Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 57


__ADS_3

Ara masuk ke dalam kamar dengan lesu,


di dapatnya Raka sedang berkutat dengan laptopnya.


"Sudah menemui Sita ?" Raka menatapnya


"Sudah kak, aku kasihan padanya! Aku juga sudah berusaha bicara dengan sekretaris Wisnu, tapi dia tidak bisa membantu."


"Sekertaris Wisnu hanya menuruti perintah kakak Rafa, jelas saja dia tidak berbuat


apa-apa."


"Aku merasa tidak enak sama mbak Sita. Dia kehilangan pekerjaannya karena aku." Ara berjalan menuju balkon. Menatap langit yang gelap karena tidak ada bintang atau bulan di sana.


Raka mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, nanti aku coba bicara dengan kak Rafa besok ya?" mengecup bahu istrinya.


Ara membalikkan badannya menatap suaminya.


"Apa jika kakak yang meminta, kakak ipar akan mau menuruti?"

__ADS_1


"Kakak juga gak tau, tapi nanti kakak coba. Kamu tidak usah pusing lagi ya, coba lihat nih wajah kamu kusut sekali." Raka menyapu lembut wajah istrinya, jari telunjuknya menelusuri mata hidung dan bibir istrinya.


Lalu perlahan mengecup bibir mungil merah alami itu, dan mulai melumatinya lembut.


Ara mendesah pelan, dan mulai membalas ciuman suaminya.


Ciuman panjang terjadi, Ara menarik penyatuan bibir mereka karena kesulitan bernafas. Raka beralih ke leher putih istrinya, menelusuri dengan kecupan lembut membuat Ara kembali mendesah sambil meremas pelan rambut suaminya.


Dia mengerang ketika kecupan dan ciuman itu merambah ke dadanya, Raka bermain lembut di kedua buahnya. Ara semakin kuat meremas rambut suaminya.


Raka berhenti dan tersenyum menatap mesra kepadanya, kemudian mencium bibir istrinya lagi, memeluk dan mengangkat tubuh istrinya ke atas, tertahan di perutnya.


Setelah beberapa lama memadu kasih di balkon, Raka segera membawa tubuh istrinya ke kamar, melanjutkan di sana.


Malam semakin larut.


*****


Rasa haus yang menggerogoti tenggorokan membuat Ara terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat sambil menguap, menoleh sesaat pada suaminya yang tertidur nyenyak dengan wajah yang nampak pucat dan terlihat lelah. Ara mengecup kening suaminya lembut. Lalu melihat jam pada ponselnya, 00.30.


Tangannya meraih botol air di nakas, tapi sudah kosong. Ara segera turun dari ranjang dan memperbaiki pakaiannya yang berantakan. Sejenak memperbaiki selimut pada tubuh suaminya, dia meraih botol air dan segera melangkah keluar untuk mengambil air minum di dapur.

__ADS_1


Suasana rumah sedikit gelap, karena sebagian lampu telah di padamkan. Ara berjalan perlahan menuruni tangga, menuju dapur. Dia segera mengambil air di lemari pendingin lalu meminumnya segelas.


Kemudian menuangkan ke dalam botol untuk di bawa ke kamar. Saat menaiki tangga, dia teringat si kembar.


"Siapa yang menemani mereka tidur? Mbak sita sudah di pecat dan tidak di perbolehkan menemani si kembar lagi. Hanya pak Sam tadi yang membawa mereka ke kamar, lalu pak Sam telah kembali dari sana saat anak anak itu sedang belajar," batinnya.


Apa kak Nesa bersama mereka?


Tapi tidak mungkin, kak Nesa lebih suka mengurung dirinya sendiri di kamarnya.


Ara segera membawa kakinya melangkah


ke kamar si kembar.


Perlahan di bukanya pintu kamar. Suasana sedikit gelap, hanya lampu meja kamar kecil yang menyala menerangi tempat tidur.


Ara masuk dan langsung menuju tempat tidur. Dia duduk dengan pelan dibibir ranjang agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan si kembar. Ara memperhatikan bocah-bocah itu sedang tidur dengan lelap, tak ada yang menemani.


Ara memperbaiki posisi tidur mereka yang berantakan dengan sangat pelan supaya mereka tidak terbangun dari tidur. Kemudian menutupi dengan selimut.Tangannya menyapu kepala anak anak itu bergantian penuh kasih sayang.


******

__ADS_1


__ADS_2