
Dengan masih mulut ternganga, para pelayan
itu masih terdiam di tempatnya.
Karena yang mereka tau Black Card hanya di miliki oleh para miliarder, para pengusaha tajir melintir konglomerat kelas atas.
"Cepat di ambil mbak, kalau tidak aku akan pergi dan tidak akan membayar apa pun." sahut Ara melihat mereka masih melongo melihat kartu hitam di tangannya.
Pelayan tua itu segera meraih kartu dari tangan Ara, menatap tajam pada Ara mencari tau siapa wanita ini sampai memiliki kartu Hitam ini. Apakah dia mencurinya?
Tiba tiba seorang laki laki masuk ke ruangan itu dengan terburu-buru.
Wajahnya merah menahan amarah. Sesaat dia memperhatikan keadaan ruangan yang kacau dan berantakan.
Para pelayan menunduk takut melihat kedatanganngnya.
"Maaf kan kami bos, ini bukan kesalahan kami. Semua ini karena ....." belum selesai pelayan tua itu menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan keras melayang di pipinya, terus mendarat juga pada rekan rekannya.
Plak..
Plak..
Plak..
Plak..
Plak ..
Ara yang melihat terkejut.
Para pelayan juga terkejut tapi mereka diam sambil memegangi pipi mereka yang merah.
"Saya Manager di toko ini. Maafkan atas perlakuan buruk pelayan saya nona, saya benar-benar menyesal kan kejadian ini." kata pria itu dengan wajah ketakutan dan pucat.
Bahkan dia segera berlutut di depan Ara dengan ke dua tangan di depan dada.
Membuat Ara kembali terkejut .
Bukan hanya Ara, kelima pelayan itu lebih terkejut lagi melihat manajernya berlutut di hadapan Ara.
Tanpa di perintah pun mereka segera menjatuhkan tubuh mereka di depan Ara, dengan di liputi pertanyaan siapa gadis ini? hingga bos sampai merendahkan dirinya berlutut meminta maaf.
"Cepat minta maaf jika tidak ingin kaki dan tangan kalian patah." bisik manajer pada mereka dengan tatapan menakutkan.
Hah?
__ADS_1
Kelima pelayan kembali tersentak, seketika wajah mereka berubah pias.
"Maafkan kami nona, maaf kan kami."
ucap mereka memelas.
"Tolong maafkan kami, jangan pecat kami, jangan hukum kami." pinta mereka menghiba.
Ara semakin bingung.
"Berdirilah, apa yang kalian lakukan? Ayo berdiri." katanya pelan dengan bingung.
Tapi mereka tetap pada tempatnya mengikuti bos mereka yang masih tetap berlutut.
"Berdirilah, cepat. Aku tidak mau menjadi perhatian pengunjung."
"Maafkan kami nona, maafkan kami." ucap sang Manager kembali.
"Kami berjanji akan melayani pelanggan dengan baik dan tidak akan memandang rendah serta tidak membedakan pengunjung.
Tolong ampuni kami, jangan hukum kami." ucap pelayan senior.
"Maafkan kami kami, maafkan kami." pinta pelayan lainnya menghiba.
"Baiklah aku maafkan, sekarang bangunlah sebelum orang orang datang ke sini." seru Ara khawatir melihat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.
Sang Manajer pun segera berdiri
"Kalian tetap berlutut." katanya pada ke lima pelayan nya.
"Terimakasih atas kebaikan hati anda nona."
ucapnya kembali
Manager mengambil kartu dari tangan pelayannya, lalu menyerahkan pada Ara dengan sopan.
"Simpan kembali kartu nona. Dan mainan keponakan anda akan kami kirimkan ke rumah dengan segera." katanya kembali menunduk.
"Baiklah, aku juga minta maaf untuk kekacauan ini yang di lakukan oleh keponakanku."
"Jangan meminta maaf nona, ini bukan kesalahan anda, tapi kesalahan para
pelayan saya yang melihat orang hanya dari penampilan luarnya saja."
"Ya sudah, saya permisi dulu." Ara menggenggam tangan si kembar yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
Cia membawa Teddy bearnya .
"Cio sayang, nanti mobilnya akan di kirim ke rumah kita, karena mobil itu gak akan muat di mobil kita. Cio sabar ya ?" Ara memberi pengertian dengan lembut melihat Cio menatap mobilnya.
Cio mengangguk pelan.
"Pak, nanti cepat kirimkan kenderaan itu ya?" menoleh pada manager .
"Baik nona."
Ara segera melangkah sambil memegang kedua tangan Cio dan Cia erat. Mereka di antar oleh Manajer sampai mereka naik lantai selanjutnya.
Ara sendiri bingung kenapa mereka meminta maaf kepadanya sampai berlutut seperti itu?
bahkan meminta jangan di pecat dan jangan di hukum. Seperti dia saja pemilik dari toko penjualan mainan itu juga pemilik dari Mall besar ini.
Setelah Ara jauh, sang Manajer masuk dan menyeret ke lima pelayanannya kebelakang, lalu menampar mereka kembali berulangkali dengan keras hingga bibir mereka pecah dan mengeluarkan darah.
"Pelayanan yang memalukan. Kalian harus belajar dulu cara melayani pengunjung.
Kalian tahu siapa gadis yang sudah kalian rendahkan itu hah?" bentak manajer dengan keras.
Kelima pelayan itu meringis kesakitan dan tidak menjawab, karena mereka juga tidak tahu dan penasaran siapa gadis itu.
"Aku peringatkan kalian, jangan menilai orang hanya dari luarnya saja, mengerti? dasar manusia manusia angkuh dan sombong."
"Iya tuan.." jawab mereka serempak.
Manajer itu mendengus kesal lalu melangkah kaki nya keluar.
"Bos, memang siapa gadis itu?" pelayan senior memberanikan diri bertanya di antara ketakutannya.
Langkah Manager terhenti
"Kalian masih belum mengerti juga hah? dasar bodoh." sentaknya keras.
Kelimanya menggelengkan kepala
"Wanita muda itu bahkan bisa membeli semua yang ada di dalam gedung ini, termasuk tempat ini. Kalian mau tahu siapa wanita itu? dia adalah pemilik dari gedung pusat perbelanjaan ini, mengerti kalian?" berteriak keras.
Hah? mereka terbelalak.
"Makanya jangan melihat orang dari penampilan luarnya saja. Baru jadi pelayan saja kalian begitu sombong," Manager menatap mereka sadis.
"Maafkan kami tuan, ampuni kami."
__ADS_1
"Cih ...kalian aku pecat ! aku tidak mau mempekerjakan manusia manusia bodoh, sombong serta tidak beradab seperti kalian. Cepat pergi dari sini, aku tidak mau melihat wajah kalian lagi di sini." sentak manajer itu kembali seraya pergi.
******