
Di sebuah ruang kosong.
Terkapar tiga tubuh wanita dengan kedua tangan mereka terikat, mulut tersumpal kain. Keadaan yang berantakan baik pakaian dan rambut.
"Bangunkan mereka." Terdengar suara perintah yang memecahkan keheningan ruangan.
Siraman air dingin ke tubuh tiga wanita membuat ketiganya tampak bergerak gerak dan perlahan lahan membuka mata. Ketiganya kembali sadar sepenuhnya setelah mengingat kejadian buruk yang terjadi. Ketiganya saling melihat dan memanggil satu sama lain setelah melihat keadaan diri masing-masing.
Tangan di gerakan untuk melonggarkan ikatan di belakang tubuh. Di gesek ke atas, bawah, kiri, kanan tapi ikatan tak kunjung lepas karena terlalu kuat.
"Selamat datang di kediaman ku Nyonya Dionel Alkas!" terdengar suara di depan mereka.
Ketiganya segera mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara. Baru sadar ada orang lain di ruangan ini selain mereka.
"Kau....?" kata Cindy terkejut setelah melihat siapa orang di depannya. Ines dan Ara juga kaget setelah melihat dengan jelas.
Bela.... wanita itu tampak tersenyum angkuh menatap mereka.
"Aku pikir kau tidak mengenal diriku lagi Nyonya Presdir!"
Cindy mendengus kasar. Dia ingin bicara, tapi terhenti dengan kemunculan sosok wanita tinggi semampai, dengan pakaian terbuka pada bagian atas dan bawah. Lekukan bukti kembarnya terpahat menantang.
Dia berdiri di samping bela.
Ara Ines dan Cindy mengalihkan pandangan pada wanita itu.
Wanita cantik dengan make up-nya yang tebal. Di tangan kanannya, lebih tepat di antara jari tengah dan telunjuk menjepit sebatang cigaret yang tampak menyala. Berulang kali dia menyesap benda tersebut, lalu mengeluarkan asap lewat hidung dan mulut membentuk huruf O.
Ketiganya kaget setelah melihat jelas wanita itu. Sala satu model dan artis tanah air yang lagi naik daun dalam dua tahun terakhir,
Tania Permatasari.
Kenapa wanita ini bisa ada di tempat ini bersama bela? karena setahu mereka, ketiganya tidak pernah berhubungan apalagi sampai bermasalah dengan artis ini.
Ada hubungan apa di antara mereka?
"Kenapa kau lakukan ini pada kami Bela?" Cindy menatap tajam pada Bela.
"Itu karena suamimu. Semuanya karena suamimu yang telah menolakku dan juga mengingkari janjinya!" kata Bela tersenyum miring.
"Kau yang wanita murahan, Rendah. Tidak tahu malu menggoda dan menyukai suami orang. Kenapa kau salahkan kak Dion?" umpat Cindy.
"Ciihh, manusia tidak tahu diri. Kak Dion dan orang tuanya telah menerima mu tinggal di rumah mereka. Memperlakukan mu dengan sangat baik. Menganggap mu seperti keluarga sendiri. Tapi kamunya aja dasar manusia tidak tahu terima kasih! kamu perempuan ******, wanita rendah!" timpal Ines sinis.
Ucapan mereka berdua memancing kemarahan Bela.
Dia mendekat dan langsung melayangkan tamparan ke wajah Ines.
"Ineeeess!" pekik Ara dan Cindy. Mereka berusaha menggapai tubuh Ines sambil berusaha mendekat. Tapi tubuh mereka di tahan oleh anak buah Bela.
Ines meringis menahan sakit pada wajahnya yang tidak bisa di sentuh. Tatapannya semakin tajam dan bengis pada Bela.
"Cih....." Dia mengumpat sambil membuang ludah pada Bela.
"Manusia sampah! wanita iblis!" makinya kembali.
Bela kembali melayangkan pukulan dan menjambak kuat rambut belakangnya.
"Hentikan bela, cukup. Hentikan aku mohon!" kata Ara mulai terisak melihat kesakitan Ines.
"Cukup Bela, hentikan..... kalau kau punya masalah denganku, hadapi aku! jangan sakiti sahabtku! lepaskan mereka!" teriak Cindy keras.
Bela tertawa keras melihat kepanikan serta kecemasan di wajah mereka.
Dia mendekat pada Cindy dan menarik kuat rambutnya. Cindy memekik kesakitan.
