Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 58


__ADS_3

"Maafkan ante sayang." Ara meraih tangan Cia yang ada di dekatnya. Dia mengelus jari jemari bocah itu dengan lembut.


"Karena kesalahan ante kalian kehilangan mbak Sita." gumamnya merasa menyesal.


Dia mengecup tangan kecil itu, dan mengelus kan ke pipinya yang mulus. Menatap bergantian wajah polos anak anak itu sejenak, lalu berdiri.


"Ante ke atas dulu sebentar mau ngantar air paman Raka. Nanti ante balik lagi ke sini untuk menemani kalian." kata Ara pelan mengelus lembut lengan Cia.


Ara berbalik melangkah pelan menuju pintu. Tapi dia merasakan sesuatu yang janggal dengan penglihatannya. Matanya menangkap sosok tubuh yang sedang duduk di sofa kecil kamar itu, berada jauh dari tempat tidur si kembar. Ara memperhatikan dengan menyelidik sosok itu. Posisi tubuh itu menyandarkan kepalanya di sofa, kedua tangannya bersedekap di dada, kakinya sedikit terjulur ke depan. Ara bisa menyimpulkan kalau posisi seperti ini adalah posisi orang yang sedang duduk sambil tertidur di kursi. Sepertinya dia tidak melihat saat masuk tadi.


Siapa sosok itu? Apakah pak Sam? Atau mbak Sita? Tapi sepertinya tidak, karena sosok ini nampak tinggi di lihat dari kakinya yang panjang. Atau jangan-jangan orang jahat? Batin Ara.


Rasa takut mulai menghinggapi hati Ara. Dia memegang botol airnya kuat.


"Siapa di situ?" serunya dengan nada tidak terlalu keras.


Tak ada sahutan.


Mungkin orang ini sedang tidur? pikir Ara.


Ara mendekat perlahan, dia ingin memastikan siapa yang bersama si kembar di kamar ini.


"Siapa?" serunya kembali agak keras. Tak ada jawaban.


Ara semakin mendekat, lututnya mulai gemetar, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.


Sosok itu nampak bergerak, Ara mengambil posisi waspada. Dia semakin memegang erat botol minum, untuk di lemparkan seandainya orang itu akan menyerangnya.


"Pak sam? Apakah itu anda? Jawablah aku, siapa di situ?" serunya lagi mulai keras.


Sosok tinggi itu berdiri dan mendekatinya.


Ara terperanjat, mengangkat tangan bersiap melemparkan botol minum dalam genggamannya.


"Berhenti, jangan mendekat, kalau tidak aku akan melempar mu dengan benda ini." siap mengayunkan tangan untuk melempar.


Tapi belum sempat botol itu lepas dan melayang, sosok itu sudah lebih dulu menahan tangan Ara dengan sala satu tangannya, dan yang satunya lagi di gunakan membekap kuat mulut Ara.

__ADS_1


Ara semakin tercengang. Dia berontak berusaha melepaskan tangan orang itu dari mulutnya.


Tubuhnya diseret kebelakang hingga menabrak pintu, lalu terdengar bunyi Klik. Lampu bagian sudut atas kamar menyala seketika, tidak terlalu terang tapi cukup untuk melihat sekelilingnya.


"Diamlah, nanti kau akan membuat anak anak terbangun." kata sosok itu berbisik tapi penuh tekanan. Dia melepaskan bekapannya di mulut Ara.


Ara berhenti berontak, dia mendongak keatas menatap sosok di depannya ini.


"Kakak ipar?" Ara terperangah, mata membulat setelah melihat wajah di depannya.


Sosok tinggi yang ternyata Rafa itu menatap tajam, lalu melepaskan pegangannya. Ia melirik botol air yang ada dalam genggaman Ara.


Ara kelabakan.


"A-aku tidak bermaksud melempar kakak tadi. Kakak tidak menjawab sahutanku, jadi ku pikir orang jahat. Sungguh kak." katanya terbata bata sambil meremas kuat benda itu.


Rafa diam tidak menjawab apapun, dia hanya terus menatap dingin dengan sorotan mata tajam. Rafa sengaja menemani si kembar tidur karena Nesa tidak menemani anak anak itu. Dan lebih penting dari itu dia rindu ingin tidur bersama dengan anak anak itu.


"Minggir__." katanya kemudian seraya meraih handle pintu.


