
Dalam perjalanan menuju hotel Raymond Alkas, di mana di adakan acara terpilihnya Dion sebagai Presiden Direktur DRA Group.
Ara sedang duduk dalam dekapan suaminya.
Di depan Wisnu sedang fokus mengemudi.
"Sayang...benar nih gak mau bersamaku datang ke acara itu ?" tanya Rafa
"Iya kak, Aku mau kumpul bersama Cindy dan Ines saja. Kakak nggak keberatan kan?"
"Baiklah...kalau itu keinginanmu.. aku juga nggak mau kamu di buru sama wartawan dan menjadi konsumsi publik, nanti kamu capek dan pusing. Tapi jangan jauh jauh dari aku ya, tetaplah terus dalam jangkauanku dan Wisnu. Kamu kan tahu dirimu sedang hamil. Aku tidak ingin kenapa napa pada dirimu dan juga bayi kita." kata Rafa seraya memegang perut Ara lembut.
Ara mengangguk tersenyum.
"Baik suamiku sayang..," dia mengecup dada suaminya
Rafa tersenyum. Dia membangunkan tubuh istrinya dan di dudukan dalam pangkuannya.
Mereka saling berhadapan.
"Ngapain kak? gak lihat tuh ada sekretaris Wisnu di depan?"
"Aku kan sudah bilang sayang.. Wisnu tuh kayak patung manekin kalau kita lagi begini. Gak melihat dan mendengar apa yang kita lakukan."
"Tetap saja aku malu dan gak enak..." kata Ara merasa canggung.
Rafa tersenyum, lalu mengecup bibirnya. Menciumnya sesaat dengan lembut. Lalu melepaskan dan menatap wajah istrinya lekat.
Ara pun menatapnya memperhatikan
bagian wajah suaminya. Keduanya saling tatap tatapan.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Rafa.
"Kakak juga kenapa menatapku?" Ara balik bertanya.
Rafa tertawa kecil.
Dia menyingkirkan beberapa helai rambut Ara di pipi.
"Aku sedang menatap kecantikanmu sayang. Kamu cantik sekali, sungguh sempurna tuhan menciptakan dirimu. Tak ada kekurangan dalam dirimu." ucap Rafa menatap wajah
cantik istrinya. Wajah asli bukan wujud seorang Betty La fea.
Setiap hari makin mempesona.
Aura kecantikannya semakin bertambah dan bersinar. Alami tanpa polesan apa pun.
__ADS_1
Hanya bedak tabur yang menempel pada kulit wajahnya. Bibirnya yang selalu merah alami tanpa gincu. Kulit tubuhnya yang putih bening halus dan lembut laksana kulit bayi.
"Gombal...." kata Ara dengan bibir manyun.
"Koq gombal sih?"
"Pasti ada maunya muji muji gitu..."
Rafa tertawa kecil, Dia kembali meraup bibir istrinya dan mencium lembut penuh kehangatan.
"Aku berkata benar sayang...bukan gombal atau ada maunya. Sayang,kekasih hatiku, cintaku dunia akhirat." katanya setelah melepas pangutan bibirnya.
Dia tersenyum lebar melihat Ara yang tersengal sengal mengatur nafasnya.
"Kakak.. boleh nggak sih nyiumnya jangan nanti aku kehabisan nafas gini..?!" kata Ara menatapnya kesal.
Rafa terkekeh "Baiklah sayang, mari kita ulang lagi." memegang bibir istrinya.
"Iiihhhh....," Ara mendengus kesal menarik mundur wajahnya.
Rafa kembali tertawa kecil menyapu lembut pipinya.
"Habisnya bibirmu sangat manis dan menggairahkan sayang, aku maunya pengen nyium terus."
Ara mendesis kesal.
"Sekarang katakan..kamu sendiri kenapa menatap aku kayak gitu?"
Lalu dia tersenyum.
"Soalnya wajah kakak tampan banget.." kata Ara tersenyum seraya menelusuri setiap bagian wajah Rafa. Alisnya yang seperti ulat bulu.. matanya yang indah, hidung mancung, ke-dua pipinya yang kokoh, bibir yang tebal kemerahan.
Rafa tertawa kecil.
"Terimakasih sayang, aku senang banget kau puji seperti ini.." mengecup bibir Istrinya lagi. Lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
"Kak, nanti di sana akan banyak hadir wanita cantik dengan pakaian mereka yang kekurangan bahan kan?"
Wajah Rafa mengerut mendengar ucapannya.
"Aku nggak suka ya kakak lirik lirik mereka, apalagi sampai dekat dekat ." kata Ara menatapnya tajam.
"Hahaha..." Rafa tertawa keras.
