
Sembari menunggu Raka selesai shalat, Rafa menghubungi Rizal. Dia ingin memastikan penyakit apa yang di derita oleh adiknya setelah melihat wajah pucat Raka tadi. Karena Rizal pernah mengatakan padanya bahwa adiknya sedang sakit dan sudah beberapa kali datang berobat di rumah sakit. Dan dia mengira Raka sudah sembuh dan sehat.
Selama ini dia tahu Raka tidak menderita penyakit apa pun sejak kecil, dia hidup sehat dan normal. Raka juga tidak pernah mengeluh sakit padanya atau terlihat seperti orang yang sedang sakit. Tapi saat tadi melihat wajah Raka pucat, timbul kecemasan di hatinya, karena baru kali ini dia melihat Raka seperti itu.
Setelah tiga kali di hubungi akhirnya teleponnya tersambung. Terdengar suara serak dari seberang, suara khas orang yang baru bangun tidur.
"Kenapa kau menelpon ku sepagi ini? kamu ganggu tidur orang saja." kata Rizal kesal.
"Di mana kau sekarang?"
"What? Kamu menghubungi aku sepagi ini dan mengganggu tidur nyenyak ku hanya ingin menanyakan keberadaan ku? sialan kau." umpat Rizal semakin kesal.
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan, datanglah ke rumah utama sekarang juga."
"Aduh bos jangan sekarang, aku baru pulang dari rumah sakit karena baru melakukan operasi. Aku capek dan mengantuk. Siang saja aku ke sana ..." pinta Rizal memelas. Karena dia tahu Rafa orang yang tidak bisa di bantah bila sudah mengatakan ada hal penting begitu.
"Tidak ada alasan, cepatlah ke rumah, ini lebih penting dari rasa kantuk mu itu." ucap Rafa tegas penuh tekanan, lalu mematikan telepon.
Rizal mendengus kesal, berteriak mengumpat dan mengacak rambutnya kasar.
Wisnu datang dengan tergesa gesa.
"Tuan....!" panggilnya. Dia baru saja dari halaman mesjid.
"Ada apa ?" Rafa menatapnya dengan dahi mengerut. Ara dan Nesa juga menatapnya.
"Sepertinya ada ribut ribut di dalam mesjid."
Wisnu menunjuk ke arah mesjid. Rafa segera turun dan mengalihkan pandangannya ke dalam mesjid.
Terlihat orang orang lalu lalang kesana kemari di dalam sana seperti orang yang panik.
"Kalian tunggu di sini, kunci pintu mobil." ucap Rafa pada Nesa dan Ara.
"Innalilahi wainnailaihi rojiun..." tiba tiba terdengar suara dari dalam mesjid.
Mereka terkejut dan saling berpandangan satu sama lain mendengar kalimat itu, lalu
secara bersamaan mereka mengikuti mengucapkannya.
Dada Ara terasa di hentak keras. Perasaannya tidak enak, dia langsung teringat suaminya.
"Kak Raka." desisnya d
tidak tenang. Cepat dia membuka pintu mobil dan turun berlari ke arah mesjid.
Rafa mengejarnya dan menangkap sala satu tangannya. "Ara tenanglah."
"Aku khawatir dengan suamiku kak," ucap Ara tidak tenang.
"Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikir buruk tentang Raka. Dia baik baik saja, kamu sendiri dengar tadi dia sedang memimpin sholat." ujar Rafa menenangkan, meski hatinya juga tidak tenang dan cemas teringat wajah pucat adiknya.
"Tidak kak, aku tidak berpikir seperti itu, aku hanya khawatir dengan keadaannya. Sejak tadi perasaan ku gak enak ! aku ingin kesana melihat dia. .emastikan keadaannya karena dia sedang tidak sehat." Ara semakin panik dan tidak tenang. Dia dapat menebak apa yang di maksud kakak iparnya.
"Baiklah, ayo kita sama sama,"
Mereka segera berlarian ke dalam mesjid, di ikuti Wisnu yang masih sempat memberi kode pada mobil yang berada tidak jauh dari mobil mereka. Nesa juga segera turun dan berlari ke mesjid karena hatinya juga tidak tenang.
__ADS_1
Saat mereka masuk, terdengar ucapan sedih dan berduka cita dari para jemaah yang sempat melaksanakan shalat subuh. Mereka berkerumum di ruang sholat laki laki bagian depan, tepatnya di dekat mimbar.
"Permisi pak, ada apa ya ribut ribut ?" Rafa bertanya pada seseorang yang hendak berjalan keluar.
"Ada yang meninggal pak, saya mau menelpon ambulans." ucap pria itu dengan wajah sedih.
Ara terbelalak, begitu juga dengan Rafa. Dada Ara bergemuruh kencang semakin cemas, apalagi dia tidak melihat sosok suaminya di antara kerumunan para jemaah. Perasaannya semakin tidak tenang. Dia segera menuju tempat orang berkerumun, yang sepertinya sedang mengerumuni sesuatu.
"Permisi, permisi pak." ucapnya pelan menerobos ke arah kerumunan.
"Maaf permisi... " Rafa juga masuk dalam kerumunan itu.
