Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 185


__ADS_3

...Happy Reading....


Dua mobil mewah warna hitam saling berhadapan pada jarak 3 meter.


Dion menyapu lembut pipi Ara yang sedang tidur. Lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Ara lembut. Kemudian segera turun.


Dari depan Rafa segera turun melangkah cepat ke arah Dion. Melayangkan satu pukulan keras secara tiba-tiba ke wajah pemuda itu. Dion jatuh terjungkal, punggungnya menghantam keras ke aspal, darah mengalir di bibirnya yang pecah. Dia tersenyum sinis menatap tajam pada Rafa.


"Jauhi Ara." sentak Rafa keras dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh. Lalu segera menuju pada Ara di dalam mobil. Dia kaget melihat Ara yang sedang duduk tertidur. Dengan segera dia mengangkat tubuh Ara membawanya ke dalam mobilnya. Wisnu segera melarikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.


"Tuan, kita ke rumah utama atau rumah pribadi?" tanya Wisnu dari depan.


"Apartemen." jawab Rafa. Karena huniannya itu yang paling dekat untuk segera di jangkau.


Rafa membelai lembut wajah istrinya yang sedang tertidur di pangkuannya. Menyentuh lembut tanda memar di dahinya.


"Seharusnya aku tidak membiarkan mu pergi sendiri. Maaf telah membuatmu mengalami kejadian buruk ini." ucapnya lirih merasa bersalah.


Tidak berapa lama, mobil memasuki lorong masuk rahasia apartemen dan berhenti tepat di depan pintu samping. Wisnu cepat turun dan membukakan pintu untuk tuannya. Rafa segera turun sambil mengangkat tubuh Ara membawanya masuk kedalam menuju lantai dua. Dia segera membaringkan tubuh Ara di atas ranjang, dan melepas kacamata wanita itu.


Pintu kamar di ketuk.


"Tuan, Dokter Rizal ada di sini." ujar Wisnu dari luar.


"Masuklah."


Pintu di buka, masuklah Rizal sambil menenteng tas kerja kedokteran.


"Apa dia sedang tidur?" tanya Rizal melihat mata Ara yang tertutup.


"Entahlah, aku mengambil Ara dari si bede*ah itu seperti ini." kata Rafa yang tidak tahu apa Ara tidur atau pingsan.


"Biar ku periksa." Rizal segera naik ke tempat tidur, melakukan pemeriksaan pada beberapa bagian tubuh Ara.


"Dia sedang tertidur pengaruh obat suntik penenang. Sepertinya Ara sudah di tangani dokter sebelumnya. Kau jangan khawatir. Istrimu baik baik saja. Dia akan tertidur lama dalam beberapa jam ke depan." ujar Rizal.


Rafa melongo.


"Selama itukah? Sementara dia belum makan malam."


"Dia tidak akan kelaparan, karena dokter sebelumnya telah menyuntikan vitamin berdosis tinggi untuk daya tahan tubuh Ara selama beberapa jam ke depan. Dahinya juga sudah di beri salep. Sepertinya si penculik itu sangat mengkhawatirkan istrimu, lihatlah dia menangani Ara dengan baik." kata Rizal terkekeh.


Rafa meninju punggungnya. Membuat dokter muda itu meringis sakit.


"Minggir kau." mendengus kesal, mendekat ke tempat tidur.


Rizal mendesis kesal.


"Brengsek kau." dia segera turun dari ranjang sambil menyentuh punggungnya yang sakit. Matanya melihat bantal di dekatnya. Dengan gerakan cepat dia meraih benda itu dan melemparnya pada Rafa. Rafa dengan sigap menangkapnya lalu melemparkannya kembali ke arahnya. Dengan cepat Rizal bergerak ke samping, benda lunak itu melayang kebelakang ke arah Wisnu. Wisnu dengan gerakan tangan cepat menangkap. Dia segera mengamankan benda lunak itu ke sofa, kalau tidak akan terjadi olahraga lempar melempar di kamar ini sampai pagi.


