
Sama halnya dengan lemari yang di tempati Cindy dan Ines, begitu juga dengan lemari tempat persembunyian Dion dan Ara,
keduanya berdiri dengan tubuh rapat.
Deru nafas yang memburu cepat terdengar dari keduanya, nafas berhembus menerpa wajah masing masing lawan, keringat bercucuran di wajah dan tubuh. Jika banyak bergerak akan membuat wajah mereka bersentuhan.
Ara mengigit bibir bawahnya kuat, keringat dingin dengan wajah ketakutan, tubuh gemetaran. Keadaan seperti ini membuatnya nervous, kikuk dan gelisah, bersentuhan tanpa ada pembatas karena terpaksa terjebak dengan situasi seperti ini.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Dion berbisik memecah keheningan dan menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Dion mengangkat tangan kirinya, me lap keringat di wajah Ara, memperbaiki rambut Ara yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Wanita ini terlihat ketakutan.
Ara teringat luka di tangan dan perut Dion.
"Luka kakak?" dia mengangkat wajahnya ke atas, membuat hidung dan bibir mereka kembali bersentuhan. Keduanya terkejut, tanpa sadar mata mereka saling menatap.
Nafas memburu tak beraturan, jantung berdegup kencang.
Ara segera mengalihkan pandangannya
samping. Hal yang sama di lakukan Dion.
"Bagaimana luka kakak? Aku ingin melihatnya." berusaha meraih tangan Dion yang terluka
"Ara.." bisik Dion pelan, hidungnya menyentuh pipi kanan Ara. Jantungnya semakin berdetak meletup letup kuat seakan mau copot dari tempatnya.
Ara meringis melihat luka menganga di tangan Dion. Darah terus keluar.
"Luka kakak banyak mengeluarkan darah." panik dan cemas.
Dia berpikir apa yang harus di lakukan untuk menghentikan pendarahan, dia butuh sehelai kain untuk menutupi luka luka itu. Tapi di mana dia harus mengambilnya, bernafas dan bergerak saja sangat sulit.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk dengan keadaan seperti ini." kata Dion yang dapat membaca pikirannya.
"Darahnya tidak berhenti keluar. Wajah kakak terlihat pucat, aku takut kakak akan kehabisan darah." Ara menatap wajah Dion dengan lekat, terlihat wajah itu pucat meski keadaan gelap.
Dion tersenyum, berulang kali dia menelan saliva menatap bibir ranum merah yang bergerak komat kamit mengucap setiap kata. Hembusan nafas Ara yang menerpa kuat menyapu di wajahnya.
"Kamu jangan khawatir, aku baik baik saja." bisiknya pelan.
Ara kaget.
"Kak.." menahan tangan Dion.
"Jangan di gigit nanti bibirmu terluka."
Ara membuang nafas pelan, membuka mata dan melepaskan gigitannya
"Sampai kapan kita seperti ini?" tanyanya menatap dengan sedih.
Dion menghela nafas.
"Semoga saja pak Toni segera kesini dan menemukan kita. Tadi Cindy mengirim pesan kepadanya."
"Siapa dia? Polisi?"
"Bukan, teman kerjaku di kantor." kata Dion berbohong.
"Semoga saja kak, Aku sangat takut. Tadi aku sempat bicara dengan kakak ipar ku, tapi keburu HP ku jatuh. Ponselku rusak tak bisa menghubunginya."
"Apa kakak ipar mu mengetahui keberadaan mu di sini?"
"Iya, sewaktu di tempat makanan tadi kakak ipar menghubungiku. Aku katakan kita berada di alun alun kota, dan katanya dia sedang menuju kesini untuk menjemput ku."
Dion mendengus pelan mengingat lelaki itu, tapi dia harus mengesampingkan permasalahannya dengan lelaki itu demi keselamatan Ara.
"Jika kakak ipar mu mengetahui keberadaan mu di sini, kita akan selamat. Kamu jangan khawatir. Aku yakin dia sudah berada di sini."
kata Dion tersenyum memenangkan.
