Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 175


__ADS_3

Jam 07.00. Ara selesai bersiap.


Dia mengenakan sweater rajut berkerah tinggi untuk menutupi lehernya yang penuh tanda merah, rambutnya yang sedikit basah di biarkan terurai. Sebagain di urai ke depan. Dia segera turun terburu buru dan menuju ruang makan.Di dapatnya hanya Nesa, Maya dan Levina yang berada di meja makan. Tak ada Rafa di sana. Hatinya sedikit lega. Karena tidak akan menghadapi kemarahan kakak iparnya karena telat bangun dan datang ke meja makan.


Ara ragu ragu untuk duduk, karena tak ada tempat duduk untuknya. Tempat duduknya di pakai Levina.


"Selamat pagi ma, kak Nesa, kak Levina." sapanya sopan dan ramah.


Sam segera meletakkan kursi untuknya di dekat Levina."Silahkan nona muda," kata Sam sopan.


Ara tersenyum, kepala pelayan ini selalu menjadi pelindungnya di rumah ini.


"Terima kasih pak Sam." Ara segera duduk.


Levina melihatnya dengan ekor mata. Maya juga menatapnya sinis.


Sam meletakkan roti bakar di piring Ara dan segelas susu. Dia tahu nona mudanya tidak akan berani mengambil makanan setelah insiden semalam. Di tambah lagi Maya menatapnya tak suka.


"Terimakasih pak Sam." ucap Ara lagi.


"Sama sama nona muda, silahkan di makan."


Ara mulai menikmati makanannya dengan pelan. Tidak lama kemudian Rafa datang.


Seketika tubuh Maya dan Levina menegang.


Wajah mereka berubah pias. Selera makan langsung hilang.


Rafa segera duduk di tempat duduknya.


Melirik sekilas pada Ara yang makan menunduk menikmati roti bakarnya tanpa melihat kedatangannya. Biasanya wanita muda ini menyapa selamat pagi padanya. Tapi kali ini tidak. Rafa memperhatikan pakaian Ara, serta rambutnya yang basah, mata yang sembab dan menyipit terlihat dari balik kacamatanya. Juga bibirnya yang tampak bengkak karena terus di lumatnya semalam.


Sam segera menyiapkan makanan tuannya.


Maya dan Levina saling berpandangan melihat ekspresi Rafa yang biasa.


"Rafa...." panggil Maya pelan untuk menebak suasana hatinya.


Hmm? Rafa menoleh pada Maya.


"Makanlah dulu ma, habiskan sarapannya. Aku juga mau makan." katanya.


"Ayo Levina makanlah." katanya juga pada Levina sambil tersenyum.


Levina tersenyum kecut, dia menoleh pada Maya. Ada apa ini? Apa Ara tidak mengadukan perbuatan mereka? Rafa terlihat santai dan biasa saja.


Maya memberi isyarat padanya untuk diam dan melanjutkan makan. Maya sudah dapat memastikan kalau Ara tidak akan mengadu pada Rafa. Karena dia tahu Ara tidak suka ada keributan dan pertengkaran antara dirinya dengan Rafa.


Sedangkan Nesa menatap mereka sambil geleng-geleng kepala. Lalu dia menoleh pada Ara.


"Ara....!" panggilnya pelan.


Ara mengangkat kepalanya melihat pada kakak ipar tertuanya itu."Ya kak...."


"Sekitar jam 4 subuh aku ke kamarmu, tapi kau tidak berada di sana." kata Nesa.


Ara tersentak seketika. Dia kelabakan. Bingung menjawab apa? Apa dia harus jujur dan mengatakan kalau semalam di paksa Rafa tidur di kamarnya? Apa dia juga harus mengatakan apa yang di lakukan Rafa padanya di bawah shower dan di atas tempat tidur? batinnya.


Dia mulai meremas kedua tangannya di atas paha, semakin tidak tenang. Bahkan takut.


Rafa memperhatikannya.


"A-aku sedang berada di....."


