Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 257


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 20.30.


Cindy segera melaksanakan shalat isya yang sudah sangat lewat waktunya.


Untuk mengobati kesedihan di hatinya hanya pada Allah tempatnya untuk berkeluh kesah. Airmatanya tumpah di atas sajadah.


Dia memohon pengampunan atas dosanya pada orang tuanya dan juga pada orang orang merasa tersakiti olehnya.


Setelah beberapa saat berdoa, dia melepas mukena dan juga sajadah.


Lalu segera berbaring, berusaha memejamkan mata berharap cepat tidur agar tidak lagi merasakan kepedihan di hatinya.


Beberapa saat kemudian, Dion masuk dengan segelas susu dan air putih di tangan untuk Cindy.


Karena Cindy belum minum susu untuk malam karena jatuh dan tumpah tadi.


Dion meletakkan gelas di nakas lalu naik ke ranjang mendekati Cindy pelan pelan.


"Cind..kamu udah tidur?" menyentuh lengan Cindy yang tertutup selimut.


Seluruh tubuhnya tertutup selimut.


Tak Ada jawaban.


Perlahan Dion menarik selimut ke bawah.


Cindy tertidur dengan dengkuran halusnya. Ujung mata kanannya basah.


Di tangan kanannya menggenggam buah mangga yang sudah setengah di habiskan.


Dion menghela nafas sedih. Iba melihat keadaan adiknya.


Tadi eskrimnya jatuh karena kemarahannya pada Andry. Dan malam ini tidak sempat minum susu karena tragedi yang menimpa Bela.


Akhirnya membuat istrinya ini tidur dengan perut kosong.


Tadi spontan saja Dia menolong mengobati tangan Bela. Karena melihat darah gadis itu terus mengalir dan jatuh di lantai.


Dia juga berpikir apa mungkin Cindy memang ingin mencelakai Bela karena kali aja Cindy sakit hati dan dendam pada Bela atas kedekatan yang terjadi beberapa kali di antara dia dengan bela.


"Maafkan kakak Cind.." keluhnya sedih dan menyesal. Dia menyapu kepala gadis itu lembut.


Ponsel Cindy bergetar empat kali, lalu mati.


Dion segera meraih benda pipih itu.


Panggilan tak terjawab dari nomor baru yang tidak ada namanya.


"Siapa ini?" gumannya.


Lalu masuklah sebuah pesan.


"Cindy, ini aku Andry. Aku dapatkan nomormu dari Friska. Aku hanya ingin menanyakan bagaimana keadaanmu? soalnya aku cemas kepadamu, dengan melihat sikap aneh kakakmu yang menarikmu paksa tadi di apotik. Hubungi aku segera ya jika kau telah membaca pesan ini, biar aku tenang."


Dion mendengus geram.


"Beraninya dia mencemaskan istriku?" meremas ponsel Cindy kuat, lalu menghapus pesan masuk dan panggilan lelaki itu Kemudian memblokir nomornya agar tidak lagi menghubungi Cindy.


Dion meletakkan ponsel Cindy, kemudian turun dari ranjang dan mengganti pakaian tidur. Shalat sejenak lalu duduk di sofa sambil membuka laptop, memeriksa pekerjaan dan juga mengecek email-nya.

__ADS_1


Sesekali dia melihat ke arah Cindy.


Dia berharap Cindy bergerak dan bangun agar bisa meminum susunya.


Setelah hampir dua jam berkutat dengan pekerjaan, dia kembali ke tempat tidur.


Berbaring di belakang Cindy yang memang sengaja tidur menjauhi dirinya.


Dion mendekatkan tubuhnya di belakang Cindy.


Mengecup puncak kepala dan membelai lembut.


Terdengar dengkuran halus dari mulut Cindy yang menandakan bahwa dia memang sudah tertidur nyenyak.


Pelan pelan Dion membalikkan badan Cindy menghadap kepadanya. Hingga dia bisa leluasa menatap wajah istrinya ini.


Dion tersenyum kecil melihat wajah polos adiknya ini.


Teringat di benaknya saat Cindy marah padanya karena telah mencium bibirnya dalam mimpi yang di kiranya adalah bibir Ara. Cindy merungut kesal dan marah padanya karena telah mengambil ciuman pertamanya. Padahal selama ini Cindy berusaha sekuat hati bertahan tidak mau melakukan ciuman bibir pada setiap cowok yang memacarinya.


"Aku menjaganya untuk calon suamiku nanti dan malah kakak yang mengambil ciuman pertamaku." rungut Cindy kesal dan marah kepadanya... waktu itu.


Dion kembali tersenyum mengingat kata kata itu sambil meraba-raba lembut benda kenyal merah alami ini. Dan yang pada akhirnya malah dirinyalah yang menjadi suami adiknya ini.


Semakin lama memandangi benda kenyal itu membuat Dion tersihir.


Dia menelan ludahnya. Dirinya tergoda.


Perlahan dia mendekatkan bibirnya.


