
...Happy Reading....
Ara berangkat kerja dengan di antar Mang Saleh yang di hubungi nya lewat ponsel Sita. Untung saja dia sudah hafal nomor telepon sopir taksi online itu. Setelah sampai di depan gedung RA Group, dia menelepon Ines dan Cindy melalui ponsel mang Saleh untuk menemaninya ke tempat servis hp pulang kerja nanti. Kebetulan mang Saleh menyimpan nomor telepon kedua temannya itu. Karena kedua sahabatnya sering menggunakan jasa ojek mang Saleh.
"Mang, nanti kesini lagi jam lima sore. Aku gak bisa telpon Mang lagi karena ponselku rusak." kata Ara memberi pesan.
"Siap Non, pokoknya jam lima tepat mang stand by di sini. Nona tinggal cari saja mang di parkiran."
"Baik mang,"
"Mang pergi ya..."
"Iya mang, hati hati."
Saleh pergi tancap gas.
"Ra... Ara." terdengar teriakan dari belakang Ara.
Ara membalikkan badan.
"Sonya ...." Ara tersenyum. Melihat Sonya mendekatinya. Keduanya cipika-cipiki sesaat.
"Kamu udah masuk kerja ya?"
"Iya Son, aku bosan di rumah terus."
"Terus gimana keadaan mu sekarang? Apa sudah baikan?"
"Alhamdulillah, aku udah sehat,"
"Syukurlah! Ayo cepat kita ke atas, sebentar lagi pimpinan akan tiba." kata Sonya seraya menarik tangan Ara.
Mendengar kata pimpinan, membuat tubuh Ara tegang, hati tidak tenang.
Mereka segera naik lift bergabung dengan karyawan lain. Beberapa karyawan menyapa Ara melihat dia telah masuk kerja kembali.
"Ra, sopir taksi online tadi kayaknya akrab denganmu." kata Sonya.
"Iyah, namanya mang Saleh. Orangnya baik. Aku sudah lama langganan sama beliau. Dari aku pertama kuliah."
"Jadi selama ini kamu datang dan pulang ke kampus di antar sama beliau?"
"Iya. Bukan hanya pergi pulang kampus saja, tapi juga saat aku punya urusan lain di luar. Aku tinggal menelpon, beliau langsung datang." kata Ara tersenyum.
Sonya manggut manggut.
Kalau Ara hanya menggunakan jasa taksi online, berarti dia hanya berasal dari kalangan bawah. Tapi kenapa dia bisa membeli perhiasan semewah itu? dan siapa kekasihnya sebenarnya? batin Sonya yang masih penasaran dengan status dan kehidupan pribadi Ara.
Keduanya sampai ke ruang kerja. Ara menuju meja kerjanya.
"Lihat, anak magang kesayangan buk Moly sudah hadir." seru sala seorang karyawan mencibir.
"Enak banget ya jadi dia, bisa masuk kerja semaunya. Seperti perusahaan ini milik ayahnya!"Cibir yang lain.
"Benar, seperti dia Nyonya di perusahaan ini." sindir yang lain.
Ara hanya menghela nafas dan lebih memilih diam tak menanggapi.
"Maaf ibu ibu, Ara gak masuk kerja karena sakit. Dia sudah mendapat izin dari bagian HRD untuk istirahat beberapa hari." pungkas Sonya menatap tak suka pada mereka.
"Udah Sonya, gak usah di tanggapi." Ara cepat memberi isyarat padanya.
"Nih, kerjakan ini semua." seorang karyawati meletakkan beberapa berkas di meja kerja Ara."Periksa semua laporan ini dengan benar."
"Baik buk..." kata Ara sopan.
"Kalian semua, cepat berbaris rapi. Pimpinan datang." seru seseorang dari depan setelah mendapat informasi kalau pimpinan sudah dekat.
Mereka segera menuju dekat pintu masuk dan berbaris berjejer rapi sesuai divisi departemen. Termasuk Ara. Dia mengambil barisan paling belakang sebagai karyawan magang.
1 menit berlalu Rafa, Wisnu, Moly dan para direktur mendekat. Semua diam dan terus menunduk, lalu menyapa selamat pagi ketika Rafa berhenti di depan mereka.
"Perhatian untuk kalian semua. Dalam beberapa hari, kantor kita akan mengadakan acara ulangtahun perusahaan. Di harapkan kepada kalian untuk ikut berpartisipasi dan bekerjasama dalam persiapan acara tersebut, kalian mengerti?" terdengar suara Moly.
"Mengerti." jawab mereka serentak.
Rafa memperhatikan sesaat sosok istrinya yang berdiri di antara barisan para karyawan.
Memakai rok hitam selutut kemeja putih dengan rambut di sanggul asal tertata rapi. Sedikit rambut menjuntai di dekat telinga. Masih menggunakan kacamata tebalnya. Rambutnya yang di sanggul membuat leher jenjangnya yang putih mulus terekspos.
Istrinya makin cantik dan anggun di matanya. Tapi dia tidak suka leher jenjang itu terbuka, karena akan menjadi tatapan mata pria nakal.
Rafa tiba tiba mendengus kesal, mengingat kejadian tadi. Ara pergi ke kantor tanpa pamit darinya. Sementara dia masih berada di rumah. Ara menggunakan kesempatan saat dia sarapan pagi untuk berganti pakaian, lalu turun dan pergi. Ara hanya menitip pesan pada Sita untuk menyampaikan kepadanya kalau dirinya sudah berangkat ke kantor. Hal itu membuat Rafa kesal sampai tidak berselera lagi untuk sarapan. Datang ke kantor dengan perut kosong, tak bersemangat dan tak bergairah untuk bekerja. Rafa melangkah perlahan mendekatinya. Ara deg degan di tempatnya, menyadari Rafa melangkah ke arahnya. Tapi sebelum Rafa dekat dengan Ara, Moly menahan jas nya. Langkah Rafa terhenti. melihat Moly yang memberi isyarat dengan mata. Rafa menoleh pada Ara, menatap tajam. Lalu berbalik dan melangkah menuju ruang kerja di ikuti oleh yang lain. Barisan karyawan bubar dan menuju meja kerja masing-masing.
