
...Happy Reading....
Pagi menyapa alam semesta.
Setelah subuh Cindy masuk ke kamar Dion untuk mengambil ponsel dan pakaian.
Sebelumnya dia menyuruh Bik Ira mengecek apa Dion ada di kamar atau tidak.
Bik Ira mengatakan Dion belum pulang sejak keluar jam tiga dini hari tadi. Cindy tidak mau mencari tahu tentang alasan kepergiannya. Karena tidak ingin menambah sakit dan luka di hatinya.
Saat membuka lemari hendak mengambil pakaian, matanya langsung di hadapkan pada sebuah kertas notebook yang menempel pada pembatas susunan kotak lemari yang bertuliskan:
"l'm sorry."
"Please forgive me.."
"Please don't be mad at me π₯π’"
(Pesan yang di tulis Dion)
Dion tahu Cindy pasti akan datang mengambil pakaian di lemari, makanya dia menulis kata kata permintaan maaf ini.
Kesedihan Cindy kembali membuncah setelah membacanya. Tapi dia segera menepisnya dengan menghapus air matanya yang cepat sekali jatuh.
Cindy segera mengambil beberapa lembar pakaiannya. Juga apa yang di butuhkan. Setelah mengambil apa saja yang di perlukan, dia segera keluar terburu buru sebelum Dion keburu datang.
Sesampai di kamarnya, dia mengirim pesan pada Ines. Setelah itu masuk ke kamar mandi.
20 menit berlalu terdengar ketukan di pintu kamarnya. Saat itu Cindy sedang berpakaian.
"Ada apa bik?" tanyanya kepada Bik Ira asisten rumah tangga.
"Tuan Ray dan Nyonya Dinda meminta nona untuk turun sarapan pagi."
"Iya, sebentar lagi saya turun. Katakan pada papa dan mama saya sedang berganti pakaian."
"Baik Non...." kata bik Ira masih menatapnya. Memerhatikan wajahnya yang sembab, sedikit pucat dan mata bengkak
"Apa ada lagi yang ingin bibi sampaikan?" tanya Cindy karena pelayan itu belum pergi.
"Apa Non baik baik saja? Bibi cemas dengan keadaan Non! Non terlalu banyak bersedih dan menangis. Kasihan bayinya! Sesakit apapun yang Non rasakan, Non harus kuat dan sabar." kata Bik Ira seraya mengelus perut Cindy.
Cindy tersenyum mendengar ucapannya.
"Aku tahu kok Bik. Aku pasti menjaga anak anakku dengan baik. Bibi gak perlu khawatir. Terimakasih ya sudah mencemaskan aku."
Bik Ira mengangguk tersenyum, kemudian dia segera pamit. 10 menit berlalu, Cindy keluar dari kamar, menuruni tangga pelan pelan langsung menuju ruang makan.
Di meja makan sudah duduk Ray dan Dinda yang sedang menikmati sarapannya.
"Selamat pagi pa, ma...." sapa nya.
"Selamat pagi." Jawab Dinda melihat wajahnya yang masih sedih.
__ADS_1
"Duduklah di dekat papa." kata Ray seraya menarik kursi di dekatnya.
Cindy segera duduk di dekat pamannya.
Ray menuangkan susu hamilnya ke gelas.
"Minumlah!" meletakkan di depan Cindy.
"Kau ingin makan apa?" tanya Dinda yang ingin mengambilkan makanan untuknya.
"Biar aku saja yang ambil! Mama sama papa lanjutkan saja makannya." kata Cindy.
"Baiklah, meski saat ini kamu sedang sedih. Kamu harus tetap berusaha untuk makan." kata Ray.
"Iya pa, aku ngerti." kata Cindy seraya mengangguk lemah.
"Apa kau mau keluar?" tanya Dinda melihat pakaiannya.
"Iya ma, pagi ini aku mau ke kampus bersama Ara dan Ines. Semalam kami udah janjian bertemu di kampus untuk menyelesaikan pengurusan berkas wisuda kami."
"Papa dan mama tidak melarang mu, tapi apa kau baik baik saja? Apa kamu kuat setelah kejadian semalam? Karena papa tidak ingin terjadi sesuatu padamu melihat kondisi mu seperti ini! Biar papa akan menyuruh orang papa yang bekerja di kampusmu untuk mengurus keperluan wisudamu."
"Gak usah pa, biar aku saja. Aku baik baik saja. Papa dan mama gak perlu khawatir. Di sana juga ada Ara dan Ines yang akan menjagaku." kata Cindy tersenyum.
"Kalau begitu Papa akan suruh sopir mengantarmu ke kampus. Dan nanti kalau pulang, kamu hubungi sopir untuk menjemputmu kembali." kata Ray mengalah. Dia mengerti Cindy butuh ke dua sahabatnya itu untuk menghiburnya. Cindy perlu hiburan dan ketenangan.
"Baik pa."
"Jangan terlalu capek." sela Dinda.
"Tolong jaga cucu papa baik baik ya? Papa nggak ingin cucu papa kenapa kenapa karena masalah kalian." kata Ray menyentuh perutnya.
Cindy mengangguk tersenyum.
"Papa dan mama jangan khawatir."
Ray kembali melanjutkan makannya.
Dinda menatap pada Cindy ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin mengatakan tentang Bela yang menjebak Dion. Semalam Dion menjelaskan kejadian yang sesungguhnya pada mereka. Tapi Dinda urung mengatakan niatnya. Dia khawatir akan membuat Cindy sedih lagi.
