Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 228


__ADS_3

...Happy Reading....


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


Cindy menggeliat di tempat tidur. Dia merenggangkan kedua tangannya sambil menguap beberapa kali dan mengumpulkan nyawanya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin. Perlahan lahan dia bangun, tubuhnya terasa lemah karena lapar, tenggorokannya juga kering.


Cindy bangkit berdiri menuju tempat penyimpanan susu hamilnya. Lalu segera memanaskan air untuk menyiram susu dan setelah itu menyiramnya. Sementara menunggu susunya dingin, dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dari bau keringat, lalu memakai daster selutut dan mengikat asal rambutnya keatas.


Sejenak dia mengelus perutnya yang di rasakan mulai menonjol dari balik daster. Perutnya itu mulai di rasakan mengembang setelah di sentuh Dion beberapa hari yang lalu."Sepertinya perutku mulai mengemban," batinnya, terdiam sejenak.


Lalu kembali mengelus perutnya


"Kamu lagi ngapain sayang?" ucapnya tersenyum haru.


"Kamu pasti lapar? Sabar ya...bentar lagi mama akan minum susu untuk kamu,"


Cindy segera meraih gelas susunya yang mulai dingin, lalu diteguknya perlahan lahan sambil memencet hidung. Deru nafasnya memburu tak beraturan, bulir bulir keringat muncul di pori pori wajahnya begitu minuman itu melewati tenggorokannya dan masuk ke dalam perut. Dia hampir saja muntah.


Setelah menenangkan hatinya, Cindy mengambil ponselnya untuk melihat jam, tapi benda tipis itu kehabisan daya. Cindy segera menchargernya. Beberapa menit kemudian dia segera mengaktifkannya. Sebuah pesan masuk dari Dion membuat wajahnya menegang seketika.


"Aku ada di apartemen mu sekarang,"


di kirim lima jam yang lalu.


Cindy melonjak bangkit dari duduknya. Rasa takut dan cemas menyeruak seketika. Dia kelabakan, bingung harus melakukan apa. Mondar mandir berpikir ingin mengambil sesuatu, entah apa. Sekilas terpikir olehnya jaket dan tas selempangnya.


Dengan cepat dia mengambil kedua benda itu dan memakainya.


Lalu segera keluar mencari ojek yang biasa mangkal di depan kostnya. Karena mencari taksi di jam segini sudah tidak ada lagi. Untung saja para tukang ojek itu sudah kenal dengan wajah mereka penghuni kost kostan.


Hampir sejam menembus dinginnya angin malam, akhirnya dia tiba di apartemen Dion.


Dia berpikir Dion mungkin sudah berada di apartemennya sekarang ini dan bukan lagi di apartemen miliknya. Cindy segera masuk lift membawanya naik ke unit apartemen kakak sepupunya itu.


Rasa takut dan cemas kembali menyelimuti hatinya. Dia ragu untuk masuk. Takut menghadapi kemarahan Dion. Dia yakin kakaknya pasti akan memarahinya karena apartemennya yang telah di sewakan itu.


Tapi akhirnya dia memberanikan diri membuka pintu setelah memasukkan kode pin dari tempat ini yang hanya di ketahui olehnya, Dion dan Toni.


Perlahan dia melangkah masuk ke dalam. Suasana ruangan yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu di matikan.


"Kak Dion pasti sudah tidur." Gumamnya pelan melihat ke atas. Dia mengendap ngendap seperti pencuri melangkah memasuki ruangan tamu. Lampu tiba tiba menyala, membuatnya kaget dan jantungnya seakan mau copot. Cindy mengelus dadanya dengan nafas tak beraturan. Dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Dan betapa terkejutnya dia melihat Dion duduk di sofa menatap tajam kepadanya. Cindy terhenyak mundur dua langkah ke belakang.


"Ka- kak Dion__" ucapnya terbata bata. Seketika dia merasa tubuhnya tegang kaku, melihat wajah tajam menakutkan di sana.


Dion menatapnya dari bawah hingga atas.


Menatap Cindy yang hanya memakai sandal jepit, daster pendek selutut, kaki jenjangnya yang putih terbuka. Bahan dasternya yang tipis membuat buahnya terlihat terbentuk karena sepertinya Cindy tidak memakai bra. Jaket jeans yang tidak terkunci hanya menutupi kepalanya. Dion sudah dapat memastikan kalau adik sepupunya ini akan datang bila sudah membaca pesannya. Perlahan Dion bangkit dan melangkah mendekatinya.


