
Rafa sedang mengadakan meeting bersama para direkturnya.
Ponselnya berdering dua kali, pertanda ada panggilan masuk.
Istriku tercinta, Rafa tersenyum senang.
Rafa memberi isyarat untuk berhenti sejenak, lalu melangkah mendekati tembok yang terbuat dari kaca.
"Assalamualaikum kak."
"Waalaikumsalam sayang."
"Kak, aku mau minta izin keluar." kata Ara dari seberang.
"Keluar? Kemana?"
"Aku mau beli somay."
"Somay?" dahi Rafa mengerut.
"Pesan online saja sayang. Atau aku suruh Moly memesankan untukmu."
Para direktur menatap kearahnya dengan mimik wajah kaget mendengar kata sayang yang dia ucapkan. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
Kecuali Frans yang sudah mengetahui siapa yang di maksud dengan panggilan sayang itu. Frans sendiri sangat terkejut setelah mengetahui kalau Ara adalah istri pimpinannya setelah melihat kebersamaan mereka di Forum Word Ekonomi paris lalu.
Pasalnya dia selalu menyuruh istri presdirnya itu dan memperlakukan sama seperti karyawan lain. Bahkan kadang dia memerintah Ara dengan keras dan tegas. Dan Ara patuh pada perintahnya. Frans juga bingung kenapa mereka menyembunyikan status pernikahan mereka.
"Aku mau memakannya langsung di sana kak. Lebih enak dan nikmat." kata Ara kembali bersikeras.
"Sama saja sayang. Makan di sana dan sini nggak akan mengurangi rasanya."
"Pokoknya aku mau makannya di sana." Ara merengek dari seberang.
"Baik sayang, nanti aku antar. Tunggu 30 menit lagi ya, aku masih meeting sekarang." Rafa mengalah mendengar nada bicara istrinya yang kesal. Wajah istrinya itu lagi cemberut sekarang.
"Kelamaan kak, aku kepengen makan sekarang. Aku pergi sendiri saja. Lanjutkan saja pekerjaan kakak, aku hanya ingin izin saja. Sudah ya... assalamualaikum..."
"Eeh.... bentar sayang, sayang....tunggu! Baiklah, aku akan antar sekarang." memotong cepat dengan nada tinggi.
Suaranya yang keras kembali mengundang perhatian peserta rapat. Mereka menoleh kepadanya.
"Aku pergi sendiri saja. Kakak kan lagi rapat. Aku gak mau mengganggu pekerjaan kakak."
"Kamu gak boleh pergi sendiri, aku akan temani! Sudah, jangan membantah." kata Rafa tegas.
"Baiklah, aku tunggu di parkiran tempat mobil kakak, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Rafa mematikan ponselnya.
Lalu kembali ke meja rapat. Menatapi wajah para direkturnya satu persatu. Wajah wajah yang terlihat penasaran penuh tanya juga keingintahuan tentang siapa yang di panggilnya Sayang.
"Rapat silahkan di lanjutkan kembali. Ada sekretaris Wisnu dan pak Direktur keuangan akan menemani anda semua. Saya harus pergi sekarang karena ada urusan yang sangat penting." katanya tersenyum.
Lalu segera beranjak pergi di ikuti tatapan penuh tanya oleh mereka.
Meninggalkan rapat penting begitu saja hanya untuk menemani seorang wanita membeli somay. Tapi siapa yang berani protes dan menghentikannya? Tidak ada yang berani. Karena dia pendiri sekaligus pemilik perusahaan ini.
Silahkan protes kalau mau di depak dari perusahaan ini.
Bagi Rafa, rapat ini memang penting. Tapi istrinya jauh lebih penting dari rapat dan pekerjaannya.
Mereka mengarahkan pandangan pada Wisnu meminta penjelasan. Tapi Wisnu tidak menanggapi dan menyuruh mereka tak bertanya lagi. Rapat di lanjutkan Kembali.
