
...Happy Reading....
Mobil perlahan melaju meninggalkan sekolah.
Ara gelisah di tempat duduknya karena ingin mengutarakan kembali keinginannya untuk masuk kuliah yang sempat di sampaikan tadi di meja makan, tapi belum mendapat respon dari Rafa.
Sesekali Ara menoleh pada Rafa yang sibuk dengan gadgetnya. Ara ragu karena takut untuk kembali menyampaikan keinginannya. Ara menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh pada Rafa.
"Kakak ipar." panggilnya pelan dengan suara rendah, akhirnya memberanikan diri. "Bolehkah aku ke kampus?"
Tak ada respon. Rafa tetap fokus pada layar yang memperlihatkan pekerjaannya.
"Kak__" panggil Ara kembali. Meski takut karena Khawatir mengganggu pekerjaan Rafa.
Rafa menghentikan gerakan ibu jarinya yang men scroll data data pekerjaan pada gadget. Dia menoleh, menatap wajah di samping yang juga sedang menatapnya. Sebenarnya dia tahu Ara sedang memperhatikannya dari tadi.
Ara segera mengalihkan tatapannya depan begitu Rafa menoleh kepadanya.
Rafa melihat sabuk pengaman Ara yang tak terpasang. Dia bergerak mendekat.
Ara terkejut, meringsut mundur.
"Apa kakak ipar marah karena aku mengajukan pertanyaan itu lagi?" batinnya cemas.
Rafa semakin mendekat. Tangan kanannya meraih sabuk yang berada di samping tubuh Ara dengan tubuh menghadap setengah pada Ara.
Jarak yang sangat dekat, Ara gugup dan segera menunduk dengan mata terpejam. Mau apa apa kakak? Belum menyadari kalau Rafa hendak mengambil sabuk pengaman.
Wisnu tiba tiba menginjak rem, karena ada benda di depan sana. Otomatis tubuh Rafa menempa pada Ara.
Keduanya kaget.
Seketika Ara membuka mata merasakan tubuh Rafa jatuh menempanya, juga untuk melihat apa yang terjadi dengan rem dadakan ini. Matanya langsung bertemu dengan mata Rafa yang saat ini juga sedang menatapnya.
Keduanya saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas keduanya sangat terasa menerpa wajah mereka.
Beberapa detik berlalu, Ara segera memalingkan wajah ke samping, menghindari tatapan Rafa.
"Maaf Tuan, Nona muda___tadi ada polisi tidur di depan." ucap Wisnu sedikit menoleh kebelakang, lalu kembali fokus ke depan.
Rafa mengangkat badannya, lalu menarik sabuk pengaman di samping tubuh wanita itu. Di silangkan melewati bahu, dada dan pinggang Ara. Kemudian mengaitkan lidah sabuk ke pengunci. Terdengar bunyi Klik.
"Apa kau nyaman? Apa nggak sesak?" tanyanya kemudian.
"Udah pas kak___" jawab Ara gugup. Baru sadar ternyata Rafa mendekatnya untuk memasang sabuk pengamannya.
"Lain kali jangan lupa pakai sabuk pengaman." kata Rafa memperhatikan wajah Ara yang terlihat gugup dengan kedua tangan memeluk erat tas ransel di pangkuan. Lalu mundur kembali ke tempat duduknya.
"I iya, maaf aku lupa." jawab Ara terbata.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. Ara memperhatikan arah jalan yang terasa asing baginya.
"Kak, kita mau kemana?" tanyanya menoleh pada Rafa.
"Wisnu, setelah mengantarku ke kantor, antar Nona muda mu kembali ke rumah utama." kata Rafa pada Wisnu tanpa menjawab pertanyaan Ara.
Ara terkejut mendengar perintah itu. Berarti dia belum di izinkan ke kampus. Seketika Ara kembali melihat pada Rafa.
"Kakak ipar, sudah dua bulan aku tidak masuk kuliah. Tolong izinkan aku ke kampus." pintanya memelas.
"Tubuhmu masih lemah." kata Rafa Sambil menggeser layar gadget.
"Aku sudah merasa baik kak."
Gerakan jemari Rafa terhenti. Dia menoleh dan menatap Ara yang masih melihatnya.
"Kau belum kuat, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Gedung jurusan mu berada di lantai 4. Kau tidak akan bisa naik keatas dengan kondisi tubuhmu seperti ini. Coba lihat dirimu, kau sangat kurus dan tidak bertenaga."
