Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 155


__ADS_3

...Happy Reading....


Waktu menunjukkan pukul 17.30.


Di sebuah kamar yang luas dengan fasilitas mewah, terlihat seorang gadis menggeliat di atas tempat tidur king size warna putih. Ia menguap sambil merenggangkan kedua tangan ke atas. Kemudian beralih mengucek mata seraya memperhatikan sekelilingnya di setengah kesadarannya.


Saat menoleh ke arah meja rias terletak, matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri di depan cermin sambil menyeka kepalanya dengan handuk kecil.


Sosok pria itu memakai handuk putih pendek sebatas perut dan paha. Memperlihatkan kulitnya yang putih, perut sixpack, juga bagian tubuh lain kekar berotot. Lelehan air dari rambut berjatuhan membasahi bahu, leher tengkuk, dada hingga perutnya.


Gadis itu tersenyum senang setelah melihat sosok pria tampan yang sangat di rindukan.


"Kak Raka?" ucapnya pelan. Melihat sosok Rafa adalah Raka.


Pria itu menoleh begitu mendengar suara.


"Sudah bangun?" tanya pria yang tak lain adalah Rafa. Dia mendekati tempat tidur dan duduk di pinggir ranjang untuk memastikan keadaan Ara.


Tanpa menjawab, Ara bangun beranjak mendekat, lalu duduk di pangkuan Rafa.


"Kak Raka!" ucapnya senang.


Wajah Rafa mengernyit mendengar Ara memangilnya Raka.


Ara memeluk tubuh Rafa.


"Kakak datang lagi mengunjungi ku?" ucapnya senang.


Rafa terkejut.


"Kenapa dia? Apa dia bermimpi lagi?" batinnya.


Ara semakin mempererat pelukannya.


"Aku sangat senang kakak datang lagi." ucapnya kembali sambil mengecup dada Rafa berulangkali, kemudian membenamkan kepalanya di dada Rafa. Satu tangannya meraba raba dada Rafa seperti kebiasaan yang di lakukan pada Raka ketika mereka sedang bermesraan.


Rafa tercengang, tubuhnya bergidik merasakan sentuhan ini.


"Ara, sadarlah." melepaskan tangan Ara.


"Jangan di lepas, aku masih kangen." ucap Ara sendu.


Rafa memegang wajah Ara, di hadapkan


ke atas. Gadis ini sedang mengigau dan tidak sadar.


"Sadarlah, ini aku____!" ucapannya terpotong dengan kecupan bibir Ara.


Cup, cup, cup.......


Ara mendaratkan tiga kecupan di bibirnya.


Rafa kaget, menarik wajah seraya menyentuh bibirnya.


Ara kembali membenamkan wajahnya di


dada Rafa. Lalu mengecup kembali dada bidang itu dengan kuat karena gemas.


"Aku sangat merindukan kakak." bisik Ara sendu."Jangan pergi lagi." nada manja. Dia menciumi leher Rafa dan terus meraba sana sini.


Rafa terbelalak. Tubuhnya menegang. Jantungnya berdebar kencang, sel sel dalam tubuhnya bereaksi. Hasrat dan gairahnya membuncah menjalar di sekujur tubuh. Dia harus segera menyadarkan Ara dari alam mimpinya, sebelum dia sendiri kehilangan kendali.


"Ara, sadarlah ini aku Rafa, Rafa, Rafa." Rafa memegang bahu Ara.


Ara tersenyum, dan secara tiba-tiba kembali mendaratkan kecupan.


Rafa melongo. Belum sempat melakukan sesuatu untuk menyadarkan wanita ini, kecupan lembut kembali mendarat di leher dan dadanya secara bergantian. Darahnya bergejolak hebat. Kalau di sentuh seperti ini terus, dia tidak akan mampu mengendalikan dirinya lagi. Ini harus segera di hentikan.


Rafa segera menyingkap rambut Ara, lalu menggigit daun telinga gadis itu.


