Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 246


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Orang tua mereka sudah kembali dengan meninggalkan banyak nasihat perkawinan. Terutama menjelaskan tentang tugas, tanggung jawab, kewajiban suami dan istri terhadap pasangan demi terciptanya rumah tangga yang harmonis, bahagia sakinah mawadah warahmah.


Ines juga ikut pulang dengan di antar Toni, setelah berulang kali di minta menginap oleh Cindy dan Dion.


Saat ini Dion dan Cindy sedang berada di dapur. Duduk di kursi meja makan saling berhadapan. Cindy mengompres wajah Dion yang tampak bengkak dan lebam.


"Kenapa wajah kakak bisa lebam seperti ini?" karena setahunya wajah ini tidak begini saja mereka menikah tadi.


Dion tak menjawab, hanya menelan ludahnya.


"Apa kakak jatuh?" tanya Cindy kembali sambil menekan nekan pelan bagian wajah Dion yang memar lebam dan bengkak. Dia meringis saat menekan bibir Dion yang pecah seakan ikut merasakan kesakitan.


Lebam dan bengkak di wajah Dion akibat pukulan keras yang di layangkan oleh papa Cindy kepadanya sebelum mereka pulang. Wajar papa Cindy marah padanya dan melampiaskan kemarahan itu. Papa Cindy sangat marah dan kecewa, hilang kendali dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Dion.


Dan Dion sama sekali tak membalas dan menerima pukulan itu dengan rasa bersalahnya pada Cindy.


Cindy tak bertanya lagi melihat Dion hanya diam saja. Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan soal kehamilannya yang di ketahui oleh mereka dan juga pernikahan mereka.


"Sudah cukup." kata Dion tiba tiba setelah Cindy mengoles salep.


"Baik kak." Cindy segera bangkit sambil mengangkat baskom dan di letakkan di dekat wastafel. Dia pamit ke atas untuk mengganti pakaiannya karena merasa gerah.


Dion mengambil susu hamil Cindy di lemari dan menyiramnya.


Beberapa saat kemudian Dion naik ke atas menyusul Cindy.


Di dapatnya Cindy sedang berada di kamar mandi.


"Cindy...!" mengetuk kamar mandi. Di ketuk berulangkali.


"Bentar kak." teriak Cindy dari dalam.


"Kamu lagi ngapain? Kamu sedang mandi? Jangan mandi malam."


"Tidak kak!"


"Keluarlah, aku sudah buatkan susu untuk mu!"


"Iya, bentar."


"Kamu sedang apa? Apa kamu perlu sesuatu ? Atau perlu bantuan? Buka pintunya." ketuk Dion kembali karena Cindy belum keluar juga setelah beberapa menit berlalu. Dion merasa khawatir.


Beberapa saat pintu di buka, muncul Cindy dengan keadaan yang berantakan. Wajahnya pucat keringatan. Rambut berantakan.


"Kamu kenapa? Muntah lagi ?" Dion memperhatikan wajahnya.


Dion segera menarik tangannya keluar dari kamar mandi, lalu menyapu keringat di wajah dan lengan adiknya ini yang sekarang sudah menjadi istrinya.


"Aku ingin mengganti pakaian, Tapi aku kesulitan membuka pengaitnya." kata Cindy pelan seraya meraba tengkuknya.


Dion membuang nafas kasar.


"Kenapa kamu gak bilang? Kakak sudah bilang padamu kalau butuh sesuatu dan butuh bantuan beritahu!" katanya agak keras.


Cindy diam dan menundukkan kepala. Dion segera membalikkan tubuhnya pelan pelan. Lalu menyingkap rambut Cindy yang berada di tengkuknya. Dia melepas pengait dan menarik resleting baju itu sampai batas pinggang,


jemarinya bergerak meraba pengait bra.


"Biar aku saja kak." kata Cindy kaget, tubuhnya merinding merasakan sentuhan tangan Dion di punggungnya yang terbuka lebar.


"Sudah Diam." kata Dion menepis tangannya. Lalu kembali melepaskan pengait bra yang saling menjepit kuat. Akhirnya bisa di lepas juga.


"Sudah selesai, jangan pakai pakaian sempit, pakailah baju longgar atau daster." kata Dion


Cindy mengangguk, lalu menuju lemari pakaian dan mengambil baju. Dia segera ke kamar mandi, beberapa menit kemudian keluar sambil memakai daster lengan pendek selutut.


Dion memperhatikan dirinya, terutama perutnya yang mulai tampak terlihat dari balik daster.


