Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 105


__ADS_3

...Happy Reading....


Sebuah pesan masuk dalam ponsel Rafa mengalihkan tatapannya dari Ara. Dia membacanya sesaat, lalu kembali melihat pada Ara."Keluarlah, pergilah ke kampus." katanya kemudian.


"Kakak gak marah kan? tolong jangan marahi kak Nesa. Aku janji akan mengganti uang kakak. Aku akan bekerja keras setelah aku sarjana." kata Ara. Dia berharap Rafa tidak marah kepada dirinya dan terutama pada Nesa.


Rafa menatapnya. Wanita ini tidak menyerah untuk meminta maaf demi menyelamatkan orang lain. Rafa mendekat, menatap lekat mata teduh yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Ara menarik mundur wajahnya. Kembali tidak tenang.


Rafa malah kembali mendekatkan wajah mereka. Tangan kanannya bergerak ke atas, memperbaiki letak kaca mata Ara yang miring. Juga menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah Ara


"Selamat ulang tahun, semoga kau sehat terus dan panjang umur. Semoga hari mu selalu di penuhi kebahagiaan. Terima atas kue tartnya." bisiknya lembut. Menatap dalam-dalam wajah di depannya.


Wajah Ara mengernyit mendengar ucapannya. Dia menatap wajah tampan yang sangat mirip dengan suaminya ini. Yang perbedaannya hanya pada hidung. Hidung Rafa yang lebih tinggi dari suaminya.


Sejenak mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya Ara menoleh ke sebelah."Terimakasih kakak ipar." ucap Ara. Dia menyangka Rafa akan memberi ucapan dan doa padanya. Di kiranya Rafa tadi akan memarahinya.


"Keluarlah, jangan berkata kata lagi untuk melindungi kak Nesa. Kau sendiri tahu dia salah bergaul dengan orang-orang yang tidak benar. Saling bersaing dan foya-foya menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat." lanjut Rafa kembali.


"Dan kartu ini __simpan kembali untukmu. Kartu ini memang sengaja aku berikan untukmu. Bukan untuk si kembar. Kau bisa pakai jika butuh sesuatu atau apapun yang kau perlukan." meletakkan kartu kredit di tangan Ara.


Ara kaget. Seakan tak percaya. Dia ingin tapi batal dengan ucapan Rafa.


"Jangan membantah, atau aku benar-benar akan marah dan menghukum mu di sini." potong Rafa segera.


Ara terdiam. Dia menatap kartu kredit di tangannya. Dia tidak menyangka Rafa memberinya kartu kredit yang hanya bisa di miliki oleh kalangan milyarder. Perlahan Ara menyimpan benda tipis itu ke sakunya. Lalu segera berbalik dan membuka daun pintu. Tapi dia batal melangkah keluar balik karena teringat sesuatu.


"Kak__" panggilnya pelan memberanikan diri.


"Apa lagi?" Rafa menatapnya.


"I__ itu." Ara menunjuk ke arah perut Rafa.


"Ba-bagaimana luka kakak? Apa sudah kering?" tanyanya pelan.


Dahi Rafa mengerut.


"Ternyata dia masih ingat dan peduli dengan luka di tubuhku," gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


"Sudah membaik, kamu tidak usah khawatir." jawab Rafa kemudian.


"Syukurlah." ucap Ara lega. Dia kembali berbalik dan segera melangkah keluar. Saat di luar pintu, dia berpapasan dengan Wisnu yang hendak masuk.


Sekretaris itu menundukkan kepala ke padanya, lalu segera masuk ke kamar tuannya setelah Ara menjauh.


"Kau sudah menghubungi mereka?" tanya Rafa sembari memeriksa email yang masuk.


"Sudah tuan, mereka sedang melakukan persiapan. Dan pesawat yang akan membawa Nyonya besar, Nyonya Nesa, Nona levina, Tuan muda dan Nona Ara juga sementara di persiapkan."


"Perketat penjagaan di 4 titik hotel dan cari orang orang kita yang profesional untuk mengawal mama, kak Nesa Raka dan Ara begitu mereka tiba di bandara."


