di ikuti Wisnu.


Nesa terperangah, tidak menyangka malah dia juga ikut kena sasaran kemarahan Rafa.


Nesa mendengus dan menatap sinis pada Ara, lalu bangkit berdiri, pergi dari tempat itu menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


"Ma, pergilah ke kamar, mama juga harus istirahat." kata Raka pada Maya.


Maya menarik nafas berat dan membuangnya kasar, lalu segera berdiri di temani pelayan pribadinya menuju kamar.


Raka menggenggam tangan istrinya yang gemetar.


"Tenang lah sayang, sebaiknya kita ke atas." Raka berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi kak, bagaimana dengan mbak Sita? Apa dia benar benar akan di pecat?" ucap Ara sedih memikirkan Sita.


Raka diam sambil menatap wajah istrinya yang di tampak sedih. Dia juga bingung dengan nasib Sita setelah ini.


"Kak... mbak Sita tidak bersalah," keluh Ara sedih.


"Sayang, nanti aku tanyakan sama sekretaris Wisnu. Tapi setahuku bila kakak sudah memberi keputusan tidak ada yang bisa menolak dan menentang nya!" kata Raka.


Ara tertunduk lesu mendengar perkataan suaminya. Maafkan aku mbak sita, semua salahku.


"Sebaiknya kita ke atas, kita belum sholat isya."


Raka menuntun Ara naik ke atas menuju kamar mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2