
Kepanikan terjadi di mansion pribadi setelah menyadari Ara tidak berada di kamar. Kecemasan, ketakutan menghias di wajah semua penghuni rumah megah tersebut saat membayangkan kemarahan dan kemurkaan tuan mereka atas kelalaian mereka menjaga Ara, istri tuannya.
Rafa duduk sangat gelisah tidak tenang seperti orang yang hilang akal. Berteriak teriak merutuk dan menyalahkan dirinya. Dia membuang jasnya di jalanan karena jijik dengan bau berbagai aroma parfum dari wanita wanita yang menempel pada dirinya tadi seperti lintah. Perempuan binal yang hendak mendekatinya dengan berbagai cara.
Wisnu hampir saja mematahkan tangan seorang wanita yang menjalar nakal menyentuh tubuh tuannya.
"Lebih cepat Wisnu." perintahnya semakin tidak tenang. Narsih mengabarkan pada Wisnu kalau Ara tidak berada di kamar. Mereka sudah mencari ke semua sudut rumah tapi tidak menemukannya. Telepon Ara juga tidak bisa di hubungi. Selama sejam mereka mencari Ara, tetap tidak menemukannya. Penjaga keamanan sudah memeriksa cctv tapi tidak melihat keberadaan Ara. Penjaga pintu gerbang mengatakan tidak melihat Ara keluar. Sejak tadi pagi belum ada mobil yang keluar masuk selain mobil tuannya. Narsih menyerah mencari, lalu segera menghubungi Wisnu.
"Ara, apa kamu marah padaku? Apa kau ingin meninggalkan aku seperti dulu? Sayang jangan pergi, jangan tinggalkan aku." ucap Rafa sedih menatapi wajah Ara di ponselnya.
"Maafkan aku, seharusnya aku menghubungimu tadi. Seharusnya aku membalas pesan mu, menerima telepon mu! Tapi aku lebih menuruti rasa kecewaku, amarahku dan mengabaikan mu seharian ini, maafkan aku sayang." ucapnya kembali dengan sangat menyesal. Dia teringat pesan Ara tadi.
Kakak ipar, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti kakak, sungguh! Tolong percayalah padaku π π’
Rafa Kembali membuang nafas kasar membaca pesan yang dikirim istrinya.
Entah sudah berapa kali dia membaca pesan itu dengan kesedihan yang mendalam. Dia sendiri seharian ini hanya mengurung diri di kantor, menenangkan diri di ruang kerjanya tanpa melakukan apapun. Hati, otak dan tubuhnya sangat lemah tidak bersemangat untuk bekerja atau melakukan hal lain. Dia duduk dalam kesedihan sambil menatapi Ara yang sedang menangis di tempat tidur sambil menatap wajah Raka. Dia melihat melalui CCTV. Rafa ingin sekali menelpon saat melihat istrinya tidak menyentuh makanan dari sarapan hingga makan siang, tapi dia terlalu kecewa dengan apa yang di lakukan Ara.
Mobil memasuki pintu gerbang utama. Para penjaga keamanan berdiri membungkuk ketakutan menyambut kedatangan mereka.
Setelah mobil berhenti di depan pintu masuk, Rafa segera keluar tanpa menunggu Wisnu membuka pintu mobil. Di depan pintu masuk para pelayan berdiri menunduk ketakutan. Rafa mendengus geram berteriak keras pada mereka. Lalu segera menuju lift, para pelayan segera berlarian cepat menuju tangga untuk naik ke lantai lima sebelum tuannya sampai.
Rafa keluar dari lift mendapati semua pelayan berdiri menunduk tak berani melihat kedatangannya, tubuh mereka gemetaran, wajah pias.
"Apa saja yang kalian lakukan hah? Menjaga istriku saja kalian tidak becus!" teriak Rafa keras penuh amarah.
"Begitu banyaknya kalian di sini tapi tidak bisa mengawasi Nona muda kalian? Percuma aku menggaji kalian tinggi." teriaknya lagi di sertai melempar lampu hias di depan para pelayan dan penjaga keamanan. Dentuman keras memenuhi ruangan tak benda itu jatuh ke lantai, membuat tubuh siapa saja merinding mendengarnya.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada istriku, aku tidak akan memaafkan kalian! Cepat cari istriku sampai ketemu jangan hanya diam saja." berteriak semakin keras, kembali melempar hiasan keramik besar kearah mereka hingga pecah berkeping-keping.
