Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 74


__ADS_3

Pagi hari.


Raka dan Ara mengantar Cio dan Cia ke sekolah, karena semalam Nesa tidak pulang ke rumah.


Selanjutnya Raka mengantar Ara ke kampus.


"Kak, nanti selesai kuliah aku izin berkunjung ke panti." Ara memecah keheningan.


"Mau kakak antar?" tanya Raka menoleh sekilas pada istrinya, lalu kembali fokus ke depan.


"Gak usah, kakak kan kerja. Aku akan naik taksi online kang Narto saja, sekalian mau beli keperluan untuk anak anak." Ara menoleh pada suaminya.


"Baik sayang." kata Raka.


"Kata Tito, pembangunan yayasan sudah mencapai 50 % tahap penyelesaian, sang donatur telah menambah lagi tenaga buruh kerja." sambung Ara kembali.


"Alhamdulillah, semoga pembangunannya cepat selesai. Donaturnya sangat mengerti dengan kondisi anak anak yang tidur berdesakan dan melaksanakan ibadah dengan ruang yang sempit." ujar Raka.


"Iya, Apalagi jumlah anak anak semakin bertambah. Sungguh mulia sekali hati sang dermawan itu. Menyumbangkan begitu banyak uang nya untuk anak anak. Semoga Allah melipatgandakan rezekinya, memberikan umur yang panjang, memberikan nikmat kesehatan selama hidupnya, juga segala kebaikan dunia dan akhirat." Ucap Ara berdoa untuk sang donatur yang tidak di ketahui adalah kakak iparnya sendiri, Rafa.


"Aamiin! Doa yang sama juga untukmu sayang. Berkat kepedulian mu, kebaikan hatimu, pada anak anak malang itu, semangat dan kerja kerasmu memperjuangkan hidup mereka." Raka menggenggam tangan istrinya dengan salah satu tangannya.


"Aku sangat bangga padamu." sambung Raka menoleh tersenyum. Dia mengecup tangan Ara.


"Aku sangat prihatin dan sedih melihat anak anak itu. Kelaparan, kepanasan, kehujanan dengan hidup yang selalu di bayangi ketakutan." kata Ara sedih mengenang kehidupan anak anak panti sebelum mendapatkan bantuan uluran tangannya.


"Aku juga sangat berterima kasih pada kakak, karena kakak orang yg pertama membantu ku, menyelamatkan kehidupan mereka dengan menyumbangkan semua uang tabungan hasil kerja kakak selama ini. Semoga Allah membalas kebaikan kakak dengan seribu kebaikan." ucapnya tersenyum tulus, mencium tangan suaminya.


Raka memarkirkan mobilnya di depan kampus, lalu menatap wajah cantik istri nya.


"Aku tak tak ingin seribu kebaikan. Cukup satu saja, bisa bersamamu selamanya hingga kita menua nanti sampai ajal menjemput." katanya tersenyum, mengecup jari jemari istri nya.


"Aamiin ya Allah, aku pun tak ingin apa pun. Cukup bersama dengan kakak selamanya hingga ke surga." ucap Ara ikut tersenyum haru, lalu mereka saling berpelukan cukup lama.


Terima kasih sayang, sudah mau menemaniku dengan setia dan menerima segala kekurangan ku, batin Raka


Ara melepaskan pelukannya.


"Aku turun ya, kakak hati hati di jalan."


Raka mengangguk tersenyum, menyapu kepala istrinya lembut, mendaratkan kecupan di kening.


Ara segera turun setelah mengalami tangan suaminya.


"Da da..." ucapnya melambai kan tangan,


yang langsung di balas Raka dari dalam.

__ADS_1


Raka segera menjalankan mobilnya menuju studio Nesa. Sebelum ke kantor dia ingin menyambangi kakak perempuannya itu karena merasa khawatir tidak pulang semalam.


Ara segera menuju perpustakaan begitu mendapat pesan dari Ines kalau ke dua sahabatnya itu sedang berada di ruang baca


"Ara....." panggil Ines melambaikan tangan kepada Ara untuk memberitahu posisi keberadaan mereka.


Ara menolehkan pandangannya ke sudut kanan.


"Hay..." balasnya segera menuju ke arah teman temannya.


Di situ bukan hanya Ines dan Cindy, tapi juga ada seorang cowok yang duduk bersama mereka. Ketiganya menatap ke arahnya yang mendekat. Ketiga sahabat itu saling berpelukan dan cipika-cipiki.


"Ra, perkenalkan kakak sepupuku__ kak Dion," kata Cindy memperkenalkan cowok yang bersama mereka.


"Kak Dion mahasiswa semester 7 pindahan dari Bandung." sambung Cindy.


Ara menoleh pada Dion.