Dengan langkah cepat Rafa menuju tempat mobilnya terparkir.
"Kakak...." Ara berteriak kecil begitu melihat kedatangannya. Dia berlari ke arah suaminya.
"Jangan lari lari nanti jatuh, tunggu saja di situ." teriak Rafa memperingatkan. Dia berlari lebih cepat pada istrinya.
Pasalnya Ara sedang memakai sepatu kantor yang haknya agak tinggi.
Ara tidak mengindahkan teriakannya. Dia terus berlari cepat. Begitu dekat, Ara langsung melompat dan memeluk suaminya. Lalu mendaratkan beberapa kecupan di kening dan bibir suaminya.
Rafa terperangah mendapatkan kecupan itu. Tidak biasanya Ara seperti ini. Bahkan Ara terlalu pemalu untuk melakukan hal-hal seperti ini.
Tapi Rafa sangat senang dan sudah pasti bahagia. Ternyata ada untungnya juga meninggalkan rapat penting itu. Karena balasannya mendapatkan pelukan dan ciuman seperti ini.
"Apa artinya dia sudah mencintaiku ?" batinnya.
Ara kembali mencium ke dua pipinya bergantian.
"Wangi." kata Ara mengendus kan hidungnya di wajah dan leher suaminya.
Rafa Kembali terkejut dan kebingungan dengan sikap istrinya.
"Sayang, apa artinya ini?" tanyanya menatap Ara bingung.
"Apa?" Ara malah balik bertanya. Dia melepaskan sepatunya, lalu menautkan kedua kakinya di belakang pinggang Rafa.
"Gak biasanya cium aku seperti ini?" kata Rafa menatap heran.
"Kepengen aja, emang gak boleh nyium suami sendiri?" Ara mengerucutkan bibirnya menatap lekat.
"Tentu saja boleh banget sayang, aku malah sangat senang. Aku hanya heran dan bingung aja, gak biasanya kamu kayak gini." Rafa tersenyum, lalu mengecup kuat kening istrinya.
"Aku suka aja. Yuk ah, kita pergi. Aku gak sabar pengen makan somay kang udin." kata Ara mengajak pergi.
"Aku lapar banget." rengek nya melonjak lonjak kayak anak kecil dalam gendongan suaminya.
Rafa semakin heran melihat tingkah manjanya, karena ini tidak biasa. Dia bingung dan kembali senyum senyum. Tapi hatinya senang dan suka dengan sikap manja ini.
"Baiklah sayang." Rafa menurunkan sejenak tubuhnya ke bawah meraih sepatu Ara. Lalu segera berjalan sambil menggendong istrinya menuju mobil.
Setelah 9 kilo menelusuri jalan raya, sampailah mereka di tempat penjual jajanan para kaki lima yang terletak di kawasan x.
Terlihat berjejer gerobak gerobak para penjual kaki lima yang menjajakan kulinernya. Semua warna gerobaknya sama, hanya beda di nomornya saja.
Rafa segera menepikan mobilnya sesuai perintah Ara. Lalu mereka segera turun.
Tapi sebelumnya Ara melepaskan jas kantor dan dasi suaminya, di ganti dengan mantel panjang. Lalu wajah Rafa di tutupi masker.
Dia juga memakaikan mantel pada tubuhnya, melepaskan rambut palsu keritingnya, dan mengurai rambut aslinya yang lurus.
Melepaskan kacamata tebalnya dan menghapus garis hitam tebal di keningnya.
Rafa tersenyum melihat wajah cantik alami Istrinya. Sangat cantik dan manis.
Mereka segera turun.
"Sayang, di mana tempatnya?" tanya Rafa memperhatikan keadaan di depannya.
"Di sini kak, tempat jualan somay kang udin, ayo...!" Ara menarik tangan suaminya.
Rafa melangkah mengikuti tarikan tangan istri nya.
"Di sini?" tanyanya di sela langkah mereka.