Ara mengeluh sedih mendengar penolakan itu. Dia menunduk. Netra yang sudah mengembun.
"Aku hanya ingin berkumpul bersama teman-temanku. Aku ingin menghibur diriku untuk menghilangkan beban kesedihan yang ku rasakan." ucapnya sendu.
Rafa membuang nafas berat mendengar ucapan itu. Lebih lagi melihat perubahan wajah Ara yang mendung. Hatinya mengiba.
Perpisahan karena kematian merupakan patah hati terbesar dalam hidup seseorang. Kepergian Raka tentu saja membuat Ara sangat sedih dan kehilangan. Merasa hidup sendirian, hati kosong dan hampa bahkan hilang semangat hidup. Dan cara untuk bisa bangkit lagi adalah menghibur diri dari duka dan kesedihan. Dan caranya dengan membiarkan Ara berkumpul bersama teman-temannya serta membuatnya sibuk.
Tapi, melihat kondisi tubuh Ara yang lemah membuatnya khawatir. Ara tidak pernah menyentuh makanan sejak kematian Raka. Ara sering berpuasa sehingga membuat tubuhnya sangat kurus.
Alasan kedua, lift yang sementara di buat di universitas khusus ke gedung jurusan Ara belum selesai pengerjaannya. Dia sengaja membuat benda berjalan itu untuk di gunakan Ara naik ke atas karena mengingat kondisi tubuh Ara yang lemah. Dia tidak ingin Ara kelelahan dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Baiklah." ucapnya kemudian melihat Ara menyapu pipinya yang basah.
Ara langsung mengangkat wajah yang tertunduk mendengar persetujuan itu. Dia menoleh pada Rafa."Benar kah?" tanyanya untuk meyakinkan.
Rafa mengangguk.
Senyum langsung menghias wajahnya."Terimakasih kak ___!" ucap Ara senang.
"Wisnu, Undur agendaku hari ini. Kita ke jalan X. Hubungi Buk Narsih untuk menyiapkan makanan dalam waktu 45 menit." perintah Rafa.
"Baik tuan." jawab Wisnu dari depan. Dia memutar arah, kemudian mengirim pesan secepat kilat di sela menyetir.
Dahi Ara mengerut mendengar perkataan Rafa pada Wisnu. Jalan X? Itu kan bukan jalan ke kampus. Atau mungkin kampus sudah di pindahkan ke jalan itu? batin Ara. Tapi dia tidak ingin bertanya, takutnya akan membuat suasana hati Rafa berubah dan membuatnya batal kembali ke kampus.
Ara diam. Matanya melihat cincin pernikahannya dengan Raka. Perlahan dia menyentuh benda indah itu. Ara teringat pada suaminya yang datang dalam mimpinya tadi pagi sebelum subuh, memberi semangat untuk melanjutkan hidup dengan baik. Ara tersenyum sambil menyentuh bibirnya. Karena Raka menciumnya dalam mimpi. Ara masih merasakan kecupan dan ciuman hangat suaminya. Sungguh dia sangat bahagia. Rasa rindu pada suaminya terobati.
"Kenapa senyum senyum begitu?" tanya Rafa yang memperhatikan dirinya.
Ara terkejut, segera menunduk dan kembali memegang kuat tasnya. Senyum bahagia di wajahnya langsung hilang.
"Ada apa?" tanya Rafa kembali melihatnya hanya diam.
Ara gugup dan tidak tenang.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa kakak ipar."
"Kau pikir aku percaya? Aku melihat ekspresi wajahmu dan juga gerakan tanganmu di bibir. Katakan ada apa? Jangan menyembunyikan apapun dariku. Raka sudah tiada, jadi kau tanggung jawabku. Aku tidak ingin Raka cemas di alamnya karena menghawatirkan dirimu." kata Rafa seraya mendekatkan dirinya.
Ara kembali di buat tidak tenang, dia bergerak mundur hingga punggungnya mentok di pintu mobil."Bukan apa-apa kak." ucapnya sangat pelan tak berani menatap wajah kakak iparnya.
"Jangan menutupi apa pun dariku." Suara Rafa sedikit membentak.
"Tidak ada yang ku tutupi. Aku hanya sedang bahagia karena....." kata Ara mulai takut dengan bentakan itu.