Para pelayan menjerit ketakutan dan menghindar pecahan keramik.
"Nona muda." seru Sita yang tidak sengaja melihat Ara berdiri tidak jauh dari samping Rafa.
Semua mata mengikuti pandangan Sita,
termasuk Rafa.
Ara tampak berdiri gemetaran ketakutan, wajah pucat pasi basah air mata akibat menyaksikan kemarahan Rafa. Saking takut dan gemetar, ponselnya terlepas jatuh di lantai.
"Ara.." Rafa terkejut juga senang. Dia segera melangkah mendekat.
Ara mengangkat tangannya yang gemetar ke depan, melarang Rafa mendekatinya, karena dia terlalu takut saat ini.
"Jangan mendekat, aku takut." katanya serak sambil mundur.
Rafa tercengang, langkahnya terhenti.
"A_aku dari teras atap. A-aku yang salah tidak memberi tahu pada mereka pergi ke sana. Mereka tidak bersalah. Tolong jangan hukum mereka... jangan hukum mereka...jangan hukum mereka." ucapnya terbata bata dengan bibir gemetaran. Ara menguatkan kakinya yang lemah gemetaran, lalu berbalik melangkah menuju kamar perlahan-lahan.
Rafa terhenyak, terpaku di tempat. Dia menatap kepergian Ara dengan kesedihan. Rafa meninju keras dinding karena merasa bersalah. Para pelayan kembali ketakutan melihat arogansi kemarahannya. Wisnu segera membubarkan mereka dan menyuruh membersihkan ruangan.
Dengan takut dan tubuh gemetar Narsih mendekat.
"Tuan, tadi saya ke teras atap memeriksa, tapi tidak melihat Nona. Sepertinya tubuh nona terlindung sandaran sofa sehingga saya tidak melihat keberadaannya di sana! maafkan saya tuan__maafkan saya. Sepertinya nona tertidur lama di sana menunggu anda. Seharian ini Nona menunggu telepon dari anda berdua. Berulang kali nona bertanya pada saya, apakah anda dan sekretaris Wisnu sudah menelpon ke rumah." kata Narsih memberanikan diri menyampaikan kesedihan dan kecemasan Ara seharian ini.
"Nona muda banyak menangis dan tidak menyentuh makanannya, saya khawatir nona akan jatuh sakit lagi." sambung Narsih kembali.
Rafa semakin sedih dan merasa bersalah.
Karena keegoisan membuat Ara meneteskan air mata seharian ini.
Rafa mengeram keras merasa bersalah dan menyesal dengan sengaja mengabaikan dan menyakiti istrinya. Padahal Ara sudah meminta maaf dan menjelaskan tidak melakukan hal itu melalui pesan yang ia kirim, tapi dia mengabaikan pesan itu. Dia malah enak enakan berkumpul bersama teman-teman bisnisnya dan tetap egois tidak menghubungi Ara. Seharusnya dia lebih menjaga emosi Ara karena Ara baru saja sembuh dari sakitnya. Tapi dia malah kembali membuat Ara menangis.
__ADS_1
Rafa meraung keras sambil meremas rambutnya mengingat kesalahan yang dia lakukan pada istrinya.
Matanya tertuju pada ponsel Ara di lantai. Perlahan dia meraihnya, layarnya pecah. Rafa melangkah menuju kamar, membuka pintu dan masuk. Ara berbaring dengan seluruh tubuh terbungkus selimut. Rafa ingin mendekat tapi ragu, dia khawatir malah akan membuat Ara semakin ketakutan. Lama dia berdiri menatapi tubuh istrinya yang tidak terlihat, tapi dapat di pastikan sedang menangis menyembunyikan kesedihan di dalam selimut.
Beberapa saat kemudian, Rafa melangkah menuju kamar mandi merendam tubuhnya entah berapa lama. Begitu dia keluar waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Perlahan Rafa naik ke tempat tidur. Istrinya sudah tidur dengan mendengar dengkurannya yang halus. Rafa menarik selimut yang menutupi tubuh Ara sampai ke bawah. Istrinya sedang tidur terlentang dengan kepala miring. Terdengar suara sesenggukan dari mulut Ara. Rafa kembali iba, sedih, dan merasa bersalah.