"Kau pun akan merasakan kesakitan ini wanita sialan!" katanya dengan tatapan melotot, lalu melayangkan tamparan keras di wajah Cindy. Dia sangat benci wanita ini karena Dion menolaknya.
"Bela, hentikan. Cukup! apa untungnya bagimu melakukan ini pada kami!" kata Ara menatapnya.
"Tentu saja untuk membalas sakit hati!" sela Tania yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia. Dia tersenyum menatap Ara, lalu berjalan mendekati Ara, menurunkan tubuhnya, menghembuskan asap rokok ke wajah Ara.
__ADS_1
Ara segera memalingkan wajahnya ke samping seraya menahan nafas agar tidak menghirup zat yang mengandung nikotin tersebut.
Tania tertawa, lalu memegang dagu Ara kasar dan di hadapkan padanya.
"Ternyata kau adalah wanitanya Rafa yang selama ini di sembunyikan dari publik. Wanita yang mampu membuatnya tergila-gila dan bertekuk lutut. Wanita yang sangat berharga dalam hidupnya melebihi apapun miliknya di dunia ini bahkan nyawanya sendiri." batinnya seraya menelusuri bagian wajah Ara dengan jari telunjuknya. Wajah putih mulus bersih.
Dia mengakui kecantikan alami paras ini. Kecantikan alami yang bersinar memancarkan cahaya. Tatapan matanya yang lembut teduh menenangkan di lihat oleh matanya.
Sekarang dia ingat wanita ini, wanita cerdas saat menjadi model ambassador dalam mempromosikan produk-produk branded. Wanita yang mendampingi Rafa dalam acara penting di Paris. Dan di umumkan pada pebisnis penjuru dunia sebagai istri seorang Ravendro Artawijaya.
"Pantas saja Ravendro tidak tertarik sedikit pun pada wanita lain. Kau sangat cantik dan anggun. Mungkin karena hal itu Rafa menyembunyikan dirimu dari publik. Sepertinya Rafa tidak ingin paras cantik ini menjadi tatapan pria lain!" batinnya kembali.
Dia yang sudah menelusuri siapa wanita yang di katakan Rafa sebagai istrinya, meski harus mengeluarkan uang yang sangat banyak.
Dia mengira Rafa hanya berbohong, tapi ternyata memang benar... Rafa telah menikah sudah setahun. Menikah dengan wanita yang sangat di cintai walau hanya seorang janda bekas adiknya. Merahasiakan status pernikahan dengan menikah sederhana sesuai permintaan wanita ini yang ingin menikah tanpa di publikasikan ke publik.
Tania tersenyum kecil setelah menatap Ara beberapa saat.
"Azahra Radya Almira. Wanita kesayangan yang sangat berharga bagi seorang Rafa Ravendro Artawijaya." ucapnya pelan.
Ara balik menatapnya mendengar kata-kata itu. Sedikit kaget karena Tania tahu siapa dirinya.
Tangan Tania menjalar ke perut Ara yang mengembang.
"Pewaris Artawijaya!" ucapnya tersenyum menyeringai.
"Jangan sentuh anakku!" ucap Ara seraya menyampingkan tubuhnya menghindari tangan Tania.
"Apa yang kau lakukan, hentikan." pinta Ara ketika tangan Tania kembali menarik dagunya kasar.
"Aku ingin lihat apa yang akan bisa di lakukan seorang Ravendro jika aku menyentuh anak anaknya!" ucap Tania di selingi tawa kecil.
Dia menarik tubuh Ara kasar untuk di hadapkan padanya. Bayangan perlakuan Rafa dulu saat memperlakukan dirinya rendah.
Dia menarik narik kasar gaun hamil Ara hingga robek besar pada bagian dada dan perut.
"Tidak....jangan! apa yang kau lakukan padaku?" Ara terkejut sambil menggeser tubuhnya menghindari Tania. Apalagi ada tiga Pria di ruang itu. Sementara Cindy dan Ines menjerit memanggil dirinya.
"Apa salahku padamu? aku baru bertemu denganmu. Kenapa kau lakukan ini padaku?" ucap Ara terisak.