"Karena apa? Angkat kepalamu jangan menunduk, tatap aku." Rafa memegang dagunya.
Nafas memburu cepat. Dia menelan ludah pahitnya. Lalu segera mengangkat wajah menatap wajah Rafa.
"Lanjut kan ucapan mu." kata Rafa kembali menatap lekat pada benda kenyal merah yang di gigit.
"Tadi pagi aku mimpi kak Raka." ucap Ara perlahan.
"Mimpi apa? Apa dia mengatakan sesuatu?"
tanya Rafa masih menatapnya.
"Kak Raka menyemangati ku. Dia memintaku untuk terus melanjutkan hidup dengan baik meski tanpa dirinya. Kak Raka ingin aku bahagia dan tidak lagi meratapi kematiannya." Jelas Ara pelan pelan.
"Kamu harus ikutin permintaan Raka. Berhentilah meratapi kepergiannya dan kembali menjalani hidup dengan ceria." Kata Rafa.
Ara mengangguk"Iya kak."
"Terus apalagi Yang kau mimpikan hingga membuat mu menyentuh bibir dan tersenyum bahagia?" Rafa terus menatapnya.
Ara kembali gugup dan gelisah. Di kiranya telah lepas dari pertanyaan Rafa. Dia malu mengatakan kalau Raka menciumnya dan mereka berciuman.
"Itu sesuatu yang pribadi___" ucapnya pelan takut takut.
"Iya apa? Katakan saja, jangan menyembunyikan apapun." kata Rafa menekan.
Ara memejamkan mata sesaat, kembali menelan ludah. Tidak ingin mengatakan ciuman dalam mimpi itu. Tapi Rafa terus memaksa.
"Kak Raka..." ucapnya terputus.
"Lanjutkan, aku tidak suka menunggu orang yang lelet bicara." kata Rafa.
"Kak Raka mencium ku. Dan kami berciuman." kata Ara pelan hampir tak terdengar. Dia kembali menunduk menghindari tatapan Rafa.
Rafa terdiam mendengar ucapannya. Tapi kemudian tersenyum. Karena bukan Raka yang mencium, tapi dia yang mencium bibir Ara tadi subuh. Itu hanya halusinasi Ara yang sedang bermimpi, yang melihat dirinya adalah Raka. Pukul 4 pagi dia tiba dari London. Begitu sampai di rumah, dia langsung ke kamar Ara untuk melihat keadaan wanita muda itu. Cemas dan rindu, yang dia rasakan pada gadis itu karena seminggu lebih meninggalkannya.
Di sampainya Ara sedang tidur dengan gelisah. Ara tampak sedang bermimpi. Wajah mandi keringat bercampur air mata. Bibir menyebut memanggil nama Raka.
Rafa sedih melihat keadaan Ara, yang sampai detik ini masih terus meratapi kematian Raka. Kerinduan Ara pada suaminya, hingga terbawa ke dalam tidurnya dan membuat tidurnya tidak nyenyak. Perlahan Rafa duduk di atas ranjang. Dia menyentuh wajah Ara lembut
"Ara___!" panggilnya pelan untuk membangunkan Ara.
"Ara, sadarlah...." ucapnya kembali.
Dia segera memegang tangan Rafa yang di kira tangan Raka. Lalu di dekap kuat di dadanya. Tubuh Rafa tergerak maju mendekat pada Ara akibat dari pegangan itu.
"Aku sangat merindukan kakak." ucap Ara dalam mimpi. Mata terpejam.
"Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa kakak. Aku sangat lemah tanpamu. Aku ikut bersama kakak, ajak aku, aku sendirian di dunia ini." terisak.
Rafa sedih terenyuh, dadanya sesak mendengar ucapan yang menyayat hati itu.
Perlahan dia membelai wajah gadis itu, menyapu air matanya.
"Ara sayang, kamu harus kuat dan tabah. Lanjutkan hidupmu. Jangan terus menerus sedih seperti ini. Berhentilah meratapi kepergian ku. Itu membuat aku tidak tenang! Aku juga sedih dan tersiksa melihat tangisanmu, penderitaan mu! Ikhlaskan aku sayang, buatlah hidupmu kembali bahagia, tersenyum lah kembali Agar aku pun bisa tersenyum dan bahagia." ucap Rafa berpura pura menjadi Raka. Dia membelai lembut rambut Ara.