Auwww..


Ara menjerit, meringis kesakitan sambil memegang telinganya. "Aduh kakak, kenapa menggigit telinga ku?"


Ara mengangkat wajahnya melihat wajah Rafa dengan kesal.


Ara terkejut setelah melihat wajah di depannya."Kakak ipar?"


"Sudah sadar?" Rafa menatap tajam.


Ara gugup dengan kedekatan wajah mereka yang sangat dekat. Dia semakin terbelalak begitu sadar berada di atas pangkuan Rafa. Dia menatap Rafa dengan mata dan mulut menganga. Berada di pangkuan Rafa yang keadaannya sedang telanjang hanya mengenakan handuk pendek.


Matanya melihat ada dua tanda merah di dada Rafa. Ara menatap tak berkedip kedua tanda itu.


Rafa menurunkan pandangannya mengikuti tatapan mata Ara. Dahinya mengerut melihat melihat ke dua tanda itu. Dia teringat Ara mengecup dengan kuat tadi. Artinya tanda itu hasil karya bibir Ara.


Seperti di komando keduanya mengangkat wajah dan saling bertatapan.


Beberapa detik kemudian, dengan gerakan cepat Ara turun dari pangkuan Rafa dan masuk ke dalam selimut. Menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.


"Ya tuhan___Apa yang telah ku lakukan? Benar-benar memalukan!" Umpatnya dalam hati. Betapa malunya dia.


Kenapa bisa aku sampai membuat tanda seperti itu di dada kak Rafa?


Ara memukul mukul kepalanya, mengingat kesalahan apa yang telah di lakukan. Entah apa yang di pikirkan Rafa?


Kakak iparnya itu pasti marah.


Dan tunggu, di mana ini? batinnya kembali menyadari keberadaannya. Dia belum melihat tempat ini sebelumnya.


Ini kamar siapa? batinnya bertanya.

__ADS_1


Ara mencoba mengingat kejadian tadi pagi. Pertama di ajak Rafa ke rumah mewah yang merupakan rumah pribadinya, terus makan, bertemu mbak Sita. Lalu tiba tiba merasakan pusing dan setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi selanjutnya. Saat bangun dia melihat pria yang mirip Raka. Dia yang masih di kuasai oleh setengah alam mimpi, sangat senang dan bahagia melihat suaminya. Tapi ternyata pria bukan Raka, tapi Rafa.


Ara kembali merutuk dirinya karena telah melakukan hal mesum pada kakak iparnya itu.


"Ka-kakak ipar." panggilnya pelan dengan suara rendah.


Tak ada sahutan. Tuh kan, kak Rafa pasti marah. Batinnya.


"Kak, aku minta maaf. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku mengira kakak adalah kak Raka. Aku terlalu merindukannya sampai terbawa terus dalam tidurku dan membuatku hilang kesadaran. Aku tidak sengaja melakukannya." katanya kembali dengan takut."Tolong jangan marah. Maafkan aku."


Masih tak ada sahutan, tapi telinganya mendengar ada suara bunyi langkah.


Ara membuka sedikit celah selimut mengintip dari dalam yang terjadi di luar. Dia melihat Rafa sedang mengeringkan rambut dengan handuk. Syukurlah orangnya ada dan mendengar dia bertanya. Mungkin Rafa diam tak menjawab karena kesal.


"Kak, ini di mana?"panggilnya kembali dengan pelan, bertanya.


Rafa memalingkan wajahnya ke ranjang. Dia tahu Ara sedang mengintipnya dari balik selimut."Di kamarku, keluarlah dari selimut." katanya kemudian.


Ara terperanjat.


"Kamar kakak? Berarti saat ini aku berada di atas ranjang kakak?" katanya agak keras dengan kedua alis terpaut.


"Tentu saja. Kamu lupa tadi kita ke rumah pribadiku?" ujar Rafa tersenyum tipis.


Aaaaaa.....pekik Ara menjerit tiba-tiba.