Wisnu mengantar tuannya ke ruang kerjanya. Setelah Rafa masuk ke dalam, dia menuju ke ruang Moly meminta bantuan untuk memanggil Ara. Moly segera keluar menuju meja kerja Ara.
"Nona Azahra Radya Almira, tolong ke ruangan saya sebentar." katanya dengan sopan.
Sonya menatap Ara."Ra, Kau di panggil tuh."
Ara membuang nafas berat menatap Sonya di depannya, lalu segera bangkit menuju ruangan Moly.
"Selamat pagi Nona muda." sapa Wisnu ramah.
"Selamat pagi sekretaris Wisnu."
"Maaf Nona. Ini ponsel baru anda dari tuan Rafa. Saya tidak sempat berikan tadi di rumah." menyerahkan paper bag yang berisi ponsel baru Ara.
"Terimakasih. Seharusnya kakak ipar tidak usah repot-repot membelikan ponsel baru untukku. Ponsel ku masih bagus, hanya retak sedikit. Lepas kerja aku akan memperbaikinya. Katakan pada kakak ipar Maaf__ aku tidak bisa menerimanya." menolak halus.
Wisnu dan Moly saling berpandangan.
Sedangkan Rafa mendengus kesal melihat dari ruangannya.
"Nona, dari pada anda masih repot repot pergi ke tukang servis memperbaiki, menunggu dan...." sela Moly.
"Di dalam hp tersebut ada kenangan saya bersama almarhum suami saya, kak Raka," kata Ara memotong ucapan Moly.
Moly dan Wisnu kembali saling melihat. Sedangkan Rafa mengeluh sedih mendengar ucapannya. Ara tidak akan bisa lepas dari kenangannya dengan Raka.
"Nona muda, Sementara menunggu ponsel anda di perbaiki, sebaiknya gunakan dulu ponsel baru ini." Wisnu terus memaksa.
Ara tersenyum.
"Terimakasih Sekretaris Wisnu. Aku tidak bisa menerimanya. Permisi." Ara melangkah keluar.
Moly dan Wisnu saling berpandangan.
Sementara di ruangan kerjanya, Rafa mengeram keras sambil meremas kuat ponselnya melihat Ara menolak ponsel darinya. Dia segera menelpon Moly.
"Iya tuan....!"
"Bawa istriku ke ruangan ku sekarang juga." menekan ucapannya dengan suara keras.
Moly terkejut."Ini di luar pekerjaan ku Rafa. Aku tidak mungkin memaksanya. Aku gak enak sama dia. Mengertilah posisiku."
"Pokoknya aku akuu tunggu lima menit." sentak Rafa keras, lalu telepon di matikan.
Moly menjauhkan benda pintar Itu dari kupingnya, karena gendang telinganya serasa mau pecah dan sakit. Telepon di matikan.
"Menyebalkan." gerutu Moly kesal. Lalu melirik tajam pada Wisnu." Apalagi yang di lakukan tuan mu pada Nona Ara?"
Wisnu mengangkat bahunya, isyarat tidak tahu, lalu segera keluar. Moly mengikutinya dengan kesal.
"Nona Ara, bolehkah anda ikut denganku sebentar?" bisik Moly di telinga Ara
"Ada apa bu? Aku sedang kerja." menunjuk berkas laporan di depannya.
"Aku mohon, sebentar saja," pinta Moly memasang wajah memelas.
Ara yang mengerti dengan raut wajahnya segera bangkit dari duduknya dan
mengikuti permintaannya, terpaksa dia mengikuti Moly dari pada kepala HRD itu akan kena masalah nantinya. Ara sudah tahu kemana Moly akan mengajaknya.
"Hey kau, ambil pekerjaan mu. Kerjakan sendiri. Kalau kau sudah tidak mau bekerja lagi segera angkat kaki dari sini." kata Moly menatap tajam pada karyawan yang memberi tumpukan berkas pada Ara tadi." Ini peringatan untuk kalian semua." menatap mereka satu persatu dengan tajam. Para karyawan terkejut. Wajah mereka seketika pias dan takut. Ara dan Sonya juga terkejut mendengar perkataannya.
Moly segera mengajak Ara melangkah.
"Ibu kok ngomongnya begitu? Aku suka bantu mereka. Aku gak keberatan." kata Ara di sela langkahnya.
"Akan menjadi kebiasaan jika di biarkan. Mereka akan semakin malas, pencuri tulang di saat orang lain bekerja keras. Di gaji tinggi tapi malas bekerja. Jika di biarkan mereka akan terus semena mena pada magang dan karyawan rendah." kata Moly.
Sonya mencuri pandang memperhatikan mereka. Bukan hanya Sonya tapi juga karyawan.
"Buk, jangan meninggalkanku di dalam, aku gak enak menjadi tatapan karyawan melihat keberadaan ku di ruangan pimpinan." kata Ara saat mereka tiba di depan pintu kerja Rafa.
"Baik nona, saya mengerti."
Moly segera mengetuk pintu. Lalu mereka masuk. Ara mendekat beberapa langkah dengan sedikit menunduk tak berani menatap wajah pimpinannya. Karena dia tahu suaminya ini kesal padanya dengan apa yang terjadi tadi pagi.
Sedangkan Moly berdiri di depan pintu.
Rafa langsung bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku celana.
"Kenapa kau pergi tidak pamit dariku?" dia tidak mau membalas masalah ponsel baru karena hanya akan membuat Ara teringat Raka lagi.
Ara menelan ludah.
"A aku sudah menyampaikan pesan ku pada mbak Sita." kata pelan takut takut.
"Aku masih berada di rumah Ara. Kau bahkan tidak menemaniku sarapan pagi." suara Rafa mulai meninggi.
Ara diam tak menjawab, hanya tangannya yang mulai saling meremas di bawah.
"Apa kau menghindari ku?" Rafa semakin mendekatinya. Ara mundur.
"Diam di tempatmu." suara mulai keras.
Moly tersentak, dia merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada pasangan ini. Dia segera memberi isyarat pada Rafa untuk bicara baik baik.
Sementara Ara kaget, tetap diam tidak menjawab. Rafa berhenti setengah meter di depannya.