"Kamu tidak sendirian di dunia ini. Ada mama, kak Nesa, kak Rafa, si kembar yang menyayangi mu! Mereka adalah keluargamu, jadi jangan merasa hidup sendiri di dunia ini." kata Rafa kembali menyemangati Ara.
"Lanjutkan hidupmu sayang. Ada kak Rafa yang akan menjagamu. Jika kau butuh sesuatu, katakanlah padanya. Dia akan melindungi mu. Percayalah, kak Rafa akan selalu ada untukmu. Kau tidak perlu takut hidup tanpa aku." kata Rafa kembali menyatakan dirinya untuk menjaga Ara agar Ara tidak merasa sendirian di dunia ini dan tidak perlu takut menjalani hidup.
Ara semakin terisak dalam tidurnya."Kak Raka, huhuuuu. Aku sudah ikhlas. Tapi aku rindu___aku sangat merindukanmu." mencium tangan Rafa.
Rafa kembali mendesah sedih, dia menyapu air mata Ara. Usapannya berhenti pada bibir ranum Ara.
Rafa menatap tak bergeming benda kenyal berwarna merah alami itu. Dia teringat perkataan Ara yang sangat merindukan Raka. Apa mungkin Ara rindu dengan sentuhan Raka? Rindu dengan segala kenangan bahagia yang mereka lalui dulu? batinnya.
Perlahan Rafa mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Menatap kembali bibir Ara dalam dalam. Dia tersihir, tergoda.
Cup ...di kecup nya benda itu dan di tekan sejenak. Terdengar lenguhan dari mulut Ara. Bibir mereka saling menyentuh. Nafas Rafa memburu cepat tak beraturan menyapu wajah Ara. Jantung berdegup kencang, matanya bergerak liar melihat wajah cantik Ara yang terpejam di penuhi bulir keringat. Rafa kembali mengecup bibir itu, dan lagi.
Ara membalas kecupannya di antara tidurnya. Mengecup bibir Rafa yang di kira adalah suaminya dalam mimpi.
Rafa kaget merasakan kecupan itu. Dia melihat mata Ara yang terpejam. Mungkin wanita ini tidak sadar membalas ciumannya? Rafa kembali mengecup bibir Ara, dan berlanjut menyesap, menghisap bibir itu. Tidak di sangka Ara pun kembali membalas.
Rafa segera memposisikan tubuhnya lebih dekat ke tubuh Ara seraya mel**at bibir gadis itu. Akhirnya terjadi ciuman bibir di antara keduanya. Satu sama lain saling merengkuh dan menyesapi manisnya bibir. Rafa semakin memperdalam ciumannya yang di balas Ara dalam ketidak sadarannya.Bahkan kini keduanya terlibat perang lidah.
"Kak Raka...!" lenguh Ara.
"Ya sayang!" jawab Rafa si sela sela ciumannya.
"Aku merindukanmu____"
"Aku juga merindukanmu sayang, sangat merindukanmu." terus melahap bibir Ara. Tentu saja dia rindu meninggalkan selama seminggu lebih di London. Sebenarnya dia ingin mengajak Ara ke luar negeri untuk menghibur gadis itu. Tapi dia merasa Ara pasti menolak.
Perang lidah semakin panas menggelora. Tak sadar tubuh Rafa sudah berada di atas Ara. Kedua tangan Ara melingkar di di bahunya. Ciuman Rafa merambah ke telinga, bahu dan leher jenjang putih Ara yang terbuka. Karena Ara hanya memakai pakaian tank top. Tubuh bagian atasnya terbuka. Rafa mengecup dan menjilati lembut bagian jenjang ini. Membuat si empunya melenguh mengeluarkan suara indah.
"Sepertinya kamu merindukan sentuhan Raka." batin Rafa di dalam hati, tanpa berhenti mencumbu. Wajah, bibir, telinga, leher bergantian. Mulut Ara tak berhenti meracau mengeluarkan lenguhan indah. Tubuh terangkat melengkung dengan kedua tangan meremas pelan ujung bantal kepala di samping kepala kiri kanan nya. Rafa segera membungkam mulutnya. Mencium bibir ranum itu dan memegang ke dua tangan Ara menautkan jari mereka. Ciumannya kembali menjalar ke telinga dan leher Ara yang terbuka lebar. Terus merambah ke dada yang menggunung, tertutup oleh pakaian.