Mata mereka terbelalak saat melihat tubuh Raka yang berbaring terlentang dengan kepala berada di pangkuan seorang jamaah tua yang sedang menangis terisak. Wajah Raka nampak tersenyum bahagia dengan mata sedikit terbuka seakan menatap kearah mereka berdua. Tapi tubuh itu diam tak bergerak.
"Kenapa dengan suami saya?" tanya Ara dengan bibir bergetar. Dia segera menyentuh tangan suaminya yang bersedekap di dada sambil memegang tasbih. Meraba raba wajah suaminya dan juga anggota tubuh lainnya, sebagian terasa hangat dan sebagian dingin.
Para jemaah yang berkerumun memandang ke padanya ketika dia menyebut suami.
"Apa anda istrinya ?" tanya di antara mereka .
"Benar, dan saya kakaknya." jawab Rafa ikut duduk di samping tubuh adiknya.
"Maaf, adik bapak telah meninggal dunia." sambung salah seorang di antara mereka dengan suara pelan dan rendah.
Rafa tersentak. "Apa ?" dengan mata membulat. Dia langsung memeriksa tubuh adiknya
"Bagaimana bisa adik saya meninggal?" katanya dengan tatapan tajam.
"Raka...." menggoyang tubuh Raka, raut wajahnya langsung berubah.
Ara tercengang tak percaya, air matanya jatuh mengalir.
Ara menjerit semakin cemas dan takut
"Kakaaaaak ....."
"Kakak, ini aku kak, bangun , buka matamu " dia menepuk nepuk wajah suaminya .
"Kakak, kenapa kamu diam saja ? ini aku istrimu . jangan diam saja, ayo bangun...." jerit Ara histeris karena tak ada pergerakan dari tubuh suaminya.
Dia menggoyang goyang tubuh suaminya tetap tak ada pergerakan apa pun,tubuh itu tetap diam.
"Bangun kak jangan bercanda...jangan mengerjai ku..ini gak lucu..cepat bangun..," Ara menangis dan semakin menjerit keras memeluk tubuh suaminya, meletakkan kepalanya di dada suaminya, tak dirasakan detak jantung berdenyut di sana.
"Tidak mungkin " ucapnya lirih dan semakin histeris, setelah merasakan tanda-tanda kematian pada suaminya.
"Tidaaaak, kakak tidak boleh mati, jangan tinggalkan aku, bangun kak, banguuuun.... Kakaaaaa." jeritnya menangis keras, semakin memeluk erat tubuh suaminya. Tangannya gemetaran menyentuh wajah suaminya. Dia mencium kening suaminya, mengecup bibir suaminya, mata suaminya kedua pipi suaminya.
"Ini aku istrimu kak, aku mohon bangunlah... bangun kakaaaa..aaaaa,"
"Jangan tinggalkan aku, kakak bangun dong. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Kakak sudah berjanji akan menjagaku seumur hidupku, kakak berkata akan hidup menua bersamaku, kakak bohong, kakak ingkar janji," katanya kembali menangis tersedu-sedu menggoyang goyangkan tubuh suaminya.
"Bangunlah aku mohon, jangan tinggalkan aku, aku sangat butuh kakak di samping ku, aku takut sendirian ! kakaaaaaaaaaa kakaaaaa....." ucapnya menangis pilu di dada suaminya, berteriak seperti orang hilang akal.
"Kakak ipar, bangunkan suamiku, aku mohon bangunkan dia, kita akan segera pulang ! cepat kak, bangun kan suamiku." Ara menarik tangan Rafa yang juga menangis dan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada adiknya.
Semua yang ada di situ menatapnya sedih dan menitikkan air mata mendengar tangisannya yang menyayat hati.
__ADS_1
Ara merasakan dunia seakan runtuh di kepalanya, tubuhnya semakin melemah, kesadaran menghilang, dunia di lihatnya gelap. Sesaat kemudian tubuhnya terkulai lemas lunglai memeluk suaminya. Dia pingsan.
Keadaan semakin panik. Rafa tersentak segera memegang kedua bahu Ara. Memeriksanya sebentar. Dua orang perempuan anak buah Wisnu mendekat setelah mendapat isyarat dari Wisnu dan segera mengangkat tubuh Ara ke luar dengan sangat hati hati menuju mobil mereka. Lalu segera membawa tubuh nona muda mereka ke rumah utama.
Rafa yang berlutut di samping adiknya pun seakan tak percaya. Air matanya yang sudah tumpah sejak tadi terus mengalir. Dia diam terpaku menatap tubuh adiknya yang diam membisu " Raka .." ucapnya lirih di sela tangisnya
"Kakak nggak percaya kalau kamu sudah....." tak sanggup meneruskan ucapannya. Perlahan dia meraih tangan adiknya, merasakan urat nadinya.
Air matanya semakin jatuh lebih deras karena tak merasakan detak denyut nadi lagi di sana. Dia meletakkan wajahnya dekat di hidung adiknya, tak ada hembusan nafas yang terasa.
Rafa semakin menangis terisak isak.