"Aku tahu kau sengaja menghindari ku Ara. Katakan, apa kau marah padaku? Kau marah karena aku lebih mementingkan acara semalam dan juga wanita wanita itu....!"
Ara kaget mendengar perkataannya. Dia cepat mendekat dan menutup mulut Rafa dengan tangannya.
"Aku mohon jangan bicarakan hal itu di sini. Nanti buk Moly akan tahu hubungan kita." bisiknya pelan dengan mata micing wajah memelas. Lalu segera menarik tangannya dari mulut Rafa.
Rafa mendesah kasar.
"Biar saja Moly mengetahuinya, toh kamu memang istriku kan? Sekarang katakan kenapa kau pergi tanpa pamit dariku? Kamu pasti marah karena aku bersama wanita lain semalam dan tidak menghubungimu?" menatap tajam.
Dia sengaja mengungkit kebersamaan nya dengan para wanita itu untuk melihat reaksi emosi Ara. Kalau Ara marah, berarti Ara cemburu, dan jika Ara cemburu berarti istrinya ini sudah mencintainya.
"Aku sudah katakan aku tidak marah. Aku ngerti kakak itu orang penting jadi wajarlah banyak yang ingin dekat dengan kakak." kata Ara.
"Dari dulu kakak juga seperti itu, biasa dekat dengan banyak wanita, aku sudah memakluminya." lanjutnya kembali.
Rafa Kembali terhenyak.
"Kamu bicara apa?" menangkap ada maksud buruk dari perkataan istrinya.
"Kakak sudah dengar kan tadi? Aku permisi. Aku harus bekerja." Ara buru buru berbalik dan melangkah.
Rafa cepat menangkap tubuhnya.
"Kakak lepas." Ara terkejut.
__ADS_1
"Kamu bicara apa barusan? Kamu berpikir buruk lagi tentang aku karena bersama wanita wanita itu? dan itu membuatmu marah dan menghindari ku?"
"Tidak kak, aku tidak marah! Silahkan kakak berhubungan dengan wanita mana pun yang kakak suka, aku gak masalah. Tolong lepaskan aku, jangan seperti ini, ada buk Moly." Ara berusaha melepaskan tangan Rafa.
Rafa semakin kuat menahan tubuhnya. Dia membalikkan tubuh Ara menghadap padanya.
"Mulut mu berkata tidak. Tapi mata dan hatinya berkata lain."
"Lepas kak. Aku sudah katakan aku nggak marah. Buat apa aku marah. Kakak memang seperti itu dari dulu. Terbiasa dekat dengan para wanita yang kakak suka. Aku memahami itu dan tidak mempermasalahkannya, jadi untuk apa aku mar........" kalimatnya terpotong.
Rafa cepat mengecup bibirnya, di kecupnya lagi ke dua dan ketiga.
Ara terkejut, mata dan mulut melongo. Dia melirik pada Moly yang juga terkejut menatap ke arah mereka.
"Apa yang kakak lakukan?" menatap tajam pada Rafa. Suka sembarangan mencium.
Dia segera melepaskan tangan Rafa dan berjalan keluar menghindari tatapan Moly dengan wajah kemerahan menahan malu.
"Nona Ara, tenanglah aku sudah tahu hubunganmu dengan tuan Rafa." batin Moly melihat sikap canggung Ara padanya.
Rafa menghadang jalan Ara tiba tiba, membuat Ara terkejut dan menubruk tubuhnya.
"Sebelum keluar, lepaskan jepit rambutmu." kata Rafa menatap tajam.
"Apa apaan sih kak, bukan hanya kita yang berada di sini," mulai kesal dengan sikap suaminya.
"Aku tidak suka model rambutmu seperti itu, jelek seperti mak mak mau kondangan."
"Kalau nggak suka, yaa tidak usah di lihat. Tutup saja mata kakak kalau ketemu denganku." Ara bersikeras tidak mau melepas. Apalagi setelah Rafa mengejek rambutnya.
Moly geleng kepala melihat tingkah mereka seperti anak kecil memperdebatkan sesuatu. Dia ingin sekali tertawa dan berteriak tapi terlalu takut dengan kemarahan bosnya.
"Ara....lepas," Rafa meraih ikatan rambutnya.
Tapi Ara menahan kuat pengikat rambutnya.
"Nggak..."
Rafa mulai kesal.
"Apa kamu ingin memperlihatkan lehermu pada semua orang. Bagaimana jika mata para lelaki brengsek menatapmu? hah? Aku tidak suka tubuhmu jadi pusat perhatian mereka."
Ara melepas tangan Rafa keras.
"Tidak ada yang menatapku, hanya kakak saja yang menatapku." katanya ketus.
"Jangan membantah Ara, aku tidak menyukainya."
"Tapi aku menyukainya, aku suka gaya rambutku seperti ini, gak mengganggu pekerjaanku."
Rafa semakin mengeram kesal
"Aku bilang lepas," menatap tajam menahan marah.
"Nggak, aku nggak mau. Ini rambutku terserah aku mau apain. Ayo buk Moly kita keluar," kata Ara tetap pada pendiriannya. Dia menoleh pada Moly dan melangkah menuju pintu.
Rafa semakin kesal, dia melangkah cepat mendekat lalu menarik tubuh Ara sehingga menempel pada tubuhnya. Di pegang nya tengkuk Ara kuat. Satu tangannya menahan kedua tangan Ara di belakang pinggang. Secepatnya dia melabuhkan wajahnya ke leher Ara, mengecup kuat dan menc*pangi bagian tubuh jenjang istrinya itu.
Ara mengerang keras, terkejut dan berontak. Tapi Rafa semakin kuat menahannya dan terus memberi beberapa tanda di lehernya.
Moly terbelalak segera membelakangi mereka. Dia memaki Rafa dalam hati.
"Sakit kak." Ara meringis merasakan gigitan kecil di lehernya "Aduhhh, kak cukup." menarik rambut Rafa kuat.
Selesai memberi beberapa tanda di leher Ara, Rafa mencium sesaat bibir istrinya atas bawah bergantian dengan brutal. Sejak tadi bibir itu menggoda imannya. Ingin sekali di lahap hanya ada Moly bersama mereka.