"Untuk apa kak Nesa mencarinya?" sela Rafa memotong ucapan Ara sebelum wanita itu mengatakan kejadian semalam. Karena dia tahu Ara orang jujur, takut untuk berbohong. Tapi kalaupun Ara akan mengatakan tentang semalam, Rafa tidak masalah. Dia hanya tidak ingin Maya dan Levina merendahkan Ara.


"Maaf nona Nesa, Nona muda sedang berada di makam tuan muda. Saya menemaninya di sana." Wisnu menyela dari belakang tuannya.


"Buatkan kembali model pakaian yang kau beri pada si kembar. Cia sudah menghilangkannya." kata Nesa tanpa menjawab pertanyaan Rafa dan Wisnu.


"Ba-baik kak," jawab Ara masih gugup.


"Kamu kenapa memakai pakaian seperti ini? Apa kamu tidak kepanasan?" tanya Maya memperhatikan pakaian yang dia kenakan.


Ara mengangkat wajahnya lalu melihat ibu mertuanya.


"A-aku nggak enak badan ma..." katanya gugup.


"Nggak enak badan tapi kenapa kamu mandi sambil keramas?"


"A-anu ma...." Ara menelan ludahnya.


"Aku, merasa nggak enakan setelah mandi. Aku terlalu lama merendam dalam bathtub sampai kedinginan." kembali menundukkan kepala.


"Tapi kamu bisa pakai air hangat untuk ...!" ucapan Maya terputus.


Rafa menghentak kuat sendok makannya pada piring hingga berbunyi keras. Membuat mereka kaget dan memandang padanya. Kecuali Ara yang terus menunduk meski kaget.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian. Sesuatu yang sangat membahagiakan." Rafa menatap mereka satu persatu.


Semua mata menatap ke arahnya termasuk Ara.


"Mah...." Rafa melihat pada Maya.


"Aku akan menikah ....!" lanjutnya kembali.


Hah?


"Menikah?" Maya terkejut. Dia menoleh pada Levina yang terlihat panik dan juga terkejut di tempat duduknya.


"Kamu jangan bercanda Rafa." kata Maya tidak percaya dengan ucapan anak keduanya ini.


"Aku serius ma. Aku akan menikah secepatnya seperti yang mama inginkan. Menikah dengan wanita yang ku cintai, memberiku rasa nyaman serta kebahagiaan." melirik sekilas pada Ara yang menatap piring makannya.


Levina menatap wajah Rafa yang melihat pada Ara. Hatinya semakin gelisah dan tidak tenang.


Perasaannya tidak enak, kenapa Rafa melihat pada Ara saat mengatakan ingin menikah?


"Aku harap mama merestui pernikahanku." kata Rafa kembali, lalu menoleh pada Levina


"Kau juga mau menikah kan Levina?" tanyanya sambil tersenyum.


Levina tersentak antara percaya dan tidak mendengar pertanyaan yang di lontarkan Rafa. Dia langsung tersenyum dan cepat mengangguk. Dia tidak menyangka Rafa akan mengatakan hal itu padanya.


"Tentu saja, aku mau Rafa." Hatinya melonjak senang.


Wajah Maya juga terlihat sangat senang mendengar perkataan Rafa pada Levina.


"Kalau kau mau menikah, aku akan segera mempersiapkannya. Pernikahan akan di laksanakan pada hari ini. Nanti aku akan beritahukan waktu dan tempatnya." ujar Rafa tersenyum menyeringai melihat wajah Levina dan Maya bergantian. Wajah wajah yang terlihat begitu bahagia.


"Selamat Levina. Tante ucapkan selamat untukmu, akhirnya kalian akan menikah juga." ucap Maya tersenyum bahagia. Dia bangkit dari duduknya, mendekati Levina dan memeluknya.


"Terimakasih tante, aku jugaesangat bahagia sekali." mereka saling berpelukan.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, aku sangat bahagia sekali." Levina menyentuh tangan Rafa lembut.