Rafa kaget mendengarnya.


"Kamu kenapa?"


Ara tak menjawab, malah langsung bangun dan beranjak turun dari ranjang berlari mencari pintu keluar.


"Apa yang kamu lakukan?" ujar Rafa bingung melihat tingkahnya yang menurutnya lucu.


Dia tersenyum. Dan diam diam menekan remote control kunci kamar dengan cepat.


"Di mana pintu keluarnya?" Ara kelabakan melihat ke sana kemari mencari gagang pintu.


"Mau apa?" tanya Rafa mendekatinya.


"Mau keluar, aku mau pulang." Ara mendengus kesal karena tidak menemukan daun pintu.


Dia harus segera keluar dari ruangan ini. Apa kata orang bila melihat dia berada di kamar kakak iparnya, dan tidur di atas ranjangnya.


Di tambah lagi melakukan hal yang tidak senonoh.


Ara semakin kesal karena setelah berhasil mendapatkan pintu malah tidak bisa membukanya. Pintu terkunci dan dia tidak tahu cara membukanya. Pintu ini lain dari pintu yang pernah di lihat sebelumnya.


Rafa menegang lengannya.


"Kau mau pulang dengan keadaan seperti ini? lihat dirimu___" membalikkan tubuh Ara menghadap ke arahnya.


"Ada apa dengan diriku?" gumam Ara yang belum sadar dengan pakaian yang di kenakan.


Hah? Dia kembali terkejut melihat pakaiannya yang sudah berubah. Sekarang dia hanya memakai kaus oblong besar di atas paha.


"I-ini kenapa pakaian ku bisa berubah?" ucapnya terbata bata sambil memegang ujung kaus dengan bingung.


"Ini pakaian siapa? Kenapa aku bisa pakai baju ini? Pakaianku mana?" dia menatap Rafa. Ada ketakutan yang ia rasakan.


"Kak, apa yang terjadi padaku? Apa yang telah kulakukan?" dia menutup pahanya dengan kedua tangan, semakin menarik ujung kaus ke bawah untuk menutupi pahanya yang terekspos. Ara semakin malu dan cemas merasakan kalau saat ini dia tidak memakai bra.


Pikirannya mengingat kembali kejadian tadi, bangun tidur tanpa sadar duduk di pangkuan Rafa, terus turun dan berlari ke sana kemari mencari pintu keluar dia tidak menyadari dengan keadaan dirinya yang hanya memakai kaus pendek? Dan Rafa melihatnya.


Rafa kembali tersenyum melihat ekspresi wajah Ara. Cemas takut, kesal, marah, sedih bercampur jadi satu. Terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.


"Kak____." Ara memekik kecil membayangkan sesuatu yang membuatnya takut. Apalagi saat ini Rafa hanya tersenyum. Yang baginya adalah senyum menakutkan seolah telah terjadi sesuatu.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Kamu berpikir buruk lagi tentang aku?" Rafa mengangkat dagunya ke atas.


Ara menggeleng kepala.


"Bukan seperti itu kak, A--aku bingung dan takut ____!"


"Kamu pingsan tadi, makanya aku baringkan di kamarku," Rafa memotong ucapannya.


"Pingsan?" Ara melongo.


"Suplemen yang kau minum tadi bukan hanya sekedar vitamin, tapi juga obat tidur. Kau pingsan pengaruh obat itu! Sudah sebulan kau tidak pernah tidur. Aku sengaja memberimu dua tablet agar kau tertidur lelap dan beristirahat dengan cukup." kata Rafa menjelaskan sambil menatap lekat.


"Terus, kenapa aku telah berganti pakaian?"


tanya Ara. Ini yang lebih penting di di ketahui.


"Saat tidur kau mengigau. Mimpi manggil manggil Raka. Tubuhmu mandi keringat, pakaianmu basah. Makanya aku membuka pakaianmu dan menggantinya dengan baju ku."