"Kak, lepaskan aku," pekik Ara kembali di sela l*****n suaminya.
Moly terkejut mendengar pekikan Ara, dia segera membalikkan tubuhnya untuk memastikan keadaan Ara. Tapi dia kembali terbelalak melihat Rafa mencium bibir Ara dengan rakus, menekan kuat tubuh istrinya itu di meja kerjanya. Moly segera berbalik menutup matanya. Nafasnya memburu cepat. Dia kembali memaki Rafa.
Puas menciumi bibir Ara, Rafa segera menarik wajahnya dengan senyuman kepuasan. Dia menatap wajah istrinya yang mau menangis kesal sambil mengatur napas tak beraturan.
"Itu hukuman mu karena selalu
membantahku sayang." bisiknya tersenyum nakal.
Ara mendengus kesal, menatap dengan mata basah seraya meraba lehernya.
"Pergilah, keluar kalian." kata Rafa dengan senang melihat hasil karya bibirnya yang tercetak jelas di leher Ara.
Ara kembali mendengus kesal, lalu menengok pada Moly yang sedang membelakangi mereka. Dia berharap Moly tidak melihat apa yang di lakukan Rafa padanya. Ara kembali meraba raba lehernya yang terasa perih. Bukan hanya di cup*ngi tapi juga di gigit suaminya, Air matanya jatuh setetes. Dia menatap sedih dan kesal pada Rafa, lalu bergerak melangkah menuju pintu dengan gontai. Sebelum keluar dia melepas jepit rambutnya, menggeraikan pada kedua samping lehernya untuk menutupi tanda tanda itu. Lalu segera keluar setelah menyapu air mata.
Moly mengikuti dari belakang. Sebelum keluar dia melototi Rafa sambil mengumpat pelan.
Rafa tersenyum menatap kepergian istrinya.
"Setiap hari makin cantik dan menggairahkan. Bibirnya semakin seksi menggoda. Membuat ku gemas ingin selalu melahapnya. Apa yang di pakai pada wajahnya sehingga dia sebegitu mempesona dan menggoda di mataku? padahal tak ada riasan apapun di wajahnya." gumam Rafa. Lalu menyentuh bibirnya sembari membayangkan ciuman mereka tadi dan juga wajah istirnya yang cantik.
.
.
Ara mendapat telepon dari Rahmia lewat telepon kantor. Rahmia menyuruhnya untuk datang ke sebuah bangunan besar yang berada di jalan X. Dia tidak enak meninggalkan pekerjaannya, tapi Moly mengatakan semua akan baik-baik saja, karena Rahmia sudah meminta izin pada Rafa. Moly susah menyiapkan dress cantik untuk di pakai Ara ke tempat itu.
"Apa aku harus memakai ini ?"kata Ara menolak memakai dress itu mengingat ada 4 tanda merah di lehernya, tapi dia tidak mau memperlihatkan pada Moly.
"Tentu saja, ini sangat cantik di tubuh anda, ibu Rahmia menginginkan anda memakai gaun ini, karena acara ini sangat spesial dan tamu undangannya juga orang orang penting."
Ara mengeluh sedih, dia menyentuh batang lehernya. "Sebenarnya ada acara apa sampai tante Mia memintaku datang?" batinnya.
"Anda jangan khawatir, saya akan menutupi tanda itu dengan konsiler." kata Moly melihat Ara meraba raba lehernya.
Ara terperanjat"Ibu tahu tentang tanda ini?" Ara tergagap. "Apa ibu melihat apa yang di lakukan kakak ipar padaku tadi ?" tanyanya kembali.
Moly tersenyum menatapnya.
"Anda tidak perlu malu dan canggung kepada saya, karena saya tahu anda adalah istri tuan Ravendro. Istri dari pemilik perusahaan RA Group, istri cantik Presdir kami yang tampan dan mempesona." tersenyum menatap Ara lekat.
Ara tercengang.
"Anda juga tahu hal itu?"
Moly kembali tersenyum.
"Tentu saja." Moly menyentuh dagu Ara yang runcing.
"Karena di kantor ini saya sala satu orang terdekat dan kepercayaan tuan Rafa selain sekretaris Wisnu! Tapi anda jangan khawatir, selain kami berdua tidak ada lagi yang tahu tentang hubungan pribadi anda dengan tuan Rafa di kantor ini." ujar Moly menjelaskan.
Ara menelan ludahnya, pantas saja buk Moly sangat menghormati aku, batinnya.
"Sekarang kita pergi ya. Tante Mia pasti sedang menunggu anda."
Dengan menggunakan sala satu mobil mewah milik Rafa mereka menuju sebuah Klinik Kecantikan Perawatan Wajah dan Tubuh, sekaligus Salon kecantikan, yang menyediakan berbagai macam jenis treatment kecantikan. Tempatnya tidak terlalu jauh dari pusat perkantoran.
Bangunan itu mempunyai 3 lantai dengan ukuran ruangan yang luas, mempunyai loby dan juga fasilitas lainnya. Lantai pertama khusus untuk klinik perawatan tubuh dan wajah, lantai dua untuk salon kecantikan, yang ketiga ruang privat khusus pemilik klinik sekaligus untuk tempat istirahat pemilik. Sang manajer dan pelayan menyambut kedatangan mereka dengan hormat dan sopan.
"Selat datang Nona muda Raka Artawijaya." ucap manajer ramah dengan sedikit menunduk. Dia tidak tahu kalau Ara sudah menikah dengan Rafa. Dia seorang wanita berumur 30 tahun terlihat cantik dan muda, tubuhnya yang ramping tinggi semampai. Dia tersenyum ramah menatap pada Ara.
Ara terhenyak mendapat sambutan yang terlalu formal ini. Dia juga kaget wanita itu tahu kalau dia istri Raka.
Ara menoleh pada Moly yang tersenyum.
"Silahkan Nona Raka Artawijaya, mari ikut saya." manajer mempersilahkan Ara menuju lift untuk membawa mereka ke lantai 3.
Saat hendak memasuki lift mata Ara di kaget kan dengan gambar dan tulisan pada sebuah banner yang berdiri menghadap ke arah mereka, Bertuliskan Klinik kecantikan dan beauty salon Azahra R'A, ada gambar wajahnya juga di situ.