Cindy menunduk merasa di perhatikan. Kedua tangannya memegang perutnya.


Dion mendekat dan menarik tangannya duduk di pinggir ranjang, lalu meraih susu dan di serahkan pada Cindy.


"Minum dan habiskan! Perutmu pasti kosong karena banyak muntah." katanya menatap wajah Cindy.


Cindy segera menerimanya


"Aku tidak akan bisa kak, aku pasti akan memuntahkannya lagi."


"Gak apa-apa! Ayo minumlah pelan pelan!


Kau harus paksa dirimu untuk makan dan minum. Kasihan janin mu ikut kelaparan jika kamu tak makan apa pun! Hanya dari kamu mereka bisa makan dan menerima asupan gizi." kata Dion menyentuh perut Cindy.


Cindy mendesah sedih sambil memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Dion di perutnya. Kedua ujung matanya langsung basah.


Dion ikutan sedih. Dia segera berlutut di depan Cindy. Cindy kaget langsung membuka mata


"Apa yang kakak lakukan! Berdiri kak."


Dion merangkum berulang perutnya, meraba raba pelan, lalu mengecupnya.


"Maafkan ayah anak-anakku, ayah yang salah. Seharusnya ayah ada di samping ibu kalian menemaninya setiap saat." ucapnya sendu, kedua ujung matanya juga sudah basah.


Cindy tak tahan menahan kesedihannya, dia menangis terisak isak.


"Aku yang salah kak, tak memberi tahukan kehamilanku sejak awal." ucapnya tersedu sedu memegang kepala Dion.


Dion mendongak ke atas bertepatan dengan air mata Cindy jatuh ke wajahnya. Cindy segera menyapu air matanya, lalu menyapu kedua ujung mata Dion yang basah.

__ADS_1


Dion segera bangkit berdiri dan duduk di sampingnya, memeluknya dari samping.


"Kakak yang salah Cind, bukan kamu. Karena perbuatan kakak, kamu hamil dan menderita! Kakak mengerti maksudmu menyembunyikan kehamilan mu."


"Hanya saja kakak kecewa padamu karena tidak jujur dengan apa yang terjadi di antara kita hingga membuat mu hamil. Sudah berulangkali kali kakak mengatakan untuk selalu jujur dan terbuka, jangan menyembunyikan apapun. Dan lebih membuat kakak kecewa, kamu malah memaksaku untuk menikah dengan wanita lain sementara kamu sedang hamil anak anakku. Seharusnya kau tidak melakukan hal itu apa pun alasannya! Hampir saja anak anak ini lahir sebagai anak haram dan tidak memiliki ayah. Kau tidak berpikir bagaimana nasib dan hidup mereka nanti kedepannya? Bahkan kau ingin menjauhkan mereka dari aku dengan pergi ke kota lain?!"


Cindy semakin kuat menangis, bahunya terguncang.


Dion kembali mendesah kuat menahan kesedihannya.


"Sudah Cind, berhentilah menangis, janin mu juga akan ikut merasakan kesedihanmu! Mereka sudah dapat mendengar dan merasakan suara dari luar. Emosi yang kamu rasakan akan mempengaruhi perkembangan mereka. Ketika kamu menangis, mereka akan lemah, apalagi saat ini kondisi kandungan mu tidak kuat dan lemah. Tadi dokter memeriksa kehamilan mu, dan dokter mengatakan hal itu! Jadi berhentilah menangis. Mulai sekarang kamu harus banyak tersenyum, tertawa, tidak boleh capek apalagi stress, dan harus banyak mengkonsumsi makanan sehat bernutrisi!" ucap Dion seraya menyapu Air matanya.


"Dokter memeriksa aku tadi ?" tanya Cindy menatap Dion.


"Iya, mama mendatangkan dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit untuk memeriksa kehamilan mu! Kau tertidur sangat nyenyak sampai tidak merasakan dokter melakukan pemeriksaan USG pada kandungan mu ! kami semua berada di sini melihat dokter memeriksa mu! Papa dan mama mu juga melihat kau di periksa dokter."


Dion mengeluarkan hasil pemeriksaan tadi dari nakas. Cindy melihat dengan teliti hasil pemeriksaan tersebut dan juga foto terbaru gambar kedua janinnya. Dia tersenyum terharu mengelus lembut kedua calon bayinya itu.


Dion memegang kedua tangannya.


"Kata dokter tubuhmu lemah, janinmu juga sedang tidak sehat karena pengaruh stress dan emosi yang kamu rasakan. Di tambah lagi kamu gak makan makan, mual dan muntah muntah. Mulai sekarang buatlah dirimu nyaman dan bahagia. Berusahalah untuk makan dan minum, meski nantinya akan kamu muntah kan. Gak apa apa kata dokter, yang penting ada yang masuk ke dalam perutmu."


