Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 240


__ADS_3

...Happy Reading....


Di sala satu ruangan gedung pernikahan,


tempat menunggu keluarga Alkas.


Perlahan Cindy mendekati mereka.


"Cindy___" tiba tiba tangannya di tarik Dion.


"Kakak." kaget menatap Dion.


"Kenapa kamu baru datang? Aku dari tadi menunggumu."


"Maaf kak, aku sedang tidak sehat tadi, aku harus ke dalam rumah dulu untuk meminum obat. Makanya tidak bisa ikut dengan mobil kakak! Kakak nggak usah kesal gitu, kan aku dah di sini." ujar Cindy tersenyum.


"Kakak gugup ya? lihat tuh wajah kakak tegang gitu." ucapnya memperhatikan wajah Dion.


Dion membuang nafas kasar, menatap kesal padanya.


"Aku benar-benar tidak terima dengan pernikahan ini."


Cindy menelan ludah pahitnya, dia berusaha tersenyum untuk menyakinkan hati Dion.


"Udahlah kak, jangan ngomong gitu lagi. Gak ada gunanya menolak. Pernikahan kalian udah di depan mata. Tidak sampai sejam lagi kakak akan menjadi suami Sophia! Kakak harus terima dengan ikhlas dan lapang dada. Aku mohon jangan membuat sesuatu yang membuat malu keluarga kita. Kasihan paman Ray, keadaan yang membuat dia memaksa kakak untuk menikah! Aku yakin kakak akan bisa menerima pernikahan ini dan juga Sophia." ujarnya pelan menatap lekat wajah Dion.


"Lihat, kakak sangat tampan dan gagah dengan jas ini. Jangan kesal dan marah begitu, nanti tampannya hilang lho, ayo tersenyumlah." ucapnya tersenyum menggoda, walau hatinya saat ini menangis.


Dion malah semakin kesal dan menggerutu.


"Dion, ayo siap siap nak, kita keruangan sebelah. Papa memanggilmu," seru Dinda dari belakang mereka.


"Pergilah kak, semoga ijab kabulnya lancar. Pasang wajah senyumnya, jangan cemberut begtu, jelek tahu." ujar Cindy kembali dengan tersenyum meledek.


Dion mendengus geram mendengar perkataanya, lalu meninggalkannya dengan kekesalan mendalam.


Sedangkan Cindy menatap kepergiannya dengan kepedihan yang sangat mendalam.


"Cindy!" panggil Rani.


"Mama!"


"Kamu baru sampai?"


"Udah dari tadi ma....,"


"Apa kamu baik baik saja? Wajahmu pucat Cin? kamu masih melakukan diet lagi?"


"Nggak ma, aku udah berhenti. Aku hanya sedikit pusing, semalam kurang tidur, tapi aku baik baik saja kok,"

__ADS_1


"Ya udah, yuuk kita ke ruang akad nikah. Tamu undangan sudah pada datang, penghulunya juga sudah berada di dalam ruangan."


"Mama sama papa duluan saja sama yang lainnya, nanti aku akan nyusul. Aku masih menunggu Ines, dia masih keluar sebentar,"


"Baiklah, mama tinggal dulu." Rani menepuk bahunya pelan.


Cindy melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


Saat ini dia merasa tidak enak badan, pusing mual dan gemetaran karena belum ada satu pun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sejak pagi hingga detik ini.


Dia tidak akan kuat untuk melihat prosesi ijab kabul dengan keadaan lemah seperti ini. Segera dia ke jalan raya mencari taksi meninggalkan gedung ini. Yang penting baginya sudah memperlihatkan batang hidungnya tadi di depan Dion dan juga keluarga lainnya.


Cindy mengirim SMS pada Ines untuk pulang dan istirahat karena tidak enak badan.


Azan magrib berkumandang.


Ara dan Ines menyempatkan diri melaksanakan shalat di mesjid dekat gedung pernikahan. Untung saja mesjid itu menyediakan mukena cadangan, karena mereka tidak sempat membawa mukena.


Sesuai waktu yang telah di tentukan, pelaksanaan ijab kabul di laksanakan setelah shalat magrib.


Kedua belah pihak tampak sudah bersiap siap menuju ruangan. Raymond Alkas dan Dinda melangkah menuju ruangan dengan mengapit Dion. Langkah mereka terhenti dengan kemunculan Ara dan Ines yang tiba tiba di depan mereka.


"Ara?" ucap Dion terkejut melihatnya.


Ara tersenyum sekilas pada Dion, sedangkan Ines bersembunyi di belakang Ara, tidak berani berhadapan dengan orang orang penting di depan mereka.


Raymond Alkas menatapnya dengan mata menyipit.


"Tante Dinda, bolehkah kita bicara sebentar ?"


ucap Ara melihat pada Dinda.


