Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 289


__ADS_3

Ruang kerja.


"Sepertinya Azham dan Azhar akan segera mempunyai seorang ibu. Kau harus segera melamar gadis itu Wisnu. Kedua anakmu menyukainya." kata Rafa seraya menandatangani berkas kontrak kerjasama.


Gerakan Wisnu terhenti, Kaget mendengar ucapan tuannya.


"Tuan...."


"Jangan membantah ucapan ku. Kau tahu aku paling tidak suka bantahan dan penolakan. Aku memikirkan Azham dan Azhar." kata Rafa kembali dengan tegas.


"Selama ini kau menolak untuk menikah karena anak anakmu tidak menyukai wanita wanita pilihan ibumu. Tapi kepada Ines, mereka sangat suka bahkan menyayangi gadis itu. Kata Ara, Dia wanita singel. Putus sama pacarnya dua bulan yang lalu. Kau harus segera mendekatinya sebelum keburu sama yang lain." kata Rafa kembali.


"Aku setuju." timpal Rizal senyum senyum.


"Setelah sekian lama akhirnya anak anakmu menyukai seorang wanita dewasa. Aku senang sekali saat melihat mereka dekat dan menyukai Nona Ines. Kau tahu kan betapa sulitnya mencari wanita yang di sukai anak anakmu untuk menjadi ibu mereka? Dan akhirnya mereka sendiri yang menemukan gadis itu. Aku lihat Nona Ines juga sayang pada anak anakmu. Aku yakin dia pantas menjadi ibu sambung Azham dan Azhar." lanjutnya kembali.


Wisnu tak mengindahkan ucapannya, dia terus fokus pada pekerjaannya.


"Sekretaris Wisnu. Kau juga sudah lama menduda. Sudah waktunya kau mengakhiri masa kesendirian mu. Kau perlu seorang wanita untuk mendampingi mu di hari tua. Jangan pekerjaan terus yang di pikirkan. Pikirkan juga dirimu, terutama anak anakmu yang butuh kasih sayang seorang ibu. Sejak lahir mereka tidak pernah merasakan cinta, kasih sayang dan kehangatan seorang ibu. Aku yakin Nona Ines dapat memberikan semua itu. Aku melihat ketulusan di matanya." kata Moly yang sedang bersandar pada lengan Rizal.


"Sejak kapan Wisnu?" tanya Rafa menatapnya.


"Maksud tuan...?" Wisnu gugup karena tidak mengerti pertanyaan tuannya.


"Azham dan Azhar mengenal Ines. Si kembar baru beberapa hari di tanah air, tapi mereka sudah begitu dekat dan akrab dengan Ines."


"Mereka bertemu di cafe bandara. Saat itu ibu dan anak anak baru tiba dari Amerika dan menunggu saya. Kebetulan nona Ines juga berada di tempat itu bersama tantenya yang baru tiba dari Bali." jawab Wisnu.


"Sudah dapat di pastikan semuanya memang sudah di atur sama Allah. Rencana Allah mempertemukan Si kembar dengan calon ibu sambung mereka di tempat itu." kata Moly tersenyum penuh arti.


"Benar sekali." kata Rizal.


Pintu di ketuk. Mereka menoleh. Masuklah Ara.


Matanya langsung di suguhkan dengan Moly dan Rizal yang duduk berdekatan, mesra di sofa tunggal.


"Sayang..." Rafa langsung bangkit berdiri dan mendekati istrinya.


"Aku kemari untuk mengajak kalian makan malam. Bik Narsih sudah menyiapkan semuanya." kata Ara tanpa mengalihkan tatapannya pada kemesraan Rizal dan Moly.


Dia tersenyum melihat kemesraan kedua pasangan kekasih itu. Pikiran Ara membayangkan sesuatu yang membuat hatinya senang.


"Lagi mikirin apa sayang?" tanya Rafa melihat dahinya yang mengerut pertanda sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, boleh nggak aku minta sesuatu?"


"Tentu saja sayang. Apa pun keinginan mu akan ku penuhi." kata Rafa seraya mengecup keningnya lembut. Lalu melingkarkan ke dua tangannya di pinggang istrinya


"Benarkah? Apa pun?" tanya Ara kembali menatap lekat wajah suaminya.


"Tentu saja! Sekarang katakan, apa yang kau inginkan, Hmm?" kata Rafa, lalu mencuri mengecup bibirnya sekilas.


Ara menatapnya cemberut. Suaminya mulai lagi tanpa perduli dengan keberadaan orang lain di ruang ini.