Rizal menatap kesal padanya karena tidak melempar balik benda itu pada Rafa.


Wisnu mengabaikannya.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Rizal sudah kembali, Wisnu sedang keluar mengerjakan sesuatu.


Perlahan Rafa merangkak naik ke tempat tidur, untuk mengganti pakaian Ara yang basah oleh keringat. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh Ara. Tangannya bergerak membuka kancing kemeja putih Ara satu persatu, dan melepasnya.


Jantungnya berdegup kencang melihat kedua buah dada Ara yang menyembul sebagian dari balik Bra. Berulang kali dia menelan saliva.


"Aku sangat merindukanmu sayang." gumamnya menatap wajah Ara. Lalu mencium kening, mata, kedua pipinya, dan bibir Ara lembut. Tangannya perlahan melepaskan pengait bra, lalu melepas pembungkus kedua buah itu.


Lagi lagi Rafa menelan saliva kasar melihat kedua buah segar, bulat dan kencang. Bagian bawah miliknya semakin menegang. Dia mengecup kedua buah itu dengan lembut.


Tangannya merayap ke bawah melepaskan rok dan penutup bagian paling pribadi milik Ara, lalu melemparnya ke bawah. Dia menatap tak bergeming tubuh polos indah istrinya. Dia sangat rindu dengan keindahan ini. Rafa menekan tubuhnya di atas tubuh Ara, dan mulai menelusuri dari atas hingga kebawah dengan kecupan dan ciuman lembut.


Terdengar ******* ******* kecil dari mulut Ara, tapi dia tetap tertidur antara sadar dan tidak. Selama hampir sejam Rafa bermain di atas tubuh istirnya melepaskan kerinduannya sebulan ini. Hingga akhirnya dia mengeram keras karena tidak bisa menyalurkan hasratnya. Dia terlalu takut untuk memaksakan diri menyentuh bagian pribadi Ara. Apalagi melakukan secara diam diam tanpa sepengetahuan Ara. Mengingat kejadian lalu pagi itu, di mana Ara menjerit dan menangis ketakutan tidak mau di sentuh pada bagian pribadi miliknya.


Rafa mengusap kasar wajahnya. Lalu segera memakaikan baju tidur Ara. Setelah itu dia ke kamar mandi menenangkan miliknya sembari membayangkan tubuh indah Ara yang full naked.


Beberapa jam kemudian.


Ara menggeliat di tempat tidur, sambil mengucek matanya, merenggangkan kedua tangan ke atas lalu ke samping. Dia merasakan sesuatu yang berat menempa di atas perutnya. Ara segera menyentuhnya. Sebuah tangan memeluk erat perutnya. Segera dia menoleh ke sebelahnya. Kaget melihat wajah Rafa berada sangat dekat di depan wajahnya. Sementara kepalanya berada di atas lengan Rafa sebagai bantalan. Lelaki itu tidur sambil memeluknya.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" gumamnya pelan melihat sekelilingnya.


"Ini kan kamar apartemen kakak ipar, Apa dia yang membawaku ke sini?" batinnya bingung.


Ara menekan pelipisnya mengingat kejadian kemarin. Saat pulang kerja melihat Ucil, lalu berlari mengejar dan tiba tiba saja hampir terjadi sesuatu yang mengerikan pada dirinya.


Ara meringis ketakutan membayangkan hal yang mengerikan itu, sebuah mobil yang hampir saja menabrak tubuhnya jika saja tidak di selamatkan oleh seseorang.


Sesaat dia mengingat orang yang telah menyelamatkan dirinya.


"Kak Dion." batinnya.


Dia mengucap syukur dalam hati karena Allah masih melindunginya lewat tangan Dion.


"Aku akan berterima kasih pada kak Dion karena telah menyelamatkan diriku dari kecelakaan itu." batinnya kembali.


Ara menggerakkan tubuhnya untuk lepas dari pelukan kakak iparnya. Tapi pelukan Rafa terlalu kuat, tubuhnya juga terlalu berat, kakinya menimpa pada pahanya dan tangan kanannya memeluk perutnya kuat. Ara merasa risih merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana, menekan di antara pahanya. Tapi dia tidak bisa bergerak.