"Aku juga berharap seperti itu. Seandainya ponsel ku masih bisa di nyalakan aku akan menghubunginya kembali." ujar Ara.
Dion membenci Rafa karena Rafa yang tidak menyukainya dekat dengan Ara, padahal Ara sudah janda. Berhak hidup bahagia untuk melanjutkan hidup dan mencari pasangan hidup pengganti Raka. Tapi dia sudah bertekad akan tetap mendapatkan Ara meski harus berperang melawan dirinya.
Dion mencium puncak kepala Ara secara diam-diam. Ara yang posisi kepalanya menunduk untuk menghindari sentuhan pada wajah mereka. Jika saling bertatapan akan membuat hidung dan bibir mereka saling menyentuh.
"Ara...." panggilnya pelan.
"Ya ?"
"Apa yang kamu rasakan dengan posisi kita seperti ini? Sangat dekat tanpa celah." tanya Dion. Mungkin saja Ara takut.
Perlahan mengangkat wajahnya, menatapnya dengan tatapan sendu. Dion terkejut melihat kedua matanya yang basah.
"A_aku teringat suamiku kak, aku merasa bersalah dan berdosa padanya." suara Ara serak. Teringat Rafa. Dia merasa bersalah. Jika Rafa tahu dia dekat seperti ini dengan Dion, sudah pasti Rafa marah besar. Berulangkali Rafa memperingatkan dirinya agar tidak berhubungan lagi dengan Dion.
Dion terkesima, meski suaminya sudah meninggal, Ara masih memikirkan Raka dan merasa bersalah seperti ini? Jika Ara masih meneteskan air mata berarti Raka masih segalanya untuknya.
"Ara, segitu dalamnya cintamu pada almarhum suamimu?" batin Dion.
"Kita berdua tidak menginginkan berada di posisi ini. Kita dekat begini karena terpaksa. Kamu jangan menyalahkan dirimu." kata Dion.
"Kakak juga pasti kan merasakan hal yang sama kan?" Ara balik bertanya.
"Apa?" Dion menatap matanya bingung dengan pertanyaan itu.
"Rasa bersalah, berdosa pada wanita yang kakak cintai karena dekat dengan aku sekarang ini?" jawab Ara.
Dion membuang nafas panjang
"Ara, wanita itu adalah kamu. Apa kamu tidak merasakan hal itu? Apa hatimu tidak dapat membaca dan menangkap perasaan ku padamu walau hanya sedikit pun?" batin Dion kembali dalam hati.
Dia tidak berani bicara jujur karena menjaga hati Ara yang masih sangat mencintai Raka . Dia khawatir ungkapan cintanya akan membuat Ara kecewa, sedih dan tidak mau berteman lagi dengannya.
Tanpa sadar dia mengecup kening gadis itu.
Ara terkejut "Kak..?"
Dion tidak memperdulikan ucapannya, Gerakan cepat dia mengecup kedua mata Ara, lalu turun mengecup bibir gadis itu.
Ara tersentak seraya menyentuh bibirnya.
"Apa yang kakak lakukan?" menatap tajam.
Dion kelabakan."Ara, maafkan aku, tolong jangan marah, aku tidak sadar melakukannya. Aku hanya sangat ingin melakukan hal itu pada wanita yang ku cintai, dia sama persis seperti dirimu, tolong maafkan aku Ara."
Ara mendesah sedih.
"Meski kakak melakukan hal itu karena teringat pada wanita kakak, jangan melakukan hal itu padaku. Aku wanita yang sudah bersuami. Bersentuhan karena terpaksa dengan situasi seperti ini saja membuat aku sangat takut. Tolong jangan lakukan hal itu lagi." masih terus menatap tajam pada Dion dengan mata basah.
"Saat kakak menolong ku tadi, aku merasa kakak seperti seorang kakak bagiku, yang melindungi adiknya, melindungi aku Cindy dan Ines."