"Langsung bilang aja Ra. Kau mau separuh dari isi dunia pun pasti akan di berikan." sela Moly.


"Kalau nggak di penuhi gimana?"


"Pasti suamimu akan memenuhinya cantik. Kau ingin apa? Apa kau ingin suamimu jadi ojek online? atau satria baja hitam?" timpal Rizal tertawa kecil.


Ara ikut tertawa. Moly juga tertawa.


Rafa menatap tajam pada Rizal.


"Atau kau ingin dia berjalan di semen basah? Makan kotoran ayam? nyium..." ucapan Rizal terpotong karena sebuah benda yang di lempar Rafa mendarat di jidatnya.


Rizal meringis menatap kesal padanya.


"Aku kan hanya menebak keinginan istrimu." katanya kesal.


Ara dan Moly kembali tertawa. Wisnu hanya diam memperhatikan, karena pikirannya sekarang lagi kacau.


"Sayang. Sekarang katakan apa yang kau inginkan." kata Rafa menatap wajah istrinya yang menggemaskan karena sedang tertawa.


Dia sangat senang melihat istrinya bahagia seperti ini.


"Aku ingin....." Ara melihat ke pada Moly dan Rizal bergantian. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Rafa. Rafa kaget, tapi kemudian tersenyum.


"Baiklah sayang, sesuai keinginanmu."


"Benarkah?"


"Tentu saja___." jawab Rafa, seraya memegang dagunya. Ara tersenyum senang.


"Hey Ra.....kok di bisikin sih? Kami juga ingin mendengarnya." kata Moly.


Rafa menoleh kepada mereka berdua.


"Tiga hari ke depan kalian akan menikah. Segera persiapkan segala keperluannya." katanya kemudian.


Moly dan Rizal terbelalak.


"Apa? menikah???"


Tapi kemudian Rizal tertawa senang dan bahagia. Pasalnya sudah dua kali dia mengajak Moly menikah tapi kekasihnya ini menolak dengan alasan belum siap. Rizal sangat bahagia, dia berulang kali mengucapkan terimakasih pada Ara.


Sementara Moly mengomel kesal tidak terima. Dia protes dengan keinginan Ara yang menurutnya terlalu aneh, tidak wajar dan memaksa.


"Gak...aku gak mau. Ara sayang, kakak belum siap. Nanti aja ya sayang ?" bujuk Moly.


"Tapi aku kepengen banget melihat kakak dan dokter Rizal memakai gaun pengantin. Pasti keren dan lucu deh!" kata Ara senyum senyum menghayalkan Moly dan Rizal memakai gaun pengantin.


"Ya ampun, anak ini." kata Moly semakin kesal.


"Gak ada penolakan Moly. Kau tahu semua yang menjadi keinginan istriku selalu ku penuhi. Aku tidak mau membuat dia kecewa, aku tidak mau membuat moodnya jelek, dia sedang hamil. Itu pasti keinginan anak anak dalam perutnya. Lagi pula yang di minta Ara adalah sesuatu yang baik. Hubungan kalian sudah lama. Umur kalian juga sudah gak muda lagi, sudah sewajarnya kalian menikah. Segera persiapkan semuanya dengan cepat. Aku yang akan membiayai pernikahan kalian." kata Rafa tegas.


"Yeeesss! Akhirnya kita akan menikah juga sayang! Ara sayangku... Thank You So Much." Rizal bersorak kegirangan.


Moly mendengus geram melihatnya.


"Jangan memaksa Rafa. Aku belum mau menikah. Ini terlalu mendadak. Butuh waktu yang lama untuk mempersiapkan semuanya."


"Kau tidak usah pusing dengan segala persiapan pernikahan. Kita bisa pakai jasa WO terbaik untuk mengurus dan mempersiapkan segalanya biar lebih cepat dan lebih ringan beban. Kau tinggal katakan kepada mereka konsep yang sesuai dengan keinginanmu. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menolak."


"Tapi Rafa...." Moly tetap tidak mau.


"Rizal juga serius dan gak main-main sama kamu. Lebih baik kau menikah dengannya dari pada nanti ketemu sama lelaki yang hanya mainin kamu. Aku akan segera menghubungi tante Mia untuk membicarakan pernikahan kalian."

__ADS_1


"Rafa...." teriak Moly kesal.


Rafa tak mengindahkan teriakannya.


"Kalau kau masih menolak, aku akan carikan wanita lain untuk Rizal.....mau?" ancam Rafa.


"Kau benar-benar menyebalkan." kata Moly geram.


"Kau adikku. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Rizal orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup mu."