Ara mendongakkan wajahnya ke atas, menatap wajah kakak iparnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya, hembusan nafas Rafa yang teratur menerpa lembut pada wajahnya. Ara menatap wajah itu sejenak, wajah yang nampak tirus dan di tumbuhi brewok tebal dan kumis. Tapi malah semakin menambah ketampanannya.Tanpa sadar tangannya terangkat ke atas menyentuh wajah tampan itu.


"Apa kakak ipar sakit?" gumamnya pelan.


"Apa tubuhnya terluka lagi?" dia menatap wajah Rafa, memastikan kakak iparnya itu sedang tidur. Karena dia hanya bisa berani menyentuh di saat Rafa sedang tertidur dan tidak sadar diri. Perlahan Ara membuka sedikit jubah tidur Rafa, menyentuh dan meraba raba lembut sekitar bahu, dada hingga perut kakak iparnya.


"Sepertinya tak ada luka di tubuhnya." meraba kembali tangan sampai lengan Rafa yang memeluk perutnya. Tak ada tanda-tanda ada perban.


Perut Ara tiba tiba berbunyi, tandanya dia lapar. Ara menekan perutnya, dia baru sadar setelah melirik ke bawah melihat pakaian yang sudah berubah menjadi pakaian tidur transparan dan pendek.


"Apa kakak ipar yang mengganti pakaianku?"


Perutnya kembali berbunyi.


"Aku sangat lapar, sudah jam berapa ini?"


dia memalingkan wajahnya ke sekelilingnya.


Ara berusaha melepaskan tangan Rafa dari perutnya, untungnya pelukan itu sudah tidak se erat tadi. Ara segera bangun dan menyingkirkan kaki Rafa ke sebelah. Memakaikan sejenak selimut ditubuh kakak iparnya. Lalu segera turun.


Dia meraih ponsel di nakas, melihat jam.


"Sudah jam 3 pagi?"


Ara meletakkan kembali benda itu, lalu menuju kamar mandi, mencuci wajahnya, menyikat giginya, kebetulan ada dua sikat gigi baru di dalam. Sepertinya Rafa telah menyediakan lebih untuknya. Lalu dia keluar dan turun ke bawah untuk melihat apa ada makanan. Perutnya sangat lapar. Ara membuka kulkas, ada banyak bahan makanan tersimpan di dalam. Ara tersenyum lega. Dia mengambil dua bungkus mie, tiga butir telur, dua butir tomat, tiga buah sosis ayam, sawi hijau, kol dan dua buah cabai, terakhir jeruk lemon.


Lebih baik masak ini saja, makanan instan cepat saji untuk mengganjal perutku yang lapar.

__ADS_1


Ara mengikat asal rambutnya keatas sebelum memulai memasak. Mengambil wajan mengisi dengan air lalu di panaskan. Sementara menunggu air mendidih dia memotong motong tomat, sayur, sosis, cabai, lemon segar. Setelah air mendidih di masukan mie, juga bumbunya. Setelah matang, di letakan dalam baskom sedang. Tiga butir telur di pecahan dia atas mie. Setelah itu semua bahan yang di potong tadi di jadikan toping, dia mengangkat baskom itu ke dekat hidungnya.


"Hhm wangii..." ucapnya tersenyum. Dia sudah tidak sabar untuk melahapnya, wangi aroma makanan menambah rasa laparnya.


Segera dia mengambil sendok dan garpu. Kemudian mulai memakannya perlahan sambil di tiup tiup karena panas. "Enaknyaa......."


Tanpa menyadari Rafa sudah berdiri di belakangnya sejak tadi memperhatikan dirinya sedang memasak. Rafa tersenyum bahagia, menatap tanpa bergeming keindahan di depan yang hanya terbungkus kain berbahan tipis dan seksi. Dia sangat senang karena Ara telah kembali kepadanya. Perlahan Rafa mendekat dan memeluk perut Ara dari belakang.