Cindy semakin takut, kedua tangannya gemetar memegang kuat ponselnya.


Dia mundur saat Dion sudah dekat padanya.


"Kakak ... !" ucapnya hampir tak terdengar.


Dion berhenti satu meter di depannya.


"Kau tahu ini sudah jam berapa? Kenapa kau masih keluyuran di jam begini? Dan lihat pakaianmu ini!" berkata agak keras, tapi cukup membuat tubuh Cindy bergidik dan semakin tegang.


"Apa kau tidak tahu rawannya kejahatan pelecehan seksual di malam hari?" Dion mendekatinya semakin dekat.


Cindy kembali mundur, Tapi gerakannya kalah cepat dari tangan Dion yang lebih cepat menarik lengannya kuat hingga tubuhnya menempel di tubuh Dion.


Tatapan Dion semakin tajam."Dari mana kau ha? Tunggal di mana kau selama ini setelah menyewakan apartemen mu?" bentak Dion.


Cindy tak menjawab dan menunduk. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Jawab Cindy ..!" teriak Dion dengan suara tinggi. Dia menjepit dagu gadis ini.


Cindy tersentak semakin takut, juga merasa kesakitan dengan jepitan itu.


Dion mengangkat kasar dagunya ke atas.


Cindy meringis dan langsung memejamkan mata tak berani menatap. Saat ini Dion benar benar marah.


"Aku sudah bilang padamu jangan menyembunyikan apapun dariku, kalau kau butuh sesuatu katakan padaku!" teriak Dion Kembali.


Cindy mendesah sedih, dia mulai terisak tanpa suara.


"A_a_aku.....aku ....!" putus putus. Dia memegang jepitan tangan Dion."Sakit kak __!" ringisnya.


Dion langsung melepaskan dagunya, melihat wajah pucat ketakutan basah dengan air mata, bibir gemetaran mengucap kata. Karena tersulut emosi membuatnya tidak sadari telah menyakiti gadis ini.


"Masuk ke kamarmu," katanya kemudian. Kali ini suara yang di rendahkan.


Cindy memegang dagunya yang masih terasa sisa sisa kesakitan. Air matanya semakin banyak jatuh, dia menangis terisak tanpa suara.


"Kau tidak dengar apa yang ku katakan?" menatap tajam."Cepat masuk ke kamar dan istirahat!" kata Dion kembali dengan keras seraya menunjuk kamar Cindy. Lalu melangkah menuju tangga untuk pergi ke kamarnya.


"Kak, maafkan aku." kata Cindy lemah menatap Dion yang menaiki tangga.


Langkah Dion terhenti. Dia membalikkan tubuhnya menatap datar dan dingin."Kakak kecewa padamu Cindy!" lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya.


Cindy kembali mendesah sedih, menatapi punggung Dion yang sedang melangkah kembali menaiki tangga. Sungguh dia merasa bersalah telah berbohong hingga menyakiti dan membuat Dion kecewa.


"Maaf kak!" hanya itu yang bisa dia ucapkan sebagai rasa bersalahnya. Perlahan Cindy berjalan menuju kamar tidurnya. Kedua lututnya gemetar karena masih takut. Dia melepas tas dan jaketnya. Lalu membaringkan tubuhnya menyamping,


memeluk perutnya, menekuk ke dua kakinya. Meski tak lagi terisak, tapi air matanya terus keluar. Dia merasa sedikit lega, karena Dion tidak memarahinya soal apartemen yang di sewakan. Lelah karena kepikiran pada kemarahan Dion, membuatnya tertidur.


Jam 4 pagi Dion turun untuk minum air karena haus. Tubuhnya yang telanjang atas tampak mandi keringat. Dia hanya mengenakan bokser pendek. Sebenarnya dia sudah bangun jam tiga dan melakukan beberapa olahraga berat di ruang gym. Karena merasa haus, pergi ke dapur. Setelah puas membasahi tenggorokannya, dia menyempatkan diri memeriksa Cindy.


Perlahan membuka pintu, masuk dan duduk dengan hati hati di pinggir ranjang. Terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut adiknya sepupunya itu.