Moly kembali mendengus kesal. Bukan dia menolak, tapi ini terlalu mendadak. Dia belum siap."Ya ampun, kenapa aku harus kena imbas ngidamnya Ara? anak anak, kenapa kalian harus minta itu sih?" katanya seraya menatap perut Ara seolah bicara dengan janin di dalam kandungan Ara.


Dia menjambak rambut Rizal yang memeluk tubuhnya karena senang dan bahagia.


"Jangan menyentuhku brengsek, menjauh dariku." sentaknya seraya memukul mukul Rizal. Tapi Rizal semakin kuat memeluknya.


"Nona Ara.....kenapa kau kau tidak meminta hal itu pada sekretariat Wisnu? Azham dan Azhar butuh sosok ibu untuk mereka. Ayolah sayang, jangan kepadaku. Ini terlalu cepat bagiku." pinta Moly memelas.


Wisnu terperanjat mendengar ucapannya.


"Ara tidak perlu meminta hal itu padanya. Karena aku sendiri yang akan menikahkan Wisnu dengan gadis itu. Dia juga akan menikah secepatnya." kata Rafa segera.


Wisnu kembali terperanjat.


Moly menggerutu, semakin kesal. Dia melampiaskan kekesalannya dengan kembali menjambak rambut Rizal.


Ara sangat senang melihat kekakuan mereka yang menggelikan. Dia tertawa terbahak bahak.


Rafa senyum senyum melihat tawanya. Hatinya senang.


"Sayangku....ada lagi yang kau inginkan?" Rafa memegang wajahnya.


Tawa Ara terhenti, dia menatap suaminya senyum senyum.


"Tentu saja. Justru ini yang sangat aku inginkan dari kakak."


"Oh ya? Kalau begitu katakan, setelah itu kita akan turun dan makan malam."


"Janji akan di turuti?"


"Tentu saja sayang, kenapa masih menanyakan hal itu?"


Ara senyum senyum simpul.


"Apa sih sayang?" Rafa menatap heran dengan senyumnya itu.


"Aku ingin kakak___!" Ara menjeda ucapannya. Jari jemarinya melepas ikatan piyama tidur Rafa sehingga dada kekar dan perut sixpack suaminya terlihat.


"Mau apa sayang? Jangan menggodaku. Kau tahu kan aku tidak bisa tahan dengan sentuhan mu." kata Rafa kaget.


Ara tersenyum lebar sedang membayangkan sesuatu. Dia menekan nekan dada Rafa dengan kedua jari telunjuknya. Tawa kecil keluar dari mulut mungilnya.


"Hey Ra....kau mau apa? Apa gak lihat ada orang di sini? Kalau ingin mesum sebaiknya kalian masuk kamar sono...." teriak Rizal.


"Ihh dokter, piktor deh___" kata Ara menatap kesal. Lalu kembali tertawa masih terus menekan nekan dada Rafa sambil membayangkan sesuatu yang lucu.


"Ada apa sih sayang? Kenapa tertawa begitu?" Rafa menatap bingung. Susah menebak keinginan ngidam istrinya. Dia segera menahan tangan Ara.


"Stop sayang, aku tidak akan di tahan kalau terus begini." keluhnya karena merasakan gairahnya yang menjalar di sekujur tubuhnya karena sentuhan jari jemari Ara pada dada dan perutnya.


"Ada apa sih Ra?" Moly juga ikut bingung dengan sikapnya. Keinginan apa yang ada di kepala adik iparnya ini? Ngidam apalagi yang di inginkan Ara setelah memintanya menikah secepatnya.


Hal itu membuat Ara cemberut.


"Ih kakak, jangan di tutupi__" katanya kesal.


"Singkirkan tangan kakak.___" katanya kembali dan segera menepis tangan Rafa dengan kuat.


Rafa kaget dan semakin bingung. Dia menarik tangan istrinya hingga tubuh Ara menempel pada tubuhnya.


"Sayang.....ada apa sih? Sebenarnya keinginan mu apa? Apa kau ingin menyentuh tubuhku? hmm ?" tanya Rafa seraya mengusapkan tangan Ara pada dada dan perutnya. Karena itu merupakan kebiasaan istrinya.


"Apa kau 'ingin' sayang? Kalau iya, ayo kita ke kamar. Kau bebas melakukan apapun." bisik Rafa dengan tatapan senyum menggoda.


Ara mendesis kesal. Dia segera mendorong tubuh Rafa.


"Nggak.....aku gak ingin itu."


"Terus apa?" Rafa semakin bingung.


Pintu di ketuk, lalu terbuka. Masuklah Sita sambil membawa paper bag.