Tidak cukup jelas terlihat, tapi Ara sangat tahu kalau itu adalah gambar dirinya dengan posisi miring tersenyum sumringah di antara alat alat kosmetik yang di promosikan di tempat ini.
Langkahnya terhenti menahan tangan Moly. "Buk, ini kok namanya mirip saya ? Terus itu ...wajah saya kan?"
"Nanti saya akan jelaskan, mari masuk!" kata
Moly tersenyum.
Di antara kebingungan, Ara mengikuti langkah Moly dan manajer masuk lift.
Sampai di lantai tiga, mata Ara di suguhkan dengan keindahan furniture dan berbagai peralatan kecantikan yang mewah. Ara di dudukan di sala satu kursi meja rias.
"Nona Ara, Klinik dan salon kecantikan ini adalah milik anda. Dan ruangan ini adalah ruang privat khusus untuk perawatan tubuh anda. Di sebelah sana ada kamar pribadi yang di sediakan untuk tempat istirahat anda." kata Moly.
Ara lagi lagi di buat terbelalak..
"Milik saya?" mata membulat sempurna.
"Iya nona. Dan Ini adalah dokter Salsa, dokter kecantikan yang di percayakan oleh tuan Ravendro untuk mengelola tempat ini! Tuan Ravendro telah membangun tempat usaha bisnis ini sekitar dua tahun lalu." ujar Moly menjelaskan.
"Dua tahun Lalu?" Ara kembali kaget.
Moly memberi isyarat pada Salsa untuk menjauh. Lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Ara.
"Tuan membangun tempat ini setelah dia dua hari bertemu Anda." bisiknya pelan.
Ara kembali terkejut.
"Buk, pertama kali kakak ipar bertemu dengan aku saat di taman kota malam itu. Dan kejadiannya sudah dua tahu lalu." kata Ara
"Anda benar Nona." ucap Moly tersenyum memandang wajah Ara di cermin.
Ara memutar kursinya menghadap ke Moly
"Saat itu aku adalah kekasih kak Raka." katanya pelan.
"Iya. Tapi saat itu tuan Ravendro tidak mengetahui kalau anda adalah kekasih tuan Raka. Saat itu anda masih seorang gadis dan belum menikah! Jadi, tuan Ravendro tidak salah mencintai anda dulu." Moly menyentuh tangannya.
Ara terdiam.
"Nona, Tuan ravendro sangat mencintai anda! Saking cintanya, dua setelah menemukan dirimu di taman malam itu, tuan langsung membangun sebuah hunian pribadi masa depannya yang akan di tempati bersama anda. Dan juga merubah kepemilikan beberapa property kekayaannya atas nama anda. Meski dia belum menyatakan cintanya pada anda." ujar Moly kembali.
Ara melongo."Hunian pribadi ?"
"Benar. Mansion pribadi yang sekarang anda berdua tinggali." kata Moly.
Ara kembali kaget.
"Tuan juga telah menyediakan beberapa tempat usaha bisnis anda. Dari kuliner, kosmetik, parfum, usaha bisnis restoran, hotel, barang barang branded, bisnis perhiasan dan masih banyak lagi. Termasuk sebuah Mall! Apa anda pernah berkunjung ke AZ'FA Mall?"
"AZ'FA mall?" Ara Mengingat tempat itu. Dia pernah datang ke sana bersama si Kembar. Dan yang kedua saat dia datang bersama Ines dan Cindy terus melihat Nesa di permalukan.
"Iya, aku ingat. Sudah dua kali aku ke sana." kata Ara selanjutnya.
"Mall itu salah satu milik tuan Rafa yang di berikan pada anda setelah menemukan anda malam itu. Tuan merubah kepemilikannya atas nama anda! Bangunan megah dan besar itu adalah milik anda Nona."
Ara lagi lagi terkejut. Seakan tidak percaya.
"Anda masih ingat kejadian yang terjadi di gerai permainan saat Cia dan Cio meminta mainan tapi malah mendapat perlakuan kasar dari pelayan, terus tiba tiba saja manager datang berlutut di hadapan anda dan memberi pelajaran pada semua pelayannya? karena sang manajer tahu anda adalah pemilik dari bangunan megah bertingkat itu." kata Moli menjelaskan.
Tentu saja Ara ingat. Jadi itu yang membuat manajer sampai berlutut kepadanya dan memohon pengampunan? batinnya.
Moly memegang tangannya lembut.
" Nona Ara, AZ'FA adalah nama gabungan dari nama anda dan tuan Rafa (Azahra Rafa). Restoran mewah tempat anda dan tuan Raka dinner saat ulang tahun anda, juga milik anda. Hotel AZ'FA mewah bintang 5 tempat anda menunggu calon donatur dulu, Rumah sakit Azahra Harapan Mulia tempat anda menginap kemarin, Kawasan Apartemen, jet pribadi yang membawa pulang anda dari bali, semua itu milik anda ! Bahkan tuan membelikan anda sebuah pulau pribadi lengkap dengan kapal pesiar mewah. Dan juga..." kata kata Moly terputus.
"Cukup bu, cukup.....jangan di uraikan lagi semua kemewahan itu. Aku tidak pantas mendapatkan itu semua." potong Ara cepat, nafasnya memburu cepat. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya mau menangis.
"Apa segitu cintanya kakak ipar kepadaku? Apa istimewanya aku? Apa kelebihan ku? Aku hanya wanita sederhana dari kalangan bawah yang tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk di banggakan." ucapnya sedih.
"Selain kemewahan yang di urai buk Moly, Kemewahan apa lagi yang di berikan kakak ipar padaku? Hotel mewah dan resort di bali serta restoran mewah yang bertuliskan AZ'FA Azahra. Aku melihat nama itu di sana." katanya menatap Moli dengan gelembung air mata. Dan Rafa masih tetap memberikan semua itu padanya meski dia sudah jadi istri Raka.
__ADS_1
Belum lagi Raka pernah cerita kalau kakaknya itu mempunyai usaha bisnis lain di berbagai daerah di Indonesia, bahkan tersebar hingga ke luar negeri."Apa semua usaha bisnisnya itu juga untukku? Batinnya penuh tanya.