"Maafkan aku Ara, jangan marah. jangan menangis." berusaha memegang kedua bahu Ara. Dia meringis tertahan, sakit terasa pada luka di perutnya karena melakukan gerakan tiba tiba. Luka di tubuhnya mulai beraksi sakit menusuk nusuk. Keringatnya semakin banyak mengalir di tubuhnya karena sejak tadi menahan kesakitan yang luar biasa.
"Maafkan aku__!" ucapnya lagi
"Jangan lakukan itu lagi," kata Ara.
"Iya, maafkan aku." kata Dion kembali seraya menahan kesakitan.
"Periksa tempat ini." terdengar suara keras dari luar. Pintu di tendang kuat, semakin kuat di tendang karena tergembok.
Ara tersentak, panik dan kembali ketakutan.
"Mereka menemukan kita kak." Ara mengangkat wajahnya.
"Tenanglah." bisik Dion.
"Kak, wajahmu pucat. Sepertinya kakak sudah banyak kehilangan darah." kaget melihat wajah Dion, dia meraba wajah Dion, suhu tubuhnya demam, panas dan keringat dingin.
"Kakak demam, sepertinya lukanya sudah infeksi sampai ke jaringan bawah." cemas.
"Kenapa belum ada yang datang menolong kita? Luka kakak harus segera di obati dan harus mendapatkan penanganan medis." kata Ara tidak tenang.
__ADS_1
"Tenanglah Ara, jangan berisik, aku tidak apa apa." Dion lega, meski marah, Ara tetap perduli pada keadaannya.
"Kakak terluka seperti ini karena menyelamatkanku, maafkan aku kak."
"Jangan bicara seperti itu Ara, ini bukan karena salahmu. Jangan merasa bersalah seperti itu! Aku baik baik saja."
Di lemari sebelah Cindy juga berusaha menenangkan Ines yang ketakutan setengah mati mendengar suara dobrakan keras yang semakin di ulang ulang. Pintu semakin kuat di dobrak menggunakan kayu besar dan kuat.
Pintu terbuka.
"Geledah tempat ini, cari mereka di setiap sudut dan kolong tempat ini." Terdengar kembali perintah dengan suara keras.
Cindy semakin kuat membekap mulut Ines
yang meracau ketakutan, menyebut nyebut mama dan papanya.
Dion berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya. Dia harus keluar untuk melawan oran orang itu sebelum mereka menemukan tempat persembunyian mereka .
"Ara, tetaplah diam di sini, aku akan keluar. Aku akan memancing mereka." bisiknya pelan di telinga gadis.
Ara tersentak, langsung menatap Dion
"Nggak, kakak jangan kemana-mana. Tetaplah di sini, kakak terluka parah, kakak tidak akan sanggup melawan mereka. Kakak akan mati di tangan mereka." segera memegang kedua tangan Dion.
Dion membuang nafas panjang.
"Mereka bukan tuhan yang bisa mengambil nyawaku. Aku tidak akan kenapa kenapa, kamu jangan khawatir."
Ara geleng geleng kepala.
"Jumlah mereka banyak, mereka akan membunuh kakak dengan muda, apalagi kondisi kakak sedang terluka parah begini."
"Mereka tetap akan menemukan kita, juga Cindy dan Ines. Aku akan memancing mereka keluar dari tempat ini agar mereka tidak menemukan kalian."
Ara semakin kuat memegang tangan Dion. Dion akan mengorbankan diri untuk menyelamatkan mereka bertiga.
"Ara lepas kan tanganmu."
"Nggak, kita sama sama datang kesini. Kita akan hadapi mereka bersama sama, aku nggak mau kakak mengorbankan diri untuk menyelamatkan kami." menatap Dion menangis.
Dion jadi terenyuh melihat Air matanya, tapi hanya ini cara satu satunya untuk menyelamatkan Ara Cindy dan Ines. Dengan cara mengelabui para preman itu.
"Percayalah tidak akan terjadi apa apa padaku, lepaskan tangan mu sebelum mereka menemukan lemari ini dan lemari Cindy dan Ines. Aku harus segera keluar untuk mengalihkan perhatian mereka."
Ara menggelengkan kepalanya. Keras kepala.
"Ara lepas."