"Iya, tuh di sana gerobaknya kang udin nomor 27. Somaynya paling enak dan laris di tempat ini." kata Ara antusias sambil menunjuk sala satu gerobak di ujung sana.
Rafa menatap sekelilingnya dengan mata memicing, dahi mengerut. Dia mengira tempat yang akan di datangi adalah sebuah rumah makan atau resto yang mewah. Tapi ternyata hanya tempat para penjual kaki lima.
"Sayang, benar di sini tempatnya? Ini hanya tempat penjual kaki lima, gak bisa di jamin kualitas dan kebersihannya. Nanti perutmu sakit. Kita ke tempat lain saja yang lebih bersih tempat dan makanannya."
"Ih kakak, Aku dah biasa jajan di sini. Dari aku masuk kuliah, pacaran sama kak Raka dan nikah sama dia. Kami selalu datang ke sini. Jajanan kuliner di sini enak dan lezat. Makanan dan tempatnya juga terjamin kebersihannya, Ayo kak." menarik kuat tangan suaminya untuk kembali berjalan.
Rafa membuang nafas berat dan melangkah mengikuti istrinya. Mereka melangkah melewati para pedagang kaki lima. Para penjual itu menegur Ara setelah melihat wajahnya. Mereka tahu tentang dirinya karena dulu dia sering ke sini bersama Raka.
"Non Ara ..."
"Ya kang, ya mang, ya bik, ya mbok, ya teh !" Ara membalas mereka satu persatu saat melewati mereka. Ara memberi senyuman mereka.
"Sama siapa non?" tanya mereka melihat pada Rafa yang memegang tangannya.
"Sama Suami!" jawab Ara.
"Non udah nikah lagi?" karena mereka tahu Raka telah meninggal.
Ara mengangguk tersenyum, menjawab setiap pertanyaan mereka.
Rafa memperhatikannya dengan perasaan kagum. Dia senyum-senyum.
Terlihat beberapa anak berlari mendekati mereka.
"Kak Ara....kak Ara..!" mereka mengerumuni Ara dan Rafa.
"Halo anak anak!" sapa Ara.
"Kakak udah lama nggak kesini? Kenapa?"
__ADS_1
"Kakak sangat sibuk sayang, maaf ya! Sekarang kakak datang mengunjungi kalian. Gimana sekolah dan belajarnya?"
"Kami rajin dan giat belajar kak.....!"
"Bagus." Ara menyapu kepala beberapa di antara mereka.
Lalu dia menoleh dan berbisik pada Rafa.
"Mana dompet kakak?"
"Buat apa?" Rafa kaget. Segera merogoh kantong celana belakang, lalu memberikan dompetnya ke tangan istrinya.
"Ada isi uangnya nggak?" tanya Ara.
"Sedikit! Mungkin sejuta. Aku gak biasa nyimpan uang di dompet." bisik Rafa Kembali.
Ara membukanya dan mengambil semuanya.
Lalu diberikan pada seorang anak yang paling gede di antara mereka.
"Ujang, nanti uangnya di pecahin terus bagikan sama semua teman-teman ya?" kata Ara.
"Iya kak, terimakasih." anak anak itu bersorak gembira dan mengucap terima kasih pada mereka berdua, lalu segera meninggalkan mereka dengan perasaan senang.
Ara selalu memberi mereka sedikit rezeki setiap datang ke sini bersama Raka untuk makan.
Rafa menatapinya dengan takjub. Dia tersenyum bangga pada istrinya. Ternyata istrinya dekat dengan anak anak di sini dan juga masyarakatnya.
"Terimakasih Non Ara .....terimakasih tuan." ucap beberapa pedagang kaki lima yang melihat perbuatan baik mereka yang murah hati. Mereka adalah sebagian dari orang tua anak-anak yang di beri uang itu.
Ara dan Rafa mengangguk tersenyum pada mereka.
"Sayang, terus buat bayar makan kamu apa? Semuanya sudah kau berikan pada mereka.