"Ma, untuk pernikahanku aku ingin mengadakan secara sederhana, cukup kerabat kita saja yang datang. Mengenai resepsinya aku akan mengadakannya nanti saja." menatap pada mamanya tanpa memperdulikan ucapan dan segera menarik tangannya dari sentuhan tangan Levina.


"Nggak apa apa nak, yang penting kalian menikah saja dulu. Perayaannya biar belakangan saja, ya Levina? Mama sangat bahagia sekali." kata Maya tak berhenti tersenyum bahagia.


"Kalian memang pasangan yang paling sempurna. Hanya Levina wanita yang paling cocok untukmu. Dia cantik, elegan, punya karir yang bagus, sederajat dengan kita. Dan yang penting bukan wanita rendah." ujar Maya melirik dengan ekor mata pada Ara.


Ara menelan ludah pahitnya mendengar penghinaan yang dia tahu di tujukan pada dirinya.


"Iya tan, acaranya nanti belakangan aja ..!" jawab Levina cepat. Gak ada resepsi pun nggak masalah, yang penting baginya secepatnya menjadi nyonya Ravendro Artawijaya. Menjadi menantu tunggal di rumah ini. Karena Revan dan Raka telah meninggal. Dia sangat bahagia, mimpi apa semalam? Bagai mendapatkan durian runtuh, sungguh tak di sangka.


Padahal dirinya sangat ketakutan memikirkan kemarahan yang akan ia terima dari Rafa akibat insiden semalam. Dia mengira pagi ini akan menjadi hari paling buruk untukmu. Tapi ternyata, Rafa malah mengajaknya menikah.


Rafa tersenyum sinis melihat ke arah mereka berdua. Seandainya saja Ara tak ada di ruangan ini, dia pasti sudah membuat perhitungan dan memberikan hukuman setimpal pada kedua wanita ini.


Rafa melirik pada Ara yang kebetulan juga sedang menatapnya dan juga kepada Levina secara bergantian.


"Kakak ipar, kak Levina....aku ucapkan selamat untuk kalian. Semoga pernikahannya lancar tanpa ada kendala. Aku turut senang dan bahagia. Semoga rumah tangga kalian kelak menjadi sakina mawadah warahmah selamanya." katanya sambil tersenyum tulus.


Rafa tak menjawab, hanya terus menatapnya.


Levina menoleh ke arahnya.


"Terimakasih Ara. Aku sangat berharap kau bisa datang ke pernikahanku. Kamu adalah tamu undangan ku yang pertama dan spesial." tersenyum manis penuh kepalsuan.


"Tentu kak aku akan datang. Terimakasih atas undangannya." kata Ara masih tersenyum.


Rafa terus memperhatikannya, lalu bangkit berdiri menatap pada Nesa.


"Kak Nesa, aku harap kakak bisa datang ke pernikahanku. Selain restu mama, aku juga sangat butuh restu kakak." katanya penuh harap agar kakak perempuannya itu datang.


Nesa tak menjawab, hanya menarik nafas dan membuangnya pelan, lalu kembali melanjutkan makannya.


Rafa segera beranjak dari kursinya dan naik ke atas di ikuti Wisnu.


"Apa kau sudah menghubungi orang itu?" tanyanya.


"Sudah tuan. Dia akan datang. Florencia akan menjemputnya dan membawanya kemari!"


"Katakan pada Florencia untuk datang tepat waktu. Aku tidak ingin ada masalah dalam pernikahan ku. Dan berikan berapa pun yang di inginkan orang itu."


"Baik tuan." jawab Wisnu dengan sigap.


Mereka kembali melanjutkan langkah.


"Nesa sayang, apa kau tidak ingin mengucapkan selamat pada Levina? Sebentar lagi dia akan menjadi adik ipar mu." kata Maya pada Nesa.


Levina juga menatapnya dengan perasaan bahagia."Kak Levina pasti datang ma, ini kan pernikahan adiknya."


