Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 203


__ADS_3

Dengan menggunakan mobil Sonya, ke duanya menuju rumah sakit tempat kakek Sonya di rawat. Sebelumnya singgah terlebih dahulu di toko bunga membeli bunga dan juga di minimarket membeli buah.


"Ra, makasih ya sudah bersedia menemani ku mengunjungi kakek. Kakek pasti sangat senang bertemu dengan mu!"


"Sama sama Son, tapi kenapa ya kakekmu ingin bertemu dengan aku?" tanya Ara heran.


"Aku mengatakan pada kakek kalau kau teman magang yang baik di kantor m Kamu orang yang sangat baik, jadi kakek ingin berkenalan dan menjalin silaturahmi dengan mu. Dia sering memintaku untuk mengajakmu ke rumah!" ujar Sonya menjelaskan.


Ara tersenyum dengan wajah mengernyit mendengar penjelasannya."Kau terlalu berlebihan muji aku di depan kakekmu Son__!"


"Tapi benar lo, kamu orang baik!" timpal Sonya sembari tersenyum.


Tidak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan tempat kakek Sonya di rawat.


Di dalam ruangan fasilitasnya mewah, terlihat seorang perempuan hampir setengah abad menemani dengan duduk di dekat tempat tidur pasien, yang merupakan mama Sonya.


"Ma..." sapa Sonya begitu masuk.


"Assalamualaikum." ucap Ara sambil tersenyum begitu masuk.


Mama Sonya menyambut mereka.


"Ini Ara ma, teman magang aku di perusahaan yang aku katakan pada kakek."


Mama Sonya tersenyum dan segera menyambut Ara."Hai nak, jadi ini Ara ya," sapanya ramah.


Ara tersenyum dan segera menyalami mama Sonya dengan mencium tangannya.


"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Sonya seraya menatap kakeknya yang sedang tertidur. keduanya beranjak mendekati tempat tidur kakeknya.


Ara mengikuti dari belakang.


"Kakek baru saja tertidur setelah di beri obat penenang oleh dokter." kata mama Sonya.


"Ini Kakek ku Ra..." kata Sonya.


Ara menyentuh tangan kakek Sonya. Salim sejenak, lalu membacakan surah pendek, berdoa semoga cepat di beri kesembuhan.


"Kakek sedang tidur, sayangnya dia tidak dapat melihat dirimu."


"Nanti mama akan katakan kalian datang kesini. Dan biar kakek percaya, mama akan mengambil foto kalian, berdirilah dekat dengan kakek." kata mama Sonya.


"Boleh ya Ra?"


"Tentu Son..," jawab Ara.


Mereka segera berdiri di dekat kakek Sonya, dan mama mengambil dua foto.


"Makasih ya Ra. Kakek pasti senang mengetahui kau datang mengunjunginya."


Ara tersenyum mengangguk.


"Papa belum datang ya?" Sonya menanyakan ayahnya yang tidak berada di ruangan.


"Papa mu sedang berada di ruang atas."


"Siapa yang sakit ?"


"Dion, anaknya Tuan Raymond alkas dan Nyonya Dinda."


Ara dan Sonya saling berpandangan.


"Kak Dion di rawat di sini?" tanya Ara kembali.


"Iya, dia masuk semalam."


"Son, kita keruang kak Dion yuk, aku ingin menjenguknya." pinta Ara.


"Baik. Aku juga ingin menjenguknya."


Mereka segera keluar setelah pamit pada mama Sonya.


"Kebetulan sekali ya Son, kak Dion di rawat di rumah sakit yang sama dengan kakek mu."


"Tentu saja Ra, karena rumah sakit ini punya ayahnya." kata Sonya.


Oohh... Ara manggut-manggut sedikit kaget.


Setelah sampai di atas mereka langsung menuju ruangan Dion, satu satunya ruangan di lantai atas khusus bagi sang pemilik rumah sakit.


Sonya mengetuk pintu. Ara mengucapkan salam. Lalu keduanya masuk.


Ruangan inap yang mewah dan luas. Mempunyai ruang tamu dan ruang makan dapur dan fasilitas lainnya.


"Sonya?" ucap seorang wanita cantik. Dia


Agak terkejut melihat Sonya. Usianya sama seperti mama sonya. Merupakan mama Dion. Dinda. Wanita itu segera bangkit berdiri mendekat Keduanya.


"Halo tante." jawab Sonya menyalami mama Dion. Sonya juga segera menyalami tuan Raymond Alkas dan juga papanya yang sedang ngobrol di ruang tamu.


"Oh ya tante, kenalin ini teman aku, teman magang aku di perusahaan, namanya Ara."


