
...Happy Reading....
"Aku teringat dirimu Ra dan langsung menuju kemari!" kata Ines mengakhiri ceritanya.
"Terus gimana Ra?" tanyanya kembali memegang tangan Ara.
Ara membuang nafas berat."Ya Allah Nes." ucap Ara masih tidak percaya dengan penjelasan Ines. Karena hal yang tidak mungkin Dion dan Cindy akan melakukan hubungan badan sementara mereka kakak dan adik sepupu.
"Kok Cindy bisa hamil anak kak Dion?" Ara menatapnya bingung masih belum bisa percaya dengan kehamilan Cindy dari benih Dion.
"Aku juga bingung Ra. Masa iya mereka melakukannya? Mereka kan kakak adik, gak mungkin kan? Itu sangat mustahil. Kak Dion sudah menganggap Cindy seperti adik kandungnya sendiri. Cindy pun demikian, menganggap kak Dion seperti kakak kandungnya sendiri karena betapa sayangnya kak Dion kepada dirinya. Dan kita berdua juga tahu tentang kedekatan mereka hanya sebatas kakak dan adik sepupu." ujar Ines ikut bingung dan tidak percaya.
Ara memijit keningnya sedang berpikir.
"Kamu nggak salah dengar kan Nes?"
Tanya Ara kembali untuk menyakinkan kehamilan Cindy.
"Nggak Ra, aku sangat yakin dengan pendengaran ku. Aku nggak mungkin salah dengar. Jelas jelas aku mendengar Cindy berkata kalau dia akan melahirkan dan merawat anak kak Dion seorang diri. Dia juga mendoakan pernikahan kak Dion bersama Sophia bahagia selamanya. Biarlah dia yang akan menanggung aib dan kehancuran seorang diri demi karier, masa depan kak Dion, dan juga demi kehormatan dan nama baik keluarga mereka. Aku dengar Cindy ngomong begitu." ujar Ines mengingat perkataan Cindy di kamar mandi.
"Kalau benar apa yang kamu dengar, artinya hanya Cindy yang tahu kehamilannya sementara kak Dion tidak tahu apa pun! Dan itu berarti mereka melakukan hubungan intim tanpa sadar! Maksudku... hanya Cindy yang tahu dan kak Dion tidak tahu." ucap Ara setelah berpikir dan mencermati sesuatu.
"Iya kamu benar Ra, sepertinya begitu. Tapi bagaimana bisa mereka melakukannya? Sementara kita tahu selama beberapa bulan terakhir ini kak Dion tinggal di London, dan Cindy di Indonesia. Mereka tidak bersama setelah kepulangan kalian dari Eropa!"
"Ya Allah Ness....!" ucap Ara tiba tiba dengan mata membulat mendengar Ines mengucap kata Eropa. Dia teringat kejadian di Paris beberapa bulan yang lalu.
"Jangan jangan karena obat perangsang itu ....?"
Ara menutup mulutnya dengan kedua tangan."Ya tuhan,, Apa benar karena obat laknat itu?"
"Obat perangsang? Obat laknak apa Ra? Apa kamu tahu sesuatu?"
Ara terduduk lemas.
"Apa kak Dion memperkosanya malam itu?" gumam Ara sendu.
Ines terkejut mendengar ucapannya.
"Apa? Kak Dion memperkosanya?"
Ara mengangguk cepat.
"Jangan ngomong gitu dong Ra, aku jadi takut! Masa kak Dion memperkosa Cindy?" Ines jadi takut dan kembali sedih.
"Di Paris waktu itu Nes, Saat kami mengirimkan foto foto kebersamaan kami kepadamu di acara malam itu! Kamu masih ingat kan? nah, kejadiannya malam itu,"
"I iya....aku ingat! Terus?"
"Siska membuat kekacauan dengan memberi obat perangsang pada minuman kami melalui orang bayarannya. Dia menyukai kak Dion dan menyusul kak Dion ke Paris! Dia berpura-pura menjadi seorang pelayan hotel untuk mendekati kak Dion dan menjalankan rencana kotornya dalam menjebak kami. Beruntunglah kak Dion dapat mengetahui rencana busuknya itu, sehingga aku dan Cindy tidak sempat meminum minuman itu. Tapi sayangnya, kak Dion sempat meminum minumannya."