Nesa hanya tersenyum. Lalu segera bangkit berdiri. "Aku berangkat kerja dulu ma," katanya.


"Iya nak, jangan lupa luangkan waktumu untuk pernikahan adikmu hari ini." kata Maya kembali.


Nesa segera meninggalkan tempat itu.


Ara juga ikut bangkit


"Aku juga pamit ma....." katanya pelan.


Maya tak menjawab.


Ara segera melangkah menuju tangga. Dia ingin shalat dhuha sebentar sebelum ke kampus, karena tidak sempat subuh tadi. Sekalian ingin mengambil tas yang tidak sempat ia bawa karena terburu-buru turun untuk sarapan.


"Aku harap dia pergi selamanya dari rumah ini." kata Maya menatap sinis kepergiannya.


"Levina, tante berharap kau cepat hamil dan memberikan cucu yang imut untuk tante." kata Maya.


Levina tersedak, kaget. Lalu kemudian tersenyum malu dan salah tingkah.


"Iya tante, pasti! Aku akan mewujudkan keinginan tante setelah menikah dengan Rafa!" katanya seraya menyentuh perutnya.


"Tapi tante, kenapa Rafa mendadak mengajak menikah tiba tiba begini ?Seharusnya Rafa melamar ku dulu dan kami bertunangan." katanya kembali merasa heran dengan ajakan Rafa tiba tiba.


"Tante malah lebih suka kalian langsung menikah. Jika masih ingin bertunangan, tante khawatir malah akan semakin menunda lama pernikahan kalian. Kita tidak akan tahu kedepannya bagaimana. Kau sendiri tahu kan, hati Rafa selalu berubah tak menentu. Dia juga selalu keluar negeri sibuk dengan pekerjaannya. Bisa bisa kalian malah tidak akan menikah selamanya." ujar Maya


"Tante benar juga. Sudah bertahun-tahun aku menunggu momen indah ini. Aku tidak mau menundanya lagi." kata Levina dengan mata berbinar. Maya tersenyum. Keduanya saling berpelukan bahagia.


Levina segera membagi kabar pernikahannya di beberapa akun sosmed nya, juga pamer di beberapa groupnya dengan bangga.


๐ŸŒธโ˜˜๏ธ


Rafa memasuki ruang kerja. Dia menuju kamar mandi. Matanya memperhatikan beberapa helai pakaian yang tergeletak di lantai, tepat di bawah shower. Pakaian miliknya dan juga gaun tidur Ara yang di lepasnya paksa semalam.


Perlahan dia memungut pakaian Ara, lalu digantung pada gantungan baju. Kemudian segera keluar. Di depan pintu dia bertemu pak Sam yang baru saja dari kamar Ara.


"Tuan..." sapa Sam sambil menundukkan kepala.


"Pak Sam dari mana ?"


"Saya dari kamar nona muda tuan."


"Kenapa dengannya? Apa terjadi sesuatu?" langsung merasa khawatir.


"Nona hanya sedang tidak enak badan. Nona flu dan badannya anget. Saya ke sana memberitahukan bahwa ojek langganan nona sudah ada di depan."


"Ara sakit ?" Rafa semakin cemas. Dia segera melangkah menuju kamar Ara. Sam mengikuti dari belakang.


"Tuan, nona muda sekarang sedang shalat dhuha. Karena waktu saya ke sana nona sedang siap siap." kata Sam.


Rafa melambatkan langkahnya.


Semalam dia memang menahan lama tubuh Ara di bawah guyuran air shower. Pantas saja dia flu dan demam.


Akhhh


Rafa merutuki kebodohannya.


"Apa dia sudah minum obat ?"


"Belum tuan. Saya sudah mengatakan untuk minum obat. Kata nona nanti akan meminumnya."


"Pak Sam kembalilah ke bawah, aku akan menemui Ara."


"Baik tuan." Sam segera berbalik dan melangkah untuk turun kebawah.