"Permisi Tuan, Nona. Saya mau mengantar pesanan Nona muda." menyerahkan paper bag.


"Oh....udah nyampe ya? Cepat banget. Makasih ya mbak Sita. Tolong katakan pada Ines dan si kembar Azham dan Azhar untuk ke ruang makan. Sebentar lagi kami akan turun."


"Baik Nona." Sita segera keluar.


"Apa itu sayang?" tanya Rafa melirik paper bag di tangannya.


"Ada deh...." kata Ara tersenyum penuh arti.


Dia segera melepaskan jubah piyama tidur Rafa hingga jatuh melorot ke lantai. Rafa kembali bingung. Moly beranjak segera memungutnya.


"Ini pasti akan indah dan menarik di tubuh kakak." kata Ara kembali senyum senyum.


"Indah dan menarik? Apaan sih sayang?" meraih paper bag, tapi Ara menahannya.


"Diam! Tadi udah janji akan nurut bukan? Kalau nolak berarti kakak gak sayang sama aku."


"Kok ngomongnya gitu sih? Aku sayang banget sama kamu! Baiklah, aku diam dan nurut apa pun yang akan kau lakukan. Jangan sedih dan cemberut gitu." kata Rafa lembut melihat wajah masam istrinya. Dia mengecup bibir istrinya sekilas.


Ara langsung tersenyum. Membalas mengecup bibir suaminya." Makasih, aku sayang dan cinta banget sama kakak."


Rafa serasa melayang ke langit ke tujuh mendengar ucapan cinta plus kecupan di bibir seperti ini. Kalau sudah begini dia akan memasrahkan diri apapun yang akan di lakukan istrinya.


Sedangkan Moly Rizal dan Wisnu menatap semakin bingung. Ara segera melorotkan celana piyama suaminya hingga tersisa bokser.


Rafa kembali kaget.


"Sayang, kenapa di lepas?"


"Udah diam. Aku gak akan macam-macam kok, aku hanya ingin satu macam! Sekarang tutup mata kakak, awas jangan ngintip."


Rafa membuang nafas panjang, lalu segera memejamkan matanya. Pasrah....


Ara membuka paper bag. Dia mengeluarkan isinya sambil senyum-senyum terus. Dia memberikan isyarat pada Wisnu Rizal

__ADS_1


dan Moly untuk diam.


Tawa mereka hampir pecah setelah


melihat isi paper bag. Sebuah bikini warna pink dengan ukuran All size.


Mereka membekap mulut mereka kuat menahan tawa. Rizal memberi dua jempolnya pada Ara sambil menahan tawa.


Ini benar kemauan si jabang bayi atau ingin ngerjain Rafa? pikir mereka.


Ara segera memakaikan bra pelan pelan ke dada suaminya, mengaitkan pengaitnya. Setelah itu memakaikan CD. Terus di atur agar terlihat rapi dan bagus.


"Wah...indah banget. Aku suka....aku suka! Kakak seksi banget." ucap Ara senyum senang menatap suaminya.


Rizal dan Moly tertawa terpingkal-pingkal seraya menahan perutnya yang sakit.


Wisnu menahan tawanya karena terlalu takut untuk bersuara.


"Kak Moly, boleh aku pinjam tasnya?"


Moly segera memberikan tasnya pada Ara.


Ara tahu di dalamnya ada perlengkapan make up Moly.


"Kak, tolong berlutut sebentar."


Rafa menurut. Dia segera melorotkan tubuhnya. Dia sudah dapat menebak apa yang di pakai kan istrinya ke tubuhnya.


Tapi dia tak kuasa menolak. Dia tahu ini keinginan bayi mereka. Karena sifat asli istrinya bukan seperti ini sebelum dia hamil.


Istrinya seorang pemalu dan sangat takut kepadanya.


Kalaupun ini keinginan istrinya, dia tidak akan menolak, selama itu menyenangkan hati istrinya.


Ara melepaskan Wig keritingnya dan di pakaikan pada kepala Rafa. Selanjutnya dia mulai merias wajah suaminya. Memakaikan bedak, lipstik dan makeup lainnya.


"Dah selesai, kakak cantik banget. Lebih cantik dari Nong Poy. Tsekarang buka mata kakak."


Perlahan Rafa membuka matanya. Dia meraba raba wajahnya seraya menunduk melihat apa yang di pakaikan istrinya. Dia tahu istrinya memakai kan bikini ke tubuhnya, tapi yang membuatnya kaget melihat warna bikini yang membuat silau matanya.


Ara senyum senyum menatapnya.