"Saat mulai merasakan efek dari obat perangsang itu, kak Dion meninggalkan kami untuk menyembunyikan keadaan dirinya, dan hal itu di manfaatkan oleh Siska dengan membawa tubuh kak Dion yang sedang tidak sadar ke kamar hotel yang sudah di siapkan untuk menjebak kak Dion. Aku dan Cindy berusaha melawan dan menghentikannya! Kami berhasil menyelamatkan kak Dion. Hanya saja, terjadi sesuatu yang buruk malam itu padanya yang di lakukan oleh suamiku, akibat kecemburuannya pada kami. Tapi untungnya Cindy berhasil membawa kak Dion secara diam-diam."
"Dan untuk menyelamatkan dari amukan kemarahan tuan Alkas, Cindy menyembunyikan kak Dion di sebuah kamar yang telah di pesan oleh tante Dinda secara diam diam. Tante Dinda menyuruh Cindy menjaga kak Dion di kamar hotel hingga sampai keesokan paginya tante Dinda menjemput mereka. Hanya itu yang ku tahu."
"Dan akibat dari obat perangsang yang menguasai dirinya, kak Dion melakukannya pada Cindy dalam kondisi tidak sadar." Ines menyambung perkataannya, menyimpulkan analisis dari dampak obat perangsang itu.
"Kamu benar Nes, sepertinya begitu. Mereka melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka inginkan di antara ketidak sadaran kak Dion. Aku yakin Cindy berusaha menghindar dan melawan. Tapi dia tidak mampu menandingi kekuatan kak Dion yang sedang di kuasai obat perangsang. Apalagi tubuh Cindy juga kesakitan karena beradu kekuatan melawan Siska saat menyelamatkan kak Dion." ujar Ara sedih.
__ADS_1
"Ya ampun, terus gimana Ra? Apa kita hanya akan membiarkan Cindy menderita sendiri seperti itu? Bagaimana dengan masa depannya nanti? Bagaimana dengan pandangan orang terhadapnya saat tahu dia hamil tanpa seorang suami? Dia pasti akan menjadi bahan gunjingan dan makian orang hamil tanpa suami. Dan bagaimana dia akan melahirkan dan membesarkan anak anak itu seorang diri tanpa suami ?" ujar Ines sedih.
"Anak-anak? Apa maksudmu?" menatap lekat Ines.
"Cindy sedang mengandung anak kembar Ra!" kata Ines dan kembali menangis.
Ara kembali terkejut.
"Apa? Masya Allah.... !" ucapnya lirih.
"Cindy bahkan menutupi kehamilannya dari orangtuanya. Dia rela menanggung sendiri kehancuran hidupnya demi untuk menutupi aib dan menjaga kehormatan keluarga mereka. Kau tahu sendiri papa kak Dion bukan orang sembarangan," ujar Ines.
"Tapi sebaiknya kak Dion harus tahu Nes! Dia harus tahu kalau Cindy sedang mengandung anak anaknya. Kita harus temui kak Dion."
"Aku juga maunya begitu Ra. Tapi sebentar lagi kak Dion akan menikah, Bagaimana kalau dia batal menikah setelah tahu Cindy hamil anaknya?"
"Itu malah lebih bagus kan Nes? Kak Dion harus secepatnya tahu hal ini sebelum pernikahan terjadi!"
"Orang tua Sophia pasti tidak akan terima dan tidak akan tinggal diam begitu saja jika pernikahan ini di batalkan, mereka akan menanggung malu Ra. Apalagi pernikahannya sudah di depan mata. Tinggal beberapa jam lagi. Dan jika sampai batal, aku yakin akan terjadi kekacauan besar pada perusahaan tuan Alkas."
"Apa maksudmu?" dahi Ara mengernyit.
"Aku tidak begitu tahu banyak tentang permasalahannya Ra. Aku hanya mendengar sedikit pembicaraan Cindy dan kak Dion tadi siang. Pernikahan ini untuk menyelamatkan perusahaan papanya kak Dion dari kebangkrutan. Perusahaan DRA Group mengalami kerugian yang sangat besar dan tidak dapat di kendalikan jika saja ayahnya Sophia tidak membantu. Kak Dion menikahi Sophia karena keinginan orang tuanya. Dia tidak mencintai Sophia dan tidak ingin menikahinya. Tuan Alkas memaksa dan Cindy malah ikut ikutan mendukung kak Dion demi kelangsungan masa depan perusahaan, terlebih lagi demi karier kak Dion." tutur Ines panjang lebar.
"Ya Allah Cindy ... kau berkorban dan rela menanggung ini semua seorang diri." desah Ara sedih. Dia mondar mandir di kesana kemari.
Ines juga ikut ikutan mengikuti langkahnya.