Rafa mengambil ponsel di sakunya, mencari nomor kontak Rizal


"Halo bos?" suara dari seberang.


"Datanglah ke rumah utama, Ara sakit. Aku ingin kau memeriksanya."


"Ara sakit ? oke bos, aku akan segera ke sana." jawab Rizal. Sambungan telepon terputus.

__ADS_1


Rafa kembali melangkahkan kaki menuju kamar Ara. Dia mengetuk pintu.


Ara baru saja selesai berdoa. Dia langsung berdiri mendengar ketukan dan mendekati pintu, lalu membukanya.


"Kakak ipar?" terkejut melihat Rafa di depan pintu. ada apa kakak kesini ?" terkejut melihat Rafa di depan pintu.


Rafa langsung masuk, menutup pintu dan menarik tangan Ara ke dalam.


"Mau apa kakak ke sini." Ara kelabakan.


"Kakak jangan masuk ke kamarku. Tidak baik di lihat orang." Ara cemas, mengingat di bawah ada Levina dan ibu mertuanya yang sedang berbincang bincang mengenai pernikahan.


"Kamu sakit ?" Rafa meletakkan tangannya di dahi Ara, hangat di rasakan. Bawah matanya gelap, wajahnya sedikit pucat.


"Aku hanya flu, nanti aku akan minum obat. Sekarang kakak keluar ya ...aku mohon." pinta Ara. Menarik tangan Rafa ke pintu. Tapi Rafa malah memegang kedua tangannya.


"Kamu tidak usah ke mana mana hari ini, di rumah saja tidak usah ke kampus."


"Nggak bisa kak, aku ada kursus bahasa Arab dan Jepang siang ini. Setelah itu aku akan mengunjungi rumah orang tuaku! Sekalian aku meminta izin pada kakak sekarang. Aku nggak lama di sana, hanya saja perjalanannya memakan waktu yang lama! Oh ya ? pernikahan kakak sama kak Levina jam berapa? Supaya aku bisa memperkirakan kepulangan ku. Aku sudah janji sama kak Levina untuk datang ke pernikahan kalian," kata Ara.


"Ara, apa kamu baik baik saja?" Rafa mengabaikan perkataan Ara. Dia menatap lekat wajah Ara. Mengingat kejadian yang terjadi semalam pasti membuat kondisi tubuh Ara tidak fit.


Ara menarik tangannya dari pegangan Rafa.


"Aku akan baik baik saja jika kakak segera keluar dari kamarku. Sekarang keluarlah sebelum ada yang mengetahui keberadaan kakak di sini. Tolong keluarlah, jangan bicara lagi." pinta Ara memelas. Dia sangat khawatir jika Levina dan Maya sampai tahu Rafa berada di sini. Tuduhan kotor pasti akan di layangkan padanya.


"Apa yang kamu takut kan? Aku tidak mau meninggalkan mu. Kau sedang tidak sehat." Rafa kembali memegang tangannya.


Ara tak menjawab, dia kembali menarik tangan tangannya."Kakak masih menanyakan hal itu? keluar lah, aku mohon. Aku takut jika sampai mama tahu kakak berada di sini. Hanya berdua dengan ku!" katanya mulai kesal karena Rafa tidak mau mengerti juga dan keras kepala.


"Aku tidak mau keluar dari sini."


Ara mendengus kesal, dia melepas mukenanya, memperbaiki pakaian dan rambutnya, lalu mengambil tas Selempang nya.


"Kamu tidak bisa ke kampus dengan keadaan seperti ini. Kau sedang tidak sehat Ara!" Rafa menarik tangannya dan memeluk.


"Kakak lepas, jangan seperti ini." Ara kaget, berusaha melepaskan pelukan Rafa. Dia semakin takut."Kita tidak boleh seperti ini. Kita kakak dab adik ipar."


Rafa malah semakin memeluknya."Aku tidak akan melepaskan mu." katanya, lalu mengecup pipi dan bahu Ara.