Dia menatap wajah istrinya dengan tatapan lembut, mendekatkan wajahnya dan mengecup kening, mata dan bibir istrinya lembut.
"Maafkan aku sayang, lagi lagi aku menyakitimu dan membuatmu menangis, maafkan aku." bisiknya pelan menyentuh pipi Ara lembut, menyingkirkan beberapa helai rambut menutupi sebagian wajah Ara. Dia mendekat kan tubuhnya lalu berbaring memeluk tubuh Ara dari samping. Tidak berapa lama dia pun tertidur.
Suara alarm membangunkan Ara dari tidurnya, dia mengucek matanya. Satu tangannya merayap rayap di sekitar bantal mencari benda yang berbunyi terdengar dari bawah bantalnya.
Setelah di dapat dia kaget melihat bukan ponselnya, tapi milik Rafa. Sesaat kemudian dia ingat kalau ponselnya jatuh semalam dan rusak. Sekilas matanya melihat tampilan layar wallpaper ponsel suaminya yang sudah berubah. Dulu adalah gambar dirinya sendiri saat memakai dress, sekarang gambar foto pernikahan mereka saat ijab kabul, saat Rafa mencium keningnya dan saat dia mencium tangan Rafa. Ketiga gambar foto itu di jadikan dalam satu bingkai lalu di pasang sebagai wallpaper.
Ara menatap tersenyum, lalu ia menoleh ke sampingnya menatap suaminya yang sedang tertidur miring menghadap ke arahnya sambil memeluk perutnya.
Pelan dan sangat hati hati Ara membalikkan tubuhnya menghadap pada suaminya. Dia menatap wajah Rafa lekat. Tak ada lagi kemarahan di sana, yang terlihat hanya wajah tampan yang tertidur pulas dengan kulit terang, halus, ditumbuhi sedikit kumis dan jenggot yang teratur rapi.
Sedikit takut dan ragu Ara menyentuh wajah tampan ini, mengusap lembut dengan jari telunjuk kanannya mulai dari kening, terus menjalar ke alis yang tebal ala ulat bulu, terus ke bulu mata yang cukup lentik, kemudian ke hidung Rafa yang proporsional mancung ala ala artis Bollywood, selanjutnya ke garis tulang pipi yang kuat tercetak pas dan kotak membuat wajahnya cukup berkharisma dan maskulin, terus turun ke kumis dan jenggot yang tipis tertata indah di cukur rapi membuat wajahnya macho dan maskulin, terus ke dagunya yang runcing di tumbuhi sedikit jenggot tertata rapi, dan yang terakhir jari telunjuknya menyentuh bibir suaminya nampak tebal seksi berwarna kemerahan, bibir yang selalu di pakai mengecup dan mencium bibirnya.
"Maafkan aku kak, belum bisa menjadi istri yang baik dan sempurna untukmu, maafkan aku belum bisa memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri, maaf atas segala sikapku yang menyakitimu." bisyiknya dengan suara sendu, memperhatikan keseluruhan bagian wajah suaminya. Lalu perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening dan bibir Rafa lembut dan hati hati, takut Rafa terbangun. Kemudian perlahan bangun, memperbaiki selimut ke tubuh suaminya, lalu segera turun menuju kamar mandi untuk bersih bersih. Ara sengaja tidak membangunkan Rafa untuk subuh karena tidak mau shalat bersama karena masih takut dengan kemarahan suaminya semalam.
Rafa membuka matanya perlahan, menyentuh bibirnya sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya Ara mengecup bibir dan keningnya secara sadar. Rafa terus membayangkan apa yang di lakukan Ara pada wajahnya tadi. Menelusuri bagian bagian wajahnya dengan lembut hingga terakhir dengan memberikan kecupan pada kening dan bibirnya. Rafa kembali tersenyum. Dia sangat senang dan bahagia. Dia semakin jatuh cinta pada istrinya. Jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama. "Sayangku, aku senang, aku harap kau tidak marah padaku." ucapnya tersenyum sambil terus menyentuh bibirnya sendiri.
Rafa kembali memejamkan mata pura pura tidur ketika mendengar suara langkah kaki Ara keluar dari kamar mandi. Dalam kepura-puraan tidurnya, dia mengetahui istrinya itu sedang mengerjakan shalat subuh.
Setelah menyelesaikan shalat subuh, Ara segera keluar turun ke bawah. Para pelayan rumah megah ini sudah bangun dan mengerjakan tugas masing-masing, mereka menyapa Ara dengan sopan.