"Apa itu sesuatu yang penting?" Dinda balik bertanya dengan mata menyipit. Dia sendiri kaget dengan keberadaan Ara di tempat ini hanya dengan mengenakan pakaian biasa.


Padahal mereka mengundang Ravendro dan Ara.


"Sangat penting dari pernikahan ini." jawab Ara serius.


Dinda, Dion dan Raymond Alkas terkejut.


"Bukankah dia teman Dion yang berkunjung ke rumah sakit waktu itu?" Raymond Alkas menyela pembicaraan mereka setelah mengingat Ara.


"Iya pa, dia temanku. Mereka berdua adalah sahabat dekat Cindy!" Dion menjawab memandang Ara tanpa berkedip. Hatinya bertanya tanya kenapa Ara menghentikan langkah mereka dan berkata tentang sesuatu yang penting melebihi pernikahannya.


"Kalau kau ada perlu, katakan saja nanti!" kata Raymond Alkas.


"Jangan halangi jalan kami, menyingkir lah."


Melanjutkan langkah

__ADS_1


"Ayo Dion." ajaknya.


"Aku mohon tante Dinda, aku minta waktu kalian sebentar saja, ada hal yang sangat penting ingin ku sampaikan," pinta Ara memegang tangan Dinda yang melewati dirinya.


"Ini sangat penting! Aku tidak bisa mengatakan ini di depan banyak orang," ucap Ara berbisik dengan sedikit memelas.


"Tidak ada yang lebih penting dari acara pernikahan ini, kau jangan menghalangi langkah kami dan membuat keributan." sentak Raymond Alkas sambil melepaskan tangannya dari tangan Dinda dengan kuat.


Ara terhuyung ke belakang.


Tapi tubuhnya cepat di tahan Dion.


"Jangan kasar pada Ara pa," kata Dion agak keras.


Dinda juga terkejut dengan perlakuan kasar yang di lakukan suaminya pada Ara.


"Apa yang papa lakukan?" katanya dengan khawatir melihat pada Ara yang meringis memegang tangannya.


"Kalian, bawa gadis ini dari hadapan kami. Bawa dia keluar dari ruangan ini, aku tidak ingin ada kekacauan yang akan memperlambat acara pernikahan ini," perintah Raymond Alkas pada petugas keamanan.


Petugas keamanan bergerak mendekati Ara


"Diam kalian di tempat, jangan berani menyentuhnya!" sentak Dion menunjuk kuat pada mereka membuat langkah mereka berhenti.


"Dion!!!!." sentak Alkas menatap tajam.


Keadaan mulai tidak tenang, ribut-ribut yang terjadi sudah tersebar ke ruangan sebelah yang di tempati Abimanyu Widjaya akibat laporan seseorang.


"Pa, sebaiknya kita beri waktu sedikit saja kepada Ara untuk menyampaikan apa yang ingin dia katakan," ucap Dinda pada suaminya.


"Memangnya siapa dia sehingga harus kita turuti keinginannya? Dia datang hanya ingin mengacaukan pernikahan Dion. Dia Pasti salah seorang wanita yang mengagumi Dion dan tidak akan membiarkan Dion menikah dengan Sophia." kata Raymond Alkas kasar menunjuk Ara.


"Jaga ucapan papa." kata Dinda menatap tajam.


Raymond Alkas tidak mengenal Ara sebagai istri Rafa dengan penampilannya yang cupu seperti ini, suaminya hanya tau istri Rafa adalah wanita cantik dan anggun yang dilihatnya di acara hotel Paris dulu.


Ara tidak menggubris ucapan Raymond Alkas. Dia mendekat pada Dinda dan menarik tangan wanita itu masuk ke salah satu ruangan kosong. Dinda kaget dengan apa yang dia lakukan. Ines mengikuti mereka dengan langkah cepat.


"Maafkan aku tante, aku tidak bermaksud kurangajar dan lancang seperti ini, sungguh! Tolong dengarkan perkataan ku sebentar saja, beri aku waktu sedikit saja." ucap Ara pelan memelas begitu melepaskan pegangannya.


"Ara...kau tau kami sedang menggelar pesta pernikahan Dion. Para penghulu sudah berada di ruangan dan sedang menunggu kedatangan kami! Jangan menghalangi pernikahan Dion, jangan menghentikan pernikahan Dion. Aku tidak tau apa yang ingin kau sampaikan, tapi tolong katakan itu setelah acara pernikahan selesai." Dinda menatapnya dalam dalam.


Ara memegang tangan Dinda.


"Tapi aku harus segera mengatakan ini tante. Karena apa yang ingin ku sampaikan ini adalah sesuatu yang sangat penting dari pernikahan ini!" ucapnya dengan wajah sedih.


Dinda semakin bingung dengan ucapannya, dia ingin berkata tapi terpotong dengan kedatangan suaminya, Raymond Alkas.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2