Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 54


__ADS_3

Rafa merendam tubuhnya di dalam bath up dengan mata terpejam, hanyut dalam lamunannya sendiri.


Jam 6 tepat dia tiba di rumah, di sambut penjaga keamanan dan semua pelayan dengan hormat.


Rafa memang pulang tanpa memberi tahu siapapun, kecuali Sam yang di beri tahu oleh Wisnu dalam perjalanan. Kepulangannya yang tiba-tiba membuat Sam panik dan segera mempersiapkan penyambutan dengan menertibkan pelayan dan penjaga keamanan.


Rafa memperhatikan keadaan rumah yang begitu sunyi.


"Nyonya Maya dan Nona Nesa belum pulang. Tuan muda Raka dalam perjalanan pulang. Tuan muda masih singgah shalat di mesjid.


Nona muda Ara dan si kembar sedang shalat magrib di atas." laporan Pak Sam.


Rafa segera ke atas sambil melepaskan jas yang langsung di ambil Wisnu.


Dia menuju ruang kerja yang tinggal selama dua tahun terakhir, memeriksa berkas berkas dan dokumen penting. Semuanya teratur rapi dan bersih.


Tidak lama kemudian telinganya mendengar jeritan dan teriakan dari kamar sebelah. Yaitu dari kamar Raka.


Dia dan Wisnu saling berpandangan. Mendengar suara yang terus terdengar


"Tuan, suara itu dari kamar tuan muda, sepertinya itu suara Nona Ara." kata Wisnu.


Karena khawatir, secepatnya mereka keluar melangkah menuju kamar Raka.


Di depan pintu, mereka mendengar suara jeritan meminta tolong.


Rafa semakin khawatir dengan keadaan Ara, mengingat Raka belum kembali.


Secepatnya dia membuka pintu, tapi saat hendak menarik handle pintu, daun pintu itu malah di buka dari dalam.


Rafa terkejut saat Ara menubruknya. Dan lebih terkejut lagi adik iparnya itu langsung memeluk dan naik ke tubuhnya sambil menangis ketakutan dengan tubuhnya gemetaran keringatan.


Adik iparnya semakin menaikkan tubuhnya ke atas dan mendekap kepalanya hingga wajahnya terbenam di dada adik iparnya yang tidak memakai Bra dan hanya memakai baju tidur tipis pendek bertali satu terbuka di bagian dadanya.


"Tikus....tikus kak, aku takut," ucap Ara di sela ketakutannya.


Ara semakin kuat memeluk kepalanya, tak sadar wajah Rafa yang terbenam pada kedua buahnya.

__ADS_1


Bukan hanya tubuh bagian atas Ara yang di rasakan Rafa menempel kuat di tubuhnya,


tapi juga bagian bawah tubuh Ara yang terasa di perutnya, karena Ara hanya memakai daster pendek selutut, kedua kakinya di tautkan erat di belakang pinggang karena takut jatuh.


Jelas saja darah berdesir merasakan gestur tubuh adik iparnya itu.


Rafa memegang kuat pinggiran bath, seraya menelan salivanya berulangkali dengan mata yang masih terpejam. Nafasnya memburu cepat dua kali lebih cepat dari biasanya, jantung berdegup kencang.


Tiba-tiba dia bangun sambil mendengus geram. Menghempaskan kuat ke dua tangannya pada air, lalu bangkit berdiri membilas tubuhnya di bawah shower sambil menekan nekan dadanya yang terasa sakit dan sesak.


30 menit kemudian dia keluar dari kamar dengan memakai kimono panjang dan celana panjang.


Di belakangnya Wisnu mengikuti dengan setia. Mereka melangkah cepat menuruni tangga dan menuju meja makan.


Semua orang sedang menunggu dirinya di meja makan. Sudah ada Maya dan Nesa. Kedua wanita itu segera kembali setelah mendapat telepon dari Wisnu. Mereka sangat terkejut dengan kepulangan Rafa yang tiba-tiba tanpa memberi tahu.