Dion menyingkap sebagian rambut yang menutupi wajah Cindy dengan sangat pelan agar tidak terbangun. Dia merasa lega karena tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Cindy semalam saat menuju ke sini, melihat pakaian yang di kenakan Cindy sangat tipis yang bisa saja memancing terjadinya pelecehan seksual pada dirinya.


Dion kembali membuang nafas berat.


"Masalah apa yang sedang menimpamu? Kenapa kau tidak mau membaginya padaku ?" gumamnya menatap wajah yang terlihat pucat nampak tenang dalam tidurnya. Cindy yang hanya memakai daster tipis pendek selutut. Tidur berantakan membuat selimut melorot ke bawah. Daster tersingkap ke perut. Sehingga bagian pribadinya yang tertutup benda segi tiga terlihat. Buah dadanya juga terlihat sebagian karena model atas daster Tanktop. Dion sudah terbiasa melihat keadaan Cindy terbuka seperti ini saat keduanya mandi bersama di kolam. Bahkan dia sudah melihat keseluruhan tubuh polos adiknya itu tanpa penutup, tapi tak ada perasaan apapun yang timbul melihat tubuh telanjang itu. Tapi kali kali ini kenapa hatinya merasa lain? Aneh baginya karena membuatnya hatinya bergejolak.


Dia menatap sejenak, dari ujung kaki, betis paha dan perut Cindy yang putih mulus. Berlanjut ke bagian atas dan berhenti pada wajah. Dalam pandangannya, Tubuh Cindy benar-benar telah berubah, bentuk tubuh turun drastis. Tak berisi seperti biasanya. Dion teringat Cindy selalu mengeluh sakit perut. Perlahan Dion menyentuh lembut perut yang sedikit mengembang itu. Di usapnya lembut. Entahlah apa yang di rasakan oleh hatinya saat menyentuh perut itu. Hatinya bergetar, jantung tiba tiba saja berdegup kencang."Perasaan apa ini?" batinnya, menatap nanar bagian itu beberapa saat. Selanjutnya Dion meraih selimut dan menutupkan hingga ke leher Cindy.


Cindy tiba tiba memegang sala satu tangannya saat Dion hendak turun dari ranjang. Dion kaget.


"Kakak...," ucap Cindy. Dia terbangun saat merasakan pergerakan selimut yang menutupi dirinya. Tapi saat ini dia masih setengah sadar di alam tidurnya.


Dion memperhatikan wajahnya yang sedang terpejam."Apa dia sedang bermimpi?"


"Maaf kan aku." Cindy semakin mendekap kuat tangan Dion di dada, membuat seluruh tubuh Dion tertarik ke atas ranjang mengikuti tarikan tangan Cindy.


"Cindy...," Dion memanggil pelan.


"Cindy, kau kenapa?" menepuk nepuk pelan pipi Cindy yang basah oleh keringat.


"Cindy... Cindy." suara agak keras.


Perlahan Cindy membuka mata mendengar suara yang sangat dekat. Setelah jelas penglihatan dan kesadarannya, dia melihat wajah Dion yang sangat dekat di depannya.


"Kak Dion!" sebutnya lirih. Secepatnya dia bangun dan memeluk Dion.


"Kakak, maafkan aku, maafkan aku karena membuat kakak marah dan kecewa," ucapnya mulai terisak kecil.


Dion membuang nafas panjang, tak menjawab. Soal Cindy menyewakan Apartemennya tidak masalah bagi dirinya. Yang membuatnya emosi karena ketidak terbukaan dan ketidak jujuran Cindy pada dirinya.


"Maafkan aku kak." kata Cindy kembali semakin kuat memeluk tubuh telanjang Dion.


Dion menelan ludahnya, dia mengangkat wajah Cindy ke atas menengadah. Menghapus air mata gadis ini sesaat.


"Kau tinggal di mana selama ini?" bertanya pelan. Dia khawatir tinggal di mana Cindy setelah menyewakan apartemen.


"Apa apartemen itu kurang mewah bagimu?"

__ADS_1


Cindy terhenyak, langsung menggeleng gelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak suka tinggal disitu?"


Cindy kembali menggeleng, kembali terisak. Dia kembali memeluk erat Dion.


"Lalu kenapa kau menyewakannya?"


Air mata Cindy semakin banyak mengalir.