"Hay kak, aku Ara." katanya tersenyum. Wajah tampan, kulit putih, memakai jaket bomber hitam, kaus polos putih dan juga topi santai berwarna hitam.


Cowok yang bernama Dion itu bangkit dari duduknya. Dia menatap dalam-dalam wajah Ara yang tersenyum padanya.


"Sungguh Manis senyuman ini, semakin menambah kecantikan." kata Dion dalam hati.


Dia mengulurkan tangan tanpa berpaling dari menatap mata teduh yang menenangkan.


"Oh__kakak sudah tau nama panjang ku pasti dari mereka." Ara tertawa kecil menoleh bergantian pada Cindy dan Ines. Lalu segera menarik tangannya dari jabatan Dion tak ingin berlama-lama bersentuhan dengan laki laki yang bukan mahramnya.


Sedang Dion segera melepaskan pegangannya ketikan merasa Ara menarik tangannya. Dia tersenyum dengan sikap Ara yang menjaga jarak dengan lawan jenisnya.


Cindy menepuk pundak Dion yang matanya tak lepas dari wajah Ara.


"Kak...." kata Cindy.


"Hmmm?"


"Coba lihat tuh, mata cewek cewek di sini mau copot ngelihat kakak turus."


Dion dan Ara mengikuti pandangan mata Cindy ke segala penjuru ruangan itu. Dan benar saja cewe cewe menatap terpukau pada sosok Dion yang terlihat tampan mempesona di mata mereka. Mereka mendesis kagum tak berhenti menatap Dion. Bahkan ada beberapa di antara mereka tersenyum genit dan mengeringkan mata pada Dion.


"Ih ganjen." ucap Cindy sinis melihat jijik ke arah mereka.


"Ya begitulah punya resiko wajah tampan. Wajah kak Dion kayak opa opa Korea, sangat kyut dan keren. Aku saja tak bosan menatap wajah kak Dion." celetuk Ines menatap wajah Dion dengan nakal.


Ara dan Dion tersenyum.


Sedangkan Cindy kesal melihat padanya. Tapi Ines tidak peduli, dia memonyongkan bibir pada Cindy."Kak Dion udah punya pacar belum?" tanyanya kemudian pada Dion.

__ADS_1


Dion diam, matanya menoleh pada Ara yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Belum," jawabnya perlahan.


Ines tersenyum senang.


"Benarkah? Aku mau dong jadi pacar kakak."


"Heh...kau bukan tipe kak Dion." gertak Cindy.


"Siapa tau kak Dion mau sama aku, he-he-he! Kita kan teman Cin, seharusnya kamu dukung aku dong, benar gak Ra?" Ines meminta dukungan Ara.


Ara yang sudah tau tingkah Ines bila melihat cowok cowok tampan, hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


"Kamu masih ingat gak sama dokter Rizal?" tanyanya teringat pada dokter Rizal. Karena Ines menyukai dokter tampan itu dan mengaguminya.


"Dokter tampan itu?" kata Ines teringat dokter Rizal.


Ara mengangguk."Dia ngirim salam sama kamu." jahil Ara.


"Benarkah?" Ines terkejut dengan wajah sumringah.


Ara tak menjawab. Hanya tersenyum. Dia segera bangkit.


"Oh ya teman-teman, 15 menit lagi MK pertamaku akan di mulai. Aku pamit ke kelas dulu." Ara menoleh bergantian pada Dion dan ke dua sahabatnya. Dion mengangguk. Yang sebenarnya dia masih ingin Ara berada di sini, menatap lebih lama wajah cantik itu.


"Permisi." Ara pamit lalu segera pergi di ikuti Cindy dan Ines setelah pamit pada Dion.


"Hari ini kamu jadi ke yayasan?" tanya Cindy di sela langkah mereka.


"Iya, setelah jam kuliah ku selesai. Kalau kalian tak ada jadwal siang, tolong temani aku belanja ya?"


"Ok Ra, nanti aku akan chat kamu." kata Cindy.


Ara mengangguk tersenyum.


Sedangkan Ines menarik narik tas Ara.


"Ra, benar ya dokter Rizal ngirim salam sama aku? Apa dia sudah mau membuka hatinya untuk ku?" penasaran dengan ucapan Ara tadi.


Cindy dan Ara tertawa cengengesan dengan sikapnya yang lucu itu.


Ara mengecup pipi sahabat nya itu dengan gemas, lalu segera melangkah cepat tak perduli panggilan panggilan Ines. Dia terus melangkah di iringi tatapan mata Dion yang tak lepas darinya.


Mata Dion yang mengagumi keindahan dan kecantikan alami Ara sejak melihat gadis itu beberapa waktu yang lalu. Baginya Ara gadis yang sangat berbeda dari gadis gadis lain.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2