"Sayang__" mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya.


Ara kaget."Kakak ipar?"


"Kenapa nggak bangunin aku? kita bisa masak bersama. Aku juga lapar sayang." bisik Rafa lembut di telinganya sambil mengecup tengkuk, bahu dan leher Ara bergantian.


Ara merasa geli, dia segera membalikkan tubuhnya."Kakak ipar." menyentuh tengkuk dan lehernya.


Rafa mengecup bibirnya cepat.


"Aku suamimu sayang, bukan kakak ipar mu. Jangan memanggilku seperti itu lagi kalau tidak aku akan memberi hukuman terus pada bibirmu." menyentuh lembut bibir Ara yang basah dan berminyak karena pengaruh makanan.


Bibir Ara manyun. Rafa selalu memakai ancaman itu.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu pasti berpikir buruk tentang aku di pikiranmu kan?" kata Rafa melihat raut wajah Ara yang berbicara dalam hati.


"Ah tidak, aku hanya teringat sesuatu. Apa kakak lapar? Aku masakin ya, kakak mau makan apa?" mengalihkan pembicaraan.


Rafa tersenyum kecil, dia mendekatkan wajahnya mereka.


"Mau makan kamu." bisiknya menggoda.


Lalu mencium bibir Ara cepat, atas bawah bergantian. Tangannya liar menyentuh sana sini, cukup membuat Ara tegang dan menahan segala rasa. Ara segera menahan tangan Rafa ketika tangan nakal itu menjalar menelusup masuk di antara pahanya.


"Aku mau makan kak, jangan di ganggu." katanya.


Rafa menghentikan aksinya. Dia mengangkat tubuh Ara dan di dudukkan pada kitchen set.


"Baik aku tidak akan menggangu lagi. Sekarang makanlah, aku ingin melihat mu makan." meraih baskom mie, lalu menyuapi Ara "Buka mulutmu, aku suapi....Aaaaaa."


Ara geleng kepala."Biar aku saja kak." merasa canggung.


"Ayo buka mulutmu, jangan membantah. Kalau nggak aku suap pakai mulut ku." Rafa menatap mengancam.


Ara terperanjat, dia langsung membuka mulutnya. Rafa segera memasukan sendok mie ke dalam mulutnya sambil tersenyum. "Pintar " ucapnya tersenyum. Dia tahu Ara akan patuh dengan ancaman seperti itu. Rafa memasukkan sendok mie ke dalam mulutnya.


"Enak__" katanya setelah merasakan makanan itu.


"Kakak suka? Nanti aku masakin." kata Ara.


"Nggak usah, aku makan punya kamu aja, ini kebanyakan. Kita makan berdua. Ayo buka mulutmu." kembali menyuapi Ara, beberapa kali. Ara berhenti.


"Udah, aku udah kenyang, kakak aja yang makan." meneguk minuman.


"Ya sudah, gantian kamu suapi aku." kata Rafa.


Ara segera meraih baskom, dan perlahan mulai menyuapi sambil menatap wajah Rafa. Dia merasa canggung dan malu. Rafa membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dan mengunyah.


"Kenapa menatap ku? Apa aku sangat tampan?" tanya Rafa tersenyum merasa di perhatikan.


Ara gugup dan segera berpaling ke arah lain.


"Jawab sayang!"


"Kau mencemaskan ku?" Rafa balik bertanya seraya mengambil baskom dari tangan Ara dan meletakkan di samping tubuh gadis itu.


"Tentu saja khawatir, apa kakak terluka lagi?"


"Kamu sudah memeriksa tubuhku tadi kan? Apa ada yang terluka? Tanganmu merayap rayap nakal menyentuh tubuhku." berbisik menggoda.


Ara terbelalak."Jadi kakak nggak tidur?"


"Tidur, tapi sentuhan tanganmu yang nakal ini membangunkan ku." Rafa mencium tangan kanan Ara yang di gunakan tadi meraba raba tubuhnya.