"Akh....kak Raka," desah Ara meremas kepala Rafa yang aktif di dadanya. Rafa semakin gencar melahap 2 bongkahan dengan buas, meski terhalang oleh Tanktop.
Suara alarm berbunyi tiba tiba membuat Rafa terkejut. Matanya yang terpejam langsung terbuka lebar. Dengan cepat dia menarik wajah yang terbenam di dada Ara. Alarm terus berbunyi keras. Rafa kelabakan dan semakin gugup. Dia segera turun dari ranjang dan bersembunyi di belakang kolong tempat tidur. Karena tidak memungkinkan untuk keluar dari ruang kamar yang besar ini. Dia menelungkup dan mengatur nafasnya. Jantung berdetak kencang, nafas turun naik tak beraturan. Keringat memenuhi wajah.
Beberapa saat kemudian Rafa mendengar suara Ara memanggil manggil Raka di sertai tangisan. Sepertinya Ara sudah sadar dari mimpi tidurnya.
__ADS_1
Selang tiga menit berlalu, di lihatnya Ara turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Kesempatan itu dia pergunakan keluar dari kamar.
Rafa tersenyum kecil mengingat kejadian indah itu. Dirinya seperti maling yang melarikan diri setelah mencuri. Rafa menoleh pada Ara yang terdiam masih dengan menunduk dan memeluk tas ranselnya. Dia kembali tersenyum melihat bibir merah alami yang di nikmatnya tadi.
Tidak berapa lama mobil memasuki pintu gerbang yang besar dan tinggi. Di balik gerbang ada pos besar tempat petugas keamanan, juga sebuah bangunan yang sangat besar dan megah berdiri di lahan yang luas. Bangunan itu agak jauh dari pintu gerbang masuk, berjarak 200 meter. Halaman yang luas menyerupai taman yang indah. Di setiap sudut taman terdapat gajebo yang besar. Hiasan lampu taman, bunga dan pohon-pohon hijau berjejer rapi menambah asri dan indah area taman yang luas itu. Dari pintu masuk gerbang hingga dalam area di jaga oleh penjaga keamanan berjumlah banyak, berdiri di sepanjang jalan menuju bangunan tersebut. Mereka menundukkan kepala memberi hormat ketika mobil lewat.
Semakin dekat, Ara dapat melihat bangunan itu sangat besar dan memiliki 5 lantai. Mempunyai lobby yang luas dengan furniture mewah bergaya klasik. Bangunan ini layaknya hotel mewah. Mobil berhenti di depan sebuah pintu masuk utama yang besar. Wisnu segera turun.
Rafa hendak membuka pintu, tapi tangan kirinya di tahan Ara.
"Kakak ipar, kita ada mana? Ini tempat apa?" tanya Ara penasaran. Tapi kemudian dia segera menarik tangannya melihat tatapan tajam Rafa pada tangannya di lengan Rafa.
"Keluarlah___" kata Rafa dan segera turun.
Ara masih terdiam di mobil. Belum mengikuti perintah itu. Dia kaget ketika pintu di buka dari luar.
"Silahkan Nona muda." ucap Wisnu sopan.
Dengan ragu Ara segera turun, mengikuti perkataan sekertaris kakak iparnya itu. Di depan mereka telah berdiri rapi para pelayan dan penjaga keamanan dengan kepala menunduk. Berjejer rapi hingga ke pintu utama. Jumlah mereka lebih banyak dari pelayan di rumah utama.
Rafa berjalan lebih dulu.
"Mari Nona muda." ajak Wisnu pada Ara.
Mereka berjalan di belakang Rafa.
"Selamat datang tuan Rafa, selamat datang Nona muda Ara." ucap para pelayan dan penjaga keamanan serempak dengan sopan.
Ara terkejut. Apa aku yang mereka sebut nona muda? Sepertinya iya, karena hanya aku perempuan yang berjalan bersama kakak ipar dan sekretaris Wisnu. Aku belum pernah kesini, dan belum pernah bertemu mereka, tapi kenapa mereka mengenalku? batin Ara.
Ara membalas sapaan mereka dengan senyuman sembari terus mengikuti langkah Wisnu. Dia ingin bertanya lagi, tapi takut. Langkah mereka berhenti di depan sebuah lift."Bahkan rumah ini memiliki lift," batin Ara dengan takjub.