Dinda kaget mendengar nama Ara di sebut.


"Ara?" ulangnya kembali bertanya. Dahinya mengerut. Dia memandangi Ara sejenak dari kaki hingga atas, lalu menatapi wajah Ara yang tersenyum padanya.


Mata teduh, senyuman manis, tatapan lembut yang menenangkan, gumamnya dalam hati.


Ara segera menyalami mama Dion dengan mencium punggung tangannya. Dia juga mengalami papa Dion dan papa Sonya.


"Mama yang mengatakan Dion di rawat disini, makanya kami ke sini. Kebetulan kami datang menjenguk kakek. Oh ya bagaimana keadaan Dion tante?"


Dinda melangkah mendekati ranjang Dion. Sonya dan Ara mengikutinya. Ara menatapi tubuh Dion yang terbaring dengan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya. Tubuh itu terdiam dengan mata terpejam. Ada beberapa alat terpasang pada tubuhnya.


Ara memandangi dari kaki hingga kepala.


Wajah Dion yang lebam, memar membiru.


Juga terlihat pada bagian tubuh atasnya yang terbuka ada beberapa luka yang terlihat di sana.


Ara mendesah sedih dan meringis melihat keadaan tubuhnya yang memprihatinkan.


Perlahan dia menyentuh tangan Dion yang terluka karena sobekan pisau akibat melindungi dirinya. Telapak tangan itu terbungkus perban. Lalu pandangnya beralih pada luka di perut Dion yang juga sudah tertutup perban.


"Kakak terluka dan sakit seperti ini gara gara aku. Maafkan aku kak. Aku berhutang nyawa padamu." batin Ara sedih, matanya berkaca-kaca.


Pergerakannya tak luput dari perhatian Dinda dan Sonya. Sonya menarik pelan tangan Dinda menjauh dari ranjang Dion.


"Tante, Ara adalah teman Dion di kampus."


Dahi Dinda mengerut.


"Kampus?" ulangnya Kembali terkejut.


"Iya. Oh ya tan, boleh aku nanya sesuatu?" sambung Sonya kembali.


"Kamu ingin menanyakan apa?"


"Sejak Dion masuk dan di rawat di sini, apa sudah ada teman perempuan yang datang mengunjunginya? Maksud aku wanita teman dekat Dion atau kekasihnya?" tanya Sonya ragu ragu.

__ADS_1


Dinda mencoba mengingat, lalu menggeleng.


"Gak ada Son, belum ada. Tapi saat Dion mengigau dalam tidurnya, dia selalu menyebut nyebut nama seseorang."


Sonya melongo.


"Nama seseorang? Siapa tante?"


"Tante kurang jelas mendengarnya." kata Dinda sambil menoleh pada Ara yang sedang menatap terus pada Dion tanpa bergeming.


"Apa gadis ini yang selalu di ucapkan Dion dalam tidurnya?" batinnya dalam hati.


Sejak semalam Dion mengigau menyebut dan memanggil nama Ara.


Tapi dia tidak mau mengatakannya pada Sonya karena ingin menjaga perasaan gadis ini.


Sonya berpikir setelah mendengar perkataan Dinda."Jika seharian ini tidak ada perempuan yang menjenguk Dion, itu artinya wanita yang di kejar Dion di kampus antara Ara dan Ines." batin Sonya.


Dia menoleh pada Ara yang berdiri dekat di ranjang Dion dengan mulutnya yang komat-kamit membaca surah surah pendek.


Wajah Dion tiba tiba bergerak gerak, buliran keringat muncul dari pori pori kulit wajahnya. Dia terlihat gelisah dengan mata yang terpejam.


Ara kaget melihat dirinya.


"Tante, kak Dion kenapa?" menoleh pada Dinda dan Sonya.


Kedua wanita itu segera mendekat.


Dion semakin gelisah.


"Kak, kakak kenapa?" ucap Ara panik seraya memegangi tangan Dion yang bergerak gerak seolah-olah menggapai sesuatu. Dion langsung memegang kuat tangannya, lalu dia tiba-tiba berteriak agak keras.


"Ara..." dan langsung tersadar dari mimpi buruknya. Dion membuka mata, nafasnya memburu cepat, keringat semakin banyak membasahi wajah dan tubuhnya.


Baik Sonya, Dinda dan Ara terkejut mendengar teriakannya. Terlebih lagi Sonya terbelalak, mendengar Dion menyebut nama Ara.


"Ara? Jadi yara gadis yang di kejar nya selama ini dengan berpura-pura menjadi mahasiswa?" batinnya menoleh pada Ara yang terlihat panik dan cemas.