Ara menuju dapur untuk melihat sarapan apa yang di buat pagi ini sekaligus meminta maaf pada pelayan.
Sementara di kamar, setelah Ara keluar, Rafa segera bangun dan buru buru mengerjakan shalat subuh.
Para pelayan menyapa Ara saat berpapasan dengannya menuju dapur.
Ara membalasnya dengan sopan sambil tersenyum."Saya minta maaf atas kejadian semalam! Karena saya kalian semua mendapatkan masalah dan kemarahan dari kak Rafa, sekali lagi maafkan saya." ucap Ara menyesal di depan mereka.
"Nona tidak pantas meminta maaf seperti itu. Kami yang salah tidak menemani nona, saya juga yang salah karena tidak melihat nona di teras atap, maaf atas kepikunan ini tidak bisa melihat nona dengan jelas." kata Narsih.
Ara tersenyum.
"Buk Narsih jangan ngomong begitu. Saya yang salah karena tidak memberi tahu pada ibu, sementara kalian sedang sibuk dengan pekerjaan. Untuk itu saya minta maaf. Oh ya buk, sarapan pagi ini apa ya? saya ingin membantu memasak."
"Biar kami saja nona, ini sudah tugas kami, nona bilang saja mau makan apa, nanti kami buatkan." ujar Narsih.
"Saya ingin membuatnya sendiri, ibu buatkan saja sarapan pagi kak Rafa." kata Ara Kembali tersenyum.
"Baik Nona."
Hampir sejam Ara sibuk sendiri dengan membuat sarapan paginya, putih telur orak-arik, smoothies sayuran dan sereal gandum dengan susu rendah lemak di pilih sebagai menu sarapan paginya
"Buk, tolong bantu saya membawanya ke ruang tv. Saya ingin makan di sana." katanya setelah semuanya di tata rapi.
"Baik Nona. " kata Narsih yang mengerti maksud Nona muda nya yang ingin menghindar tuannya di meja makan. Mungkin nona mudanya masih takut bertatap muka secara langsung dengan Rafa.
Sambil menikmati sarapannya, Ara menonton acara sala satu stasiun televisi, Islam itu indah, kemudian di lanjutkan dengan insert pagi. Acara infotainment yang memberikan informasi tentang kehidupan artis tanah air dan juga informasi lainnya.
Sesi berikutnya memberikan informasi tentang acara semalam yang di hadiri Cindy dan Dion. Acara kemewahan pesta itu juga di tayangkan karena yang punya hajatan merupakan sala satu pengusaha terkenal dan orang yang cukup berpengaruh di Indonesia.
Rangkaian kegiatan dalam acara tersebut di perlihatkan, juga para tamu undangan yang kebanyakan para tamu konglomerat, tamu penting lainnya dan juga para artis. Dalam tayangan tersebut di perlihatkan rangkaian acara pesta tersebut. Terlihat juga Rafa di acara tersebut, bahkan dia yang paling mencolok dan menjadi sorotan kamera karena di dikerumuni banyak wanita cantik dan seksi. Wanita wanita itu berusaha mengambil foto dengannya, berdansa, foto bersama dengan kedua mempelai dan tuan rumah serta para pengusaha konglomerat lainnya. Sama seperti yang di perlihatkan Cindy semalam. Ara melihatnya tanpa bergeming sambil terus mengunyah makanannya.
Tiba tiba TV mati, Ara terkejut melihat Rafa muncul di depannya memegang remote. Rupanya Rafa yang mematikan TV. Ara segera bangkit berdiri.
"Selamat pagi kakak ipar." ucapnya pelan sambil menunduk, lalu segera beranjak ke dapur sambil membawa piring makannya.
__ADS_1
Rafa meremas kuat remote yang masih di genggamannya.
Entah apa yang di pikirkan Ara setelah melihat dirinya tadi di TV. Sejak tadi dia berada di belakang Ara melihat Ara sangat serius menonton dan melihat dirinya berdansa bersama para wanita dan beberapa artis, berfoto bersama mereka. Bahkan sang pembawa infotainment mengatakan kalau sala satu dari para artis itu adalah kekasihnya sebagai pengganti dari Levina. Acara pembuat gosip, asal asal ngomong dan menebar berita palsu, maki Rafa.
Dia melempar remote sembarang karena geram.