"Nggak...aku nggak mau, kita keluar sama sama." bersikeras.
"Jangan membantah." Dion mulai kesal.
"Mereka akan membunuh kakak, pokoknya jangan keluar, aku tidak akan membiarkan kakak keluar, tetaplah di sini sampai pak Toni datang dan......"
Dion cepat mendaratkan kecupan di bibirnya.
Ara terbelalak. Matanya membulat menatap mata Dion..
"Kenapa kakak mencium aku lagi?" menatap tajam dan kesal.
"Kamu terus berdebat dengan ku, tidak mau melepas aku. Sementara para preman itu semakin mendekat dan akan menemukan tempat kita, tempat Cindy dan Ines. Lalu membunuh kita semua."
Ara mendengus kesal.
"Lepaskan Ara, atau aku akan mencium mu kembali?" ucap Dion mengancam.
Ara segera melepas tangan Dion.
"Maaf Ara, aku tidak bermaksud melakukan itu." ucap Dion melihat kekesalan di wajah manis itu.
"Diam dan tetaplah di sini. Jangan keluar, mengerti? Kamu dengar? Jangan keluar. Awas kalau kau keluar," mengancam sambil menyentuh bibir Ara.
Dion tersenyum. Dalam hatinya dia sangat berharap tuhan melindungi gadis ini. Dia memeluk sesaat sembari mencium puncak kepala Ara yang masih terdiam dengan kekesalannya.
"Kalau kau menganggap aku kakakmu, maka dengarkan apa yang ku katakan tadi. Tetaplah di sini jangan keluar." menatap sejenak.
Lalu perlahan dia membuka pintu sedikit
mengamati keberadaan preman preman yang berusaha mencari keberadaan mereka. Suasana ruangan yang gelap dan seram di penuhi aksesoris hantu, membuat mereka sulit menemukan mereka.
Para preman itu menelusuri setiap sudut dari tempat itu dengan takut takut.
Ada 7 orang di ruang itu setelah di perhatikan Dion dengan teliti. Satu di antara mereka mendekat ke lemari Ines dan Cindy. Dion mulai tidak tenang, dia harus segera keluar sebelum keberadaan Ines dan sepupunya itu di temukan.
Dengan sangat hati-hati Dion membuka pintu dan keluar. Dia mendorong pelan kardus yang berada di depan pintu lemari.
Saat hendak keluar tangan kanannya di tahan.
Dia menoleh kebelakang, Ara memegang tangannya dengan wajah di liputi kecemasan.
Dion menatapnya.
"Cindy dan Ines dalam bahaya. Diam dan tetaplah di sini. Kamu jangan Khawatir. Aku akan baik baik saja. Bantu doa saja!"
Lalu pelan pelan keluar membungkuk, menutup pintu depan pelan, merayap menyembunyikan diri di antara kardus kardus dan barang barang lainnya.
Setelah agak jauh dari lemari Ara, dia langsung berteriak saat sala seorang preman hendak membuka pintu lemari Cindy dan Ines.
"Hey bajingan, aku di sini, cepat kemari brengsek." teriak Dion keras.
Ke lima preman terkejut.
"Itu dia, cepat habisi." mereka segera berlari
ke arah Dion.
Dion merobek sehelai kain dari pakaian pocong, lalu di ikatkan pada luka di tangannya dan juga di ikatkan pada luka diperutnya.
"Mereka di sini." teriak seorang preman pada kawan mereka yang berada di luar.
Segerombolan preman langsung berlari menuju masuk ke gudang.
Dion memegang kuat sepotong besi. Dia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Para preman itu segera menyerangnya. Perkelahian pun terjadi, saling serang, baku hantam di kegelapan. Sesekali terdengar jeritan tertahan dari mulut Dion saat pukulan dan tendangan menyentuh luka di perut. Tapi dia tetap bertahan. Jumlah preman semakin bertambah yang masuk.
Ara menjerit tertahan melihat dari balik pintu yang di buka sedikit, mulutnya komat-kamit tanpa henti berdoa. Dia berusaha menghidupkan ponselnya, tapi percuma, benda tipis itu tidak mau hidup.