Hah? Ara kembali terbelalak.


"Apa? Kakak yang membuka dan mengganti pakaianku?" terkejut seakan tak percaya.


"Iya, aku khawatir kau masuk dingin." ucap Rafa enteng sambil menatapnya lekat senyum senyum di dalam hati. Suka sekali melihat wajah ketakutan ini.


"Berarti kakak melihat___" Ara menelan ludahnya, nafasnya memburu cepat tak beraturan.


"Berarti kakak melihat tubuhku telanjang?" katanya sangat pelan suara rendah wajah memerah malu. Dia menyilang kan ke dua tangan di dada.


"Sita yang melepas dan mengganti pakaianmu. Aku yang menyuruhnya! Buang pikiran kotor mu itu." Rafa mengetuk dahinya.


Ara meringis dan segera menyentuh dahinya yang sakit. Tapi dia lega setelah mendengar perkataan Rafa, bahwa Sita yang mengganti pakaiannya.


Rafa menatap tajam."Kamu selalu berpikir buruk tentang aku. Sementara kamu sendiri apa tadi? Peluk peluk, kecup kecup sembarangan melakukan hal yang tidak senonoh sampai meninggalkan tanda merah begini." ujar Rafa menunjuk tanda merah di dadanya.

__ADS_1


Ara menunduk semakin malu. Terlalu malu untuk melihat wajah Rafa.


"A aku tidak sengaja. Aku sungguh tidak menyadarinya. Aku minta maaf." ucapnya terbata.


"Makanya kalau bangun tidur, pastikan dulu tingkat kesadaran dan juga penglihatan mu. Untung saja kamu melakukan itu hanya padaku. Coba bayangkan jika kamu berada di tempat lain, melihat laki laki lain sebagai suamimu. Terus kau menyentuhnya, apa yang akan mereka lakukan padamu? Kau pikir mereka hanya diam saja?" Rafa menarik tubuh kurus itu hingga menempel padanya, lalu mengangkat wajah menghadap ke padanya.


Ara segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Rafa menarik tangan itu, sehingga terlihat semburat merah di kedua pipi itu.


"Lihat tanda dari hasil karya bibir mu." bisiknya kembali menggoda. Membawa satu tangan Ara menyentuh dadanya yang ada tanda merah. Ara kaget semakin malu, dia menarik tangannya. Tapi Rafa menahan kuat.


"Katakan berapa hari tanda merah ini akan hilang?" bisik Rafa menggoda dengan tersenyum jahil. Dia menyapukan telapak tangan Ara ke tanda itu. Sentuhan itu malah membuatnya tegang sendiri.


Ara menelan ludahnya dan menggigit bibir bawahnya semakin kuat. Wajahnya semakin merah merona. Jantungnya berdegup kencang dengan kedekatan ini, terlebih dengan tubuh atas Rafa yang telanjang polos.


"Jawab Ara, jangan hanya diam saja. Kau pasti tau karena biasa melakukan hal itu bersama Raka bukan?" menatap tak berkedip bibir yang semakin merah karena gigitan.


Ara memejamkan mata, terlalu malu untuk bertatapan dengan kakak iparnya ini.


"Aku sedang bertanya. Kenapa kau hanya diam? Jawab pertanyaan ku. Kau ini tidak sopan sekali____!"


Ara kembali menelan ludah."Seminggu kak...," jawabnya hampir tak terdengar. Lalu dia mengangkat wajah memberanikan diri menatap Rafa.


"Maaf kak, aku benar benar tidak sengaja melakukannya...," ucapannya terpotong merasakan sentuhan di bibirnya.


Ara kaget dan bergidik.


"Bibir ini sangat nakal sekali...," ucap Rafa menatap benda kenyal merah alami ini tak bergeming. Yang membuatnya meneguk saliva berulangkali. Jemarinya menelusuri setiap sudut bibir Ara.