Ara mulai terisak.
Perlahan Moly menyentuh tangannya, meraih dalam genggaman.
"Nona Ara, Kemuliaan hati anda, kelembutan anda, kebaikan hati yang anda miliki, kasih sayang serta cinta tulus yang terpancar dari hati dan kepribadian anda, jiwa sosial anda yang sangat tinggi terhadap sesama adalah kelebihan dan keistimewaan yang tidak ada harganya. Kelebihan dan keistimewaan itu yang membuat tuan Rafa jatuh cinta pada anda. Dia mencintai anda dengan tulus tanpa melihat latar belakang dan status anda." ujar Moly menatap matanya lembut.
"Aku tidak pantas mendapatkan cintanya bu. Mungkin baginya aku adalah wanita baik, tapi aku bukan istri yang baik untuknya. Dia memberikan banyak cinta untukku, tapi aku tidak bisa membalas perasaannya. Aku belum bisa mencintainya. Bahkan aku...belum bisa menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri. Aku mengabaikannya, aku selalu menolaknya ketika dia meminta haknya.
Aku selalu menyakitinya dengan sikapku. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuknya." ucap Ara di sela isak tangisnya.
Moly memeluknya, mengelus punggungnya lembut.
"Jujur aku merasa sangat berdosa padanya, tidak bisa melakukan kewajiban ku. Aku sangat tertekan. Aku sedih buk....! Aku selalu meminta pada tuhan untuk bisa membuka hatiku untuknya. Tapi__sangat sulit untuk memaksa hatiku, karena aku terlalu mencintai kak Raka." air mata Ara berderai.
Rafa terenyuh mendengar ucapan jujur itu. Ternyata Istrinya juga tertekan dengan pernikahan mereka. Juga tertekan dengan kewajibannya pada suami yang tidak dapat di laksanakan. Rafa melihat dan mendengar percakapan mereka sejak tadi lewat kamera CCTV yang terpasang di ruang itu.
"Saya mengerti sangat sulit bagi anda untuk melupakan tuan muda Raka, karena dia memberikan banyak cinta kepada anda semasa hidupnya. Hanya ada dia seorang dia ruang hati anda. Tapi Nona, tolong berikan sedikit ruang di dalam hati anda untuk tuan Rafa, sedikit saja. Bukalah sedikit hati anda untuknya, hanya sedikit saja nona... berikan sekeping hati anda untuk suami anda, tuan Rafa." ucap Moly meminta memelas penuh harap.
Moly melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Ara lekat."Anda masih sangat muda. Perjalanan hidup anda masih panjang, sementara tuan Raka sudah tak ada lagi di dunia ini. Anda perlu seseorang yang mencintai anda dengan tulus untuk menemani melanjutkan hidup ke depan. Dan orang itu adalah suami anda yang sekarang, tuan Rafa. Cobalah untuk menerima dan membuka hati untuknya secara pelan pelan." ujarnya kembali. Lalu menyapu air mata Ara.
Moly menyentuh dua cincin di jari manis Ara.
"Sama seperti anda menempatkan cincin tuan Raka dan tuan Rafa di jari manis anda, maka tempatkan pula keduanya di hati anda."
Ara menghela nafas, menyentuh kedua benda indah itu di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Raka dan juga Rafa.
Hp moly berdering, Rahmia menelpon.
"Nona Ara, tunggu sebentar." memperlihatkan telpon dari Rahmia. Ara mengangguk.
Terlibat pembicaraan sejenak pada mereka,
lalu telepon di matikan.
"Nona, tante Mia menunggu kita. Anda harus segera bersiap." kata Moly.
"Buk, sebenarnya ada acara apa sehingga tante Mia meminta aku untuk datang?" Ara menahan tangan Moly.
"Kita akan ke AZ'FA Mall, anda akan meluncurkan ragam koleksi baru perhiasan emas dan berlian. Selama ini hanya saya dan tante Mia yang menghandle semua bisnis usaha anda. Sekarang sudah waktunya
anda yang harus menangani semua usaha bisnis itu."
Ara terkejut."Peluncuran emas dan berlian? Tapi saya tidak tahu dan mengerti dengan bisnis seperti itu."
"Para partner dan pelanggan sudah lama ingin bertemu dengan pemilik koleksi dari perhiasan perhiasan itu. Kami hanya sebagai pengelola. Sudah waktunya anda berkenalan dan terjun bersama mereka! Anda jangan khawatir, saya dan tante Mia akan mendampingi anda! Saya yakin anda pasti bisa, setelah acarnya selesai kami akan membimbing anda. Anda gadis pintar dan cerdas, anda pasti akan cepat memahaminya." Moly menenangkannya.
Ara menghela nafas pelan, dia menatap pada Moly."Buk, tanpa sadar tadi aku mengatakan kehidupan masalah rumah tangga ku, tentang hubungan pribadi ku dengan kakak ipar."
"Anda jangan khawatir, anda bisa percaya sama saya, sama seperti tuan Rafa percaya pada saya. Saya malah senang ada bisa terbuka dengan saya, itu bisa mengurangi beban di hati anda. Saya siap menjadi teman curhat anda kapan saja." kata Moly tersenyum.
"Anda sepertinya sangat tahu dengan kehidupan kakak ipar, semua hal tentangnya, soal rahasianya, bahkan soal cintanya! Anda juga sangat perduli padanya, sama seperti sekretaris Wisnu." ujar Ara menatapnya.
Moly kembali memegang kedua tangannya.
Menatapnya dengan senyuman.
"Karena aku sangat menyayanginya Nona. Tuan Ravendro bukan hanya seorang pimpinan dan atasanku.Tapi dia juga keluarga ku. Kami berdua sepupuku. Suami anda adalah kakak sepupuku. Dia tua beberapa bulan dariku," kata Moly menjelaskan.
Ara terkejut.
"Jadi anda berdua saudara sepupu?"
Moly mengangguk, dia mendekatkan tubuhnya pada Ara, menatap wajah Ara lekat.
"Aku juga menyayangimu nona, bukan karena kau adalah istrinya, tapi karena aku berhutang nyawa padamu." menyentuh hidung Ara.