"Silahkan masuk Nona." ucap Wisnu.
Ara terdiam belum masuk. Sementara Rafa sudah melangkah masuk dan berdiri di dalam. Ara memegang jas lengan Wisnu.
Wisnu terkejut, menoleh ke arahnya.
"Nona muda?" takut dengan pegangan itu. Dia menoleh pada tuannya yang menatap tajam ke arahnya, lebih tepatnya ke arah tangan Ara pada lengannya.
Ara menelan ludah.
"A- aku takut sekretaris Wisnu." kata Ara takut takut.
"Masuklah...." ujar Rafa agak keras, matanya semakin tajam melihat kearah tangannya yang memegang lengan Wisnu.
"Tidak ada yang perlu anda takutkan Nona, silahkan masuk." Wisnu segera menarik tangannya dari pegangan Ara dengan paksa.
Karena Ara tetap belum beranjak masuk, Rafa melangkah mendekat dan segera menarik tangannya masuk ke dalam. Ara terkejut semakin takut. Tubuhnya gemetar.
Pintu tertutup dan lift mulai berjalan naik ke atas, hanya mereka berdua yang berada di dalam.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Rafa menatapnya tajam.
"Kau pikir aku melakukan hal buruk padamu?"
Ara menelan ludahnya, dia menunduk tak berani membalas tatapan Kakak iparnya yang seakan ingin menelannya.
"Ara....!" sentak Rafa kembali.
"Maafkan aku kak. Aku tidak bermaksud begitu, tolong jangan marah." jawab Ara cepat memotong ucapan Rafa.
"Aku tadi bertanya tempat ini tapi kakak tidak menjawab ku." sambungnya kembali terus menunduk ke bawah tanpa menatap. Suaranya sedikit bergetar.
Rafa membuang nafas kasar. Seharusnya dia menyadari kekhawatiran serta ketakutan yang di rasakan Ara mengenai tempat ini karena baru pertama kali kesini.
Melihat ketakutan gadis itu, Rafa menyesal. Seharusnya dia tidak membentak dan segera memberi tahu tempat ini. Perlahan Rafa meraih kedua tangan yang saling meremas kuat di bawah sana.
Ara kaget. Dia menarik tangannya, tapi Rafa menahannya.
"Maafkan aku. Aku yang salah karena dari awal tidak memberi tahu tujuan kita dan juga mengenai tempat ini." ucap Rafa pelan.
Dia mengangkat dagu Ara yang tertunduk untuk menatap ke wajahnya. Dia melepas kacamata tebal Ara, sehingga dia bisa melihat jelas mata teduh di depan yang terlihat sayu dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Tentunya menangis meratapi kematian Raka.
"Ini rumahku, rumah pribadiku." katanya kemudian dengan suara rendah.
Ara mengangkat kelopak matanya mendengar perkataan itu, sehingga tatapan mereka bertemu.
"Rumah pribadi kakak? Terus rumah yang kita tempati bersama?"
Rafa mengalihkan tatapannya pada bibir merah alami yang bergerak komat kamit karena mengajukan pertanyaan, yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya.
Rafa menelan ludah seraya membasahi bibir bawahnya.
"Iya, ini rumah pribadi ku. Dan rumah utama yang kita tempati bersama juga adalah rumahku. Tapi telah ku jadikan sebagai rumah utama untuk tempat tinggal semua keluargaku." jawabnya kemudian.
Ara menurunkan pandangannya setelah mendengar penjelasan itu.
"Kau sudah tau tentang tempat ini, jadi kau tidak perlu khawatir dan takut lagi." kata Rafa kembali.
Ara mengangguk. Pintu lift terbuka, terlihat Wisnu sedang berdiri menunggu mereka di luar. Ara terkejut, kok dia sudah ada disini? Lewat mana naiknya?
"Ayo keluar..." Rafa memegang dan menarik tangannya keluar. Ara terkejut tapi tidak bisa menarik atau melepas tangannya dari pegangan itu. Dia mengikuti langkah Rafa. Wisnu mengikuti dari belakang.
"Kak, kaca mataku?" Ara meminta kacamatanya.
"Sebentar ku kembalikan." ucap Rafa terus memegang tangannya menuju ruang makan.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya...
Like, vote, rate bintang lima,dan hadiah. Masukkan juga ke favorit โค๏ธ ya....
__ADS_1