Ara terperanjat dan segera menggeser tubuhnya ke samping.


"Kakak ipar__." panggil Ara dengan suara rendah di sela ketakutannya memberanikan diri. Dia teringat nasib Sita.


"Tolong jangan pecat mbak Sita kak." sambungnya kembali dengan cepat sebelum pria itu keluar dari kamar.


Langkah Rafa terhenti, tanpa menoleh. Tangannya masih memegang handle pintu.


Ara menelan ludah. Kembali mengumpulkan keberanian untuk bicara."Mbak Sita tidak bersalah. Selama ini mbak Sita melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Dia merawat si kembar dengan sangat baik, dia sangat menyayangi Cio dan Cia." Ara berhenti karena terasa ada yang mencekik di tenggorokannya sehingga sulit menerus kan kata.


Rafa hanya menelan ludah mendengar ucapannya, dia kembali menarik handle pintu dan membukanya.


"Kakak aku mohon." Ara segera menjatuhkan tubuhnya, duduk berlutut.


"Aku yang bersalah, aku yang telah mengambil alih tugasnya, jadi hukum aku saja. Aku siap menerima apapun itu, tapi jangan pecat mbak Sita. Aku mohon kak." memelas sedih.


Sekarang giliran Rafa yang terperanjat. Dia membalikan tubuhnya menatap tubuh yang berlutut menunduk di depannya ini. Rafa tidak menyangka sampai segitunya perjuangan gadis ini untuk menyelamatkan Sita yang hanya seorang pelayan?

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, cepat berdiri." katanya agak keras.


"Mbak Sita adalah seorang janda. Dia tulang punggung keluarganya. Dia punya tiga orang anak yang sedang ia sekolahkan. Juga punya orang tua yang sedang sakit. Kalau kakak memecatnya, dengan apalagi mbak Sita akan membiayai kehidupan keluarganya? Sementara di zaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan." Ara melanjutkan ucapannya dengan kepala yang masih tertunduk tanpa memperdulikan sentakan Rafa. Entah kekuatan dari mana hingga ia seberani itu. Hanya saja tangannya yang kini gemetaran, dan air mata yang basah.


"Cepat berdiri." sentak Rafa kembali tak peduli dengan penjelasannya tentang Sita.


"Aku mohon, jangan pecat mbak sita, aku yang salah. Hukum saja aku." Ara kembali memohon memelas.


"Berdiri kataku, apa kau tidak dengar?" sentak Rafa.


Ara geleng geleng kepala terisak.


"Tolong kasihani mbak Sita, jangan pecat dia." meletakkan kedua tangannya di depan dada, memohon mengiba.


"Berdiri kataku Ara, apa kau tidak dengar?" suara Rafa mulai tinggi.


Ara terisak. Dia menatap Rafa dengan sedih.


Tak menuruti perintah Rafa untuk berdiri. Dia berharap dengan permohonannya ini hati Rafa akan luluh.


"Azahra Radya Almira," teriak Rafa keras dengan amarah yang memuncak karena Ara tidak mendengar perkataannya.


Tubuh Ara bergidik mendengar teriakannya. Rafa menutup pintu itu agak keras, lalu menarik tubuh wanita itu ke atas dengan satu tarikan dan menyandarkannya ke pintu.


"Berani sekali kau membatah setiap ucapan


ku, hah? Berani kau melawan kata kataku?" Ucap Rafa kasar dengan wajah merah padam menahan emosi. Dia tidak menyangka kalau gadis ini berani melawannya.


Ara gemetaran dan semakin kuat memegang botol air, dia menunduk tidak berani menatap wajah menakutkan di depan.


Rafa mendekatkan tubuhnya begitu dekat, tangan kanannya di letakkan ke dinding di atas kepala Ara, mengurung tubuh adik iparnya ini.


"Angkat kepalamu, tatap aku." ucap Rafa menekan suaranya.


Ara geleng geleng kepala tidak berani. Mata terpejam dan menggigit bibir bawahnya untuk menekan ketakutan.


"Azahra Radya Almira, apa kau tuli? Angkat kepalamu, tatap aku." teriak Rafa kembali.

__ADS_1


Bersambung.


Tinggalkan jejak dukungan ya...like, vote, rate bintang lima, hadiah kopi ☺️


__ADS_2