Dahi Ara mengerut
"Berhutang nyawa?" Wanita ini selalu memberi kejutan padanya.
"Ya, kau memang wanita yang baik. Aku sangat berterimakasih padamu. Karena kau telah menyelamatkan nyawa ibu ku, Rahmia.Tante Rahmia adalah mamaku. Beliau saudara kembar tante Maya, ibu mertuamu! Terimakasih atas kebaikan hatimu yang telah menyumbangkan darahmu tanpa pamrih pada mama." Moly memeluknya erat.
"Aku dan mama sangat berhutang nyawa padamu. Kami tidak tahu harus membalasnya dengan apa." Moly melepaskan pelukannya.
Ara tersenyum dengan raut wajah masih terkejut."Ini membuat ku terkejut buk, anda adalah sepupu kak Rafa dan anaknya tante Mia, sementara aku tidak tahu hal itu?"
"Saya senang sekali melihat anda tersenyum seperti itu Nona! Karena anda sudah tau tentang saya, maka jangan sungkan untuk berkeluh kesah, bertanya atau jika anda perlu bantuan. Saya pasti akan membantu anda dengan senang hati."
"Terimakasih buk, tapi sebaiknya anda tidak perlu memanggil aku Nona muda. Dan jangan lagi menyebut kata saya, karena anda lebih tua dariku dan juga sepupu kakak ipar! Aku merasa gak enak."
Moly tersenyum.
"Kalau begitu anggap saya kakak perempuan anda, biar saya bisa santai menyebut nama anda."
"Baiklah..... kak Moly." ucap Ara.
Moly tertawa kecil, dia langsung memeluk Ara.
"Ara adikku, mulai sekarang anggap aku kakakmu! Jangan sungkan kepadaku dan juga kepada mama. Mama juga sangat menyayangi mu sayang." keduanya berpelukan hangat penuh kasih sayang layaknya kakak dan adik.
Moly mencium pipinya gemas lalu melepaskan pelukan. Ara terharu. Dia memang tahu Rahmia sangat menyayanginya.
"Ayo ...sekarang kamu harus segera bersiap. Aku dan mama akan memperkenalkan dirimu kepada ke publik."
"Oh ya kak Moly, maaf kalau aku mempertanyakan hal ini, bolehkah?"
"Tentu saja, aku kan sudah bilang jangan sungkan untuk menanyakan sesuatu, kau ingin tanya apa?"
"Kenapa kakak ipar hanya mempercayakan semua usaha bisnisku kepada kakak dan tante Mia? Kenapa bukan mama dan kak Nesa?"
"Karena dulu tante Maya dan kak Nesa tidak menyukaimu."
Ara menelan ludah pahitnya, mengangguk mengerti maksud Moly.
"Tapi syukurlah sekarang mereka sudah menerima dan menganggap mu menantu Artawijaya." lanjut Moly.
Ara mengangguk tersenyum.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Moly menatapnya.
Ara ikut menatapnya. Memang banyak yang ingin di ketahui.
"Kakak ipar sudah tau kalau aku adalah istri kak Raka, dan katanya dia sangat menderita karena itu! Tapi kenapa dia kembali dari Amerika dan tinggal bersama kami di rumah utama?"
"Karena tuan Rafa sangat mencintaimu. Dia ingin menjagamu dari perlakuan buruk tante Maya, kak Nesa dan Levina. Tapi Ara, meski tuan Rafa sangat mencintaimu, dia tetap mengharapkan kau dan Raka bahagia dalam rumah tangga kalian. Dia berusaha menutupi hati dan mengesampingkan perasan cintanya padamu demi kebahagiaan kalian. Jadi kau jangan berpikir buruk padanya." ujar Moly meyakinkan.
"Dan apa karena gara gara aku, kakak ipar meninggalkan kak Levina?" tanya Ara Kembali.
"Tidak sayang, bukan karena dirimu. Kau jangan percaya pada ucapan busuk Levina. Tuan Rafa meninggalkan Levina jauh sebelum dia bertemu denganmu malam itu. Kalau tidak salah 4 bulan tuan Rafa sudah menjauhi Levina, lalu menemukanmu malam itu. Jadi ini tidak ada hubungannya denganmu. Kau bukan penyebab hancurnya hubungan mereka." Moly memegang tangannya.
"Lalu kenapa kak? Kata kak Levina aku telah merusak hubungan mereka, aku telah merebut kak Rafa darinya."
"Itu hanya omong kosongnya. Semua karena kesalahannya! Dia bukan wanita baik, dia arogan, kasar, jahat dan hanya mencintai uang tuan Rafa. Kami malah bersyukur tuan Rafa menjauhinya dan tidak menikah dengannya."
"Tapi aku merasa merasa bersalah padanya. Pernikahannya dengan kak Rafa yang sudah lama di impikan hancur karena aku. Kakak ipar membatalkan pernikahan dengannya dan malah menikahi ku." ucap Ara sedih.
"Tuan Rafa tidak memintanya untuk menikah dengannya, tapi untuk di nikahkan dengan ayah dari anaknya."
Wajah Ara mengernyit"Apa maksud kakak?"
"Levina telah mengkhianati tuan Rafa. Dia selingkuh dengan beberapa pria di sela sela kesibukannya sebagai seorang model. Dia berhubungan dengan banyak pria saat jauh dari Rafa. Dan dari hasil perselingkuhannya itu dia hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan."
"Apa?" Ara terbelalak.
"Dia memang wanita rendah, tidak bermoral. Pecandu **** dan alkohol. Dia tidak bisa menggoda tuan Rafa dengan tubuhnya untuk memuaskan hasrat seksualnya, jadi dia mencari sentuhan dan kehangatan dari pria lain! Ya ampun, dia memang wanita liar dan murahan. Berzina bukan hanya satu pria, tapi juga ada beberapa."
"Kak, lebih kita tidak usah membicarakan ini lagi, ini aib orang." kata Ara karena pembicaraan mereka telah ke arah yang salah, yaitu ghibah.