Ara terkejut. Dengan kekuatan penuh dia mendorong tubuh Rafa kuat hingga lepas."Aku mohon jangan lakukan itu lagi. Jangan menyentuh ku. Kakak tidak pantas melakukan itu." sentaknya sedikit keras.


Rafa terkejut. Ara segera menyadari perlakuan kasarnya.


"Ma maaf kak, aku tidak bermaksud kasar, aku hanya ingin kakak Jangan menyentuh ku lagi. Kakak akan menikah, aku takut jika kak Levina melihat kita selalu dekat, meski kita hanya kakak adik. Dia akan berpikir buruk pada kita. Aku sangat takut kita dekat seperti ini. Tolong mengertilah." ujar Ara gugup.


Dia segera menuju pintu.


"Aku akan keluar terlebih dahulu, setelah itu kakak." Ara menarik handle pintu.


Tapi Rafa cepat menarik tubuhnya dan menutup pintu kembali.


"Kau menghindari ku ?" ucapnya menatap tajam.


Ara diam tak menjawab, dia mulai takut melihat sorotan mata Rafa. Dia segera menunduk, meremas kedua tangan menekan rasa takutnya.


Rafa segera memeluknya. Dia tahu saat ini Ara sedang takut.


Ara kaget dan meronta.


"Apa yang kakak lakukan? lepas kak, jangan seperti ini." melepaskan tangan Rafa yang memeluk tubuhnya.


"Kakak tidak pantas melakukan hal ini padaku. Kakak calon suaminya kak Levina. Jangan seperti ini! Apa kakak tidak berpikir yang kakak lakukan akan menyakiti hati kak Levina? tolong lepas....!"


"Aku khawatir padamu Ara, keadaanmu sedang tidak baik. Lihat dirimu ..." Rafa menarik tubuhnya ke cermin, lalu melorot kan kerah bajunya.


"Bagaimana jika teman teman mu melihat ini ?" menunjuk tanda tanda merah dan gigitan gigitan kecil di lehernya.


Ara menelan ludahnya sambil mendesah sedih. Dia kembali memperbaiki kerah bajunya.


"Aku sudah memohon dan menangis kepada kakak agar jangan menyentuh ku, tapi kakak tetap melakukannya! Aku meminta hukuman lain tapi kakak terus menyerang ku. Hampir seluruh tubuhku kakak penuhi dengan tanda ini! Aku sangat malu melihatnya. Aku juga takut jika ada yang mengetahui apa yang terjadi pada kita semalam, aku takut jika ada yang melihat kedekatan kita dengan tubuh yang ...... " ucapannya terputus, nafasnya memburu cepat. Matanya berkaca-kaca mengingat apa yang di lakukan Rafa semalam kepadanya."Aku sangat takut....hiks, hiks,hiks."


"Ara.....kau tidak salah. Aku yang memaksamu. Aku yang tidak bisa menahan diriku. Aku yang salah." Rafa memegang wajahnya. Dia merasa sangat bersalah melihat kesedihan dan ketakutan di wajah gadis ini.


Ara mulai terisak.


"Aku mohon jangan sampai ada yang mengetahui yang terjadi di antara kita semalam. Aku mohon pastikan itu! Aku sangat takut jika mama mengetahuinya. Mama pasti akan menyebutku wanita murahan," semakin terisak.


"Aku hanya ingin hidup tenang di rumah ini, tanpa ada kemarahan dan kebencian dari mama! Aku ingin mama menerima ku sebagai menantunya seperti halnya dia sangat senang dan bahagia menerima kak Levina sebagai menantu dan istri kakak. Sejak aku menikah dan tinggal di rumah ini, mama tidak pernah menyukaiku. Mama tidak pernah menerimaku sebagai menantunya dan juga istri kak Raka. Walau kak Raka sudah tiada di dunia ini, mama tetap membenciku." air matanya jatuh berderai banyak di kedua pipinya.


