
...Happy Reading....
"Apa maksud anda berkata seperti itu?" Ara menatap tidak mengerti pada manajer cafe ini, begitu pula Ines dan Cindy.
Ketiganya saling berpandangan bingung,
dengan keinginan Roy yang ingin membantu menyelesaikan masalah Nesa, sementara mereka tidak mengenal Roy.
Ara menoleh kembali ke meja Nesa dan secara kebetulan juga Nesa sedang melihat ke arah tempat Ara, sehingga membuat mereka saling melihat satu sam lain.
Ara gugup dan buru buru melihat ke arah lain.
Sementara Nesa juga terkejut dengan keberadaan Ara di tempat ini. Itu artinya Ara melihat kejadian penghinaan memalukan yang di alaminya tadi. Nesa menatap tajam pada Ara dengan geram.
"Anda jangan cemas, saya akan segera menyelesaikan masalah wanita itu." kata Roy kembali. Lalu melangkah menuju meja Nesa.
"Pak__" seru Ara tiba tiba. Ara segera bangkit dari duduknya mendekat pada Roy yang telah menghentikan langkahnya karena mendengar panggilan darinya.
"Pak, tolong berikan ini pada wanita itu." Ara menyelipkan sembunyi sembunyi kartu Black card di tangan Roy.
Roy tidak begitu terkejut dengan kartu unlimited tanpa batas ini, karena dia sudah tahu siapa wanita muda cantik dan ramah di depannya ini.
"Wanita itu kakak ipar saya. Saya akan mengirim pesan untuk memberi tahu kode password nya." sambung Ara kembali dengan berbisik.
"Baik Nona." jawab Roy dengan sigap m
Lalu segera beranjak menuju kemeja Nesa yang berjarak 14 meter dari tempat duduk Ara, sang pemilik utama pusat perbelanjaan terbesar ini seperti kata Wisnu tadi.
Ara kembali ke tempat duduknya. Ines dan Cindy menatapnya.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan dengan Manajer itu?" Cindy mencari tau karena merasa aneh dengan sikap Ara pada Roy berkata dengan berbisik.
"Aku meminta tolong kepadanya untuk memberikan kartu kredit pada ka Nesa." kata Ara. Lalu segera menoleh ke meja Nesa, di ikuti Ines dan Cindy untuk melihat apa yang di lakukan Roy.
"Mohon Maaf, permisi." ujar Roy pada ibu ibu muda sosialita di meja Nesa.
Mereka menatap Roy.
"Ada apa manajer?" kata Tiara yang sudah kenal dengan Roy. Yang lainnya juga sudah kenal dengan Roy karena hampir setiap Minggu datang ke tempat ini.
"Maafkan saya karena sudah mengganggu acara anda semua. Saya kesini hanya ingin memberi kan sesuatu pada ibu Nesa." kata Roy seraya melihat pada Nesa.
Nesa menatapnya.
Roy segera menyerahkan kartu Black card kepadanya.
"Ini punya anda Nyonya. Sopir pribadi ibu anda datang kesini mengantarkannya. Sepertinya anda lupa membawanya." kata Roy.
Kartu yang menunjukkan status sosial tinggi seseorang.
Bagaimana mungkin Nesa memilikinya?Karena kartu itu levelnya di atas kartu mereka. Yang mereka tau nesa hanya punya kartu platinum.
Nesa lebih terkejut lagi, karena dia merasa tidak pernah memiliki kartu tanpa batas ini. Selama ini Rafa hanya memberikan ia kartu platinum, dan kartu itu telah di sita olehnya beberapa minggu lalu.
Nesa tiba tiba menyadari keberadaan Ara di tempat ini. .Apa ini dari Ara? Tapi bagaimana mungkin Ara bisa memilikinya? Apa Rafa yang memberikannya? batinnya.
Nesa langsung menoleh pada Ara yang juga sementara menatapnya. Terdengar bunyi pesan masuk di handphonenya, nomor baru tanpa nama.
"Ini Ara kak, kode pinnya XXXXXX." pesan Ara di baca Nesa.
__ADS_1
"Terimakasih pak Roy." kata Nesa.
"Saya permisi." ujar Roy.
Nesa bangkit dari tempat duduknya dan melemparkan black card di depan Tiara.
"Cepat gesek, aku bayar semuanya, sekalian dengan makanan kalian." katanya dengan tatapan sinis.
Tiara, Riska dan lainnya langsung terdiam, menunduk takut dan malu karena telah menghina serta merendahkan Nesa.
"Aku tidak akan pernah lagi berhubungan dengan orang orang rendah seperti kalian. Dan ingat satu hal, aku tidak akan melupakan penghinaan yang kalian lakukan padaku hari ini." sambung Nesa kembali sambil menunjuk mereka satu persatu.
"Maafkan kami Nes__." ucap Riska dengan bibir bergetar mendengar ancaman Nesa.
"Iya Nes, aku juga minta maaf." Tiara ikut meminta maaf.
"Gesek cepat, aku jijik dan sudah tidak tahan bernafas dalam satu ruang yang sama dengan manusia busuk seperti kalian." sentak Nesa menahan marah.
Tiara segera mengikuti perintahnya, lalu menyerahkan kembali kartu Hitam itu pada Nesa.
Nesa segera meninggalkan tempat itu setelah menatap sinis pada mereka.
Mata Nesa mencari keberadaan Ara, tapi tidak di lihat keberadaan sosok adik iparnya itu.
Kemana dia?
Nesa sangat senang karena Ara telah menyelamatkan harga dirinya di saat yang tepat.
...Bersambung....
__ADS_1
Mohon dukungannya ya