Entah apa yang di pikirkan Ara mengenai dirinya. Ara melihat TV tanpa bergeming. Makanya dia segera mematikan TV tak ingin Ara melihatnya terus. Dan kini Ara pergi menghindarinya.
Rafa kembali memaki dirinya .
Wisnu datang membawa paper bag berisi ponsel baru Ara.
"Tuan, ini ponsel baru Nona muda."
"Undur agendaku pagi ini." katanya Rafa. Lalu segera menyusul Ara yang menuju dapur.
Para pelayan terkejut melihat kedatangannya, karena selama ini tuan mereka tidak pernah menginjakkan kaki ke dapur. Ara sedang mencuci tangan di wastafel. Ara terkejut saat dua tangan memeluk perutnya dari belakang, di barengi kecupan lembut yang mendarat sala satu pipinya, berlanjut ke bahu dan lehernya. Dari aroma wangi parfum, Ara dapat mengetahui kalau itu adalah suaminya.
"Apa yang kakak lakukan?" merasa risih dan tidak enak pada beberapa pelayan berada di situ yang semakin menunduk melihat apa yang di lakukan Rafa kepadanya.
Ara segera membalikkan tubuhnya?
"Kak." melepaskan tangan Rafa, tapi Rafa kembali memeluk tubuhnya.
"Sayang, maafkan aku, maafkan aku." mengecup puncak kepala Ara berulang ulang.
"Kita sedang di dapur, gak enak sama para pelayan." Ara berusaha melepaskan pelukannya dan mendorong tubuhnya.Wisnu yang datang segera memberi isyarat pada pelayan untuk keluar dari dapur.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Rafa meski dia tahu istrinya bukan sosok pemarah, dan tidak akan pernah marah meski orang menyakitinya.
"Tidak, untuk apa aku marah?"
Rafa mengangkat tubuhnya keatas mendudukkan di atas kitchen set, menekan dan mengurung tubuh istrinya. Ara terkejut, tapi dia lega setelah melihat pelayan tak ada lagi di situ.
"Maafkan aku karena tidak menghubungimu, juga tidak membalas pesan mu." Rafa memegang wajah istrinya.
Ara mengeluh sedih.
"Sayang, maafkan aku." Rafa semakin bersalah.
"Kakak tidak perlu minta maaf, aku tahu kakak sibuk. Seharusnya aku tidak mengganggu kakak dengan pesan dan panggilanku. Aku tidak akan menganggu kakak dengan pesan dan panggilanku! Aku ingin turun, bisakah kakak menyingkir dari hadapanku?" kata Ara menatap tajam meminta dia untuk menyingkir dari hadapannya.
Rafa terhenyak mendengar ucapannya.
"Ara." mendekatkan wajahnya
Ara cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Jangan mencium ku." menarik mundur wajah kebelakang.
Rafa kembali tersentak, menatap kedua mata yang tampak berkaca-kaca.
"Aku mau turun, tolong menyingkir lah." pinta Ara kembali suara serak
"Apa kau marah padaku? Mengenai acara semalam dan wanita wanita itu..." Rafa menatapnya lekat merasakan sikap Ara yang tidak menyukainya.
"Aku sudah bilang, aku tidak marah, buat apa aku marah? Aku yang salah tidak bisa menjadi istri yang baik. Dan mengenai wanita wanita itu, aku tidak masalah kakak mau dekat dan berhubungan dengan mereka. Silahkan lakukan apa yang kakak mau dengan mereka. Aku tidak melarang, toh aku juga bukan istri yang baik, yang tidak bisa menjalankan kewajiban ku pada suami." serak dan bergetar.
Setetes Air matanya jatuh. Lalu dia mendorong tubuh Rafa kuat, dan segera turun dan berlari keluar dari dapur sambil menyapu air matanya.
"Ara..." Rafa terhenyak mendengar kata-katanya. Kata kata yang menandakan kalau istrinya terluka dengan apa yang di dilakukannya semalam.
Wisnu juga merasa bersalah pada nona mudanya. Karena tidak memaksa Rafa membalas dan menghubungi Ara. Ara Rafa tiba tiba meraung keras seraya meremas rambutnya kuat. Kata kata itu sangat menusuk hatinya. Dia menatap kepergiannya dengan sedih, kecewa, menyesal, bersalah campur aduk jadi satu.
... Bersambung....
__ADS_1