Aku gak punya uang cash lagi." kata Rafa mengingat tak ada uang untuk di pakai buat bayar jajanan istrinya karena semua sudah di berikan Ara pada anak anak itu.
"Aku akan hubungi Wisnu untuk mengantar uang pada kita." kata Rafa kembali.
"Gak perlu. Kakak jangan khawatir, aku punya uang 50 ribu di dompet sisa dari gaji ku bekerja sebagai magang di kantor." ujar Ara.
"50 ribu?" Rafa terkejut mendengar istrinya hanya memiliki uang segitu sementara dia punya segalanya yang sangat banyak dari segi hal. Uang, harta dan kekayaan. Dan semua itu untuk istrinya. Dia juga sudah memberikan semua kekuasaan harta kekayaannya pada Ara.
"Iya kak, cukup kok itu buat bayar makanan kita berdua. Makanan di sini murah meriah, tapi sehat dan bersih." kata Ara tersenyum.
Rafa menatapnya tak bergeming.
Ara kembali menarik tangannya. Melanjutkan langkah menuju gerobak kang Udin.
"Kakak tahu gak? Gerobak gerobak mereka ini adalah pemberian kak Raka dulu!" kata Ara melihat Rafa memperhatikan gerobak yang sama model dan warnanya. Hanya beda pada nomornya saja.
Rafa terkesiap mendengar ucapannya.
"Pemberian Raka?"
Ara mengangguk tersenyum.
"Saat masa pacaran kami empat bulan. Kak Raka memfasilitasi mereka dengan gerobak gerobak ini untuk membantu kehidupan ekonomi mereka. Kawasan pedagang kaki lima ini mengunggah hati kami! Kami berusaha keras mengadakan tempat ini sebagai tempat mereka mencari rezeki!"
Rafa tersenyum kagum.
Kagum dan bangga akan kepedulian kedua adiknya ini. Dia memeluk Istrinya dari samping. Mengecup puncak kepalanya sesaat. Sangat bangga dengan rasa sosial dan kepedulian istrinya pada sesamanya.
"Assalamualaikum kang." sapa Ara tersenyum sopan begitu tiba di warung gerobak Udin.
"Non Ara. Waalaikumsalam Non..." jawab Udin dan istrinya segera mendekati Ara. Senang melihat wanita baik ini.
Beberapa pedagang juga menyapa Ara.
"Nona bagi bagi duit lagi ya sama anak anak?" kata Istri udin.
"Mereka pada berlarian senang. Mereka menyebut nyebut nama Nona. Makasih ya, Nona baik terus pada anak-anak kami."
Ara mengangguk tersenyum.
"Teh.... Aku mau makan somay. Saus kacangnya seperti biasa, tapi di pedasin ya !"
"Baik non...!" kata istri Udin, dia sejenak menoleh pada Rafa.
Udin juga memperhatikan Rafa tanpa bergeming. Begitu juga dengan penjual lainnya yang dekat dengan mereka.
"Non....siapa?" bisik istri Udin.
Ara tertawa kecil....
"Ini kak Rafa, kakak almarhum kak Raka !"
"Ooh kakaknya den Raka." Udin manggut manggut tersenyum. Begitu juga dengan istrinya.
Rafa membuka masker. Lalu segera menjulurkan tangannya untuk salaman. Udin segera menyambutnya. Dia melongo melihat wajah tampan Rafa.
"Wah, kakak ipar non tampan banget." Seru istri Udin dari balik gerobak.
Rafa tersenyum.
"Saya Rafa, kakaknya Raka, Suaminya Ara." katanya memperkenalkan diri.
Hah? Udin dan istrinya terperanjat. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Suami non Ara ?" ucap mereka seperti di komando.
Rafa mengangguk.
"Iya, saya menikahi Ara 6 bulan yang lalu." dia memeluk dan mengecup kening istrinya sejenak.