Dion memegang wajahnya.


"Sebenarnya apa masalahmu? Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa kau tidak mau berbagi padaku?" berkata agak keras menatap tajam.


Cindy semakin terisak, bahunya terguncang.


"Jawab Cindy, apa sebenarnya masalah mu?" Dion kembali bertanya.


Cindy menyapu air matanya. Dia menatap mata Dion.


"A-Aku...A-ku, Aku Ha...!" Tapi ucapannya langsung terhenti saat sekelebat wajah Raymond Alkas dan Dinda melintas di matanya. Menyusul dengan perkataan Dinda yang mengatakan alasan dari pernikahan Dion dan Sophia demi kelanjutan masa depan perusahaan dan juga karier Dion. Terus perkataan Dion mengenai kondisi kesehatan pamannya. Belum lagi kemarahan, kebencian dan caci maki yang akan di lontarkan semua orang padanya karena memberikan aib dan malu pada keluarga karena hamil di luar nikah. Semuanya alasan alasan itu menari nari di mata dan kepalanya, membuat air matanya semakin banyak mengalir. Tak mampu melanjutkan kata. Bibirnya terasa kaku. Dia segera menunduk menghindari tatapan Dion.


"Kenapa berhenti Cin? Kau ingin bilang apa?" Dion kembali mengangkat wajahnya karena Cindy menghentikan ucapannya dan terdiam.


"Jangan sembunyikan apa pun dariku,"


Cindy meringis merasakan sakit di rahangnya yang di pegang kuat oleh Dion. Dion menyadari pegangannya, dia segera melonggarkan pegangannya. Dia hendak berkata, tapi terdengar suara bunyi dari ponsel Cindy yang berada di dekat bantalnya.


Cindy menarik pelukan tangannya pada Dion. Menyapu air mata di kedua pipinya.


Cindy Segera mengambil ponselnya


"Tante Dinda?" ucapnya kaget melihat penelpon. Dion menoleh kepadanya mendengar nama mamanya di sebut.


"Mama?" tanyanya menatap wajah Cindy.


Cindy mengangguk seraya menghapus kembali sisa air matanya, menormalkan suasana hatinya dan juga mengatur nafas.


Dia baru sadar kalau Dion tidak menggunakan pakaian atas, hanya menggunakan bokser.


Cindy kembali menatap layar ponsel, lalu segera mengangkat telepon.


"Assalamualaikum Tante ...!" ucapnya pelan.


"Waalaikumsalam. Cindy, apa kau sudah bangun?" terdengar suara Dinda dari seberang.


"Sudah Tante."


"Tante sudah tahu kau pasti sudah bangun di jam begini, makanya tante menelpon mu tanpa ragu," kata Dinda dari seberang. Dia tahu Cindy sudah bangun di jam begini untuk melakukan shalat subuh.


"Aku sudah bangun sejak tadi tante,"


"Kau di mana sekarang? Apa di rumah kakakmu?"


"Iya tante, aku menginap di rumah kak Dion semalam." jawab Cindy seraya melirik pada Dion yang menatapnya.


"Kebetulan sekali kau ada di sana, tante ingin minta tolong padamu, apa kakakmu ada ?"


Cindy kembali melirik pada Dion. Dion memberi isyarat dengan menggeleng kepalanya. Cindy menelan ludahnya.


"Kak Dion ada di kamarnya!"


"Nanti kau pergilah ke kamar kakakmu. Katakan padanya untuk menemani Sophia pagi ini untuk fitting baju pengantin mereka. Tante sudah mengirimkan pesan padanya dari semalam tapi belum di buka. Jangan sampai kau lupa untuk mengatakan pada kakakmu ya?"


Cindy kembali menelan ludahnya yang di rasakan sangat pahit. Dadanya terasa sesak mendengar permintaan itu.


"Iya tante_ aku akan menyampaikan pada kak Dion, tante jangan khawatir."


"Terimakasih. Oh ya Cin, kalau boleh tante juga minta tolong padamu untuk menemani kakakmu dan Sophia feeting baju pengantin. Kau pasti tau kan kakakmu itu tidak menyukai pernikahan ini. Dia pasti akan mencari seribu alasan untuk menghindari persiapan pernikahan mereka. Jadi kamu tolong temani kakakmu ya? Kau tidak sibuk kan pagi ini?"