"Kamu benar sayang, tidak baik membicarakan aib orang. Tapi aku harus tetap mengatakannya padamu, supaya kamu tidak salah paham dan tidak berpikiran negatif pada suamimu. Tolong dengarkan aku, tuan Rafa menikahkan Levina dengan ayah dari anak itu yang bernama Alex di panti asuhan milikmu. Setelah kau dan tuan Rafa menikah setelah ashar, Levina dan Alex di nikahkan tuan Rafa setelah magrib."
"Jadi mereka menikah setelah aku dan kakak ipar menikah?"
"Iya benar. Levina tidak berdaya menolak karena tuan Rafa mengancam akan melaporkan dia ke polisi karena melakukan aborsi dan membuang bayinya yang baru dilahirkan di jalanan. Tepatnya di depan panti asuhan milikmu. Levina tidak mengetahui kalau panti asuhan itu adalah milikmu."
"Aborsi? Membuang bayi nya di depan panti asuhan? Astaghfirullah." Ara terbelalak tidak menyangka dengan perbuatan buruk levina.
"Ya.. kejadiannya hampir setahun yang lalu."
"Jadi bayi yang di temukan di depan panti asuhan itu adalah bayi kak Levina?" teringat sesuatu .
"Iya.."
"Ternyata apa yang aku dengar sewaktu di toilet ballroom hotel di bali adalah bayi kak Levina?"
"Apa maksudmu?" tanya Moly.
"Sewaktu acara ulang tahun kak Rafa di bali, aku tidak sengaja mendengar percakapan orang di dalam toilet ballroom. Aku mendengar mereka membicarakan pembunuhan dan pembuangan bayi di depan panti asuhan Azahra, mereka menyebut nama Levina. Mereka mengira bayinya sudah meninggal, tapi ternyata belum, aku merasa lega, tapi aku tidak berpikir jauh kepada kak Levina, karena aku tahu saat itu dia sedang bersama kami di hotel. Aku juga berpikir mungkin hanya panti asuhan lain yang namanya sama dengan panti asuhan ku. Tapi esoknya ustad Arif menelepon, katanya panti ketambahan satu anak lagi. Seorang anak bayi kecil yang di temukan warga di depan panti." Ara menceritakan hal buruk yang dia dengar di toilet hotel di bali lalu.
"Itu memang bayi Levina, dia menyuruh orang untuk membunuh dan membuang bayinya! Dia ingin menutupi aibnya dari publik untuk menyelamatkan kariernya dan juga hubungannya dengan tuan Rafa. Dia membohongi tante Maya, tapi tuan Rafa mengetahui kebusukannya."
"Dan untung membalas semua perbuatan buruk yang selalu Levina lakukan kepadamu, tuan Rafa membalas perbuatannya dengan cara menghancurkan kariernya, menikahkan dia dengan Alex, dan mempertemukan dia dengan anaknya yang dia buang! Tuan Rafa juga membongkar perselingkuhannya di depan tante Maya. Tante Maya shock dan membenci Levina, makanya Levina balas dendam dengan menculik dirimu dan tante Maya. Dia sakit hati, benci dan dendam pada kalian berdua." kata Moly panjang lebar menjelaskan.
"Jadi Ara sayang, aku harap kau jangan berpikir buruk lagi pada tuan Rafa. Dia pria yang baik dan hanya setia pada wanita yang dia cintai, yaitu kamu, meskipun dia sering terlihat dekat atau berkumpul dengan wanita lain di luar, semua karena pekerjaan dan sama sekali tidak di inginkan. Tapi para wanita itu yang keganjenan menggoda dirinya dan ingin menjadi wanitanya."
"Di dunia ini hanya kamu wanita yang sangat di cintai tuan Rafa dengan sepenuh hati dan jiwanya. Hanya kepadamu dia merasakan cinta yang sesungguhnya. Setelah bertemu dengan mu, dia menutup mata dan hatinya pada wanita lain. Tidak ada gairah lagi baginya untuk melirik, melihat, apalagi mencintai wanita lain. Hanya kamu yang bisa membuat dia tergila-gila pada seorang wanita, dia kecanduan cintamu sayang. Jadi cobalah untuk membuka hatimu untuknya, sedikit demi sedikit." kata Moly meminta dengan wajah memelas.
Ara membuang nafas panjang. Hatinya tersentuh juga dengan cinta dan pengorbanan Rafa kepadanya. Tapi cintanya terlalu kuat dan dalam pada almarhum suaminya, Raka.
"Aku akan mencobanya kak__" ucapnya perlahan.
"Itu bagus sayang, cobalah pelan pelan."Kata Moly tersenyum."Sekarang kamu segera bersiap-siap. Kita akan pergi."
Moly segera memberi isyarat pada Salsa untuk segera memulai merias Ara.
"Buk Moly, saya tidak suka memakai make-up"
Ara menahan tangan dokter Salsa.
"Anda jangan khawatir nona, saya hanya akan mengolesi tipis." kata dokter Salsa.
Hanya dalam waktu 30 Menit dokter Salsa mempermak wajah dan tubuh Ara. Rambut di luruskan, kacamata nya juga di lepas untuk sementara.
Ara juga langsung memakai dress cantik, indah dan elegan.
"Perfect! Sangat cantik dan anggun, padahal aku hanya memolesnya sedikit." kata Salsa terpukau dengan kecantikan alami Ara.
"Aku tidak menyangka di balik kaca mata tebalnya tersembunyi sebuah kecantikan dan keindahan." sambungnya kembali.
"Kamu benar Salsa, dan si empunya memang sengaja menutupi dan menyembunyikan keindahan itu dari pandangan mata lelaki lain." ujar Moly yang juga memandang takjub pada Ara, yang saat ini sedang berdiri di balkon menerima telepon dari si kembar lewat video call.
Moly segera mendekatinya. Meninggalkan Salsa yang masih bengong di tempatnya menatapi wajah dan tubuh Ara tanpa bergeming.
"Ara, apa kamu sudah selesai?"
"Sudah kak,"
"Kalau begitu mari kita pergi sekarang."
Ara mengangguk. Ara menoleh pada salsa mengucapkan terimakasih. Lalu mereka segera turun.
...Bersambung ...
Selamat membaca, terimakasih yang masih setia mampir ππ
Jangan lupa dukungannya ya..
__ADS_1