Lalu segera memakai maskernya kembali melihat pergerakan beberapa pengunjung di sekitar mereka mulai mendekat untuk melihatnya. Karena dirinya terlalu mencolok di antara para pengunjung. Tubuh yang tinggi dan atletis, kulit putih, terlihat tampan dari balik masker, seperti artis artis Hollywood.... begitu yang sempat di tangkap telinganya dari mulut pengunjung yang terpukau pada dirinya.
"Wah, Non beruntung banget dapat suami tampan semua. Den Raka sangat tampan, dan suami Non yang ini lebih kebangetan tampannya. Cocok ama Non cantiknya juga kebangetan! Kalian memang pasangan yang serasi." kata Istri udin gemas melihat mereka berdua.
Dia keluar sambil membawa pesanan Ara.
Rafa dan Ara senyum senyum mendengar ucapannya.
"Teteh berlebihan banget deh." ujar Ara malu malu sambil menerima pesanannya.
"Benar Nona, kenyataan begitu." mengedipkan sebelah matanya. Ara semakin salah tingkah.
Udin membawakan dua kursi untuk mereka.
"Silahkan duduk tuan, Nona!" dia masih terus menatap Rafa. Takjub dengan wajah tampan Rafa.
"Makasih kang." mereka segera duduk.
Ara mulai menyantap makanannya dengan lahap.
"Pelan pelan makannya sayang." ucap Rafa memperhatikan dirinya yang makan dengan terburu-buru.
Dia menyingkirkan beberapa helai rambut di pipi istrinya.
"Enak banget kak ..!" ucap Ara di sela sela menguyah.
Rafa tersenyum kecil melihatnya.
"Kang, minta air mineralnya sebotol." seru Rafa pada Udin.
"Baik tuan."
Rafa memperbaiki rambut istri nya ke belakang, dan me lap saus kacang yang belepotan di bibir istrinya. Dia tersenyum melihat Ara makan dengan sangat lahap.
"Kakak nggak makan? enak banget lho...coba deh!" Ara menyuapkan ke mulut suaminya.
Rafa membuka maskernya, membuka mulutnya.
Ara segera memasukkan makanan.
Rafa menguyah beberapa saat.
"Bagaimana kak ?"
"Enak ..." kata Rafa sembari memberikan jempolnya.
"Bukan hanya enak, tapi enak banget." kata Ara.
"Tapi ini pedas sayang, nanti perutmu sakit, sudah ya?" mengelus perut istrinya. Satu tangannya menarik piring makan Ara.
"Justru aku lebih suka pedas." Ara menarik piringnya yang di ambil Rafa.
Udin datang menyerahkan Air.
Rafa Segera membuka tutup botolnya.
__ADS_1
"Minum dulu." membersihkan saus di bibir Ara, lalu meminum kan Air.
Ara meminumnya beberapa teguk
"Sudah kak." menarik mulutnya, kembali menyantap makanannya.
Sekali kali dia menyuapi suaminya, begitu juga Rafa sesekali memasukkan makanan ke mulut istrinya. Keduanya suap suapan.
"Sayang, sudah ya....ini terlalu pedas, nanti kamu sakit perut." ucap Rafa Kembali menegurnya karena dia sendiri merasa kepedasan.
"Tanggung kak, tinggal sedikit ! Mana airnya?"
"Mau minum?"
Ara mengangguk.
Rafa kembali meminumkan air mineral pada istrinya. Dia juga minum beberapa tegukan karena merasa pedas.
Beberapa saat makanan itu ludes tanpa sisa.
Wajah Ara nampak keringatan. Rafa segera me lap keringat di wajahnya, me lap bibirnya dan memperbaiki rambutnya yang berantakan.
Ara berdiri sejenak untuk menjatuhkan makannya, Rafa juga ikut berdiri.
Terdengar suara bunyi yang keluar dari kerongkongan Ara yang menandakan dia kenyang.
"Ups " Ara kaget, dan malu merasa di perhatikan orang orang di pinggir mereka.
Padahal orang orang itu memang sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Memperhatikan keromantisan mereka.