"Kaka? Dion kenapa?" panggil Ara pelan.


Dion langsung menoleh ke arah suara di sampingnya, dia kaget sekaligus senang melihat Ara di sampingnya.


"Ara." ucapnya senang menatap wajah Ara yang tersenyum padanya.


"Ara.. ," ucapnya lagi tersenyum bahagia melihat wanita yang di cintainya ada di sini.


Wanita yang sejak semalam muncul terus dalam mimpinya. Dia memegangi tangan Ara dan berusaha untuk bangun.


"Kakak berbaring saja, kondisi tubuh kakak belum memungkinkan untuk duduk." Ara menahan tangannya.


Dion kembali merebahkan tubuhnya. Tak berkedip dia menatap pada Ara.


"Kamu ada di sini? Aku tidak menyangka kau akan ada di sini?"


"Aku kesini sama Sonya, kebetulan kami menjenguk kakek Sonya. Kata mama Sonya kakak sedang di rawat di sini." kata Ara sambil menoleh pada Sonya.


"Hay Dion..," sapa Sonya memaksa tersenyum. Dion tersenyum sekilas padanya.


"Aku yang membawa Ara ke sini, kamu terlalu senang melihat Ara sampai tidak memperhatikan orang lain yang berada di depanmu." ujar Sonya kembali.


Sedangkan Dinda hanya terdiam memandangi putranya yang terlihat bahagia menatap Ara tanpa melepaskan pegangannya pada tangan gadis itu. Selama menjadi ibu bagi Dion, baru kali ini dia melihat wajah putranya di hiasi kebahagiaan karena seorang wanita.


"Ma..." panggilan Dion membuyarkan lamunannya.


"Ya nak..," jawabnya seraya segera menatap wajah Dion.


"Ini Ara, teman wanita ku." kata Dion.


"Ara, ini mamaku." Dion memperkenalkan mamanya pada Ara.


"Iya kak, tadi Sonya sudah memperkenalkan mama kakak kepadaku." jawab Ara Kembali tersenyum, menatap pada Ny Alkas dan Dion bergantian.


"Aku benar-benar minta maaf, karena aku kakak jadi seperti ini. Aku merasa sangat bersalah melihat kakak terbaring kesakitan dan menderita seperti ini." ucap Ara sedih.


"Ssst, Ara__jangan ngomong begitu." Dion langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Ara.


Sonya langsung menunduk melihatnya. Perlahan dia mundur dan menjauh. Duduk di sofa dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sekarang dia sudah dapat memastikan wanita yang di kejar dan di cintai Dion adalah Ara, melihat perhatian dan bahasa tubuh Dion yang sangat lembut pada Ara, wajah bahagianya dengan keberadaan Ara di tempat ini.


"Ara, terima kasih sudah datang menjenguk putra tante. Dion sangat senang dan bahagia dengan kehadiranmu. Lihat, sejak tadi dia memegang terus tanganmu dan tidak melepaskannya." ujar Ny Alkas tersenyum menggoda anaknya.


Dion jadi salah tingkah dan baru menyadari perkataan mamanya, memang sejak tadi dia memegang tangan Ara. Perlahan dia melepaskan tangan Ara.


"Mama tinggal dulu sebentar ya Dion, kalian ngobrol dulu." kata Dinda, lalu segera beranjak pergi meninggalkan keduanya mendekati Sonya.


Ara mengambil tissue lalu mendekat sedikit pada Dion.


"Kakak berkeringat." ucapnya sambil me lap keringat di wajah dan leher Dion dengan hati hati.


Dion memperhatikan wajahnya. Sungguh tiada kebahagiaan yang dapat menandingi kebahagiaan yang dia rasakan saat ini melihat keberadaan Ara di sini.


"Ara..." bisiknya pelan


"Ya__." jawab Ara sambil terus melap keringat pada leher, bahu lengan dan dada Dion.


"Terimakasih sudah mengunjungi ku." menatap wajah Ara.


Ara mengangguk tersenyum.


"Aku justru sangat senang bisa mengunjungi kakak, dari semalam aku cemas memikirkan keadaan kakak. Aku malah bersyukur dan sangat berterimakasih pada Sonya karena membuat aku bisa melihat kakak di sini."


"Kamu bisa kenal sama Sonya?"


"Sonya dan aku magang di perusahaan yang sama. Kami berdua teman dekat." jawab Ara sambil menghentikan gerakan tangannya lalu menatap Dion.


"Kak...." panggilnya pelan.


"Hhmmm?" menatap Ara.


