
Sebuah bar.
Levina mendengus geram, dia meremas remas ponselnya dengan kuat.
Setelah mendapat informasi bahwa Rafa berada di Indonesia sejak 3 minggu lalu tanpa memberi kabar padanya, bahkan sama sekali tidak mengunjunginya.
Dan lebih membuatnya marah, Rafa tidak memberitahu tentang pembukaan hotel barunya.
"Sepertinya Rafa sudah tidak mengganggap diriku sebagai kekasihnya lagi, dia sudah tidak perduli lagi padaku, hampir sebulan di Indonesia tapi dia tidak pernah mengunjungiku." Levina mendengus geram
"Tidak biasanya dia tinggal lama seperti itu kalau datang ke Indonesia, apa dia berniat akan menetap di sini?" gumannya kembali dengan dengan kening mengerut.
"Aku akan mencari tahu pada tante Maya."
Levina meneguk sisa minumannya.
"Hay Levina." sapa seseorang yang baru datang sambil menepuk pundaknya.
Levina menoleh
"Alex..," serunya agak terkejut begitu melihat siapa yang menyapanya. Dia segera berdiri memeluk dan cipika cipiki pada Alex.
Lalu mereka segera duduk, Alex memesan minuman anggur pada bartender.
"Kamu tambah cantik aja Levina, dan makin seksi." kata Alex tersenyum menatap tubuh gadis itu dari bawah hingga ke atas dengan nakal.
Levina tertawa kecil
"Kamu bisa aja, kamu juga loh makin keren." mengedipkan mata kirinya pada pria bule ini.
"Kamu sendirian aja? mana si CEO tampan mu itu?" Alex menuangkan minuman ke dalam gelas mereka berdua.
Levina mendesah berat, lalu meneguk minumannya.
"Kenapa? tidak biasanya kamu seperti ini?,
Apa CEO itu mencampakkanmu?" Alex tertawa kecil menebak.
"Di campakkan? Cih..dalam sejarah hidup seorang Levina tidak ada pria yang mencampakkan dirinya. Lagi pula aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki dirinya, dia hanya milikku." kata Levina kasar dan sinis.
Alex mengernyitkan keningnya, menatap gadis itu datar.
"Benarkah? tapi kenapa dirimu berantakan seperti ini? tidak biasanya kau begini, apa hubungan kalian lagi bermasalah?"
Levina membuang nafasnya kasar
"Dia mulai menjauhi ku dan aku tidak tahu kenapa."
"Pasti ada alasannya Levina, gak mungkin kan dia menjauhi mu kalau tidak ada apa apa."
"Ya aku tidak tahu, aku sudah menanyakannya, tapi jawabnya dia terlalu sibuk kerja jadi tidak ada waktu untuk ku." jawab Levina gusar.
__ADS_1
"Apa mungkin dia punya wanita lain?" tanya Alex menatapnya lekat.
"Kamu juga berpikir begitu?" Levina balik bertanya.
"Aku hanya menebak saja. Karena aku tahu kekasihmu itu meski sesibuk apa pun dirinya, tetap akan selalu menyempatkan waktu untuk bersama dengan mu, menghubungi mu, dan ia adalah tipikal orang yang setia."
"Aku menyuruh orang orang ku mengawasinya, tetapi mereka tidak melihat Rafa dekat dengan perempuan lain, kecuali hanya klien bisnisnya saja."
"Kalau begitu mungkin masalah nya ada padamu. Coba kau ingat Levina, apa tidak ada sesuatu yang kau lakukan di belakangnya secara diam-diam?"
Levina mengernyitkan keningnya sedang berpikir.
"Kamu seorang model Levina, kau tau profesi model itu seperti apa kan? dan Wisnu mengawasi setiap gerak gerik mu. Mata dan telinganya berada di setiap tempat mengikuti keberadaan mu." kata Alex
Levina menatap Alex tajam, dia mengerti dan menyadari sesuatu.
4 bulan lalu, di sala satu hotel di Perancis.
"Apa Rafa mengetahui kejadian itu?" ucap Levina pelan.
"Hhmm? mengetahui apa?" alex menatapnya dalam dalam mendegar ucapannya.
"Ah tidak mungkin." guman Levina kembali.
Dia meraih gelas dan meneguk minumannya sampai habis, mengisinya dan meminumnya lagi. Pikirannya semakin kacau, mengingat kejadian 4 bulan lalu bersama William, sala satu fotografernya.