Rafa tertawa kecil menyentuh perut istrinya.
Ara membenamkan wajahnya di dada suaminya karena malu.
Rafa segera memeluk tubuh istrinya sambil mengecup puncak kepalanya.
Rafa senang melihat istrinya kenyang.
Dia memegang wajah istrinya yang merah merona menahan malu. Lalu mengecup kening dan bibirnya sesaat, kemudian memeluknya kembali. Tak perduli dengan keadaan.
Perlakuan Rafa yang romantis membuat udin, istrinya serta orang orang di sekitar mereka tersenyum senyum takjub. Mereka memperhatikan tingkah Keduanya sejak tadi tanpa mereka sadari.
Bahkan ada yang mengambil beberapa foto mereka saat Rafa melakukan hal hal yang di anggap romantis. Lalu segera di sebarkan ke beberapa akun sosial media, dengan caption.......
"Somay Rasa Cinta"
Ada juga yang menulis....
"Mau dong suami kayak gini"
"So sweet banget." Beragam caption romantis di tulis mereka dan di bagikan.
Bahkan ada yang melakukan siaran langsung secara diam-diam dan sekarang sedang di tonton live oleh seluruh masyarakat tanah air dan cepat viral karena sudah dibagikan oleh banyak pihak.
Kolom komentar di banjiri oleh banyak komentar positif. Dan keduanya tidak menyadari hal itu.
Karena tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang, mereka segera pamit setelah membayar makanan.
Saat perjalanan pulang, mata Ara menangkap sosok yang di kenalnya sedang masuk taksi.
Dia melihat sosok Cindy saat mobil mereka melewati mobil taksi yang hendak di naiki Cindy.
"Cindy?" terkejut.
"Ada apa sayang?"
"Sepertinya aku melihat Cindy deh...."
"Cindy teman kuliahmu?"
"Iya. Aku udah lama mencarinya."
Ara mengalihkan pandangannya ke belakang, tapi taksi Cindy berbelok ke kanan.
Rafa membuang nafas kasar.
"Aku sudah bilang jangan berhubungan lagi dengannya." katanya agak keras mengingat kejadian buruk di paris.
Ara langsung terdiam. Sedih....
Lalu mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Rafa menoleh kepadanya, merasa bersalah karena berkata keras lagi. Dia meraih tangan Ara dengan salah satu tangannya. Di pegang lembut dan mengecupnya berulang kali.
Rafa tidak berkata apa-apa. Ara juga diam seribu bahasa karena takut.
******
Malam hari, kost kostan.
Cindy baru saja dari tempat praktek kandungan. Dia memeriksakan kehamilannya untuk mengetahui perkembangan calon bayinya..Dia menatapi kertas hasil pemeriksaan dan foto dan video USG calon bayinya di ponsel.
"Usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke 10, atau 2 bulan dua Minggu, janin anda berukuran 3,1 centi meter dengan berat 4 gram, telinga telah muncul di sisi kiri dan kanan kepalanya, bibir atas dan hidung mulai terbentuk, rahang dan calon gigi juga mulai terbentuk, jantungnya kini berdetak 180 kali permenit,dia mulai bergerak, sebagian organ vital mulai berfungsi dan matang , seperti paru-paru, otak dan ginjal." kata dokter kandungan saat melakukan USG dan memperlihatkan di layar komputer.
"Anda harus mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, agar nutrisi selama hamil terpenuhi, karena keadaan janin anda sedang tidak baik, kandungan anda juga lemah. Saya akan memberikan resep obat untuk meredam rasa mual, juga vitamin dan susu hamil yang bagus. Anda harus rajin dan rutin mengkonsumsinya. Dan satu lagi saya beritahukan, ibu hamil tidak boleh stress." kata dokter menambahkan.
Dia ingat kata kata dokter itu.
