Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 82


__ADS_3

...Happy Reading...


Taksi online Narto memasuki gerbang utama kediaman Artawijaya. Karena baru pertama kalinya bagi Ines dan Cindy datang ke kediaman ini, membuat mereka terpukau.


Mobil melewati halaman menyerupai taman yang indah dan luas.


"Wah Ra, gede amat rumah suami lo." Kata Ines menatap dari dalam mobil, mulutnya menganga membentuk huruf O.


Cindy juga celingak-celinguk takjub melihat sekeliling.


Mobil berhenti tepat depan pintu masuk utama.


"Ayo mampir dulu." ajak Ara pada mereka berdua.


"Nggak usah Ra, nanti lain kali aja ya." jawab Cindy.


"Ya sudah, aku turun dulu ya."


"Iya Ra, by...." ujar Ines dan Cindy bersamaan.


Ara melambaikan tangan pada kedua sahabat nya. Mobil bergerak memutar arah meninggalkannya.


Ara segera masuk, di depan pintu sudah ada Sam, Kepala Pelayan menunggunya seperti biasa.


"Selamat sore Nona Muda." sapa Sam.


"Sore pak Sam." Ara segera masuk, di ikuti oleh Sam.


Ketika masuk ruang keluarga, Ara melihat ibu mertuanya sedang duduk santai di kursi panjang dengan kaki di angkat ke atas, punggungnya di sandarkan pada kursi.


Sala satu tangannya memegang majalah, dan yang satunya nampak di gunakan menekan nekan pundak.


Ara mendekat.


"Selamat sore Ma__!" menyapa dengan suara lembut.


Maya menoleh tanpa menjawab.


Ara segera melepaskan tasnya, meletakkan di kursi lainnya, lalu mengambil posisi berdiri di belakang Maya. Meletakkan jari jarinya di pundak ibu mertuanya, dan mulai memijit mijit pelan.


Maya sedikit terkejut, tapi membiarkan apa yang di lakukan Ara. Matanya kembali fokus pada majalah di tangannya.

__ADS_1


10 menit berlalu, jari jari mungil Ara menjelajahi ke pelipis, leher turun ke punggung dan sedikit ke bawah punggung.


Maya mendesah pelan merasakan pijatan enak yang membuat bahu dan punggungnya enak dan nyaman.


Rasa pegal-pegal dan kaku di tubuhnya mereda.


Setelah di rasa cukup pijatan dibagian tubuh atas, Ara berdiri di depan Maya.


"Aku pijitin kaki mama ya?" katanya meminta izin. Tak ada jawaban.


Ara menoleh ke belakang, melihat ke arah Sam yang berdiri tidak jauh dari mereka menunggu perintah. Sejak tahu pria tua itu memperhatikan keduanya serta apa yang di lakukan Ara.


"Pak Sam" panggil Ara.


Sam segera mendekat"Ya Non__!"


"Tolong ambilkan saya air hangat di dalam loyang terus taburkan garam,"


"Baik Nona." Sam segera berlalu kebelakang.


Ara segera duduk di kursi di ujung kaki Maya,


Maya menatapnya, memperhatikan apa yang dilakukannya yang memijit jari jemari kakinya. Tekanan tidak lemah tapi juga tidak terlalu kuat hingga tidak terasa sakit.


Ara menekan nekan titik tertentu di telapak kaki ibu mertuanya.


"Pijatan mu lumayan juga." kata May.


Ara tersenyum senang, akhirnya ibu mertuanya bicara juga.


"Mama suka? kalau mama suka, aku akan pijitin kapan saja mama mau. Dulu aku selalu melakukan pijatan seperti ini pada almarhum ayah dan ibu." kata Ara tersenyum.


Tidak berapa lama Sam datang membawa apa yang di inginkan Ara, meletakkan loyang berisi air yang telah di taburi garam.


Ara segera bangkit dari duduknya dan berjongkok.


"Taruh kaki mama di dalam air ya? ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah pada bagian kaki mama, selain itu meredakan kram, rasa pegal dan kaku dalam persendian, meredakan rasa sakit pada pundak punggung tungkai mama." Ara menjelaskan manfaat merendam kaki di air hangat yang di taburi garam.


Maya menurunkan kakinya, memasukkan ke dalam loyang, sementara di rendam, Ara memijit bagian betisnya.


Beberapa saat kemudian, muncul si kembar bersama Nesa, mereka baru saja tiba.

__ADS_1


"Ante Ara .." si kembar berlarian ke arah Ara dan Maya.


Ara segera menoleh.


"Jangan lari lari sayang, nanti jatuh." memperingatkan, dia menghentikan kegiatannya sejenak memeluk kedua bocah itu bergantian, sekalian menyapa Nesa


yang langsung menduduki tempat duduk di samping Maya.


"Nenek." panggil si kembar pada Maya.


"Cio dan Cia dari mana? Habis belanja ya?"


"Iya nek, mama ngajak kami ke tempat mainan, beli ini dan itu, mama juga belikan kami eskrim, rasanya enak banget nek." kata Cio dengan semampunya bicara.


Sedangkan Cia memeluk tubuh Ara dari belakang.


Ara sangat senang mendengarnya, Akhirnya Nesa mulai memperhatikan anak anaknya.


Nesa memperhatikan apa yang di lakukan Ara, lalu melihat mamanya.


"Udah lama ya ma?"


Maya mengangguk.


"Udah Cukup Ara, Biar aku lanjutkan. Kamu bawa si kembar ke kamar mereka. Aku mau ngomong sama mama." kata Nesa kembali.


Ara menghentikan pijatannya. Dia segera mengajak si kembar. Nesa beralih turun ke bawah, mengambil alih pekerjaan Ara memijat kaki Maya. Untuk selanjutnya, Ibu dan anak terlibat obrolan serius.


"Ayo kita ke kamar ante, kita shalat ashar bareng bareng." Cia merengek mengajak setelah mereka mandi dan berganti pakaian.


"Ante belum bisa shalat sayang, tapi nanti Cio dan Cia ante temani ya." kata Ara.


Cia dan Cio yang sudah di beritahu Ara sebelumnya tentang arti kata halangan bagi perempuan yang tidak bisa melakukan shalat, sudah faham maksud dari perkataan Ara,


keduanya mengangguk.


Ketiganya pergi ke kamar Ara. Ara menggendong tubuh Cia karena gadis kecil itu meminta untuk di gendong. Sam mengikuti dari belakang sambil menuntun Cio dan membawa tas Nona mudanya.


Bersambung.


Tinggalkan like dan komentar ya

__ADS_1


__ADS_2