Dion memegang kedua tangannya, menatap wajah dalam dalam.


"Mulai sekarang kakak akan selalu mendampingi mu, menemanimu, menjagamu, memenuhi apa pun yang kamu inginkan! Jika kamu butuh sesuatu apa pun itu, kamu harus sampaikan. Jangan memendam dan menahannya! kau dengar?"


Cindy mengangguk pelan.


Dion tersenyum, lalu menyodorkan kembali susunya.


"Minumlah selagi hangat. Kamu harus kuat dan berusaha, demi janin mu...demi buah hati kita." kata Dion pelan menatapnya tersenyum.


Cindy mendesah pelan, semakin sedih dan terharu yang di rasakan, mendengar ucapan kakaknya yang kini sudah menjadi suaminya.


Dia kembali mengangguk dan tersenyum.


Dia mengambil gelas di tangan Dion. Sambil mengucapkan bismilah, dia mendekatkan gelas itu ke mulutnya. Satu tangannya memencet hidungnya. Lalu meminum susu itu perlahan lahan. Dengan segera di habiskan, lalu menutup mulutnya. Wajahnya keringatan. Dion segera menarik tubuhnya dan memeluknya.


Cindy menekan wajahnya di dada Dion sambil terus membekap mulutnya, menahan kuat perasannya agar tidak memuntahkan susunya.


Dion memberi semangat dengan mengelus punggungnya lembut.


"Tahan sedikit Cin ...!" melihat Cindy yang mulai tidak tenang berusaha menahan rasa mual nya.


Satu menit....dua menit....tiga menit berlalu, Uweeek ....! Cindy tak dapat lagi menahannya.


Dia muntah di kaus Dion.


Dion kembali mengelus punggungnya, tak perduli dengan muntahan Cindy. Dia segera membaringkan tubuh Cindy, lalu melepas kausnya cepat dan di buangnya asal ke lantai.


"Jangan muntah lagi, tahan sekuatnya ya?" memeluk dan mengelus kembali punggung Cindy.


Aroma tubuh ini..... dengan menghirup aroma tubuh ini membuat perasaannya perlahan lahan tenang. Dia semakin menekan hidungnya di dada Dion dan kembali menghirup aroma wangi tubuh kakaknya sambil memejamkan mata. Satu tangannya meraba-raba dada Dion.


Dion merasakan hal itu dan membiarkan.


Satu menit berlalu , 2 3 4 5.....hingga 10 menit tak ada pergerakan yang di rasakan Dion.


Yang di rasakan hanya hembusan nafas Cindy yang masuk keluar menerpa di dadanya. Perlahan lahan Dion menunduk melihat wajah Cindy, kedua mata gadis itu di lihatnya terpejam.


"Apa dia tertidur?" gumamnya.


Tak ingin membuat Cindy terbangun, Dion bertahan dengan posisinya, karena Cindy masih memeluknya dengan wajah di dadanya.


Kaki Dion berusaha menarik selimut yang berada di bawah kaki mereka. Susah payah akhirnya kain tebal lembut itu berhasil di tariknya ke atas dan segera di tutup kan pada tubuh mereka yang berbaring dengan posisi miring saling berhadapan.


Pelan pelan sekali dia meletakkan kepala Cindy di lengannya. Dia menarik nafas lega karena Cindy hanya muntah sekali dan hanya sedikit.


Dion membelai lembut rambut dan punggung istrinya ini, sesekali mencium puncak kepalanya.


Terdengar dengkuran halus dari mulut Cindy.


"Sepertinya dia memang sudah tertidur." gumamnya tersenyum.


Pikirannya membayangkan pernikahan tadi. Lagi lagi di tidak menyangka telah menikahi adik sepupunya yang sudah di anggap adik kandungnya sendiri. Dion mulai menguap, dia merasa mengantuk. Perlahan memejamkan mata dan memeluk tubuh Cindy. Tak butuh waktu lama dia pun tertidur.


*****


Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Rasa haus dan lapar membuat Ara terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat. Dan baru sadar kalau saat ini dia sedang tertidur di atas tubuh Rafa yang sedang tertidur pulas. Ara terpesona memandangi wajah suaminya yang semakin tampan di lihatnya.


