Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 207


__ADS_3

Sebuah pelukan dari belakang mengangetkan Dion. Saat itu dia baru saja menerima telepon dari orang suruhannya yang mencari keberadaan Ara. Dia langsung berbalik dan terkejut melihat wajah Siska.


"Lepaskan Siska, apa yang kau lakukan?"


melepas kuat tangan Siska dari perutnya.


Siska mendengus kesal dalam hati. Tapi kemudian segera memasang wajah senyum yang manis.


"Sepertinya kau sudah sembuh. Aku tidak merasakan ada perban lagi di perutmu. Kalau begitu gitu aku akan segera menggelar pesta ulang tahunku. Aku menundanya karena dirimu sayang." kata Siska dengan lemah lembut.


"Keadaanku sudah baik. Kau tidak perlu datang kesini lagi." kata Dion menatap tajam padanya.


Siska Kembali mendengus kasar di dalam hati.


Dion selalu menolaknya dan tidak suka setiap kali dia datang mengunjunginya.


"Aku perduli padamu Dion. Kenapa kau selalu kasar seperti ini padaku ? Kau juga selalu menolak kedatangan ku!"


"Sudahlah Siska, pulanglah.....aku sedang pusing, masih banyak kerjaan."


"Kau pusing dengan pekerjaan atau karena kehilangan Ara yang tanpa kabar?"


"Itu bukan urusan mu Siska." kata Dion dengan suara meninggi.


"Untuk apa kau mencari Ara. Dia tidak perduli padamu. Kau lihat sendiri kan, dia pergi tanpa memberi kabar padamu. Nomornya juga tidak di aktifkan. Dia bahkan tidak pernah menghubungi mu sekali saja." kata Siska sengaja memanasinya


Dion mendengus kesal, lalu melangkah pergi. Malas berdebat terus dengan gadis ini.


Siska segera mengejarnya dari belakang. Dia kembali memeluk perut Dion.


"Lupakan Ara Dion, dan bukalah sedikit hatimu untukku, aku sangat mencintaimu!" berkata memelas dengan wajah di buat sedih.


"Apa apaan kau Siska, lepaskan tanganmu. Beraninya kau menyentuh tubuhku." berteriak keras. Menyingkirkan tangan Siska dari perutnya, lalu mendorong tubuh wanita itu kuat.


"Pergilah dari rumahku sebelum aku menyeret mu keluar dengan kasar!"


Siska tertawa menyeringai.


"Untuk apa kau mengejar si janda murahan itu Dion?"


Dion tersentak. Emosinya meluap.


"Apa katamu barusan? Kau mengatai Ara apa ? jaga ucapan mu Siska!" menatap tajam wajah Siska dengan wajah memerah menahan amarah.


"Ara itu seorang janda Dion. Apa kau tidak mengetahui hal itu? Dia tidak pantas untukmu ! Selama ini dia menyembunyikan pernikahan dan status jandanya padamu, pada semua orang."


Dion menatapnya sinis." Aku sudah tahu kalau Ara seorang janda. Lalu kenapa kalau dia seorang janda, hah? Aku tidak perduli dengan status dirinya. Aku tetap mencintainya dan bahkan ingin memilikinya meski dia seorang janda. Dan dia bukan wanita rendah seperti yang kau katakan. Jadi ku peringat kan kau jangan mengatainya buruk." kata Dion sambil menunjuk wajah siska. Lalu segera melangkah keluar menuju parkiran, masuk ke dalam mobil dan pergi.


Siska terbelalak dan bengong di tempatnya.


"Jadi Dion sudah tahu kalau Ara seorang janda?" gumamnya dengan wajah mengernyit.


"Sialan. Dan dia tetap mengejar janda murahan kampungan itu?" Siska segera tersadar. Dia cepat berbalik dan mengejar Dion. Tapi Dion sudah meluncur cepat ke jalan raya.


"Brengsek." maki Siska menahan kekesalan.


Dia segera masuk kedalam mobilnya dan mengejar Dion.


"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu Dion! Apalagi harus melihat mu bersama si cupu sialan itu! Aku heran apa kelebihan dari Ara sehingga kau begitu mencintai janda murahan itu ? Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan Dion !" gumam Siska tersenyum menyeringai.


*****


Paris malam hari.


"Nona muda sedang mencari tuan Rafa ?" tanya Sam melihat Ara yang celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


"Iya pak Sam, apa pak Sam melihat kakak ipar ?" dia tahu suaminya itu sudah pulang dengan melihat pakaian kantornya di kamar mandi.


"Tuan Rafa sedang berada di ruang gym."


"Terimakasih pak Sam. Oh ya ini sudah hampir tengah malam. Bapak istirahat saja. Pekerjaannya nanti di lanjutkan besok saja!"