"Mungkin karena itu alasan Cindy akan pergi meninggalkan kita dan kuliah di kota lain Ra..! Dia ingin menyembunyikan kehamilannya dari kita semua. Aku mohon lakukan sesuatu Ra, bagaimana bisa dia akan hidup seorang diri di kota lain dengan keadaan seperti itu." ujar Ines kembali menangis memeluk Ara dari belakang.
Keduanya kembali saling berpelukan dan menangis.
"Apa yang akan kamu lakukan Ra?"
Ara diam tidak menjawab, dia sedang berpikir.
Beberapa saat kemudian dia mengambil ponselnya, lalu menekan kontak Moly, tiga kali berdering, terhubung.
π"Assalamualaikum." suara Moly.
π"Waalaikumsalam! Kak, apa aku mengganggu?"
π"Tentu tidak sayang, santai saja, ada apa?"
π"Aku ingin menanyakan sesuatu." katanya ragu.
π"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan?"
π"Apa kakak ipar mendapat undangan pernikahan dari tuan Alkas dan tuan Abimanyu malam ini ?"
π"Iya benar, kami sudah mengirimkan hadiah pernikahan kepada mereka. Kamu jangan khawatir." kata Moly dari seberang.
π"Terimakasih atas informasinya kak,"
π"Kenapa kau menanyakan hal itu sayang? Apa kau ingin menghadiri pernikahan Dionel Raymond Alkas dan Sophia Widjaya?"
π"Apa kak Rafa akan menghadiri acara tersebut?" Ara balik bertanya.
__ADS_1
π"Sepertinya tidak, karena tuan sangat sibuk saat ini dan mungkin sampai malam! Aku yang akan datang mewakili tuan Rafa. Kenapa kau menanyakan hal itu?"
π"Aku hanya ingin tau saja ! Oh ya kak, apa aku boleh bertanya lagi?"
π"Tentu saja boleh sayang, tanyalah semaumu, aku akan menjawab semampu yang aku tahu!"
π"Apa perusahaan kakak ipar mempunyai saham di perusahaan tuan Raymond Alkas dan Abimanyu Widjaya?" tanya Ara.
Moly tertegun mendengar dari seberang. Merasa heran Istri tuannya menanyakan hal ini.
π"Kak Moly?" panggil Ara karena tak ada suara.
π"Iya sayang, tentu saja. Perusahaan DRA Group dan Group X menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan tuan Ravendro, suamimu. Perusahaan RA Group mempunyai saham yang banyak di perusahaan mereka!"
π"Makasih kak Moly, tolong jangan beritahukan pada kakak ipar mengenai pembicaraan kita ini ya?"
π"Baik sayang."
π"Terimakasih kak, aku tutup dulu teleponnya! Assalamualaikum,"
π"Waalaikumsalam."
Moly menatap ponselnya sejenak dahi mengerut, lalu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Telpon Ines berdering.
"Dari Cindy Ra,"
"Angkat Nes," perintah Ara.
Ines segera mengangkat telepon.
π"Halo Nes,"
π"Halo Cind ..!"
π"Aku baru nyampe nih, ruangannya di sebelah mana? Jemput aku di depan dong,"
π"Maaf Cin, aku masih keluar sebentar! Aku ada urusan mendadak. Sedikit lagi aku ke sana. Kamu masuk saja ke dalam, tanyakan pada bagian resepsionis," ujar Ines merasa bersalah karena telah membohongi Cindy.
π"Ya udah, kamu cepetan ya, sejam lagi akad nikah akan di mulai."
π"Iya Cind," telepon di matikan.
Ines dan Ara saling bertatapan.
"Ya ampun Ra, gimana nih... kasihan banget Cindy, dia bahkan menguatkan dirinya datang untuk melihat kak Dion menikah." ucap Ines sedih.
Ara melangkah mendekati pak Sam dan si Kembar, dia pamit untuk keluar.
"Pak Sam, saya keluar dulu sebentar sama teman saya! Gak lama kok. Saya akan pulang sebelum kakak ipar kembali dari kantor. Tolong jaga anak anak ya?"
"Ya Non, hati hati di luar."
Ara mengangguk tersenyum, dia pamit pada si kembar, mengecup kepala mereka bergantian, lalu mendekat Ines.
"Ayo Nes, kita ke gedung pernikahan." ajaknya. Mereka naik mobil pribadi dan meminta sopir pribadi mengantar mereka.
__ADS_1
Pak Sam segera mengirim pesan pada Wisnu.
...Bersambung ...