Tania tersenyum sinis menatap menyeringai
"Karena kau adalah istri Ravendro. Salahnya ada pada suamimu! Aku sangat menyukainya, aku ingin memiliki dirinya. Tapi dia menolakku karena dirimu. Bukan hanya menolakku, tapi juga menyakiti hati dan fisikku. Apa kau tahu? suamimu itu dulu melemparku ke jalanan dengan tubuhku yang terbuka hingga menjadi tontonan khalayak umum. Dan lebih menyakitkan lagi...dia menghinaku, merendahkanku, menyamakan diriku seperti binatang! Aku sangat membencinya tapi tidak dapat menyentuhnya. Makanya kau dan juga anakkmu yang harus menggantikan dirinya!" ujar Tania sinis.
Dia memberi kode pada seorang pria yang langsung datang sambil memberi jarum suntik yang berisi zat kimia berbahaya.
Dia menyentuh perut Ara.
Ara semakin ketakutan dan segera mundur.
Tapi Tania menahan kedua kakinya dan menarik kuat.
"Tidak, Jangan lakukan itu.....jangan sentuh anakku, jangan sakiti mereka!" ujar Ara menangis dan ketakutan seraya menghindar melindungi perutnya dari tangan Tania yang menjulur menjamahnya.
"Hentikan wanita ******, sebaiknya salahkan dirimu yang rendah dan murahan. Kau memang binatang. Sebaiknya kau sendiri yang berkaca. Biar kau menyadari apa yang di katakan tuan Ravendro itu benar! bercermin lah dengan baik agar kau bisa melihat betapa menjijikkan dirimu." kata Ines kasar menatap tajam pada Tania.
Tania mendengus kasar.
Bela kembali melayang kan pukulan keras ke wajahnya setelah mendapat kode dari Tania.
Cindy dan Ara kembali menjerit melihat apa yang di lakukan Tania, tapi mereka juga tidak berdaya.
"Hentikan Bela." teriak Cindy keras.
Bela menghentikan kekerasan pada Ines. Dia balik pada Cindy dan melampiaskan kemarahannya pada Cindy. Cindy berusaha melindungi perutnya. Tidak tahan menerima pukulan karena kondisinya yang lemah, akhirnya Cindy pingsan.
"Artis ******.... ! kalian benar benar iblis!" teriak Ines keras. Dia berusaha melepaskan ikatan di tangannya tapi sia sia. Salah satu kakinya juga di injak anak buah Bela. Hingga dia susah mendekati Cindy yang terkapar pingsan. Sementara Ara hanya menangis melihat keadaan sahabatnya.
Tania tertawa terbahak-bahak melihat air matanya.
Kedua anak buahnya menahan tubuh Ara yang berontak melawan setelah mendapat kode darinya.
__ADS_1
"Kini giliran mu Nyonya muda Artawijaya!" kata Tania menatap sinis seraya menjulurkan alat suntik ke perut alat sambil terus tertawa seperti orang tidak waras.
"Jangan lakukan ini Tania, aku mohon! Kau ingin apa? akan ku penuhi. Jangan sakiti anak anakku!" hiba Ara
"Apa yang aku mau? kau tahu....aku sudah sangat lama menginginkan suamimu, tapi dia menolakku dengan rendah. Aku terlalu malu dan sakit hati sehingga tidak bisa menerima penghinaan itu. Makanya kau yang harus menanggung semua perbuatan suamimu itu! kalian akan aku lempar ke jalanan dengan kehinaan biar menjadi tontonan semua orang!" sentak Tania keras menatap penuh kemarahan pada Ara. Lalu dia tertawa keras.
"Wanita sinting, gila...! Kalian yang begitu bangganya menggoda dan menyukai suami orang tanpa rasa malu. Kenapa harus menyalahkan orang lain? sudah sepantasnya kalian mendapatkan penghinaan itu ****** rendah! aku pikir seorang artis seperti dirimu adalah wanita terhormat sama seperti di yang beritakan. Tapi ternyata tidak. Kau wanita murahan menyerupai iblis! Kau pasti menggunakan tubuh hinamu itu sehingga bisa menjadi seorang artis." kata Ines keras mengejeknya. Dia memekik keras saat satu tamparan kuat yang di lakukan Bela mendarat di mulutnya. Bibirnya pecah mengeluarkan darah. Wajahnya semakin memar dan lebam.
Tapi tidak sedikitpun hatinya ciut. Dia meludahi kedua nya ndengan ludah yang tercampur darah pecahan sudut bibirnya
Kata kata Ines semakin membuat darah kemarahan Tania mendidih.
Dia mendekati Ines, melayangkan pukulan berulang kali tanpa ampun di iringi tawa kesenangan Bela. Lalu mendekati Ara yang berteriak menjerit memanggil Ines.