"Baik nona, Tapi kalau nona butuh sesuatu bangunkan saya dan buk Narsih."


Ara mengangguk tersenyum. Sam segera pamit.


Ara segera turun ke lantai dua. Karena ruang olahraga berada di lantai dua. Ara tersenyum melihat suaminya dari pintu, yang sedang melakukan full up. Menaikkan tubuhnya ke atas kemudian menurunkan kebawah. Terlihat otot otot lengan bahu, punggung, pinggang pinggulnya membentuk dan menonjol keluar dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.


Ara meraih handuk kecil. Dengan langkah pelan dia mendekat berdiri di belakang suaminya.


Setelah gerakan tubuh suaminya berada di bawah dia segera memeluk perut suaminya.


Rafa kaget. Dia segera melepaskan pegangannya pada alat. Lalu membalikkan tubuhnya.


"Kakak ipar." ucap Ara pelan sambil tersenyum.


"Sayang ..." memegang wajah istrinya , lalu mendaratkan kecupan di bibir.


"Kenapa bangun ?" ucapnya sambil mengatur nafasnya.


"Aku terbangun karena haus. Kakak pulang jam berapa tadi? Kok gak bangunin aku?" kata Ara sambil me lap keringat di wajah suaminya, terus beralih ke leher, lengan, bahu dan dada.


"Dua jam yang lalu, kamu sedang tertidur nyenyak! Aku nggak tega bangunin kamu sayang" Rafa mengangkat tubuh istirnya, membawanya duduk di sofa.


Ara bangkit dari pangkuan suaminya meraih air minum di meja. Membuka penutupnya lalu di berikan pada Rafa.

__ADS_1


"Terimakasih sayang." ucap Rafa dan segera meneguknya sampai habis.


Ara kembali melap keringat yang kembali muncul di pori pori kulit suaminya. Sesekali dia menekan nekan otot otot di tubuh suaminya dengan jari telunjuk.


Rafa tersenyum melihat apa yang dia lakukan l. Dia segera meraih kembali tubuh istrinya ke dalam pangkuannya.


"Apa terlihat menarik dan seksi?" bisiknya pelan.


Dahi Ara mengerut, dia menatap sekilas wajah suaminya, lalu menggelengkan kepala.


Rafa Kembali tersenyum


"Terus Kenapa di tekan tekan begitu?"


"Nggak kenapa kenapa, hanya kepengen nyentuh aja."


"Benar?" Rafa kembali tersenyum.


Ara mengangguk dengan wajah datarnya.


"Bukan karena suka? karena setahuku wanita sangat suka melihat dan menyentuh tubuh berotot dan kekar pria! Bagi mereka itu terlihat seksi !"


"Benarkah ?" tanya Ara menatapnya.


"Iya, mereka sangat suka dengan pria berotot ! Karena bagi mereka pria berotot di anggap lebih maskulin dan sangat menarik."


"Oh ya ? Kakak tahu dari mana? Apa dari wanita-wanita yang sudah nyentuh nyentuh tubuh kakak ?" menatap menyelidik.


Rafa terperanjat mendengar perkataan istrinya.


Dia terjebak dengan perkataannya sendiri. Dia kelabakan dan salah tingkah.


"Tidak sayang, bukan seperti itu maksudku. Gak ada satupun wanita di luar sana yang nyentuh aku, mereka tidak akan berani. Hanya kamu seorang yang menyentuh tubuh aku. Benaran, aku gak bohong, sumpah sayang. Kamu jangan berpikir buruk ya?!" kata Rafa cepat dan segera mengecup bibir istrinya.


Lalu segera memeluk tubuh istrinya


sambil mengumpat dirinya karena tidak hati hati bicara.


"Tubuhku hanya milikmu sayang, milikmu seorang ! Hanya kamu yang berhak menyentuhnya! Hanya kamu yang ku izinkan untuk menyentuhnya." kata Rafa kembali sambil mengecup bahu istrinya.


"Aku gak berpikir buruk tentang kakak ! Aku hanya bertanya saja!" kata Ara tersenyum di dalam hati. Dia segera melepaskan pelukan suaminya, lalu bangkit berdiri.


"Udah ah, aku mau balik ke kamar, Mau lanjutin tidur! Dan kakak silahkan lanjutkan lagi latihannya, bikin ototnya tambah gede biar makin menarik di mata para wanita!" katanya kemudian lalu melangkah pergi.


Rafa terperanjat, dia tertawa kecil lalu segera bangkit mengejar istrinya, menggendongnya dan membawa ke kamar mandi, di ajaknya mandi bersama.