"Aku ingin sekali keluar dari rumah ini, karena aku juga sudah tidak berhak lagi tinggal di sini karena tak ada lagi kak Raka. Aku ingin pergi dari rumah ini dari pada membuat kebencian dan kemarahan di hati mama. Tapi aku tidak sanggup berpisah dengan makam kak Raka. Aku tidak mampu berpisah darinya! Aku takut jika aku keluar dari rumah ini, aku tidak akan bisa melihat makannya lagi, aku takut mama tidak akan mengizinkan ku masuk untuk mengunjungi makam suamiku lagi." menangis terisak isak, memencet hidungnya yang berair karena flu.


Rafa terenyuh, hatinya sangat sakit mendengarnya. Dia melap air mata dan ingus Ara tanpa jijik. Wanita ini terkena flu dan itu membuatnya khawatir.


"Ara....!" memeluk tubuh Ara, satu tetes air mata jatuh di pipinya.


"Bersabarlah beberapa jam lagi, bersabarlah! Akan ku pastikan mama menerimamu di rumah ini. Jika mama tidak bisa menerima dirimu sebagai istri Raka, maka mama harus mau menerima mu sebagai istri ku. Percayalah, akan ku pastikan dia menerimamu sebagai istriku dan menganggap mu sebagai menantu di rumah ini. Bersabarlah beberapa jam lagi." batinnya membelai lembut rambut Ara.


Rafa sebenarnya ingin sekali memberi hukuman pada mamanya, karena dia juga sudah sangat muak melihat sikap dan tingkah laku buruk mamanya pada Ara. Tapi Ara selalu menghalanginya. Ara selalu melindungi dan berpihak pada mamanya. Air mata Ara selalu membuat hatinya luluh, emosinya mereda. Karena Ara tidak suka melihat dia ribut dan bertengkar dengan mamanya.


Tapi untuk kali ini, dia tidak bisa mentolerir lagi sikap buruk mamanya. Apalagi mamanya selalu membandingkan Ara dengan Levina, menjelekan dan merendahkan Ara pada Levina.


Ara melepaskan pelukan Rafa.


"Aku akan keluar terlebih dahulu, setelah itu kakak." katanya sambil menghapus air matanya. Dia melepas tangan Rafa.


"Ara...." panggilnya pelan.


"Jangan bicara lagi kak, aku mohon." Ara tidak memperdulikannya langsung membuka pintu.


"Kau masih ingat dengan kertas permintaanku di hari ulang tahunmu?"


Langkah Ara terhenti, dia berbalik.


"Aku ingin kau memenuhi isi kertas permintaanku di pernikahanku nanti! Kau sudah berjanji akan memenuhinya. Sama halnya aku telah memenuhi isi permintaanmu."


Ara mendesah sedih, lalu angguk kepala.


"Kakak jangan khawatir, aku pasti akan memenuhinya, aku sudah berjanji dulu akan memenuhinya." kata Ara tanpa curiga.


Rafa tersenyum.


"Aku harap kau menepatinya nanti!"


Ara segera berbalik dan menarik handle pintu.


Melihat ke arah luar sesaat, setelah di rasa tak ada orang, dia langsung melangkah setelah menutup pintu.


Rafa melangkah menuju meja kecil tempat foto Ara dan Raka terpajang. Dia meraih benda segi empat kecil itu dan menyentuh wajah Raka perlahan.


"Kakak juga akan segera memenuhi isi kertas permintaanmu. Menikah dengan orang yang kakak cintai! Kakak minta izin dan dukungan mu. Kakak berharap kau akan merestui niat baik kakak untuk menikahi Ara." ucapnya tersenyum.


Isi kertas permintaan Raka :

__ADS_1


Kak, aku tidak ingin seperti mama yang selalu memaksa kakak untuk segera menikah. Tapi aku berharap tahun ini kakak segera menikah dengan wanita yang kakak cintai, yang membuat kakak nyaman dan bahagia. Siapapun dia, aku selalu mendukung kakak.


*****


__ADS_2