Cindy mendesah sedih mendengar permintaan itu. Dia segera bergerak miring sedikit membelakangi Dion dan meletakan telepon ke telinga sebelah, menghalangi pandangan Dion ke wajahnya. Karena air matanya sudah jatuh mendengar permintaan Dinda yang membuat dadanya semakin sesak. Dengan cepat dia menyapu buliran kristal bening itu sebelum di lihat Dion.


Tiba tiba Dion merampas ponselnya dan segera dinonaktifkan sebelum Cindy mengiyakan permintaan mamanya.


"Kakak apa apaan sih, kenapa di matikan teleponnya? Tante Dinda masih bicara dan aku belum menjawab pertanyaannya."


"Gak usah di jawab, aku gak akan pergi."


Kata Dion kasar sambil bangkit dari duduknya.


"Tapi gak harus di matikan. Kakak bisa katakan pada Tante jika kakak menolak."


"Mama pasti akan terus memaksa jika kalian masih terus bicara," Dion menatap tajam.


"Kamu sendiri kenapa langsung menerima tawaran mama tanpa meminta persetujuan dariku?" lanjutnya kembali.


"Aku nggak enak menolak,"


"Aku tidak akan pergi." Dion mendengus kesal.


"Kalau kakak tidak mau pergi, kakak bisa katakan baik baik pada tante Dinda dan Sophia," Cindy turun dari ranjang.


"Aku tidak mau bicara dengan mereka."


Cindy mengikuti langkahnya dari belakang.


"Oke kalau kakak tidak ingin ikut, aku akan mengatakan pada tante Dinda. Tolong kembalikan ponselku," Cindy mengulurkan tangan kanannya.


"Kamu tidak perlu bicara lagi dengan mama," kata Dion malah menjauhkan benda pintar itu ke atas kepalanya.


"Jangan seperti itu kak, tidak sopan namanya!" Cindy berdiri di atas ranjang meraih ponselnya yang di tinggikan Dion di atas kepala."Berikan."


"Aku bilang tidak, tetap tidak." kata Dion tegas.


Cindy kesal. Wajah cemberut, tidak dapat merebut benda itu. Dia memegang tangan Dion yang memenangi ponselnya, terus kembali merebut. Dion mengelak seketika menjauhkan, dia melangkah keluar dari kamar.


"Kakak berikan." teriak Cindy, seketika turun dari ranjang menyusul Dion.


Dion tidak perduli. Dia terus melangkah menaiki tangga tanpa memperdulikan teriakan.


"Aku mohon kak!" Cindy berlari cepat mendahului langkahnya dan berhenti tepat di depannya, menghalangi jalan Dion.


"Minggir!" sentak Dion menatap tajam.


"Kembalikan dulu ponselku!" Cindy bersikeras


Merentangkan kedua tangannya tak memberi jalan pada Dion.


"Aku bilang tidak ya tidak!" Dion tetap bersikeras.


"Tante Dinda pasti akan berpikir buruk padaku karena mematikan telepon tiba tiba. Aku akan dicap tidak sopan dan kurangajar karena mematikan telepon saat dia masih bicara, tolong mengertilah dengan posisiku." Cindy tetap ngotot.


"Mama pasti akan mengira daya ponsel mu habis, awas...minggir."


"Ya ampun.....kakak mengajariku berbohong?Kenapa kakak tidak mengerti juga. Aku mohon kembalikan ponselku. Aku hanya ingin bicara sebentar dengan tante Dinda," Cindy kembali memelas berusaha meraih ponselnya. Dion seketika menjauhkan.


Dion tidak perduli dengan penjelasannya."Awas __!" Dia mendorong sedikit kuat tubuh Cindy kesamping karena menghalangi jalannya, lalu melangkah naik.


Cindy menjerit sambil menyentuh dadanya yang terbentur pada railing tangga.


Kedua PD nya sakit saat tertekan kuat pada benda terbuat dari kayu itu, akibat dorongan Dion tadi. Apalagi saat ini dia tidak memakai bra karena terburu-buru pergi tadi.


Dion terkejut mendengar jeritannya. Dia langsung berbalik dan turun.


"Cindy..." teriak khawatir dan panik.


"Kamu kenapa ?" Melihat Cindy memegang dadanya. Cindy gugup dan cepat membelakanginya.