Ara menjerit-jerit berusaha kabur. Tapi meski sudah berhasil keluar dan naik ke tempat tidur dan bersembunyi di dalam selimut, Rafa tetap menangkap dan menggendong tubuhnya ke kamar mandi.


"Temani aku mandi sayang."


"Kakak, jangan menyentuhku, aku sedang datang bulan." ucap Ara di bawah guyuran air shower.


Setelah puas mandi bersama Rafa segera menggendong tubuh istrinya ke kamar, memakaikan baju tidurnya, mengeringkan rambutnya, meminumkan obat dan vitamin agar tidak sakit karena terlalu lama berendam di bathtub dan guyuran shower.


Kemudian mereka segera berbaring di tempat tidur, membungkus tubuh dengan selimut. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Kakak ipar .. "


"Hmmmm..."


"Kapan kita kembali ke Indonesia? Aku sangat merindukan Cio dan Cia."


Rafa membuang nafas pelan.


"Belum sayang, karena tiga hari ke depan akan ada pertemuan penting! Nanti setelah itu kita akan balik ke tanah air."


Ara mengangkat kepalanya.


"Kak, boleh kah aku menghubungi Cindy dan Ines? aku juga kangen sama mereka!"


Rafa tak menjawab. Memang sebelum datang ke Eropa dia sengaja menonaktifkan nomor istrinya agar tidak bisa di hubungi siapa pun. Dia tidak ingin perjalanan bersama istrinya terganggu.


Ara mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya. Dia melihat mata suaminya terpejam.


"Kakak sudah tidur? pasti capek !" gumamnya pelan. Karena seharian ini suaminya melakukan perjalanan pekerjaan di beberapa tempat usaha bisnisnya.


Perlahan Ara mengecup bibir suaminya


"Selamat tidur." bisiknya lembut. Lalu segera melorotkan tubuhnya ke bawah, memeluk dan ikut memejamkan mata.


Rafa tersenyum di atas sana. Dia juga semakin memeluk tubuh istrinya erat, dan Kembali memejamkan mata.


******


Dion tersenyum sumringah setelah mendapat kabar kalau Ara berada di luar negeri.


"Ara pergi ke luar negeri. Dia sekarang berada di paris, di kediamannya tuan Ravendro !" kata Ny Alkas kepadanya.


Dion sangat berterimakasih pada mamanya.


Entah bagaimana cara mamanya mengetahui keberadaan Ara di Paris, yang jelas dia sangat berterimakasih kepada wanita yang telah melahirkannya ini. Itu berarti mamanya mendukung keinginannya untuk memiliki Ara.


"Ma, katakan kepada papa aku akan mengikuti pertemuan Acara W*F di Swiss."


"Baiklah nak, mama dan papa akan berangkat malam ini! Apa kau tidak ingin pergi bersama dengan kami?" tanya mamanya

__ADS_1


"Gak ma, aku akan pergi sendiri !"


"Ya sudah, sayang." Dinda menutup telepon.


"Akhirnya aku menemukanmu Ara." gumamnya tersenyum senang. Dia segera menelpon seseorang.


"Ikutlah bersamaku ke Paris." katanya singkat sambil melangkah keluar dari ruang kerjanya.


*****


Ara duduk di pinggir kolam, melihat Moly yang sedang berenang ke ujung kolam sebelah, lalu balik lagi mendekat ke arah dirinya. Wanita itu sangat lincah berenang dengan menggunakan berbagai macam gaya. Ara sedari tadi sudah naik karena kecapean berenang.


"Kak, naik dulu. Ponselnya bunyi terus !" teriak Ara.


Moly segera mendekat dan naik. Dia duduk di samping Ara lalu mengambil ponselnya.


Dia memeriksa ponselnya, beberapa panggilan dari Rizal dan Rafa.


Setelah membalas pesan Rizal, dia Segera menghubungi Rafa.


"Halo bos, ada apa ?"


Beberapa saat mereka terlibat pembicaraan serius, Ara memperhatikannya sambil mempermainkan kakinya di air kolam..


"Itu berita yang bagus bos, baiklah aku akan segera mempersiapkan semuanya!" kata Moly menatap tersenyum pada Ara yang sedang menyeruput minumannya.


Ara juga ikut menatap kepadanya.


"Bos, apa kamu capek ?" bisik Moly.


"Tentu saja Moly, pekerjaan tidak ada habisnya . kepalaku mau pecah dan kau masih menanyakan hal itu?" kata Rafa dari seberang sambil membuang nafas berat.


"Istriku sedang apa? Aku meneleponnya tapi tidak angkat! Aku sangat merindukannya." katanya kembali.


"Dia sedang bersama ku! Ponselnya di tnggalkan di dalam kamar!"