Ara tersipu malu. Dia segera menarik tangannya.


"Aku hanya memeriksa apa tubuh kakak terluka lagi. Aku melihat perubahan pada wajah dan tubuh kakak. Kakak tampak kurusan. Aku pikir kakak sakit, jadi aku ingin memastikannya."


Rafa menekan tubuhnya ke tubuh Ara.


"Aku memang sakit sayang, tapi sakitnya di sini." membawa tangan Ara menyentuh dadanya. "Lukanya di sini. Hatiku terluka dan sakit. Aku sangat menderita karena kau pergi meninggalkanku." katanya lirih.


Ara menundukkan kepalanya. Rafa mengangkat wajahnya yang tertunduk. Di hadapkan ke padanya.


"Kau ke mana saja? Pergi selama itu tanpa memberi tahu dan tidak memberi kabar sama sekali kepadaku? Aku sangat cemas dan mengkhawatirkan mu. Siang malam aku memikirkan mu, mencari mu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." ucapnya menatap sedih.


"Ara. Apa kau marah padaku? hingga kau pergi dari rumah tanpa pamit?" ucapnya kembali menatap lekat."Apa kau marah karena aku memaksa dan berbuat kasar padamu?"


Ara menelan ludah, dadanya terasa sesak menahan kesedihan. Dia menggeleng.


"Nggak kak." jawabnya lirih, hatinya juga sedih.


Rafa memeluk tubuhnya.


"Lalu kenapa kau pergi? Tolong jangan pergi seperti itu. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu sayang, aku sangat menderita dan tersiksa." mengecup bahu Ara."Aku sangat tersiksa oleh kerinduanku padamu, aku sangat merindukanmu sayang." mengusap rambut dan punggung Ara lembut.


Ara mendesah sedih, matanya berkaca-kaca.


Rafa melepaskan pelukannya, memegang wajah Ara.


"Apa kamu baik baik saja di luar sana?"


Ara mengangguk pelan.


"Apa kamu bersama seseorang di luar sana?"


Ara kembali mengangguk.


"Apa dia menjagamu dengan baik?"


Ara kembali mengangguk.


Rafa menatapnya dalam.


"Siapa dia? Apakah__!"


"Kakak mengenalnya. Dia seorang perempuan." potong Ara cepat karena memahami maksud pertanyaan Rafa.


"Kakak jangan khawatir. Aku tahu aku sudah bersuami." sambungnya kembali, kedua ujung matanya basah karena merasa bersalah.


Rafa terperangah mendengar ucapannya, dia langsung kembali memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud bersangka buruk padamu. Aku hanya khawatir kau akan meninggalkanku, maafkan aku. Aku tidak akan bertanya apa apa lagi." ucapnya merasa bersalah. Seharusnya dia percaya dan tidak berpikir buruk pada istrinya.


"Aku juga minta maaf karena membuat kakak marah pagi itu. Juga pergi secara diam diam dan tidak memberi kabar. Aku punya alasan pergi tanpa pamit dari kalian. Tapi maaf aku tidak bisa mengatakannya. Yang jelas aku di perlakukan sangat baik. Bahkan orang itu sangat menyayangi ku." kata Ara menjelaskan agar Rafa tidak salah paham.


"Aku percaya padamu, jangan bicara tentang itu lagi. Aku tidak akan bertanya lagi, yang penting kau baik baik saja tidak kurang apa pun. Mari kita lupakan hal ini." Rafa mencium keningnya. "Tapi aku mohon pulanglah ke rumah ya?" pintanya.


"Ngga kak, aku nggak akan pulang lagi ke rumah utama." jawab Ara sambil menggelengkan kepalanya, air matanya jatuh.


"Aku mau balik ke panti, ke rumah orang tuaku. Aku tidak akan pulang ke rumah utama selamanya." menangis terisak.


Rafa kembali terperangah


"Kenapa sayang? Apa ada orang yang mengancam mu ? Apa mama mengusir mu dari rumah? Apa dia melarang mu tinggal di rumah?"