"Aku nggak apa apa." ucapnya segera.

__ADS_1


"Gak apa-apa gimana tadi kamu menjerit keras!" Dion membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya.


"Tadi dadaku membentur railing tangga, tapi udah gak sakit lagi!" menyilangkan kedua tangannya di dada.


Dion menghela nafas, tak ingin menatap gadis itu terlalu lama karena dia dapat melihat dada besar Cindy tampak membentuk terpahat dari dasternya yang tipis karena tidak memakai bra. Bahkan kedua bulat kecil itu terlihat jelas. Tanpa sadar Dion menelan saliva. Dion kembali naik dan melangkah menuju kamarnya.


Cindy membuang nafas berat setelah kepergian kakaknya. Sejak hamil, dia mulai merasakan sakit dan nyeri pada kedua buahnya, walau hanya memakai bra saja terasa nyeri.


Dan kedua buahnya itu di lihat mulai berubah bentuk. Semakin membesar seperti membengkak. Dia mencari penyebabnya di internet, dan itu memang gejala alamiah yang terjadi pada ibu hamil.


Cindy kembali teringat ponselnya. Dia segera naik ke atas mengejar Dion. Saat ini dia merasa cemas bahkan takut dengan penilaian Dinda padanya karena mematikan telepon tiba tiba. Sudah pasti Dinda mengatakan dirinya tidak sopan dan kurangajar. Dan dia harus segera menjelaskan sebelum tantenya itu semakin berpikir buruk padanya. Tapi Dion malah menahan ponselnya tanpa memikirkan pandangan negatif Dinda pada dirinya.


"Kak Dion...!" mengetuk pintu tiga kali, lalu segera membukanya.


Di lihatnya Dion nampak membereskan laptop dan berkas pekerjaannya di tempat tidur.


"Kak, mana ponselku. Tolong kembalikan," serunya sambil masuk mendekati Dion.


Dion tidak perduli dengan ucapannya, tetap terus menyusun kertas laporan satu satu dan di masukan ke dalam tas kantornya.


Cindy mendengus kesal.


"Apa kakak nggak berpikir bagaimana pandangan tante dinda padaku? Tante pasti sudah berpikir yang buruk buruk padaku. Aku mohon kembalikan ponselku !" berkata agak keras.


Tidak ada tanggapan, Dion tetap fokus dengan apa yang di lakukan.


Cindy sebisa mungkin bersikap tenang menunggu sampai kakaknya itu selesai mengatur berkas berkasnya ke dalam tas.


Setelah itu dia kembali meminta ponselnya.


"Kembalikan ponselku!"


"Kamu kenapa keras kepala, hah? kau tidak perlu menghubungi mama!" Dion malah menyentaknya.


Kekesalan Cindy semakin menjadi-jadi, bahkan amarah mulai menguasai dirinya.


"Pokoknya, kembalikan ponselku," teriaknya keras.


Dia langsung menyerang Dion, memeriksa benda pintar miliknya di tangan kakak sepupunya ini, kosong. Dion tidak memegang apa pun.


"Kakak sembunyikan di mana?" tanyanya semakin kesal. Menatap Dion dengan tajam.


Kakaknya ini hanya memakai celana boxer.


Cindy semakin kesal.


"Kembalikan kak!" Dia kembali memeriksa di balik bokser Dion.


"Apa yang kamu lakukan?" Dion menahan tangannya yang kelayapan sembarangan di badannya. Membuatnya merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya.


"Gak lihat aku sedang mencari ponselku? cepat kembalikan?" teriak Cindy.


"Aku tidak akan memberikannya. Nanti aku akan menjelaskannya pada mama, kamu jangan khawatir. Sekarang keluar lah, aku mau mandi."


Cindy menyentak kakinya ke lantai, kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah


setelah mendengar perkataan Dion.


Tak ada guna bertahan dan memaksa.


Dia segera berbalik untuk melangkah keluar.


Dion tersenyum tertahan melihat sikapnya yang terlihat menggemaskan.


Cindy meliriknya tajam. Matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik bantal kepala yang berada di sudut sebelah atas tempat tidur.


Benda pintar itu tidak tertutup semua, sedikit kelihatan. Dia sangat yakin itu ponselnya di lihat dari softcase nya yang berwarna ungu muda.