Dion berusaha menghindar dengan cepat berlari menuju pintu.
"Jangan sampai bajingan ini keluar." kata kepala preman.
"Yang lainnya periksa kembali tempat ini, ketiga gadis itu pasti bersembunyi di sini. Ambil ponsel wanita berambut keriting."
Baik Ines Cindy dan Ara tersentak mendengar teriakkan perintah itu, tubuh mereka semakin menggigil ketakutan.
"Jangan sampai mereka keluar dari sini." teriakan terdengar lagi dari.
Tubuh Dion makin lemah menerima banyak pukulan. Tapi dia terus bertahan sampai menunggu datangnya bantuan. Dia memaki Rafa karena sangat lama datang untuk menyelamatkan Ara. Yang di khawatirkan hanya Ara dan kedua gadis itu, dia tidak perduli dengan keselamatan dirinya. Yang penting ketiga gadis itu.
"Bos, ada mobil polisi menuju kemari." laporan sala seorang anggota preman.
"Cepat lumpuhkan bajingan ini, dan cepat temukan ketiga gadis itu. Kita harus meninggalkan tempat ini segera."
Mendengar kata polisi Ines Cindy dan Ara tersenyum senang.
Tapi senyuman itu langsung hilang di wajah mereka dan berganti ketakutan ketika pintu lemari mereka di buka.
Mereka menjerit jerit keras ketakutan di tarik keluar dengan kasar, dan di lemparkan ke lantai.
Saat menyentuh lantai, tubuh Ara di tangkap seseorang. Ara merasakan tubuhnya mendarat dengan empuk dalam pelukan seseorang. Wajahnya terbenam di dada orang yang menangkap tubuhnya.
__ADS_1
Hidungnya mencium wangi aroma parfum dari tubuh ini.
"Kakak ipar." ucapnya kaget dan senang, mengenali pemilik wangi parfum ini. Dia langsung mengangkat wajahnya, menatap wajah Rafa yang terlihat merah menahan Amarah.
"Kakaaaaaak___." Ara langsung memeluknya dan menangis keras. Sangat senang akhirnya Rafa datang di waktu yang tepat.
Rafa memeluknya dengan tatapan sedih melihat ketakutan di wajah istrinya.
Dia membenamkan wajah Ara di dadanya.
"Habisi mereka." dua kata keluar dari mulutnya.
segerombolan orang orang berpakaian hitam dan memakai topeng hitam muncul keluar dari belakangnya. Masuk dan menyerang gerombolan preman. Baku hantam terjadi.
Rafa semakin menekan kuat wajah Ara di dadanya, dia tidak ingin istrinya melihat para anak buahnya dan pertempuran itu.
Sebelum melangkah keluar matanya masih menangkap tubuh Dion yang babak belur, mandi darah berusaha melawan para preman. Hingga akhirnya tubuh itu ambruk ke lantai.
Rafa tersenyum menyeringai, lalu segera keluar membawa tubuh istrinya.
Wisnu memberi isyarat pada dua anak buahnya untuk membawa tubuh Ines dan Cindy ke mobil.
Dari jauh Dion tersenyum lega melihat gadis yang di cintainya selamat, hingga akhirnya dia melorotkan tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
Tubuhnya sudah tidak mampu menahan segala pukulan dan hantaman keras di tubuhnya yang di penuhi banyak luka. Dia juga senang melihat sepupunya dan juga Ines telah di selamatkan Wisnu.
Dalam gendongan Rafa menuju mobil.
"Kakak, tunggu sebentar." Ara teringat Dion dan Cindy.
Tapi Rafa tidak memperdulikan ucapannya.
Dia semakin mempercepat langkahnya membawa tubuh Ara masuk ke mobil.
"Kak, di sana ada kak Dion yang terluka parah, tolong selamatkan dia."
"Aku sudah bilang jangan berhubungan lagi dengannya." suara keras, menatap tajam
Ara tersentak. Tubuh merinding takut.