"Kenapa kakak menolak di jodohkan dengan Sonya? Sonya gadis baik dan cantik, dia juga menyukai kakak."


Dion membuang nafas berat.


"Aku tidak suka di jodoh jodohkan. Aku ingin mencari kebahagiaan dalam hidupku tanpa harus terikat dengan sebuah perjodohan." jawabnya sambil menatap ke langit langit kamar.


"Apa Sonya yang memberitahumu?" menatap Ara kembali.


Ara mengangguk.


"Kejadian yang terjadi pada kita semalam viral di dunia maya, Sonya melihat kakak dan aku. Dia menanyakan apa aku mengenal kakak? Ku jawab Iya. Kami terus bercerita dan akhirnya dia mengatakan pernah di jodohkan dengan kakak dulu." menjelaskan.


Dion kembali menatap langit langit."Ayah dan kakeknya menjodohkan kami, kejadiannya sudah lama sewaktu Sonya masih SMA. Aku meminta maaf padanya karena tidak bisa menerima perjodohan itu. Dia juga menyetujuinya. Aku sudah menganggapnya sebagai adik." kata Dion Kembali.


"Oohh, begitu ya?" kata Ara mangut mengerti. Dia teringat sesuatu, lalu senyum senyum.


Dion menatapnya lekat, merasa ada sesuatu yang aneh melihat senyuman itu. Senyuman yang membuat wajah ayu itu semakin manis.


"Ada apa senyum senyum gitu?"


"Gak ada apa apa." kata Ara sambil geleng-geleng.

__ADS_1


"Uda belajar berbohong ya?"


Ara menatap Dion.


"Bukan aku yang bohong, tapi kakak."


Alis Dion terpaut.


"Aku? bohong apa?"


Ara mendekat kan tubuhnya."Kenapa anda nggak jujur sama aku tentang statusmu tuan Dionel Raymond Alkas, Wakil Presiden direktur DRA Group, sekaligus pewaris tunggal DRA Group, yang sudah menyelesaikan kuliah Pascasarjana nya di Amerika dan berpura-pura menjadi mahasiswa di kampus ku? hhmm?" Ara memajukan bibirnya menatap Dion sambil tersenyum kecut.


Dion tertawa kecil melihat wajah lucunya yang menggemaskan. Tawanya mengundang perhatian Dinda.


"Kok malah tertawa sih?" Ara menatap cemberut.


"Habisnya wajah kamu lucu. Bibir mu monyong monyong gitu." mencubit hidung Ara.


"Ih__" Ara berusaha melepaskan cubitan Dion.


Tapi Dion tak mau melepas, terus menggoda wanita yang di cintainya ini.


"Lepas kak malu nanti di lihat Sonya sama mama kakak." Ara melepas kuat tangan Dion, tanpa sadar dengan kondisi tubuh Dion.


"Awww..." Dion menjerit merasakan sakit pada tangannya yang terluka.


Ara terkejut dan segera memegang tangan Dion.


"Aduh maaf kak, tidak sengaja." meraba raba tangan Dion.


"Sakit ya? maaf ya?" ucap Ara merasa bersalah.


Dion masih pura pura kesakitan sambil tertawa dalam hati.


Perlahan Ara menyentuh luka luka di tubuh Dion."Pasti sakit ya kak?" ucapnya lirih menatap Dion dengan sedih.


"Mendekat lah." bisik Dion.


Dahi Ara mengernyit, lalu mendekat.


Dion mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh lembut wajah Ara. Dia tersenyum memandangi wajah manis di depannya.


"Sakit ini tidak terasa dan tidak berarti apa-apa bagiku, asal kau baik baik saja. Aku sangat senang melihat dirimu selamat, baik baik saja dan sehat tidak kurang apa pun. Jadi jangan merasa bersalah dan sedih seperti ini. Percayalah, aku baik baik saja tidak merasakan sakit sedikit pun." menatap wajah Ara dalam dalam.


Dari tempat duduknya, Dinda menghela nafas melihat apa yang di lakukan putranya pada Ara. Untung saja Sonya duduk membelakangi mereka sehingga tidak melihat perlakuan lembut Dion pada Ara.


"Siapa gadis ini? siapa dia yang mampu membuat putraku tersenyum bahagia dan jatuh cinta untuk pertama kalinya?" batinnya.


Dari sekian banyak gadis yang mengejar dan menyukai Dion, semuanya gadis cantik dan berpendidikan tinggi. Dari kalangan atas yang sederajat dengan mereka. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang membuat putranya tertarik. Malah gadis cupu ini yang mampu membuat Dion tertarik dan merasakan cinta.