"Pegang dia!" perintahnya pada pria kekar. Lelaki itu segera mengikuti perintahnya. Menahan tubuh Ara yang berontak.
Tania segera memegang perut Ara.
"Tidak Tania... Jangan lakukan ini, Aku mohon." pinta Ara menghiba. Menggeser tubuhnya menghindar. Dia terus memberontak tapi tubuhnya di pegang kuat oleh anak buah Bela.
Tania tidak mengindahkan hibaanya.
Dia segera menjulurkan jarum suntik ke tubuh Ara.
"Tidak...jangan lakukan! Kak Rafaaaaa....! kakaaak!" jerit Ara keras ketakutan memanggil suaminya ketika suntikan itu menyentuh kulit perutnya.
"Ara....!" ucap Rafa tersentak.
Dadanya terasa terpukul, hatinya terasa sakit. Jantungnya berdegup kencang merasakan Sesuatu.
"Tuan...ada apa?" tanya Wisnu melihat tuannya memegang dadanya.
"Perasaan apa ini? dadaku terasa di hantam sesuatu yang keras. Hatiku sakit Wisnu. Perasaanku tidak enak. Apa telah terjadi pada istriku? aku mendengar dia memanggilku." ucap Rafa menekan dadanya.
"Sayang...apa para penculik itu menyakiti dirimu?" gumannya kembali dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat yakin terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Saat ini dia dan Wisnu berada di markas Mafia king kobra setelah Wisnu menemukan kalung berbentuk kepala ular yang sempat di tarik Ines saat melakukan perlawanan.
Mereka menyerang markas Mafia ini karena yakin telah menculik Istrinya, juga Ines dan Cindy.
Tapi ketiga wanita itu tidak berada di tempat ini.
Meski Wisnu Terus memaksa dengan melakukan kekerasan, sang pimpinan tidak mau mengatakan apapun, terus bungkam meski tubuhnya sudah memprihatinkan, tidak berdaya di bawah kaki Rafa. Dia tetap diam tak mau bicara. Sementara anak buahnya terkapar bergelimpangan di mana mana setelah pertarungan mereka.
"Cepat selesaikan Wisnu!" perintah Rafa seraya bangkit dari duduknya. Wisnu segera mendekati pimpinan Mafia tersebut begitu mendengar perintah tuannya.
Selain menghawatirkan nona mudanya, dia juga cemas pada Ines, istrinya.
Dia tidak mau membuang waktu lagi dan memberi belas kasihan.
Wisnu memegang kuat dan kasar dagu ketua king kobra yang terkapar di lantai. Lalu mendekat kan bibirnya lebih dekat ke wajah lelaki tersebut.
"Aku bersumpah atas nama ibuku. Kau akan kehilangan wanita berharga mu. Ku beri kau waktu dua menit!" bisiknya dengan tatapan tajam wajah menyeringai. Lalu dia bangkit dan berlari cepat mengejar tuannya. Anak buahnya juga segera mengikutinya dengan cepat.
Yang lain sudah lebih dulu mengawal Rafa.
Di antara ketidak berdayaannya, Pimpinan Mafia tersebut terbelalak mendengar bisikan itu. Dia tidak menyangka Wisnu mengetahui kelemahannya. Ibu asuhnya, harta yang sangat berharga dalam hidupnya adalah kelemahannya. Wanita yang telah memungutnya di jalanan saat dia masih kecil dengan tubuh kelaparan dan kedinginan.
Membesarkan dirinya penuh cinta dan kasih sayang layaknya ibu kandung dengan tetesan darah dan keringat.
Dia menyembunyikan ibu asuhnya sangat rapat dari musuh musuhnya. Dia tidak menyangka Wisnu mengetahuinya, sama seperti Tania.
Dia tutup mulut pada Rafa karena Tania juga mengancam seperti itu. Tapi ternyata Wisnu pun memberi ancaman yang sama.
Entah dari mana kedua orang itu mengetahui tentang ibu asuhnya itu. Saat ini dia sangat mencemaskan wanita berharganya itu.
Ini seperti kata pepatah keluar dari mulut harimau, malah masuk ke dalam mulut buaya.
Secepatnya Pria itu merangkak mencari ponselnya yang jatuh saat pertarungan tadi.
Dia harus segera menemukan benda pipih itu mengingat waktu yang di ucapkan Wisnu.
__ADS_1
*****