"Kenapa kau tidak mendengar kan ucapan ku?" memegang dagu Ara kuat, menahan amarah.
Ara menunduk takut, gemetar mundur sampai punggungnya menabrak pintu mobil sebelah.
Dia mulai terisak.
Rafa mendengus geram, melihat tubuh istrinya menggigil ketakutan, terlebih lagi melihat air matanya.
"Kemari." memajukan kedua tangannya ke depan, lalu di buka lebar.
Ara tidak beranjak dari tempatnya karena takut.
"Aku bilang kemari." suara Rafa makin keras.
Dengan cepat Ara bergerak maju dan masuk kedalam pelukan suaminya mendengar teriakkan itu.
Rafa memeluk tubuhnya, membelai punggung dan rambutnya dengan lembut, sesekali mengecup puncak kepalanya.
Ara terisak-isak dalam pelukannya.
"Kakak, kak Dion terluka parah karena menyelamatkan aku, tolong selamatkan dia. kak Dion bisa mati di tangan mereka," ucap Ara di sela tangisnya.
"Jangan sebut namanya dengan bibirmu, aku tidak suka." sentak Rafa.
Ara kembali terdiam, meringkuk terisak dalam pelukan suaminya.
Rafa bukan tidak tahu aksi Dion menyelamatkan nyawa istrinya, karena adegan perkelahian tadi sudah viral di sosmed atas unggahan seseorang. Dan dia melihat aksi Dion berusaha menyelamatkan istrinya, sampai terluka pada tangan dan perut.
Tapi Kemarahan dan kebenciannya memuncak seketika pada Dion saat melihat unggahan Cindy. Melihat kebersamaan mereka, kebahagiaan, keceriaan yang terpancar dari wajah mereka saat naik bianglala dan mengabadikan dalam foto yang di unggah. Darahnya semakin mendidih melihat Ara duduk berdua dengan Dion dalam kabin tersendiri, terpisah dari Ines dan Cindy.
Tangan Rafa terkepal kuat mengingat foto foto itu. Ara terkejut melihat kepalan tangan itu. Suaminya benar benar sangat marah saat ini. Sudah pasti karena kedekatannya dengan Dion. Perlahan Ara menyentuh dan memegangi tangan itu. Satu tangannya meraba raba dada Rafa lembut.
"Kakak ipar, maafkan aku." ucapnya sendu mendongak ke atas, menatap wajah Rafa.
Rafa membuang nafas pelan, hatinya melemah merasakan sentuhan kelembutan itu. Dia menunduk melihat wajah Ara yang sedih dan bersalah. Perlahan kepalan tangannya yang kuat merenggang lemah.
Ara kembali membenamkan wajahnya di dada Rafa."Maafkan aku." ucapnya lagi.
Pintu di ketuk, Wisnu membuka pintu mobil.
Dia memberi isyarat dengan gerakan tubuh kalau musuh telah berhasil di lumpuhkan. Mereka juga memberikan hukuman sadis dan kejam sebelum polisi menangkap dan mengambil alih. Polisi itu di bawah oleh Toni, asisten Dion. Anggota topeng hitam mundur dengan membawa bos preman untuk di adili di markas mereka.
Rafa mengangguk mengerti. Wisnu segera masuk duduk di belakang kemudi, lalu menyalakan mesin.
Ara kaget dan langsung bangun dari pelukan Rafa .
"Sekretaris Wisnu, bagaiman dengan Cindy dan Ines? Bagaimana dengan ke dua sahabat ku?"
"Kamu jangan khawatirkan mereka." jawab Rafa, memberi isyarat pada Wisnu untuk pergi.
Lalu menarik tubuh Ara kembali ke pelukannya.
"Terus kak Dion bagaimana?"
Rafa tak menjawab, ingin sekali dia berteriak marah mendengar nama pria yang di bencinya itu di ucap oleh bibir istrinya. Tapi di tahannya dengan kuat karena tidak ingin Ara ketakutan. Dia menatap datar ke depan sambil mendengus kasar.