"Saat tidur pun wajahnya sangat tampan !" gumamnya tersenyum simpul, dia mengecup kening dan bibir suaminya lembut. Lalu beralih pada dada kekar suaminya yang telanjang polos. Di kecupnya lembut hingga ke perut, dan berhenti saat melihat sesuatu yang menegang di bawah sana.


Ara kaget melihatnya. Secepatnya dia turun dari tubuh suaminya dan juga dari atas ranjang.


Dahinya mengerut menatap mata suaminya yang terpejam.


"Masa saat tidur pun bisa menegang?" gumamnya dengan bibir mengerucut. Ara segera menuju lemari es dan mengambil air. Saat hendak minum dia teringat bayinya.


"Mereka pasti akan terbangun karena kedinginan." gumamnya.


Ara menyimpan kembali air es.Dia mengambil Air mineral biasa dan meminumnya sampai puas. Lalu mengambil makanan di lemari penghangat makanan yang terbuat dari kaca. Lemari ini sudah di sediakan semalam khusus untuk dirinya, mengingat dia hamil dan selalu lapar tengah malam. Rafa juga tidak ingin dia kecapean turun naik tangga pergi ke dapur, mengingat sifat istrinya tidak suka menyusahkan pelayan tengah malam dan mengganggu tidur mereka.


Ara menyantap beberapa makanan dengan lahap, tangannya yang satu mengutak-atik ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Ines yang membuatnya terkejut dan tersenyum senang. Video dan foto-foto pernikahan Cindy dan Dion . Ara sangat bahagia melihatnya.


"Ra, semua berkat dirimu dan juga suamimu. Kau memang sahabat terbaik, kau telah menyelamatkan hidup dan masa depan Cindy! Aku menyayangimu sahabatku, aku sangat menyayangimu. Besok kita ketemu ya? Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan! l love you, mmmuuaaachhh....!"


Ara tersenyum terharu. Dia menghentikan makannya. Bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Pernikahan Dion dan Cindy terjadi karena campur tangan suaminya yang telah menggagalkan pernikahan Dion dan Sophia.

__ADS_1


Rafa yang sejak tadi memperhatikannya pura pura memejamkan mata melihat kedatanganya. Rafa sebenarnya kaget dari tidurnya saat Ara itu terbangun dan bergerak di atas tubuhnya, berbicara dan menciumi bibir, wajah dah tubuhnya. Hanya saja dia pura pura tertidur dan membiarkan apa yang di lakukan istrinya. Setelah Istrinya turun dan ke lemari es, dia


segera merubah posisi tidurnya miring untuk melihat apa yang di lakukan istrinya secara diam-diam. Dia tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap.


Ara naik ke tempat tidur dan naik ke atas tubuh Rafa. Dia mencurahi wajah Rafa dengan banyak kecupan.


"Terimakasih kak, terimakasih! Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." ucapnya pelan di sela sela ciuman bertubi tubi ke bagian wajah suaminya.


Rafa tersenyum di dalam hati mendengar ucapannya.


"Kenapa dia?" batinnya."Pesan apa yang di bacanya hingga membuatnya senang seperti ini?"


Lama lama Rafa tak tahan menahan hasratnya karena ciuman dan pergerakan liar Ara di atas tubuhnya. Dia segera menahan tengkuk Ara dan melumati bibir istrinya.


Beberapa saat berlalu, Ara memukul mukul dada Rafa karena mulai kehabisan oksigen. Rafa segera melepaskan penyatuan bibir mereka.


Ara tersengal-sengal menatap kesal padanya.


"Kalau cium lihat lihat dong keadaanku, kakak mau aku mati kehabisan nafas?" menatap kesal dengan nafas memburu cepat.


"Sayang, jangan ngomong begitu!" Rafa langsung menutup mulut Ara, merinding tubuhnya mendengar kata "Mati" yang di ucapkan istrinya.


"Jangan ngomong yang buruk gitu sayang." dia segera memeluk tubuh istrinya yang berada di atas tubuhnya.


"Kakak ciumannya gak tahu diri." Ara merungut kesal.


Rafa tertawa terkekeh.


"Maaf sayang, habis bibirmu sangat manis dan begitu menggoda." mengecup bibir istrinya cepat."Katakan apa yang membuatmu senang?"


tanyanya.


Kekesalan Ara langsung hilang saat teringat kembali pada Cindy, dia langsung bangun dan duduk di perut suaminya.


"Kak, Ines mengirim pesan padaku. Foto foto pernikahan Cindy dan kak Dion. Mereka telah menikah semalam. Aku sangat bahagia dan senang sekali. Kata Ines semuanya berkat kakak! Terimakasih ya kak!" ucapnya dengan ekspresi senang. Dia mengecup bibir Rafa sekilas.