Cindy melonjak senang. Dengan segera dia naik ke tempat tidur dan merangkak untuk meraih ponselnya.


Tapi belum sempat tangannya menjamah benda tipis itu, Dion yang sudah naik keranjang menarik kakinya, hingga tubuhnya melorot ke bawah dan tidak tidak dapat mengambil ponselnya. Cindy mendengus kesal.


"Kakak, lepas." Cindy menendang kakinya agar lepas dari pegangan Dion.


Dion semakin kuat memegang kakinya merangkak ke atas menjauhkan dan mengambil benda itu dari tangan Cindy. Terjadi pergulatan di antara mereka, yang satu mempertahankan dan satunya merebut benda pintar itu.


Keduanya tidak menyadari posisi mereka yang saling tindih. Bagian tubuh atas bawah bergesekan


Hingga akhirnya terdengar jeritan dari mulut Cindy. Tubuh kekar Dion menempa tubuh Cindy dan tanpa sadar menekan ke dua buahnya yang bengkak.


Dion kaget mendengar jeritannya.


"Kamu kenapa Cin?" menatap wajah Cindy yang meringis sakit, sangat dekat di bawahnya.


"Aduh kak, menyingkir dari tubuhku, cepat."


"Ada apa?"


Cindy meringis sambil memegang ***********.


Dion segera menjatuhkan tubuhnya ke samping Cindy.


Cindy masih meringis sakit menyentuh dadanya. Dion memperhatikan dari samping apa yang di lakukan.


"Apa sesakit itu ?" melihat buah Cindy yang terpahat dari balik daster tipisnya.


"Eh ngapain?" menepis tangan Dion yang menjulur ke dadanya.


"Emang mau ngapain di pikiran mu? Aku hanya ingin memeriksanya !"


"Memeriksa apa? mau menyentuh dan melihat dadaku gitu?"


Dion terkejut sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Kakak hanya khawatir dengan keadaanmu, pikiranmu kotor amat sih! lagian untuk apa juga di tutupi? Kakak sudah sering melihat dadamu saat kita mandi dan berenang bersama di kolam...yaa meski tidak keseluruhan!" menarik tangan Cindy bangun.


Cindy membenarkan perkataan Dion yang sudah sering melihat tubuhnya hanya memakai bikini saat mereka mandi dan berenang bersama di kolam.


Tapi sejak kehamilannya, Cindy merasa gugup dengan Dion. Dia tidak ingin Dion melihat dan menyentuh tubuhnya.


"Sebenarnya ada apa dengan buah dada mu? Tadi di tangga kau juga mengeluh sakit. Kemarin kemarin kau mengeluh sakit perut, sekarang sudah bertambah dengan dada mu. Aku yakin penyakit mu itu sudah menyebar. Sebentar kita ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan mu sebelum penyakitmu itu menyebar ke seluruh bagian organ tubuh mu." kata Dion membuyarkan lamunannya.


"Ih..! penyakit apaan sih?" desis Cindy menatap kesal.


"Aku gak sakit, aku baik baik saja." sambungnya kembali seraya turun dari tempat tidur."Berikan ponselku."


"Aku sudah mengirim pesan ke mama saat naik tadi, kamu gak usah khawatir."


Cindy menatapnya lekat.


"Benarkah?"


"Iya, gak percaya amat sih ! sudah sana, bersih bersih terus ambil air wudhu, kita subuh sama sama !" jawab Dion seraya memperbaiki tempat tidur yang berantakan.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih ?" menatap kesal.


"Terus alasan apa yang kakak katakan ke tante Dinda?"


"Ya seperti yang ku katakan tadi, ponselmu lowbat," menjawab tanpa melihat karena menghindari tatapan kesal Cindy.


"Cih... dasar pembohong! Orang tua sendiri di bohongi." umpat Cindy


Dion tertawa didalam hati.


"Sudah, cepat turun dan siap siap! Bawel amat !!"


Cindy mendengus kesal, melempar bantal ke arahnya. Dengan sigap Dion menangkapnya. Cindy segeran turun dan melangkah keluar.


"Cepat kembali, jangan lama lama, waktunya sudah mau habis," teriak Dion menatap kepergiannya dengan senyuman kecil.

__ADS_1


Bersambung.


Terimakasih yang sudah mampir 😘


__ADS_2