Cindy tersenyum bahagia penuh haru menatap foto calon bayinya, dia semakin bertekad akan mempertahankan kandungan dan melahirkan bayinya setelah mendengar penjelasan dokter bahwa ada detak jantung anaknya yang hidup di dalam rahimnya.
Cindy mengelus perutnya dengan bahagia melihat video hasil USG calon anaknya pada ponselnya.
"Kamu adalah anugerah dan amanah yang Allah berikan kepada mama. Mama akan merawat mu sayang, kamu jangan khawatir, tetaplah sehat dan tumbuh kuat di perut mama." ucapnya lirih dengan mata yang sudah basah karena bahagia.
Cindy segera bangkit berdiri dan menyiram susu hamil. Dia ingin calon bayinya menerima asupan gizi yang cukup agar tumbuh sehat dan kuat.
Setelah di rasa hangat dia langsung meminumnya, beserta obat dan vitamin.
Tapi perutnya kembali mual dan ingin muntah, Cindy segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya yang baru masuk.
Cindy merasa pusing, lemas, nyeri pada perutnya, dan jantungnya berdetak lebih cepat, keringat dingin semakin banyak membasahi wajah dan tubuhnya.
Dengan merangkak, dia mendekat ke tempat tidurnya, karena merasa pusing, tidak kuat untuk berdiri dan berjalan.
Cindy segera berbaring dan menutup tubuh dengan selimut karena merasa demam.
Air matanya mengalir, ternyata begitu beratnya cobaan dan beban seorang wanita saat hamil untuk menjadi seorang ibu.
Dia teringat pada ibunya. Pasti seperti ini juga yang di rasakan ibunya saat mengandung dirinya serta adik adiknya. Air matanya semakin membanjir pipinya mengingat ibunya, dia rindu ibunya, ingin berkeluh kesah dan membagi beban yang sedang di alaminya, tapi tidak mungkin hal itu di lakukan.
Cindy semakin menangis terisak dan menekan perutnya yang nyeri. Dia hanya berharap tuhan memberinya kesehatan, kesabaran dan kekuatan untuk melalui ini semua.
Teleponnya berdering.
perlahan lahan dia meraih ponselnya.
Panggilan dari Dion. Cindy melirik jam, sudah jam 9 malam. Dia segera mengangkat telepon setelah menormalkan suara dan suasana hatinya.
"Halo kak ..!" berusaha bersikap seperti biasa, menekan suara kesedihannya
"Cindy, kamu di mana?" suara Dion dari seberang.
"A aku... sedang di apartemen, ada apa kakak menelpon." katanya berbohong.
"Kalau begitu aku akan ke sana. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor."
Cindy terkejut.
"A apa? kakak mau ke apartemenku? untuk apa? Apa kakak ada perlu yang penting?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? kau tidak mau menerima kedatanganku?"
"Bu-bukan seperti itu kak. Aku hanya ingin tanya saja." kata Cindy kelabakan.
Dion membuang nafas berat.
"Bagaimana keadaanmu?" khawatir dengan keadaan Cindy.
"Aku baik baik saja. Kakak tidak perlu khawatir."
"Syukurlah, aku bawa makanan dan buah mangga untukmu, bentar lagi aku sampai di apartemen mu."
Cindy terbelalak langsung bangun
dari tidurnya.
"Kak...sebenarnya aku sedang tidak berada di apartemen. Aku sedang berada di tempat temanku, kakak balik saja. Aku akan datang ke apartemen kakak sekarang juga, sudah ya... daya ponselku habis, assalamualaikum." Cindy langsung mematikan telepon dan menonaktifkan sebelum Dion bertanya lagi.
Cindy mengatur nafasnya perlahan, berpikir keras. Juga menenangkan hati dan menguatkan dirinya. Dia harus bisa pergi ke apartemen Dion sekarang juga. Dia tidak ingin Dion mengetahui kalau Apartemennya sudah di sewakan dan mengetahui dirinya tinggal di kost kostan.
******
__ADS_1
Terimakasih bagi yang sudah mampir ππ