"Nggak, nggak ada hubungannya sama mama, kakak jangan menyalahkan mama terus." menangis kembali."Aku mohon jangan tanyakan alasannya." kata Ara lagi dengan sedih. Dia menatap mata Rafa. Teringat si kembar.


"Aku sangat merindukan Cio dan Cia,"


"Aku juga merindukan kamarku bersama kak Raka. Aku sangat rindu ingin ziarah ke makam nya, tapi aku tidak bisa kembali ke sana lagi." menangis tersedu-sedu.


Rafa semakin bingung dan tidak mengerti, ada apa sebenarnya dengan istrinya? Apa yang menyebabkan dia tidak mau kembali ke rumah utama, sementara dia sangat merindukan orang orang di sana. Apa yang dia sembunyikan Ara? Kalau bukan karena mama alasan dia turun dan tidak akan kembali ke rumah utama, lalu karena apa?


Dan jika saja dia tidak mengikuti saran Moly untuk merekrut magang mahasiswa, maka selama itu pula Ara tidak akan kembali. Dan dia tidak akan bertemu istrinya selamanya. Selamanya Ara akan tinggal dengan orang yang membawanya.


Rafa semakin bingung dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Tapi di sisi lain dia merasa lega, istrinya sudah kembali dan baik baik saja. Dan orang yang mengirim pesan chat memberikan bahunya untuk istrinya ternyata hanya seorang perempuan, bukan laki laki yang membuatnya cemburu. Tapi siapa perempuan itu?


"Baiklah kalau kau tidak mau lagi kembali ke rumah utama, tapi aku tidak mengizinkan kamu pulang dan tinggal di panti. Kamu adalah istriku, aku punya beberapa rumah pribadi selain rumah utama. Rumahku adalah rumahmu, kamu tinggal pilih saja ingin tinggal di mana, atau kamu ingin tinggal di apartemen ini? aku juga punya apartemen lain, kamu katakan saja ingin tinggal di mana. Tapi jangan pulang ke rumah orang tuamu. Jangan meninggalkan ku. Sebagai suamimu aku tidak akan mengizinkanmu." Rafa menatap dan membelai lembut wajah istrinya.


"Jangan tinggalkan aku sayang, aku tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu." memeluk Ara kembali.


Ara tak menjawab, dia menyapu air matanya.


"Kak, aku mau turun." katanya kemudian.


Rafa melepaskan pelukannya, dan mundur selangkah. Ara segera turun, lalu melangkah menuju tangga. Rafa berjalan mengikuti dari belakang, lalu segera mengangkat tubuh Ara tiba tiba.


Ara terkejut.


"Kak turunkan aku, nanti kita jatuh." jerit Ara.


"Nggak akan jatuh, kamu sangat ringan sayang." terus menaiki tangga sampai ke atas, Lalu masuk ke kamar, dan membaringkan tubuh Ara di atas ranjang. Dia juga ikut berbaring memeluk kuat tubuh Ara.


"Kak." melepaskan tangan Rafa di perutnya.


Tapi Rafa semakin kuat memeluknya.


"Diam lah, jangan bergerak, aku sangat merindukanmu sayang, biarkan aku memelukmu lebih lama." mencium dahi Ara .


Ara terdiam, tapi kemudian"Kakak...." panggilnya.


Hmmm, suara Rafa di sela menyesap aroma wangi tubuh istrinya.


"Aku sangat merindukan si kembar."


"Mereka juga sangat merindukanmu sayang. Setiap saat hanya dirimu yang ada di mulut mereka. Keduanya terus menanyakan kapan kau pulang. Mereka sampai kehilangan nafsu makan dan jatuh sakit."


Ara mengeluh sedih, dia kembali menangis terisak isak mengingat kedua bocah kesayangan almarhum Raka suaminya itu.


Rafa membelai rambut dan punggungnya lembut.


"Sebentar pagi aku akan membawamu bertemu mereka. Mereka pasti akan senang sekali. Kamu jangan menangis lagi."