Sesaat kemudian dia mengusap tangan kanannya di wajah adiknya dari atas ke bawah sambil mengucap doa " La Ilaha illallah...kemudian di susul mengucap dua kalimat syahadat, sehingga mata Raka yang sedikit terbuka tertutup rapat. Memang benar adiknya Itu telah pergi meninggalkan mereka, dia memeluk tubuh Raka erat dengan air mata membanjir. Dia tetap masih tak percaya jika adiknya ini sudah tiada. Tangisannya semakin kuat, tapi dia berusaha menekannya. "Rakkaaa..ahhaaaah."
Di sampingnya Wisnu menangis dalam diam.
Nesa pun yang menyaksikan hal itu melihat adiknya membenarkan kematian Raka menghambur memeluk tubuh adiknya, menangis menjerit histeris.
"Rakaaa.... Rakaaa, bangun Ka.. " Nesa menggoyang goyangkan tubuh adiknya yang di peluk Rafa.
"Kamu nggak boleh mati, jangan tinggalkan kakak, kamu belum bertemu mama, ayo bangun, kita pulang sama sama. Mama sedang menunggu kedatangan kita, si kembar sedang menunggu mu, Rakaaa... huuuu " ucap Nesa di sela sela tangisannya.
"Cio dan Cia menunggu ole ole darimu, mereka menunggu dirimu untuk shalat dan main bersama. Ayo bangun kita pulang sayang. Kakak janji akan menjadi ibu yang baik untuk Cio dan Cia, kakak berjanji padamu. Kamu bangun yaaa ...Rakaaa..aaaa " Nesa terus bicara sambil menangis seperti orang gila, kadang tertawa lalu menangis histeris lagi memanggil nama Raka.
Dia masih tidak bisa menerima kematian adiknya. Adiknya yang sopan dan sangat menyayanginya, adiknya yang tidak pernah lelah memberikan nasehat yang baik padanya, meski selalu di marahi. Adiknya yang baru beberapa menit lalu berpelukan dengannya, memberikan bahu hangatnya untuk dia tidur.
Wisnu yang juga duduk berlutut di dekat jasad Raka memperhatikan wajah tuan mudanya yang tersenyum tenang seperti orang yang tidur. Sama seperti yang di lakukan Rafa, dia juga ingin memastikan keadaan tuannya. Karena dia juga tidak percaya jika tuan mudanya yang sangat baik pada semua orang ini sudah tiada. Perlahan dia meletakkan jari telunjuknya pada lubang hidung Raka beberapa saat.Tidak di rasakan hembusan nafas yang terasa. Dia ikut menekan denyut nadi pergelangan tangan Raka, tak berdetak. Tuan mudanya itu memang benar telah meninggal.
"Tuan muda." desisnya lirih. Dia tertunduk lesu, air matanya mengalir di kedua sudut matanya. t
Tuan mudanya memang telah pergi untuk selamanya meninggalkan mereka.
"Tuan muda huhuuu..."
Dia menangis terisak isak dengan suara di tekan kuat. Tangannya memegang lembut kedua tangan Raka dan membacakan doa di dalam hati.
Baru beberapa menit yang lalu tuan mudanya berkata menyuruhnya untuk menjaga istirnya,
meminta memegang tangannya untuk di tarik keluar karena susah terhimpit tubuh dua wanita yang di sayanginya. Wisnu teringat sesuatu, sewaktu dia menarik tangan tuan mudanya tadi, tangan itu di rasakan dingin.Tapi dia mengabaikannya.
Apakah itu pertanda? gumamnya.
Seorang jemaah tua yang merupakan imam mesjid menepuk pelan pundak Rafa.
Rafa segera mengangkat kepalanya yang tertunduk, dia masih terisak dengan air mata yang tak mau berhenti jatuh.
"Jangan mengantar almarhum dengan kesedihan yang mendalam, nanti dia tidak akan tenang dan ikut sedih ! berbahagialah, karena almarhum meninggal dengan keadaan Husnul khatimah. Almarhum menghembuskan nafasnya yang terakhir saat sujud terakhir. Kami sempat mendengar beliau mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan lihatlah wajah almarhum yang tersenyum bahagia. Ketika sekarat dia melihat sesuatu yang membahagiakan, sampai rasa bahagia itu bisa mengobati rasa sakitnya yang sekarang ! Masya Allah, sungguh beruntung orang orang yang meninggal dengan keadaan Husnul khatimah, karena Allah sudah menyediakan surga untuknya." kata imam mesjid itu terisak isak.
"Entah amalan baik apa saja yang telah di perbuat almarhum semasa hidupnya, bahkan alam pun tersenyum indah dan tenang mengantarkan kepergiannya. Masya Allah ! Semoga kita termasuk orang-orang yang meninggal dengan keadaan Husnul Khatimah sama seperti Almarhum." sambung kembali sang imam dengan nada sendu.
"Aamiinn," ucap para jemaah.
Untuk penyebab kematian Raka, mereka memastikan karena akibat serangan jantung.
*******
Selamat jalan Raka π’π’
__ADS_1
Happy reading , jangan lupa like vote dan komentarnya ya βΊοΈπππ