"Oh ya Cind, soal kejadian semalam mengenai masalah antara kau dan kakakmu___apa tidak sebaiknya kalian bicara baik-baik? Papa dan mama ingin sekali membantu tapi kami tidak mau terlalu ikut campur. Karena kalian sendiri yang merasakan dan menjalaninya. Hanya Kalian yang bisa menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Mama dan papa hanya bisa memberikan nasehat dan juga bantuan jika kalian menginginkannya." kata Dinda hati hati untuk menjaga perasaannya.
Cindy terdiam mendengar ucapannya.
"Aku tahu ma, tapi aku ingin tenang dulu. Aku belum siap berhadapan dengan kak Dion, takutnya aku tidak akan bisa menahan emosiku. Aku takut akan menangis dan marah lagi jika bicara dengannya. Semalam aku terlalu banyak menangis, berteriak dan marah. Aku tidak tahu bagaimana keadaan anak anakku sekarang. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku butuh waktu untuk berpikir. Tapi aku tidak marah dan benci pada kak Dion. Biar bagaimanapun dia adalah kakak ku." kata Cindy menahan kesedihannya.
Kedua matanya sudah basah.
Ray dan Dinda saling berpandangan.
"Baik jika itu keinginanmu. Tapi jangan terlalu lama ya nak? Kasihan Kakakmu. Dia juga sangat tersiksa dan menderita dengan apa yang terjadi pada kalian. Apalagi saat ini kau sedang hamil. Dia sangat cemas memikirkan dirimu."
Cindy mendesah sedih seraya menyapu air matanya di pipi.
__ADS_1
Terdengar bunyi mesin mobil dari depan.
Cindy yang sudah tahu itu suara mobil Dion segera bangkit berdiri.
"Ma pa__Aku ke kampus dulu." katanya segera.
Dia menyalami tangan Dinda dan Ray. Lalu segera melangkah pergi keluar lewat pintu samping karena menghindari Dion. Dia tidak mau bertemu dengan pria itu yang hanya akan membuat mereka beradu mulut. Karena sejujurnya dia belum siap menghadapi Dion.
Dinda dan Ray membuang nafas berat melihat kepergiannya.l yang sengaja menghindari Dion.
Dion melangkah menuju ruang makan. Keadaannya amburadul dan berantakan.
Masih tetap mengenakan pakaian semalam.
Semalam, setelah memastikan Cindy tertidur lewat cctv yang di selipkan Dinda pada bunga, dia segera keluar mencari Bela untuk memberikan pembalasan dan menyeretnya ke hadapan Cindy.
Dia menghubungi nomor Bela yang di dapat dari Dwi, tapi tidak bisa di hubungi. Dion mencari Bela ke semua tempat yang biasa dikunjungi wanita itu setelah bertanya pada Dwi. Tapi dia tidak menemukan wanita itu hingga pagi.
Dion mendekati papa mamanya. Dia tak melihat Cindy bersama orang tuanya di meja makan.
"Apa Cindy tidak turun untuk sarapan?"
"Dia baru saja pergi."
"Baru saja pergi? Tapi aku tidak melihatnya?"
"Dia lewat pintu samping begitu mendengar suara mobilmu. Sepertinya Dia sengaja menghindar dan tidak ingin bertemu......"
Dion langsung berbalik dan berlari cepat meninggalkan orang tuanya, tanpa mendengarkan kelanjutan ucapan mamanya.
Telinganya mendengar suara mesin mobil.
Dia segera menuju pintu utama karena mobil yang di naiki Cindy melewati pintu tersebut.
Lima meter saat mencapai pintu utama, mobil Cindy lewat. Dion berteriak teriak. Dia berlari cepat mengejar.
Dinda yang melihatnya segera menghubungi satpam penjaga pintu gerbang untuk menghentikan mobil Cindy.
"Maafkan mama pa, mama hanya ingin masalah mereka cepat selesai. Cindy sedang hamil, Dion juga sangat tersiksa. Mama yakin Dion tidak bersalah." kata Dinda menatap suaminya. Raymond membuang nafas berat seraya memijit keningnya.
Mereka berdua mengumpat dan memaki Bela setelah tahu kelakuan busuk wanita itu.
Mereka menganggap Bela wanita baik dan sopan,tapi ternyata adalah wanita jahat, rendah dan murahan. Berwajah manis di depan mereka ternyata seorang yang munafik. Dinda sendiri segera menghubungi Dwi agar tidak lagi berhubungan dengan wanita itu.
"Cepat sedikit mang karjo." perintah Cindy pada sopir melihat Dion berlari mengejar mereka sambil berteriak-teriak. Karjo menambah kecepatan mobil dengan takut dan ragu. Begitu sampai di pintu gerbang, satpam menghentikan mobil mereka.
"Kenapa di hentikan sih?" tanya Cindy kesal.
"Maaf Non, ini perintah tuan muda. Tuan muda baru saja menelpon meminta kami untuk menghentikan mobil Non. Maafkan kami." kata satpam sopan dan sedikit takut.
Cindy mendengus pelan, tapi tak menyalahkan satpam. Karena mereka hanya menjalankan perintah. Dia membuka pintu mobil hendak turun.
Tapi Dion keburu datang dan cepat memasukannya kembali kedalam mobil. Selanjutnya Dion ikutan masuk. Dion menahan tubuh Cindy sekuatnya karena berusaha untuk turun di pintu sebelah.
__ADS_1
Nafasnya memburu cepat. Keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya.
Bersambung.