Melihat kecemburuan istrinya.
"Kok tertawa sih? pasti senang kan menghayalkan keindahan yang nanti akan di lihat di sana?" Ara semakin cemberut.
__ADS_1
"Sayangku.." Rafa memegang wajahnya dan di dekatkan pada wajahnya, kening dan hidung mereka saling menempel.
"Aku tidak tertarik sayang. Meski mereka telanjang bulat di depanku, aku tidak akan tergoda. Itu malah menjijikkan bagiku. Mereka yang tidak menjaga tubuh mereka dari pandangan lelaki dan malah dengan sengaja memperlihatkan auratnya."
"Hanya tubuhmu yang terindah di mataku...yang dapat menggoda dan menggoyahkan imanku meski kau menutupinya." Rafa mengecup bibirnya.
"Jangan berpikir buruk begitu. Aku selalu menjaga hatiku dari hal hal seperti itu. Buat apa aku menghayalkan tubuh kotor mereka sementara punyamu lebih indah sayang? sangat indah...." kembali mengecup dan mencium sesaat.
"Jangan memikirkan hal itu, nanti stress. Kasihan kan nanti akan berpengaruh pada calon baby kita..!"
"Atau kita nggak usah hadir saja sayang, kita balik saja ya? aku nggak ingin kamu khawatir padaku. Aku akan menyuruh Wisnu untuk mewakili ku." mengusap ngusap bibir merah istrinya. Benda kenyal itu terus menggodanya.
Seandainya saja bukan di dalam mobil bersama Wisnu, dia pasti melahap terus benda kenyal basah itu.
"Jangan kak, aku nggak ingin Cindy dan tante Dinda kecewa. Mereka udah berulang kali menghubungi ku meminta untuk datang. Aku percaya kok sama kakak...aku nggak akan mikir macam macam lagi deh..."
"Bukan soal kamu percaya sama aku sayang, tapi aku nggak ingin kamu kecapean, lelah berdiri ke sana kemari, atau duduk terlalu lama." kata Rafa seraya mengalihkan mata dan tangannya pada perut istrinya. Dia mengusap ngusap lembut perut Ara.
"Aku akan baik-baik saja kak, kakak jangan khawatir. Nanti kalau aku capek, aku akan menghubungi kakak."
"Sayang...di acara itu akan banyak tamu undangan yang hadir, nanti kamu akan bersentuhan dengan mereka. Aku nggak mau tubuh kamu bersentuhan dengan para lelaki di dalam sana. Atau di sentuh mereka meski itu tidak sengaja. Kita pulang saja ya sayang ya?"
"Tanggung dong kak, kita udah sampai. Aku mau ketemu teman-teman ku. Kita nggak lama di sana, sejam saja. Setelah itu kita pulang.
Ya kak ya?" pinta Ara merengek.
Dia mengecup ngecup bibir dan mata suaminya membujuk.
Tapi lama lama hidungnya malah mengendus leher suaminya yang Wangi. Dia sangat suka.
"Kakak Wangi banget..." menyesap Aroma wangi tubuh Rafa. Dia bahkan membuka dasi kupu kupu Rafa dan kancing kemeja atas, lalu melanjutkan ciumannya.
"Sayang..kamu menggodaku ya? aku dari tadi udah tegang nih. Jangan membuat ku semakin tersiksa menahannya." kata Rafa merasakan keanehan Istrinya muncul lagi. Bawaan dari kehamilannya.
"Tahan dong kak, masa gitu aja nggak kuat?" jawab Ara di sela ciumannya.
Entah kenapa dia sangat melakukan hal ini tanpa rasa malu. Sangat suka mencium tubuh Rafa dan menyentuhnya. Padahal dia sangat pemalu, penakut dan terlalu takut pada suaminya.
"Mungkin saja karena keinginan bayiku ya?" batinnya. Dia tidak tahan untuk tidak melakukannya.
"Mana bisa tahan sayang? menghayalkan dirimu dari jauh saja aku langsung tegang, apalagi kamu sentuh begini. Aku benar-benar nggak mampu untuk menahannya sayang." Rafa membawa tangan istrinya menyentuh miliknya yang udah tegang sejak tadi.
Sudah menegang sewaktu Ara masih duduk di sampingnya dan di peluk. Apalagi Ara sudah dalam pangkuannya begini dan menyentuhnya. Dia benar tersiksa dan frustasi. Tidak mungkin menyalurkan hasratnya di dalam mobil begini.
Ara tidak akan mau melakukannya.
*****
__ADS_1
Maaf baru up π
Terimakasih yang masih setia menunggu kelanjutan Rafa dan Ara π