Ara semakin tidak tenang, dadanya turun naik tak beraturan. Apa yang akan dilakukan Rafa dengan menyentuh bibirnya?


"Kak ___" Ara segera menahan tangan Rafa yang semakin liar menelusuri.


Keduanya bertatapan. Ara melihat pancaran aneh yang tersirat dari kedua netra Rafa. Pancaran api gairah yang sering di lihat pada mata almarhum suaminya ketika menyentuhnya. Melihat itu membuat Ara semakin takut. Entah apa yang akan di lakukan oleh kakak iparnya ini?


Seketika Ara segera memeluk Rafa."Maafkan aku. Tolong jangan marah." tak menyadari kedua buahnya yang tak memakai bra menyentuh tubuh Rafa.


Rafa mengerti apa yang di pikirkan Ara dan juga ketakutannya dengan memeluk begini. Tapi saat ini dia gelisah dengan kedua gunung yang menyentuh sangat di antara perut dan dadanya.


Rafa segera menarik tubuh Ara. Memegang dan menatap wajah Ara."Memangnya kau sedang memikirkan apa? Apa kau berpikir buruk lagi padaku?" tanyanya.


Ara kembali malu dan segera menunduk. Jujur dia sempat berpikir buruk. Tapi ternyata dia salah menduga.


"Kenapa kau selalu berpikir padaku?" memeluk pinggang Ara yang hendak menarik diri.


"Maaf....! Aku tidak bermaksud begitu." hanya itu yang di ucap Ara."Lepas...!" dia tidak nyaman dengan kedekatan ini, karena telah menyadari tidak memakai bra."Tolong lepas.....!"


Rafa jahil dan tidak melepaskan.


Suara adzan magrib terdengar dari ponsel Ara. Fokus Rafa terpecah. Dia melihat ke arah ponsel Ara di atas ranjang.


Ara menggunakan kesempatan itu mendorong tubuh Rafa. Lalu berlari ke arah ranjang.


Rafa tersenyum tipis melihat tingkahnya.


Ara meraih ponselnya yang terus berbunyi.


Hah? sudah jam 18.00 sore? terkejut melihat waktu sekarang yang sudah malam.


Artinya ini adalah suara adzan sholat magrib? Apa aku tertidur selama itu dari pagi hingga malam begini? gumamnya kaget.


Dia menoleh pada Rafa yang juga menatapnya.


"Ini sudah malam? Kenapa kakak gak bangunin aku sih?"


"Aku kan sudah bilang ingin membuat mu istirahat dan tidur lebih lama!"


Ara menatap kesal.


"Terus mana pakaian ku? Aku mau pulang."


"Pakaian mu masih di ruang binatu."


Ara kaget."Terus aku pakai apa? Aku gak mau pulang dengan memakai kaus ini."


"Kalau begitu tak usah pulang, di sini saja." kata Rafa jahil.


Ara kembali kesal.


Rafa tersenyum kecil. Dia berjalan menuju meja tempat ponselnya tergeletak.


"Aku mau bertemu mbak Sita. Bolehkah kakak menyuruhnya kemari?"


"Untuk apa?" tanya Rafa sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


"Aku ingin meminjam pakaian mbak Sita, aku juga mau sholat magrib."


"Tidak perlu, sebentar lagi pakaianmu datang, sholatnya di sini saja. Segeralah mandi."


"Kamar mandinya di mana." tanyanya meski tak ingin mandi di sini. Tapi karena waktu shalat tinggal sedikit.


"Kamar mandinya di sebelah sana," Rafa menunjuk ruang yang berada di belakang Ara.


"Cepatlah...." katanya kembali.


Ara segera melangkah cepat menuju ruang yang di tunjuk kakak iparnya.


Rafa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kekesalannya. Dia segera keluar menuju ruang sebelah untuk melaksanakan shalat magrib.


...Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya....

__ADS_1


Rate bintang lima, vote, kopi dan masukan ke favorit โค๏ธ


Terimakasih.


__ADS_2