"Katamu kamu capek kan? tunggu bentar, aku punya sesuatu untuk menghilangkan segala penatmu itu ! Bentar jangan di matiin teleponnya." kata Moly tersenyum.


"Ada apa Moly ?"


"Udah lihat saja, tunggu bentar." kata Moly kembali, lalu menoleh pada Ara.


"Ara sayang, tolong ambilkan minuman itu ya ?" katanya sambil menunjuk minuman anggur yang tadi di letakan di meja berada beberapa meter dari kolam.


"Juga gelasnya dua sayang." Moly menambahkan.


Ara mengangguk dan segera bangkit berdiri menuju meja. Begitu Ara berdiri, Moly segera mengalihkan panggilan telepon ke video.


"Halo bos, nih obat penghilang rasa capek dan penatmu! Aku yakin kau pasti suka obatnya." katanya pada Rafa. Dia mengarahkan layar ponselnya pada Ara yang sedang berjalan menuju meja minuman hanya menggunakan bikini two piece warna hijau botol. Hingga terlihat bentuk lekukan tubuh indahnya dan juga seksi.


Rafa terbelalak melongo melihatnya. Saat itu dia sedang berbaring di sofa sambil memijat kepalanya. Dia langsung bangun dan duduk. Memperhatikan tubuh indah seksi istrinya yang hanya memakai cidi dan bra. Sebagian benda kenyalnya yang padat dan kencang nampak terlihat. Perut ratanya yang indah dan bokongnya yang besar dan seksi,


juga rambutnya yang panjang terurai basah.


Rafa tersenyum, terpukau, berulangkali menelan Saliva. Menatap tak bergeming keindahan istrinya.


"Gimana bos, kau sudah melihatnya? coba lihatlah setiap lekukan tubuhnya yang putih mulus, sangat indah dan seksi bukan ?.. dan lihat itu, kedua buahnya yang m*ntok, besar menyembul setengah! Sangat indah menggoda dan menggairahkan !" kata Moly sambil tertawa menggoda


"Moly, siapa saja yang berada disitu? Aku tidak ingin tubuh istriku di lihat oleh orang lain, meski dia seorang wanita!" kata Rafa segera. Dia tidak menyangka istrinya berani memakai pakaian terbuka seperti ini.


"Tenang saja bos, aku sudah mengamankan tempatnya. Hanya ada aku dan Ara di sini ! bagaimana obatnya ? apa manjur ?" tanya Moly kembali tertawa.


"Sebenarnya istrimu tidak mau dan menolak memakainya, tapi aku memaksanya." lanjutnya kembali.


"Dengar moly, kau jangan mengambil foto istriku dengan keadaan seperti itu, apalagi sampai mengunggahnya. Kau dengar itu Moly ?"


"Hey bos, kamu pikir aku berani melakukannya? dia juga adik ipar ku . Aku juga terlalu takut padamu! Sekarang katakan, apa kepalamu masih sakit dan mau pecah?"


"Aku ingin langsung pulang Moly. Aku sangat merindukannya. Aku tidak tahan melihatnya ! Kau keterlaluan, kau membuatku tersiksa sekarang!" ujar Rafa mengeluh kasar merasakan celananya yang sesak karena miliknya yang menegang.


Moly terkekeh.


Ara kembali mendekat ke arah Moly sehingga tubuh seksinya semakin terlihat jelas dan dekat di mata Rafa. Rafa meng screenshot beberapa pose tubuh istrinya pada tampilan layar. Ara segera meletakkan sebotol anggur merah dan dua gelas di dekat Moly, lalu dia juga segera duduk.


Moly mengembalikan panggilan telepon ke semula. Lalu memberikan pada Ara.


"Assalamualaikum kak ..."


"Waalaikumsalam. Aku sangat merindukanmu sayang. Kata Moly kalian sedang mandi di kolam renang. Jangan kelamaan ya, nanti masuk dingin! Aku gak ingin kamu sakit ! Pakailah handuk untuk menutupi tubuhmu!"


"Iya kak, ini juga dah selesai."


"Baiklah sayang, aku pulang terlambat malam ini. Masih ada yang harus aku selesaikan! Kamu cepat tidur gak usah nungguin aku."


"Iya kak ..."


"Sudah ya sayang, aku mencintaimu !"


"Aku menyayangi kakak."


Ara segera mematikan telepon dan menyerahkan pada Moly.


"Ara Sayang, besok aku akan mengajakmu ke studio tempat latihan dance." kata Moly menatapnya.


Dahi Ara mengerut mendengar perkataan Moly.

__ADS_1


*******


πŸ™πŸ™πŸ˜˜


__ADS_2