Dan mengenai teman kampus yang di ucapkan Sonya tadi? Ara adalah teman kampus Dion, apa maksudnya?


Sementara Dion sudah menyelesaikan kuliah S2 dan S3 di Amerika. Lalu untuk apa dia kuliah lagi?


Dinda kembali memperhatikan putranya yang tersenyum senyum bahagia sambil menyentuh lembut wajah dan tangan Ara bergantian.


Ara segera menahan tangan Dion saat menyentuh bibirnya.


"Kenapa? Kamu takut aku akan mencium mu seperti semalam?" kelekar Dion tanpa sadar.


Mata Dinda membulat mendengar kata kata putranya.


Sementara Ara segera menutup mulut Dion sambil menatap kesal."Kakak ngomong apa sih? Bicara sembarangan."


Dia melirik pada mama Dion dan Sonya yang sedang menunduk.


Dinda pura pura tak mendengar perkataan mereka dan segera melihat ponselnya.


Sementara Sonya tak mendengar karena telinga nya tersumbat headset mendengar musik. Dan itu memang sengaja di lakukan.


"Makanya kamu jangan bandel, supaya tidak kucium."


"Jangan ngomong itu lagi." Ara semakin melototinya. Dion malah menarik tangannya agak kuat, membuat Ara hilang keseimbangan dan jatuh terjerembab di atas dada Dion. Dengan gerakan cepat Dion mengecup pipi kanan Ara karena jatuh menimpa pada bibirnya.


Ara terkejut, belum hilang rasa kejutnya, sebuah kecupan mendarat cepat di bibirnya.


Ara terbelalak, dan segera menarik tubuhnya mundur.


Dia terdiam menunduk dengan wajah memerah, kesal dengan apa yang di lakukan Dion. Dadanya bergemuruh kuat. Sedih, kesal dan takut campur aduk jadi satu.


Sedangkan Dinda kembali terbelalak menyaksikan secara sembunyi sembunyi apa yang di lakukan Dion pada Ara, mencium wanita itu.


"Ara, kamu marah padaku ?" ucap Dion melihat Ara menunduk diam meremas kedua tangannya dengan wajah memerah mata berkaca-kaca.


Ara mendesah sedih.


"Maafkan aku Ara." ucap Dion Kembali menyentuh tangannya yang sedikit gemetar.


Ara menarik tangannya dan bangkit berdiri.


"Aku pamit dulu. Nanti aku akan datang lagi kesini. Semoga kakak segera sembuh." katanya pelan.


"Ara, maafkan aku, tolong jangan marah." menahan tangan Ara, melihat emosi pada wajah Ara.


"Aku nggak marah. Aku hanya nggak suka dengan apa yang kakak lakukan padaku. Aku kecewa." kata Ara serak.


Dion segera meraih tangannya, tapi Ara menarik tangannya.


Dion meringis memegang perutnya karena pergerakan itu. Ara terkejut dan segera mendekati.


"Kakak maaf..." ucapnya memeriksa perut Dion yang terluka. Dia menyentuh pelan sembari memeriksa.


Dion cepat memegang kedua tangannya .


"Maafkan aku, tolong jangan marah ya?"


Ara menatapnya dengan kesal.


"Jangan lakukan itu lagi."


"Iya, aku janji." ucap Dion cepat sambil mengangkat dua jari tangannya.


Terdengar suara telepon Ara.


Si kembar. Ara langsung tersenyum membaca pesan mereka.


"Siapa? Kakak iparmu?" tanya Dion.


"Bukan, keponakanku, si kembar." menyimpan ponselnya. Dia teringat dengan janjinya pada ke dua bocah itu. "Kak, aku pamit dulu, besok aku kesini lagi." kata Ara. Dia juga sudah janji pada Rafa untuk pulang cepat.


Tubuh Dion langsung lesu dan lemah mendengarnya pamit pulang. Tapi dia juga tidak bisa menahan Ara, mengingat waktu sudah malam dan keduanya baru pulang kerja, butuh istirahat.


"Oh ya Cindy udah datang ke sini?" tanya Ara teringat Cindy.


"Kata mama, tadi pagi dan selepas dzuhur dia datang. Tapi aku sedang tidur."


"Ohh gitu! Nanti aku akan datang lagi bersama Ines! Cepat sembuh ya...!"


"Terimakasih Ra, sudah mengunjungi ku, hati hati di jalan." Dion memegang tangan Ara sejenak, menatapnya wajahnya lekat.

__ADS_1


Setelah pamit pada orang tua Dion, Sonya dan Ara segera pulang.


Bersambung.


__ADS_2