Rafa tersenyum ikut senang melihat kebahagiaan di wajah istrinya. Bukan tanpa alasan dia membantu perusahaan Alkas. Dia ingin melihat istrinya bahagia dan tak ingin sedih dengan masalah yang menimpa sahabatnya. Baginya kebahagiaan istrinya lebih penting di atas segala gala nya. Percuma dia punya harta dan uang yang banyak jika itu tidak bisa membuat wanita yang dicintainya bahagia.


Selain itu dia juga ingin Dion segera menikah agar tidak lagi menjadi duri dalam pernikahannya dengan Ara, karena dia tahu Dion masih mencintai Ara. Dia sangat senang mendengar Cindy hamil anak Dion, makanya dia membantu membatalkan pernikahan Dion dengan putri Abimanyu dan membantu menikahkan Dion dengan Cindy.


"Terimakasihnya yang benar dong sayang." ucapnya menahan tangan istrinya yang hendak turun dari tubuhnya.


Ara mendesis kesal, dia kembali mengecup semua bagian wajah suaminya.


"Udah...aku mau lanjutin makananku." ucap Ara mengakhiri ciumannya.


"Maksud aku kecup nya di sini sayang." membawa tangan Ara ke miliknya yang tegang.


Ara semakin kesal.


"Nggak ah...kan tadi udah aku puasin kakak berulangkali. Aku gak kuat lagi!" mengeluh lemah dengan wajah masam.


"Salahmu sendiri bangunin dia sedang tidur!"


Rafa tertawa kecil dalam hati melihat kekesalan istrinya.


Ara semakin kesal.


"Tahan dong, masa gitu aja nggak kuat." menatap cemberut.


"Aku gak akan bisa tahan kalau soal itu sayang! menghayal kan dirimu saja aku langsung tegang, apalagi dekat begini. Mana di cium kamu lagi...!" Rafa senyum senyum jahil.


"Di sentuh maupun enggak, tetap aja negang."


Rafa terkekeh mendengarnya."Ayo dong sayang, masa kamu tega." ucapnya memasang wajah memelas sambil senyum-senyum di dalam hati melihat wajah istrinya yang kesal menggemaskan.


"Iih kakak menyebalkan." Ara mengigit gigit dadanya.


Rafa tertawa dan segera memeluk, menciumi istrinya. Karena bukan kesakitan yang di rasakan dari gigitan Ara, tapi gairah sek*****a yang menjalar memenuhi sekujur tubuhnya.


Setelah satu jam berlalu.


"Kakak cukup...! Aku lemas dan capek! Udah, ini juga udah jam dua pagi! Aku mau shalat malam." keluh Ara di bawah tubuh suaminya.


"Iya sayang, ini yang terakhir, setelah itu kita mandi dan shalat malam bersama." mengecup bibir istrinya dan terus menghentak dengan mulut yang tak berhenti mengeluarkan suara merdu karena merasakan sesuatu yang indah. Sungguh Istrinya ini membuatnya terus melayang tinggi.


"Aaaaaaa.......!" Ara menjerit menangis dan memukul mukul dada Rafa karena terus di bohongi.


"Udah banyak kali kakak ngomong begitu! Ini yang terakhir, ini yang terakhir tapi bohong lagi!" menangis terisak.


Rafa tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya yang menggemaskan. Menangis tapi tak menolak, tetap melayani dirinya karena takut dosa.


Rafa cepat menyelesaikan permainannya yang entah sudah ke lima kali.


"Sayangku, maafkan aku! Aku sungguh tidak dapat menahannya sayang, sumpah, maafkan aku!" mengecup kening istrinya lembut. Ara terisak-isak dalam pelukannya.


"Apa kau marah padaku?" bisik Rafa lembut di telinganya.


Ara menggelengkan kepalanya pelan semakin terisak dalam pelukan suaminya.


Rafa tersenyum mengecup puncak kepalanya. Dia sudah tau jawaban istrinya pasti begitu.


Dan dia tidak akan pernah bosan meminta maaf meski dia sudah tau jawaban Ara.


"Sayang, aku benar-benar sangat mencintaimu! Kita mandi sekarang ya? Atau kau mau lagi?" tersenyum menggoda.


Ara kembali menjerit dan mengigit dadanya. Rafa kembali tertawa. Dia segera menarik miliknya dari bagian dalam istrinya. Lalu bangun dan mengangkat tubuh istrinya membawa ke kamar mandi.

__ADS_1


*******


__ADS_2