"Kak Dion bagaimana kak? Terus Cindy dan ines...kakak tidak menghukum mereka kan?" Ara khawatir Rafa akan menghukum kedua sahabatnya itu karena mengajaknya ke pasar malam.
Ara mendongak keatas"Jawab aku kak!"
Rafa terus menatap ke depan. Tak menjawab.
Ara mengangkat telunjuk kanannya, lalu di tekan tekan pelan pada dagu Rafa.
"Kakak, jawab__," suara rendah, takut takut.
Rafa hanya menghela nafas dan menelan ludah. Terus menatap ke depan mengacuhkan jari Ara di dagunya. Padahal dia ingin sekali menggigit jari mungil yang nakal itu. Rafa masih ingin melihat usaha apa yang akan di lakukan istrinya untuk mencari tahu keberadaan kedua gadis itu. Karena dia sangat tahu watak Istrinya, akan melakukan apapun untuk menyelamatkan orang dari amarahnya.
Dan benar saja dugaannya, apa yang di lakukan istrinya itu sekarang? Jari telunjuk itu menjalar di telinganya, dengan jahilnya masuk ke lubang telinganya membuat dia geli dan ingin tertawa, tapi dia berusaha menahannya kuat untuk tidak mengeluarkan suara. Dia segera menangkap tangan Ara, sambil menatap tajam.
Cemberut dan kesal, itu yang dilihat pada wajah istrinya karena usaha keduanya gagal. Istrinya itu kembali membenamkan wajah di dadanya dengan kesal.
Sekarang usaha apa lagi yang akan dilakukannya? batin Rafa tersenyum di dalam hati.
Tak ada lagi usaha yang di lakukan Ara, baginya percuma. Dia merasa suaminya ini benar benar sangat marah. Ara menyerah.
Dia tidak mau melakukan apapun lagi yang hanya akan memancing kemarahan suaminya.
Ara merasakan tubuhnya capek dan lelah. Dia merasa haus. Takut meminta air minum.
Dia mengatur posisi ternyaman dalam pelukannya suaminya, semakin membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Lalu membawa tangan Rafa ke dalam pelukannya, memasukkan ibu jari Rafa kedalam mulutnya, di hisapnya pelan pelan seperti lolypop untuk mengganjal rasa hausnya. Dia sangat mengantuk. Pelan pelan dia memejamkan mata, dan tertidur.
Usaha apa lagi yang dilakukannya? batin Rafa merasakan ibu jarinya dalam mulut istrinya. Rafa masih mengabaikannya.
3 Menit berlalu, 5 menit berlalu tak ada pergerakan. Hingga 10 Menit berlalu membuat dia penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya.
Wisnu memberi isyarat dari kaca tengah mobil kalau Nona muda sudah tertidur.
Kedua alis Rafa terpaut, dia langsung menunduk melihat wajah istrinya. Benar, istrinya ini sedang tertidur pulas dengan mengisap ibu jarinya. Tapi kenapa dia melakukan itu? Karena tidak biasanya.
Rafa membiarkannya. Dia menatap wajah istrinya lembut, perlahan mengecup keningnya, membelai lembut rambutnya.
Rasa kesal dan Amarahnya menghilang melihat wajah manis yang tertidur pulas ini.
Rafa teringat para preman tadi."Kenapa orang orang itu menyerang dirimu?" batin Rafa. Dia akan mencari tahu penyebabnya pada kepala preman yang di tangkap Wisnu. Terlalu banyak masalah dan bahaya yang datang pada istrinya. Setahunya Ara tidak pernah mencari masalah dengan orang. Kecuali Levina yang tidak menyukainya. Tapi sekarang Levina sedang di sekap oleh geng elang hitam di ruang isolasi bawah tanah, ruang ukuran 1x1m tanpa cahaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Tak ada satu orangpun yang bisa menemui dan menemukannya, sampai ada perintah darinya untuk melepaskannya.
Lalu adakah orang lain lagi yang tidak menyukai dirimu selain levina? batinnya lagi seraya membelai lembut pipi Ara.
...Bersambung ...
__ADS_1