"Kemarin aku berlari mengejar mang Ucil, dia sedang naik motor ojek online seperti punya mang Saleh. Aku ingin menanyakan Cio dan Cia. Tapi kenapa dia naik motor ojek? apa dia sudah tidak bekerja sebagai supir si kembar lagi?"


Rafa terdiam, bila di katakan karena di pecat pasti Ara akan sedih dan kecewa padanya.


"Kak?" Ara mendongakkan wajahnya ke atas karena tak ada jawaban.


"Kakak, kok diam? Kenapa nggak di jawab?"


Rafa menatap wajah Ara, perlahan mencium bibirnya sesaat, menahan tengkuknya kuat, lalu melepaskan ciuman melihat Ara mulai kesulitan bernafas. Ara tersengal-sengal mengatur nafasnya. Dia bergerak hendak bangun. tapi Rafa menahannya.


"Jangan banyak bergerak sayang, nanti dia akan berontak ke padamu." bisik Rafa.


Dahi Ara mengerut.


"Berontak kepadaku? Siapa?" bingung.


Rafa menekan miliknya yang mengeras


ke paha Ara. Ara terkejut.


"Sayang.... bolehkah?" bisik Rafa memelas.


Tangannya bergerak merayap ke bagian sensitif Ara.


Tubuh Ara menegang, dia menggigit kuat bibir bawahnya. Dadanya bergemuruh kuat, nafas memburu cepat tak beraturan. Dia tahu ini sudah merupakan kewajibannya. Tapi dia belum siap melakukannya.


"Ma-maafkan aku kak..." ucapnya lirih, sedih merasa bersalah karena menolak terus.


"Gak apa apa, aku tidak akan memaksa." Rafa tersenyum menatapnya, meski kembali kecewa atas penolakan ini.


"Maafkan aku kak." ucap Ara sedih, melihat kekecewaan di mata Rafa, yang kini sudah menjadi suaminya, bukan kakak iparnya lagi.


Dia menekan wajahnya di dada Rafa, menangis terisak isak.


"Sayang, jangan menangis. Aku tidak apa-apa, sungguh. Maafkan aku karena meminta." ujar Rafa menenangkan.


"Ini yang aku takutkan, tidak bisa memenuhi kewajiban ku sebagai istri, inilah sala satu alasan mengapa sejak awal aku selalu menolak dan tidak ingin menikah dengan kakak. Karena aku takut tidak akan bisa melayani kebutuhan biologis kakak dan menjadi istri yang baik." kembali menangis tersedu-sedu.


Wajah Rafa mengernyit. "Memangnya kenapa kau tidak bisa melayani ku? apa alasannya?" tapi pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokannya.


"Sudahlah sayang, aku tidak akan memaksamu, aku tidak akan mempertanyakan alasannya. Aku mohon jangan menangis. Aku tidak tahan melihat air matamu. Jangan menangis lagi."


Ara bangun tiba tiba, Rafa kaget dan ikut bangun.


"Tapi kakak akan semakin tersiksa bersamaku. Aku juga akan berdosa karena tidak bisa memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri." ucap Ara menangis tersedu-sedu. Dia memegang kedua tangan Rafa.


"Kakak bisa meninggalkanku, Kakak bisa ceraikan aku ...."


"Ara__!" teriak Rafa sedikit keras. Lalu menatap wajah Ara."Jangan sembarang kalau bicara." sentaknya seraya menutup mulut Ara. Lalu cepat memeluk tubuh Ara.


"Aku mohon jangan bicara seperti itu, jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Jangan katakan apa pun lagi." nafasnya memburu cepat. Semakin erat memeluk tubuh istrinya.


Dia semakin tidak mengerti dengan alasan dan perkataan istrinya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya. Hatinya terasa bergetar takut mendengar kata-kata cerai, takut akan membuat dia dan istrinya berpisah.


Ara menangis terisak dalam pelukannya. Menangis karena merasa bersalah dan berdosa karena tidak dapat memenuhi kebutuhan biologis suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2