Pesona William, godaan, rayuan pria bule bermata biru membuatnya tidak bisa menahan diri ketika laki laki itu mengajaknya ke sala satu hotel, minum bersama, hingga dia tidak menyadari telah menghabiskan malam berdua sampai pagi.
saat di paris.
Saat itu Rafa dan Wisnu berada di Amerika, dan sedang sibuk-sibuknya dengan bisnis barunya. Makanya dia menggunakan kesempatan itu menemui William memenuhi ajakan pria bule itu. Mana mungkin Rafa akan mengetahui keberadaannya di Eropa sedangkan Rafa di Amerika? itu yang ada di dalam pikirannya kala itu .
Dan sekarang dia menyadari terlalu meremehkan kekuasaan seorang Rafa.
Levina menghentakkan gelas dengan kuat hingga pecah, untung saja tangannya tidak terluka.
"Lev, kamu gak apa-apa kan?" Alex terkejut meraih dan memeriksa tangan Levina.
Levina tak menjawab, dia mengambil minuman Alex dan meminumnya. Pikirannya semakin kacau di tambah dirinya yang sudah pusing akibat terlalu banyak minum. Dia bangkit berdiri dan mulai berjalan sempoyongan.
"Kamu mau kemana? kamu mabuk Levina."
Alex segera mengikutinya, memapah tubuh gadis itu keluar melewati koridor.
"Aku antar kamu pulang, di mana mobilmu?"
Levina tak menjawab pertanyaannya, wanita itu bicara tidak karuan, meracau sambil tertawa tawa kecil menyebut nama Rafa.
Melihat kondisi Levina mabuk, sepertinya tidak bisa menyetir sendiri.
Alex membawa Levina ke mobilnya.
__ADS_1
"Lev, aku antar kamu pulang, di mana apartemenmu? sadar Levina." Alex
menepuk pipinya.
"Rafa sayang, maafkan aku." Levina meracau.
"Maaf sayang...", Levina mulai bicara sambil tersenyum senyum.
"Levina, sadarlah." Alex kembali menepuk pipinya.
"Itu adalah sebuah kesalahan kecil sayang, maaf yaa..." Levina memohon pada Alex.
Menatap wajah Alex sendu yang dalam penglihatannya adalah Rafa.
Alex memijit dahinya melihat tingkah Levina.
"Sadar Lev, aku Alex bukan Rafa."
"Maafkan aku sayang, aku hanya sekali itu bertemu William. Aku janji tidak akan menemui dia lagi." Levina menatap Alex dengan memohon. Dia melihat Alex adalah Rafa.
Alex sekarang ngerti apa yang menjadi penyebab renggang nya hubungan Levina dengan kekasihnya. Ternyata semua adalah kesalahan Levina sendiri.
"Baiklah, aku memaafkan mu. Sekarang kita pulang, katakan di mana aku harus mengantarmu, di mana apartemenmu?" kata Alex berpura-pura menjadi Rafa, untuk menenangkan Levina.
Levina bersorak gembira.
"Benarkah? terima kasih sayang." serunya senang, dan memeluk Alex. Tanpa sadar dia mencium bibir lelaki itu yang dikiranya adalah Rafa, kekasihnya.
Alex tersentak.
Dia mencoba mendorong tubuh Levina tapi Levina semakin menekan tubuhnya dan menciumnya lagi.
Tubuh Alex semakin bergetar, mendapat ciuman dari wanita ini.
Jujur dia menyukai Levina sejak lama, tapi Levina hanya menganggapnya teman dan di tambah lagi dia hanya pria biasa, tidak tajir seperti Rafa.
Entah karena pengaruh alkohol atau karena dia mencintai wanita ini, Alex mulai membalas ciuman Levina. Sebagai pria normal tentu dia tidak bisa menolak dan tidak dapat menahan hasratnya .
Ciuman panjang terjadi di dalam mobil itu,
hingga akhirnya Alex berhenti karena keduanya mulai kehabisan oksigen dan sadar berada di area parkir. Levina semakin tidak sadar dan kembali memeluk dan mencium Alex.
Alex segera melarikan mobilnya ke sebuah hotel yang terdekat dengan menahan hasratnya. Sedangkan levina meraba-raba tubuhnya dengan liar selama perjalanan ke hotel, membuat Alex mendesah tertahan di sela menyetir.
"Sabar Lev, kita sudah sampai."
Setelah memarkir mobil, Alex segera memapah tubuh Levina masuk dan segera memesan sebuah kamar.
Sepasang mata memperhatikan mereka.
*****
__ADS_1