"Baik tuan, kita berangkat sekarang, karena sebelum launching anda akan menghadiri undangan penting dari Yayasan kampus." jawab Wisnu sopan.


Rafa memakai jasnya. Tiba tiba dia teringat akan kertas permintaan Ara. Dia segera merogoh kantongnya.


"Apa yang di tulisnya hingga menyuruh ku untuk segera mengabulkannya?" gumamnya penasaran.


"Tuan, Nona muda sudah berangkat dengan ojek langganannya." kata Wisnu yang baru saja menerima pesan dari penjaga gerbang utama. Matanya melirik kertas yang di pegang tuannya.


"Suru orang mu untuk mengawasinya sampai ke dalam kampus. Ikuti kemanapun kakinya melangkah. Tapi jangan sampai menimbulkan kecurigaan teman temannya."


Rafa khawatir dengan penampilan cupu Ara yang sudah pasti akan menjadi bahan tertawaan dan olokan dari teman temannya. Terutama dari orang orang yang tidak menyukai Ara.


Rafa kembali fokus pada kertas di tangannya.


Dia segera membuka lipatannya, perlahan mulai membaca tulisan di dalamnya.


Tiba tiba dia tertawa kecil begitu selesai membacanya. Di kiranya permintaan yang mewah, tapi ternyata ....


"Wisnu, ambilkan obatku." perintahnya


Wisnu kaget mendengar perintah itu. Obat? Kenapa tuan tiba-tiba meminta obatnya?


Sejak lukanya di jahit oleh Rizal, tuannya tidak mau menyentuh apalagi meminum obatnya, hingga membuat lukanya tidak kunjung kering dan sembuh.


Bingung tapi senang, dengan gerakan cepat Wisnu segera mengambil obat tuannya yang ada di laci nakas, dan juga mengambil air minum. Lalu di serahkan pada Rafa.

__ADS_1


Dengan mata tertutup Rafa menerima obat dari Wisnu, lalu segera meminumnya sekaligus. Kemudian menepuk dadanya agar benda benda kecil itu segera jatuh ke perutnya.


Wisnu tersenyum lega.


"Sebenarnya apa yang ditulis Nona muda pada kertas permintaannya?" batinnya.


Apa pun itu, dia sangat berterima kasih pada nona mudanya. Sungguh wanita muda itu selalu membawa kebaikan pada diri tuannya.


Apa isi pesan permintaan Ara?


Kakak ipar.


Tolong diminum obatnya secara rutin dan teratur, biar luka kakak cepat sembuh.


Aku mohon. Habiskan ya kak, sampai luka kakak benar benar kering dan sembuh. Aku meminta ini karena aku tahu kakak trauma pada obat obatan.


Satu lagi permintaanku, boleh nggak kak?


Tolong kembalikan mbak sita untuk kerja lagi di rumah ini sebagai pengasuh si kembar. Entah kerja di mana dia saat ini, aku merasa sangat bersalah dan khawatir padanya.


Aku mohon kak πŸ™


ARA.


Rasa kepeduliannya terhadap sesama memang sangat tinggi, gumam Rafa tersenyum setelah membaca pesan itu.


Sebenarnya Rafa tidak memecat Sita, tapi Sita di pindahkan menjadi pelayan di mansion pribadinya yang berada di kawasan X. Agar Nesa mengurusi si kembar dengan kedua tangannya sendiri tanpa mengandalkan pelayan.


Rafa kesal saat itu, melihat Ara melayani


si kembar di meja makan, membuat Ara tidak dapat menikmati makannya dengan nyaman.


Sementara Nesa hanya asik sendiri dengan makanannya tanpa peduli pada kedua anaknya.


Makanya dia memecat Sita dan juga menyita kartu kredit Nesa untuk memberi pelajaran pada kakaknya itu.


Rafa memerintah Sita untuk mengganti nomor teleponnya agar Ara tidak bisa menghubunginya, dan Sita juga di larang menghubungi Ara dan orang orang rumah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2