Mengecup pelan, di kecupnya lagi...di tekan.


Jantungnya di rasakan mulai berdegup tak beraturan.


Dia semakin tergoda dan tanpa pikir panjang menciumi benda kenyal itu.


Mengulum lembut atas bawah bergantian.


Terdengar lenguhan dari mulut Cindy, membuat bibir Cindy terbuka sedikit.


Dion langsung **********.. ******* atas bawah bergantian.


Dia memasukkan lidahnya kedalam mulut yang masih terbuka. Menari nari kan lidahnya liar di dalam, mengabsensi setiap sudut mulut Cindy.


Terdengar ******* dari mulut Cindy.


Antara ketisadaran dalam tidurnya Cindy membalas ciumannya.


Dion kaget dan melihat mata Cindy yang terpejam. Cindy membalas setiap gerakan bibirnya mengulum dan ******* bibirnya.


Jantung Dion semakin berdebar kencang.


Dion merasakan aliran darahnya yang mengalir deras ke otot otot tubuh dan organ seksualnya merasakan ******* di bibirnya.


Gairahnya menjalar di sekujur tubuhnya. Dia tidak dapat berpikir jernih. Akhirnya kembali melahap bibir adiknya ini.....mengulum, ******* dan menghisap Atas dan bawah bergantian.


Karena tidak sadar diri dan terbawa dengan gairahnya yang tidak dapat di tahan lagi, tanpa di sadari ciuman bibirnya menjalar ke telinga, mengecup dan menjilati di sekitar daun telinga Cindy.


Cindy kembali mendesah, dengan tubuh terangkat melengkung, Dion langsung membenamkan wajahnya di lehernya yang terbuka. Mencium, menjilati bagian jenjang itu.

__ADS_1


Cindy semakin mendesah meremas kepalanya.


Gairah Dion semakin bertambah mendengar desahannya, dia mengecup kuat batang jenjang putih berkeringat itu hingga meninggalkan tanda.


Cindy mengerang kuat.


Dion cepat mengangkat wajahnya dan membungkam erangannya.


Kembali ******* benda kenyal Cindy.


Cindy tiba tiba batuk batuk kecil karena merasakan mulai kesulitan bernafas.


Dion terkejut dan langsung menarik bibirnya. Dia cepat membaringkan tubuhnya di samping Cindy dengan mata terpejam. Dadanya berdegup semakin kencang, nafasnya memburu tak beraturan, keringat membasahi wajah dan tangannya.


Cindy bergerak gerak membuka matanya.


Kemudian bangun menormalkan jalan pernafasannya. Dia menyapu wajahnya yang berkeringat.


Dia menoleh ke samping, melihat kakaknya yang sedang tidur sambil miring menghadap kepadanya.


"Jam berapa ini?" gumannya.


Dia meraih ponselnya, sudah hampir jam satu dini hari.


Perlahan dia turun menuju nakas, meminum air karena dia sangat haus. Di lihatnya juga ada susu hamilnya yang sudah dingin.


"Ini pasti di buat kakak untukku," gumannya kembali. Dia menoleh sesaat pada Dion yang masih dengan posisi tidurnya.


Sesungguhnya saat ini dia sangat lapar.


Dia segera mengambil susu itu dan meminumnya perlahan lahan sampai habis meski sudah dingin.


Kemudian dia cepat naik ke tempat tidur.


Pelan pelan memeluk Dion dan menekan wajahnya di dada kakaknya itu agar tidak muntah. Karena aroma tubuh kakaknya yang dapat menenangkan hatinya dan menekan rasa mualnya.


Dia berharap Dion tidak akan terbangun.


Dion tersenyum kecil terus diam dan membiarkan apa yang dia lakukan.


Sesaat dahinya mengernyit,


"Apa yang terjadi padaku? kenapa aku bisa melakukan itu padanya? apa yang kurasakan?" batinnya. Mengingat kembali ciuman yang di lakukan pada Cindy. Ciuman panas membangkitkan gairah seksualnya, hingga membuat miliknya menegang.


"Perasaan apa ini? kenapa hatiku tidak tenang begini? Jantung ku berdebar terus." batinnya kembali.


Lama dia memikirkan apa yang di lakukannya tadi. Di lihatnya Cindy sudah tertidur kembali terus memeluk dirinya.


Dion kembali merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya tadi padi adiknya ini. Menjatuhkan eskrimnya dan dekat kembali dengan Bela yang sudah pasti membuat Cindy sedih.


Cindy bergerak sesaat lalu tidur kembali dengan menekan wajahnya di dada Dion.


"Maafkan kakak ya..kau pasti sedih dan kesal." Dion memeluk tubuh adiknya.


"Kakak hanya sekedar menolong Bela tadi, biar bagaimanapun dia adalah tamu di rumah ini."


Membelai kepala dan punggung Cindy.


Beberapa saat kemudian menutupkan selimut ke tubuh mereka, memeluk kembali dan segera memejamkan mata.

__ADS_1


******


__ADS_2