Sam segera menarik kursi utama.


Rafa segera duduk.


Semua diam tanpa suara termasuk si kembar. Karena Nesa sudah memberi tahu tidak boleh berisik saat bersama Daddy nya di meja makan.


Maya, Raka dan si kembar yang menatapnya tersenyum bahagia akan kepulangannya.


Nesa juga tersenyum tapi di buat paksa. Karena baginya kepulangan Rafa akan mengekang kebebasannya di rumah ini.


Pandangannya berhenti pada Ara yang menunduk menatap piring di depannya.


Ara tak berani mengangkat kepala karena takut melihat tatapan dingin Rafa.


"Dia adalah Ara, istri Raka. Kau pasti baru kali ini melihatnya bukan?" kata Maya memperkenalkan Ara, melihat Rafa memperhatikan Ara.


"Ante Ara sangat baik Daddy. Ante sangat sayang pada aku dan Cia," timpal Cio yang duduk di dekat Rafa.


"Ante Ara juga sangat cantik. Aku mau punya wajah cantik seperti ante Ara," Cia ikut menyela dengan polosnya.


Nesa melototi keduanya sambil meletakkan telunjuk di bibir.

__ADS_1


Bocah-bocah itu segera diam dengan wajah cemberut.


"Angkat kepalamu Ara. Apa kau tidak ingin menyapa Rafa? Kalian baru pertama kali bertemu bukan? Sapalah kakak iparmu." kata Maya kembali pada Ara.


Ara menelan ludah pahitnya mendengar perkataan ibu mertuanya. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan melihat pada Rafa, yang masih melihat kepadanya. Keduanya saling menatap.


Ara kembali menelan ludahnya yang terasa pahit. Ada rasa takut menatap wajah dingin menakutkan ini.


"Kakak ipar, Aku Ara....." Ucapnya terputus oleh perkataan Rafa.


"Siapkan makanan." kata Rafa tanpa mengalihkan tatapannya pada Ara.


Keduanya menatap sesaat, lalu perlahan Ara kembali menunduk.


Setelah mendapat isyarat dari Wisnu, Sam sebagai kepala pelayan, segera meletakkan sepotong sandwich keju dan daging ke piring tuannya. Di ikuti oleh yang lainnya mengambil menu masing-masing.


Ada beberapa menu pilihan yang tertata di atas meja selain sandwich. Ada ikan salmon, brokoli, steak daging, burrito, puding dan salad buah sebagai makanan penutup.


Posisi duduk di meja makan yang besar itu.


Di sebelah kanan Rafa adalah Maya, lalu Nesa, setelah itu Raka, kemudian Ara, terus Cia, terakhir Cio yang duduk di sebelah kiri Rafa.


"Tadi di atas, Ara sudah menyapa kak Rafa Ma! Aku sudah memperkenalkan Ara pada kakak. Begitu juga sebaliknya." ujar Raka pada Maya.


Maya manggut-manggut mengerti, lalu segera mengambil makanan.


Seperti biasa, Ara mengambilkan makanan buat si kembar setelah ia mengambil makanan suaminya terlebih dahulu. Dia hanya fokus melayani si kembar tanpa menoleh ke arah lain.


Dan seperti biasa si kembar membaca doa sebelum makan sambil mengangkat tangan di bimbing olehnya.


"Allahumma bariklana fiima razaqtana waqina adza bannar ....Aamiin." ucap mereka dengan suara rendah dan khusu, lalu menyapukan tangan ke wajah, setelah itu mulai makan.


"Makan pelan pelan ya, jangan berisik!" kata Ara berbisik seraya menyapu kepala bocah itu bergantian. Cio dan Cia mengangguk.


Semua itu tak luput dari tatapan mata elang Rafa.


Ara segera mengambil makanannya sendiri tanpa lirik sana sini dan mulai memakannya perlahan.

__ADS_1


*****


Yang baru bergabung, dukung author ya... tinggalkan jejak


__ADS_2