"Sayang, apa ini?"


Ara meletakkan cermin makeup Moly di depan wajah Rafa.


"Kakak cantik kan? Aku suka banget." kata Ara mengecup pipi kedua pipi Rafa gemas.


Rafa mendesah kasar melihat wajah dan tubuhnya yang terlihat sangat aneh. Dia menautkan kedua tangan di pinggang Ara.


"Sayangku, apa kau senang?" tanyanya tersenyum sangat manis, meski saat ini hatinya geregetan.


Ara mengangguk.


"Tentu saja....aku senang banget. Aku suka! Nggak nyangka kakak sangat cantik dan seksi. Aku puas melihatnya. Aku tuh pengen banget lihat kakak makai ini sejak kemarin.Tapi kita lagi di rumah utama." kata Ara tersenyum senang dan puas.


"Kalau kau senang, aku pun lebih senang sayang. Karena senyummu adalah kebahagiaan ku!" kata Rafa melihat senyum kepuasan bahagia di wajah istrinya.


Rafa membuang nafas kasar. Ini terlihat sangat memalukan dan menggelikan.Tubuhnya yang kekar berotot berbalut bikini seksi, bagaimana modelnya? tentu sangat menggelikan.


Tapi sebisa mungkin dia ikhlas....demi menyenangkan hati istrinya.


"You are so seksi boss, you are so beautiful !


Lo lebih cantik dari Patta Nadia." ejek Rizal menahan tawanya. Moly juga berusaha kuat menahan tawanya dengan mata yang sudah basah. Sosok tampan perkasa Ravendro kini di buat menjadi sosok transgender, banci cantik dan seksi oleh istrinya. Dan Ravendro hanya diam pasrah menerima.


Rafa mendengus geram menatap ke pada mereka.


"Keluar kalian." sentaknya keras.


"Oke Lucinta Artawijaya." Keduanya segera melangkah dengan cepat sebelum menjadi sasaran kemarahan. Tawa mereka pecah begitu berada di luar.


"Sekretaris Wisnu, tolong ambilkan ponsel suamiku." kata Ara.


Wisnu segera mengambil apa yang di minta.


"Tolong ambil beberapa foto kami berdua.


Aku ingin mengabadikannya momen langka ini." kata Ara segera memeluk suaminya dari samping. Dia menempelkan pipinya ke pipi suaminya.


Wisnu menoleh pada tuannya, karena takut dan ragu. Mungkin bagi yang melihat hal ini menganggap Rafa seperti kerbau di cocok hidungnya. Selalu patuh dan menurut apa yang di minta istrinya. Tapi yang sesungguhnya bukan karena dia bodoh dan tidak berdaya. Tapi semata semata demi kecintaannya untuk membuat istrinya bahagia. Lagi pula ini pertama kali Ara meminta hal konyol dan aneh seperti ini pada tuannya. Karena dia tahu sifat Ara bukan seperti ini.


"Kenapa kau hanya diam Wisnu, cepat lakukan. Aku sudah bilang padamu, Keinginan istriku adalah perintahku yang harus kau patuhi." sentak Rafa melihat Wisnu ragu ragu.


"Baik tuan." Wisnu kaget dan kelabakan.


Dia mulai mengambil gambar foto mereka.


Ara dan Rafa berpose beberapa gaya 'Alay' sesuai instruksi Ara.


Setelah merasa cukup, Ara menyuruhnya berhenti. Wisnu segera pamit keluar.


Ara masih mengambil beberapa foto mereka.


Dia senyum senyum melihat semua hasil gambar foto mereka yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Sudah puas?" tanya Rafa memeluknya.


Ara mengangguk tersenyum.


"Kita terlihat lucu. Kakak sangat cantik dan menggemaskan. Terimakasih kak." Ara mengecup bibir Rafa berulang.


Lalu segera melepaskan bikini di tubuh suaminya, Wig keritingnya dan juga menghapus makeup. Terakhir memakaikan kembali piyama suaminya.


"Ayo kita keluar, mereka semua sedang menunggu kita. Aku juga sangat lapar." kata Ara.


Rafa tersenyum melihat gincu merah yang menempel di bibir istrinya.


"Bentar sayang__." dia melap pewarna bibir tersebut pelan pelan dengan ibu jarinya.


Makin lama di bersihkan membuatnya malah tergoda oleh benda kenyal basah itu.


Dia mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.


Mengecup, mengulum dan *******. Ara tersenyum dan membalas ciuman suaminya.


Ciuman dalam dan hangat berlangsung beberapa menit. Lalu mereka segera keluar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2